مشاركة

Semburat Pagi - 5

مؤلف: Auren Navé
last update تاريخ النشر: 2026-05-18 17:14:23

Kicau burung yang saling bersahutan di balik pagar seng perlahan membangunkan Ghea dari tidur nyenyaknya. Dia membuka matanya, menghalau silau cahaya matahari pagi yang menerobos masuk lewat celah-celah kaca toko.

​Ghea meregangkan otot lehernya yang terasa agak kaku lalu ingatan tentang kejadian semalam mendadak berputar di kepalanya. Sontak, Ghea langsung menegakkan tubuh dan menoleh ke arah meja kasir.

​Kursi kayu itu sudah kosong, lilin di atas meja telah mati menyisakan lelehan lilin yang membeku. Ghea buru-buru menyibak selimutnya dan berdiri.

​"Arga?" panggil Ghea, mengedarkan pandangan ke sekeliling toko yang sepi. "Sudah pulang, ya?"

​Ghea berjalan mendekati meja kasir. Di atas permukaan meja kaca tersebut, segelas teh manis yang semalam disajikannya sudah bersih dan di sampingnya terselip selembar kertas catatan kecil dari robekan buku agenda dengan tulisan tangan yang sangat rapi

*Sinyal sudah kembali. Saya harus ke kantor pagi-pagi karena ada rapat mendadak dengan investor. Handuk birumu saya gantung di ruang belakang. -Arga*

​Ghea menatap kertas itu selama beberapa detik. Tanpa sadar kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman lebar yang sejak tiga hari lalu hilang dari wajahnya. Gadis itu buru-buru meremas kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam saku celana dengan salah tingkah.

​"Dasar kaku,bilang makasih aja gengsi banget" gumam Ghea tertawa kecil.

​Menjelang siang, perubahan besar terjadi di depan toko Amerta Green.

​Ghea yang sedang sibuk menyiram tanaman di area depan tertegun saat melihat truk proyek kembali datang. Namun kali ini mereka tidak sedang menutupi toko. Para pekerja justru membongkar total pagar seng raksasa yang berada tepat di depan gerbang utama Amerta Green menyisakan ruang yang sangat luas dan bersih sehingga plang nama toko tanaman milik Ghea kembali terlihat jelas dari jalan raya.

​Sang mandor proyek berjalan mendekati Ghea sambil membawa papan klipnya. "Siang, Mbak Ghea. Pagar seng bagian depan kami buka permanen ya, sesuai instruksi terbaru dari Pak Arga tadi pagi. Kata beliau, jangan sampai mengganggu sirkulasi udara dan pelanggan toko tanaman."

​Ghea melongo, "Eh? Dibuka semua Pak?"

​"Iya, Mbak. Yang ditutup seng cuma area samping yang mau diukur saja, kami permisi dulu ya, Mbak." Pamit mandor itu ramah,

​Ghea berdiri terpaku di halaman tokonya menatap jalan raya yang kini kembali terlihat jelas. Dadanya membuncah oleh perasaan lega sekaligus haru yang luar biasa. Arga bener-bener menepati ucapannya semalam, pria itu bahkan memberikan kelonggaran yang jauh lebih besar dari kesepakatan tertulis mereka.

​Sambil menggigit bibir bawahnya menahan senyum, Ghea mengeluarkan ponselnya. Sinyal di sudut kanan atas layarnya sudah penuh, dia membuka aplikasi pesan singkat mencari kontak bernama Arga Dirgantara yang nomornya sempat ia simpan dari kartu nama tempo hari.

​Dengan jari yang agak gemetar karena gugup, Ghea mengetik pesan:

*​Pagar depannya udah dibuka semua sama orang proyek. Makasih ya, Arga.*

​Ghea mondar-mandir di antara pot mawar menanti balasan dengan jantung yang berdegup kencang. Dua menit kemudian, ponselnya bergetar.

*​Arga: Sama-sama. Itu murni agar tim saya tidak terganggu oleh protesmu lagi.*

​Ghea mendengus geli membaca balasan super lempeng itu. "Terserah kamu deh Tuan Arsitek," bisiknya senang.

​Sore harinya saat matahari mulai condong ke barat dan menyebarkan warna jingga yang estetik di langit, sebuah mobil hitam milik Arga kembali berhenti di depan toko,

​Arga turun dari mobil, kali ini dia tidak memakai kemeja formal yang kaku melainkan kaos putih polos berbalut kemeja flanel bergaris yang kancingnya dibiarkan terbuka dipadukan dengan celana jins gelap.

Penampilannya sore ini terlihat jauh lebih santai dan berkali-kali lipat lebih tampan.

​Arga melangkah masuk ke dalam toko membuat lonceng angin berdenting nyaring. Ghea yang sedang merapikan rak kaktus langsung menoleh.

​"Ada yang ketinggalan lagi?" tanya Ghea mencoba menetralkan suaranya agar tidak terdengar terlalu bersemangat.

​Arga berhenti tepat dua meter di depan Ghea lalu melirik pembatas imajiner di antara mereka dengan senyum tipis yang sarat akan binar jail. "Saya hanya mau memastikan tidak ada pipa yang pecah hari ini."

​Ghea terkekeh meletakkan pot kaktus kecil ke rak. "Aman, Pipanya aman, tokonya aman, pelanggannya juga udah mulai ada yang mampir tadi."

​Arga mengangguk-angguk pelan, pandangannya kemudian beralih menatap sekeliling toko yang kini bermandikan cahaya sore yang hangat. Perlahan, matanya tertuju pada pot bunga Lily putih peninggalan ibu Ghea. Arga berjalan mendekati pot itu berjongkok di depannya, lalu menyentuh salah satu kelopak bunganya dengan lembut.

​"Ibumu benar," ucap Arga pelan tanpa mendongak. "Lily putih ini memang menenangkan."

​Ghea terpaku di tempatnya berdiri menatap punggung tegap Arga yang kini tampak begitu menyatu dengan tanaman-tanaman di tokonya. Rasa benci yang membakar dadanya beberapa hari lalu kini benar-benar telah menguap tanpa sisa berganti dengan debaran asing yang kian lama kian menuntut ruang di hatinya.

​Ghea melangkah maju, perlahan mengikis jarak dua meter di antara mereka lalu ikut berjongkok di sebelah Arga. "Kalau kamu mau... aku bisa ajarin kamu cara merawatnya."

​Arga menoleh, menatap wajah Ghea yang kini berada sangat dekat di sampingnya.

​"Boleh" jawab Arga pendek, suaranya terdengar sangat rendah dan tenang. "Tapi kalau tanaman ini mati di tangan saya itu artinya guru yang mengajarinya kurang kompeten."

​Ghea langsung mendengus kesal, "Heii! Enak aja! Aku ini udah ngerawat ratusan tanaman dari kecil ya. Kamunya aja yang dasarnya kaku seperti semen."

​Arga terkekeh pelan dan berdiri kembali menatap sekeliling toko Amerta Green yang kini terasa jauh lebih bersahabat di matanya.

​"Ngomong-ngomong" Arga merogoh saku kemeja flanelnya mengeluarkan sebuah dokumen kecil yang dilipat rapi lalu meletakkannya di atas meja kasir. "Ini untukmu,"

​Ghea ikut berdiri menatap kertas itu dengan kening berkerut curiga. "Apa ini? Surat penggusuran jilid dua?"

​"Bukan" Arga melipat kedua tangannya di dada, "Itu kertas revisi untuk proyek kafe botaninya, saya menggeser posisi bangunan utama sepuluh meter lebih maju ke arah jalan raya dan mengubah area belakang menjadi taman terbuka."

​Ghea mengerjapkan matanya buru-buru membuka lipatan kertas tersebut. Di sana di atas gambar sketsa arsitektur yang rumit namun sangat rapi, Ghea bisa melihat area toko "Amerta Green" tidak diberi tanda silang merah lagi. Sebaliknya bangunan tokonya justru digambar menyatu dengan desain kafe kaca modern milik Arga dikelilingi oleh lanskap hijau yang sangat indah.

​"Kamu ngubah desainnya?" Ghea mendongak menatap Arga dengan mata yang melebar tidak percaya.

​"Saya hanya berpikir kafe botani akan terasa palsu kalau tidak ada toko tanaman asli yang menghidupinya," ucap Arga lempeng berusaha menyembunyikan usaha kerasnya yang tadi malam begadang demi merombak ulang seluruh desain demi Ghea. "Investor menyetujuinya, lahan ini tidak perlu digusur total, tokomu bisa tetap berdiri di sini berdampingan dengan proyek saya."

​Dada Ghea seketika bergemuruh hebat namun kali ini oleh rasa haru dan bahagia yang membuncah sampai ke tenggorokan. Air matanya hampir saja menetes lagi membuat Arga langsung menaikkan sebelah alisnya panik.

​"Jangan menangis lagi. Saya tidak mau dikira sedang merundungmu di tokomu sendiri," potong Arga cepat.

​Ghea tertawa di sela napasnya yang tertahan "Aku nggak nangis! Aku cuma...nggak nyangka aja si iblis sekaku kamu bisa punya hati selembut ini."

​"Saya anggap itu sebagai pujian" balas Arga dengan binar jail di matanya. Pria itu kemudian melirik jam tangannya lalu kembali menatap Ghea. "Karena urusan pekerjaan kita hari ini sudah selesai dan aturan dua meter kita sudah resmi hangus, kamu mau ikut saya?"

​Ghea mengernyit heran. "Kemana?"

​"Membeli makan malam anggap saja sebagai ganti rugi karena saya sudah merepotkanmu semalam dan sebagai bayaran awal untuk kelas merawat bunga Lily yang kamu tawarkan tadi," Arga berjalan mendahului menuju pintu toko namun sebelum membuka pintu, dia menoleh ke belakang dengan senyum tipis. "Ghea Kirana?"

​Ghea terpaku sejenak, menatap punggung tegap Arga yang kini terasa begitu melindungi. Senyum lebar langsung terukir di wajah manisnya. Ghea buru-buru menyambar tas kain nya lalu melangkah lebar menyusul Arga.

​"Tungguin, Arga!"

​Sore itu seiring dengan pintu kaca toko yang tertutup rapat dan lonceng angin yang berdenting riang, benih-benih kebencian di antara mereka telah sepenuhnya mati digantikan oleh tunas baru yang mulai tumbuh begitu subur dan manis.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • The Architecture of Us    Konsumsi Publik - 11

    Dalam kurun waktu tiga hari sejak penundaan ketiga diumumkan sepihak oleh Arga, rumor miring di kalangan pebisnis berubah menjadi konsumsi publik. Sebuah akun portal berita arsitektur dan bisnis lokal mengunggah artikel dengan judul tajam: *Sikap Arogan dan Krisis Profesionalitas Arsitek Utama Dirgantara Landscape: Proyek Miliaran Terbengkalai Tanpa Alasan Jelas.*Efeknya langsung bertebaran dimana-mana hingga Jagat maya, dan media sosial miliknya mulai dipenuhi oleh hujatan. Netizen yang tidak tahu apa-apa dengan mudah menghakimi juga melabeli Arga sebagai anak pemilik perusahaan yang manja, egois, dan tidak menghargai kontrak kerja. Rekam jejak prestasinya selama bertahun-tahun seolah terhapus begitu saja oleh satu kesalahan yang sengaja ia pelihara.*Punya nama besar tapi kerjaan ditunda-tunda terus.**“Krisis kedewasaan. Mentang-mentang arsitek andalan, bisa seenaknya merubah jadwal.”**Tok! Tok!*Siska masuk tanpa menunggu

  • The Architecture of Us    Kegilaan Terbesar - 10

    ​"Ini kegilaan terbesar yang pernah kamu lakukan sepanjang kariermu, Arga!"​Emosi Pak Baskoro memuncak di dalam ruangan kerja Arga. Beliau adalah salah satu investor utama sekaligus rekan senior papanya. Map dokumen revisi proyek dilempar kasar ke atas meja jati. Di ambang pintu, Siska berdiri dengan wajah pucat, tidak berani masuk.​Arga tidak berkedip. Bahkan penampilannya masih sempurna seperti biasanya, namun sorot matanya redup dan dingin. "Saya tidak akan membatalkan proyeknya, Pak Baskoro, saya hanya meminta penundaan pengerjaan."​"Itu sama saja dengan mematikan proyek secara perlahan!" bentak Baskoro frustrasi. "Berita tentang penundaan sepihak ini sudah bocor ke media bisnis. Nama baik Dirgantara Landscape & Architecture bisa hancur!dan menganggapmu tidak profesional, Arga!! Saham perusahaan mu juga bisa terganggu kalau kamu terus-menerus keras kepala tanpa alasan logis seperti ini!"​Arga mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku

  • The Architecture of Us    Garis Hidup Masing-masing - 9

    Satu bulan berlalu sejak deru mesin pesawat membawa Ghea terbang meninggalkan seluruh kepingan memorinya.Kota ini kembali ke ritme biasanya, seolah tidak pernah terjadi badai besar yang menghancurkan sebuah toko tanaman kecil bernama Amerta Green. Hidup berjalan terus, memaksa dua orang yang sempat melanggar batas jarak dua meter itu untuk kembali ke garis hidup mereka masing-masing. Menjadi orang asing yang berpura-pura tidak pernah saling memedulikan.Di pusat kota, gedung mentereng Dirgantara Landscape & Architecture masih berdiri kokoh. Di dalam ruangan paling ujung lantai empat, Arga Dirgantara duduk di balik meja kerja jatinya. Penampilannya kembali sempurna: kemeja hitam formal yang rapi, kancing pergelangan tangan yang terpasang erat, dan ekspresi wajah yang sedingin es."Pak Arga, ini draf akhir untuk pengerjaan fisik kafe di lahan bekas toko tanaman kemarin. Investor meminta pengerjaan pondasi dimulai minggu depan," ucap sang sekretaris sam

  • The Architecture of Us    Selamat Tinggal, Arga - 8

    Dua hari sejak kejadian itu, Ghea tidak lagi menapakkan kakinya di tanah Amerta Green. Semua barang pribadinya yang selamat sudah dikemas ke dalam satu koper besar. Ghea memutuskan untuk pergi jauh, pulang ke rumah Bude, kakak perempuan almarhum ibunya yang tinggal di Magelang. Baginya, menetap di kota ini hanya akan terus melukai hatinya dengan ingatan tentang toko tanamannya yang hancur dan tentang pria yang hampir saja sempat ia cintai.Kini, Ghea sudah duduk di kursi ruang tunggu bandara, suara riuh pengumuman jadwal penerbangan saling bersahutan di atas kepalanya. Riuh akan tetapi hati Ghea terasa begitu sunyi.Ghea meraba ponsel di genggamannya. Ibu jari gadis itu bergerak ragu di atas layar membuka ruang obrolannya dengan Arga yang sudah dua hari ini sengaja ia abaikan pesannya. Ghea tahu, dia tidak akan bisa pergi dengan tenang jika belum menyelesaikan bab terakhir di antara mereka.Sambil menahan sesak di dadanya, Ghea mulai mengeti

  • The Architecture of Us    Selesai di Sini - 7

    Matahari pagi baru saja terbit namun bagi Ghea, tidak ada lagi keindahan yang tersisa dari semburat sinarnya. Dia duduk di teras warung Bu Retno, menatap kosong ke arah halaman Amerta Green yang kini hanya berupa tanah merah berantakan dengan serpihan kayu dan daun-daun mati yang mengering. Mata Ghea bengkak akibat menangis semalaman dan jiwanya rasanya sudah kosong melompong. ​ *Ckit!* ​Suara rem mobil yang tergesa-gesa terdengar. Arga turun dengan penampilan yang sangat berantakan. Dia tidak tidur semalaman demi menyelesaikan semuanya. ​Arga melangkah cepat menghampiri Ghea, tanpa basa-basi dia meletakkan sebuah map dokumen tebal dan sebuah rekaman tablet di atas meja depan Ghea. ​"Ghea, lihat ini" ucap Arga, napasnya sedikit memburu. "Ini bukti rekaman CCTV jalan raya dan surat pernyataan bermaterai dari operator ekskavator kemarin, pemilik lahan sewa lamamu yang membayar mereka secara ilegal demi mempercepat pengosongan secara paksa dia memanfaatkan celah." ​Arga menatap

  • The Architecture of Us    Retak - 6

    Seminggu setelah makan malam itu dunia Ghea rasanya berubah seratus delapan puluh derajat, kehadiran Arga di Amerta Green bukan lagi sebagai ancaman melainkan sesuatu yang selalu Ghea tunggu setiap harinya. Pria itu sering mampir sore-sore, terkadang hanya untuk duduk di kursi kasir sambil memperhatikan Ghea bekerja atau benar-benar menepati janjinya untuk belajar merawat bunga Lily putih. Ghea bahkan mulai terbiasa dengan gaya bicara Arga yang kaku tapi diam-diam perhatian.​Siang itu, cuaca kota sangat cerah. Ghea sedang berada di pasar induk tanaman yang jaraknya sekitar satu jam dari toko untuk menyetok beberapa pupuk dan bibit bunga baru. Hatinya berbunga-bunga dia berniat memberikan sebuah kaktus sukulen kecil yang estetik untuk ditaruh di meja kerja Arga sebagai kejutan nanti sore.​Namun, saat Ghea sedang memilih pot, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Sebuah panggilan telepon dari Bu Retno, pemilik warung kelontong di sebelah tokonya.​Ghea menggeser

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status