ANMELDENHampir dua jam berlalu namun rintik hujan tak kunjung reda, lilin di atas meja kasir sudah meleleh setengah. Ghea melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja, sinyal seluler mati total akibat badai dan baterainya tersisa belasan persen.
Ghea menghela napas lalu melirik ke sudut ruangan. Arga masih setia duduk di kursi kayu dengan tangan terlipat di dada, matanya terpejam, rambutnya sudah agak mengering berantakan. "Jalanan depan banjir semata kaki ditambah ada pohon tumbang dekat pembatas seng. Kamu nggak akan bisa pulang lewat jalan raya malam ini" ucap Ghea memecah keheningan, Arga membuka matanya perlahan, dia menatap langit-langit toko yang gelap dan menghela napas berat "Sial," gumamnya pelan. "Ponsel saya juga mati." Ghea bergeser agak menjauh duduk di kursi plastik di balik meja kasir, keadaan mendadak kembali canggung namun, rasa penasaran yang sejak lama ia tahan akhirnya membuat Ghea memberanikan diri untuk bersuara. "Kenapa harus kafe?" tanya Ghea tiba-tiba. Arga menoleh, "Apa?" "Kenapa investor kamu harus sekeras kepala itu menggusur toko ini demi sebuah kafe modern? Di kota ini sudah ada ratusan kafe, Arga." suara Ghea melembut ada nada luka yang samar di sana. Arga terdiam cukup lama menatap gelas teh kosong di depannya. Ghea mengira pria kaku itu akan kembali mengeluarkan argumen nya yang menyebalkan namun dugaan Ghea salah, "Bukan investor yang bersikeras, tapi saya yang mendesainnya," jawab Arga suaranya terdengar sangat rendah dan jujur. Ghea tersentak. "Maksud kamu?" "Saya yang memilih konsep kafe botani dengan struktur kaca modern," Arga menjeda kalimatnya, matanya menatap deretan tanaman gantung. "Saya pikir... menggabungkan tanaman hijau adalah arsitektur yang efisien untuk menenangkan orang-orang kota yang stres." Ghea tertawa kecil, agak sarkas namun tidak bermaksud mengejek. "Efisien kata kamu? Kamu mau membuat tempat penenang, tapi dengan cara menghancurkan tempat penenang milik orang lain? Lucu banget logika kamu." Arga tidak mendebat balik. Dia justru menundukkan kepalanya sedikit membiarkan beberapa helai rambut jatuhnya menutupi dahi. "Saya tidak tahu kalau toko ini se istimewa itu untukmu, di data yang saya terima tempat ini hanya terdaftar sebagai lahan sewa yang hampir kedaluwarsa, Pemilik tanahnya bilang penyewanya sudah pasrah." "Saya nggak pernah pasrah!" potong Ghea cepat, matanya kembali berkaca-kaca. "Pemilik tanah itu yang serakah langsung menaikkan harga sewa berkali-kali lipat begitu Ibu saya meninggal, dia tahu saya nggak akan sanggup bayar." Suasana kembali hening. Arga memperhatikan jemari Ghea yang meremas ujung baju nya. Ada rasa bersalah yang mendadak menyengat di dalam dada Arga, selama ini dia hanya melihat proyek sebagai angka, gambar dua dimensi, dan target tenggat waktu. Dia lupa bahwa di atas tanah yang akan ia ratakan ada kehidupan dan memori yang sedang dipisahkan paksa. "Ibumu... suka bunga Lily?" tanya Arga pelan, melirik pot bunga Lily putih yang tadi hampir disenggol Ghea. Ghea mengangguk pelan, menghapus air matanya sempat jatuh, "Iya. Ibu bilang Lily putih itu simbol ketulusan makanya toko ini namanya Amerta artinya abadi, saya mau kenangan tentang Ibu tetap abadi di sini." Arga menatap lilin yang mulai berkedip-kedip hendak habis, pikiran pria itu melayang pada masa lalunya sendiri yaitu pada rumah masa kecilnya yang terasa dingin dan kaku tanpa sentuhan seorang ibu. "Maaf" ucap Arga lirih, Ghea menoleh dengan cepat sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Kamu... bilang apa?" "Saya minta maaf karena sudah menyebut tokomu hampir bangkrut waktu itu," Arga menatap Ghea lurus, "Dan saya minta maaf soal pagar seng itu." Jantung Ghea mendadak melewatkan satu detakan. Permintaan maaf dari Arga terasa jauh lebih mengejutkan daripada sambaran petir beberapa jam lalu. "Garis batas dua meternya... masih berlaku?" bisik Ghea, ada nada bercanda yang canggung dalam suaranya untuk mencairkan suasana. Arga mendengus pelan, sebuah senyuman tipis yang sangat tulus akhirnya terukir di wajah tampannya. "Untuk malam ini anggap saja garis itu terhapus oleh air hujan." Malam itu di balik dinding toko tanaman yang gelap dan terkunci badai, fondasi kebencian di antara mereka resmi retak. Ghea tertegun mendengar jawaban Arga, keheningan kembali merayap di antara mereka tetapi kali ini tidak terasa mencekam atau kaku lagi. Arga melirik jam tangannya yang untungnya tahan air, sudah jam sebelas malam lewat. ia kemudian menatap Ghea yang mulai berkali-kali menguap kecil menahan kantuk yang amat sangat dengan menyandarkan kepalanya di atas meja kasir. "Kalau mengantuk, tidur saja, jangan dipaksakan." ucap Arga, suaranya melembut satu tingkat dibanding biasanya. Ghea mengerjapkan matanya yang terasa seberat satu ton lalu menggeleng keras kepala, "Enggak, Mana bisa aku tidur sementara di toko ini ada orang asing nanti kalau kamu macam-macam gimana?" Arga mendengus geli sebuah tawa kecil yang renyah lolos dari bibirnya, "Saudari Ghea, fisik saya memang lelah tapi saya masih punya cukup akal sehat untuk tidak melakukan hal aneh di toko penuh tanaman berduri begini, lagipula saya ini arsitek bukan kriminal." Wajah Ghea kembali memanas mendengar candaan Arga tetapi akhirnya menyerah juga karena tubuhnya sudah benar-benar lelah setelah seharian emosi dan menangis. Ghea bangkit berdiri berjalan ke ruang belakang sejenak, lalu keluar membawa sebuah bantal kecil dan selimut tebal bermotif kotak-kotak yang biasa ia simpan di toko. Ghea meletakkan bantal dan selimut itu di atas sofa panjang yang terletak di sudut ruangan tidak jauh dari meja kasir, "Nih, kamu tidur di sofa ini aja bajumu kan masih agak basah, pakai selimutnya biar nggak masuk angin" ujar Ghea, melempar selimut itu ke arah Arga dengan gerakan ketus, lagi-lagi untuk menutupi rasa gengsinya. Arga menerima selimut itu meraba kainnya yang kering dan hangat, "Lalu kamu tidur di mana?" "Aku bisa tidur di kursi kasir sambil senderan di meja udah biasa kok," jawab Ghea santai. Tanpa diduga, Arga langsung bangkit berdiri dia berjalan mendekati Ghea, merebut bantal kecil dari tangan gadis itu lalu meletakkannya dengan rapi di salah satu ujung sofa. Setelah itu, Arga menatap Ghea dengan pandangan memberi perintah yang tidak bisa dibantah. "Kamu yang tidur di sofa saya yang akan duduk di kursi kasir," ujar Arga tegas. "Eh? Tapi kan kamu tamu, lagian badan kamu gede gitu mana muat di kursi kasir-" "Ghea." potong Arga, menyebut nama gadis itu tanpa embel-embel formal, Ghea membeku. Tatapan mata Arga malam ini begitu mengintimidasi namun anehnya, ada rasa aman yang sangat besar yang menyelusup ke dalam dada Ghea. Menyadari dirinya tidak akan menang melawan keras kepalanya sang arsitek, Ghea akhirnya mengalah dengan menghentakkan kakinya pelan. "Y-ya sudah! Awas ya kalau berani mindahin pot Lily-ku!" ancam Ghea asal-asalan sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang tersebut. Arga tidak membalas. Dia hanya berjalan menuju kursi kasir di balik meja mendudukkan tubuh tingginya di sana lalu menyandarkan punggungnya yang lelah. Ghea menarik selimut tebalnya hingga sebatas dada, Posisi sofanya membuat dia bisa melihat siluet Arga dalam remang cahaya lilin, Mengamati wajah tenang Arga dari kejauhan.Dalam kurun waktu tiga hari sejak penundaan ketiga diumumkan sepihak oleh Arga, rumor miring di kalangan pebisnis berubah menjadi konsumsi publik. Sebuah akun portal berita arsitektur dan bisnis lokal mengunggah artikel dengan judul tajam: *Sikap Arogan dan Krisis Profesionalitas Arsitek Utama Dirgantara Landscape: Proyek Miliaran Terbengkalai Tanpa Alasan Jelas.*Efeknya langsung bertebaran dimana-mana hingga Jagat maya, dan media sosial miliknya mulai dipenuhi oleh hujatan. Netizen yang tidak tahu apa-apa dengan mudah menghakimi juga melabeli Arga sebagai anak pemilik perusahaan yang manja, egois, dan tidak menghargai kontrak kerja. Rekam jejak prestasinya selama bertahun-tahun seolah terhapus begitu saja oleh satu kesalahan yang sengaja ia pelihara.*Punya nama besar tapi kerjaan ditunda-tunda terus.**“Krisis kedewasaan. Mentang-mentang arsitek andalan, bisa seenaknya merubah jadwal.”**Tok! Tok!*Siska masuk tanpa menunggu
"Ini kegilaan terbesar yang pernah kamu lakukan sepanjang kariermu, Arga!"Emosi Pak Baskoro memuncak di dalam ruangan kerja Arga. Beliau adalah salah satu investor utama sekaligus rekan senior papanya. Map dokumen revisi proyek dilempar kasar ke atas meja jati. Di ambang pintu, Siska berdiri dengan wajah pucat, tidak berani masuk.Arga tidak berkedip. Bahkan penampilannya masih sempurna seperti biasanya, namun sorot matanya redup dan dingin. "Saya tidak akan membatalkan proyeknya, Pak Baskoro, saya hanya meminta penundaan pengerjaan.""Itu sama saja dengan mematikan proyek secara perlahan!" bentak Baskoro frustrasi. "Berita tentang penundaan sepihak ini sudah bocor ke media bisnis. Nama baik Dirgantara Landscape & Architecture bisa hancur!dan menganggapmu tidak profesional, Arga!! Saham perusahaan mu juga bisa terganggu kalau kamu terus-menerus keras kepala tanpa alasan logis seperti ini!"Arga mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku
Satu bulan berlalu sejak deru mesin pesawat membawa Ghea terbang meninggalkan seluruh kepingan memorinya.Kota ini kembali ke ritme biasanya, seolah tidak pernah terjadi badai besar yang menghancurkan sebuah toko tanaman kecil bernama Amerta Green. Hidup berjalan terus, memaksa dua orang yang sempat melanggar batas jarak dua meter itu untuk kembali ke garis hidup mereka masing-masing. Menjadi orang asing yang berpura-pura tidak pernah saling memedulikan.Di pusat kota, gedung mentereng Dirgantara Landscape & Architecture masih berdiri kokoh. Di dalam ruangan paling ujung lantai empat, Arga Dirgantara duduk di balik meja kerja jatinya. Penampilannya kembali sempurna: kemeja hitam formal yang rapi, kancing pergelangan tangan yang terpasang erat, dan ekspresi wajah yang sedingin es."Pak Arga, ini draf akhir untuk pengerjaan fisik kafe di lahan bekas toko tanaman kemarin. Investor meminta pengerjaan pondasi dimulai minggu depan," ucap sang sekretaris sam
Dua hari sejak kejadian itu, Ghea tidak lagi menapakkan kakinya di tanah Amerta Green. Semua barang pribadinya yang selamat sudah dikemas ke dalam satu koper besar. Ghea memutuskan untuk pergi jauh, pulang ke rumah Bude, kakak perempuan almarhum ibunya yang tinggal di Magelang. Baginya, menetap di kota ini hanya akan terus melukai hatinya dengan ingatan tentang toko tanamannya yang hancur dan tentang pria yang hampir saja sempat ia cintai.Kini, Ghea sudah duduk di kursi ruang tunggu bandara, suara riuh pengumuman jadwal penerbangan saling bersahutan di atas kepalanya. Riuh akan tetapi hati Ghea terasa begitu sunyi.Ghea meraba ponsel di genggamannya. Ibu jari gadis itu bergerak ragu di atas layar membuka ruang obrolannya dengan Arga yang sudah dua hari ini sengaja ia abaikan pesannya. Ghea tahu, dia tidak akan bisa pergi dengan tenang jika belum menyelesaikan bab terakhir di antara mereka.Sambil menahan sesak di dadanya, Ghea mulai mengeti
Matahari pagi baru saja terbit namun bagi Ghea, tidak ada lagi keindahan yang tersisa dari semburat sinarnya. Dia duduk di teras warung Bu Retno, menatap kosong ke arah halaman Amerta Green yang kini hanya berupa tanah merah berantakan dengan serpihan kayu dan daun-daun mati yang mengering. Mata Ghea bengkak akibat menangis semalaman dan jiwanya rasanya sudah kosong melompong. *Ckit!* Suara rem mobil yang tergesa-gesa terdengar. Arga turun dengan penampilan yang sangat berantakan. Dia tidak tidur semalaman demi menyelesaikan semuanya. Arga melangkah cepat menghampiri Ghea, tanpa basa-basi dia meletakkan sebuah map dokumen tebal dan sebuah rekaman tablet di atas meja depan Ghea. "Ghea, lihat ini" ucap Arga, napasnya sedikit memburu. "Ini bukti rekaman CCTV jalan raya dan surat pernyataan bermaterai dari operator ekskavator kemarin, pemilik lahan sewa lamamu yang membayar mereka secara ilegal demi mempercepat pengosongan secara paksa dia memanfaatkan celah." Arga menatap
Seminggu setelah makan malam itu dunia Ghea rasanya berubah seratus delapan puluh derajat, kehadiran Arga di Amerta Green bukan lagi sebagai ancaman melainkan sesuatu yang selalu Ghea tunggu setiap harinya. Pria itu sering mampir sore-sore, terkadang hanya untuk duduk di kursi kasir sambil memperhatikan Ghea bekerja atau benar-benar menepati janjinya untuk belajar merawat bunga Lily putih. Ghea bahkan mulai terbiasa dengan gaya bicara Arga yang kaku tapi diam-diam perhatian.Siang itu, cuaca kota sangat cerah. Ghea sedang berada di pasar induk tanaman yang jaraknya sekitar satu jam dari toko untuk menyetok beberapa pupuk dan bibit bunga baru. Hatinya berbunga-bunga dia berniat memberikan sebuah kaktus sukulen kecil yang estetik untuk ditaruh di meja kerja Arga sebagai kejutan nanti sore.Namun, saat Ghea sedang memilih pot, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Sebuah panggilan telepon dari Bu Retno, pemilik warung kelontong di sebelah tokonya.Ghea menggeser







