Share

The Baby - 04

Iblis: tmpt biasa, skrng!

Tidak ada hari tanpa perintah dari Sehun. Yah, kebebasan dari Sehun adalah kemustahilan bagiku.

Aku yang baru saja membuka kotak bekal harus menghela nafas panjang, dengan tak rela memasukan kembali kotak bekal ku kedalam tas, padahal aku belum memakan nasi goreng buatan ibuku sesuap pun.

DRT!!!

Layar hapeku kembali menyala, gerakan ku semakin mencepat setelah membaca chat masuk dari Sehun melalui pop - up.

Iblis: lelet lo pung

Iblis: klo nafsu makan gue ilang, lo yg gue makan

Langkahku kian mencepat menaiki anak tangga menuju ruangan yang Sehun sebut 'tempat biasa' ntahlah sebenarnya itu ruangan apa, tapi dari gosip yang beredar mengatakan tempat itu seperti fasilitas khusus yang di berikan untuk Sehun dari sekolah. Tak heran, karena katanya Papah nya Sehun adalah pemilik sekolah ini.

Aku langsung membuka pintu ruangan itu tanpa mengetuknya lebih dulu saking paniknya. Aku takut nafsu makan Sehun hilang gara - gara kelamaan menungguku, dan tentunya aku tidak mau menjadi pengganti makan siang Sehun!

"Berasa rumah sendiri ya pung?" ujar Sehun yang tengah fokus dengan stick PlayStation nya.

Aku menunduk, menetralkan nafas.

"Kenapa lo gak ketuk pintu dulu?" tanya Sehun tanpa membalikan tubuhnya untuk sekedar menoleh kearahku sesaat. 

"Maaf, aku tadi buru - buru jadi kelupaan." jawabku dengan pandangan yang masih setia menatap sepatu dekil yang Ibu belikan tahun lalu.

Sehun mencibir, "Ngapain lo buru - buru? Kangen sama gue?"

Spontan aku mendongak, menggeleng cepat, "Nggak!" ujarku. Kenapa juga aku harus kangen dengan manusia berhati iblis sepertinya.

Kali ini ucapanku sukses membuat Sehun menoleh, kedua bola matanya memincingkan tajam ke arahku. Sehun berdecak, tanpa aba - aba melempar sebungkus alat tes kehamilan kearahku.

"Kasih tau gue hasilnya." ketus Sehun kembali fokus pada aktivitas nya yang tadi.

Kenapa Sehun memberiku testpack, apa dia tidak percaya kalau aku hamil? 

Apa dia mengira aku membohonginya? 

Aku meraih bungkus testpack itu, kemudian berjalan ke toilet yang ada di dalam ruangan tersebut. Tak butuh waktu lama, aku keluar dari dalam toilet sembari memegang testpack yang sudah ku gunakan.

Aku menunduk saat berdiri beberapa jengkal di depan Sehun, menyodorkan benda kecil itu kearahnya.

Sehun menatapku datar, kemudian mengambil hasil testpack yang sudah ku gunakan. Sehun diam, memandang dua garis merah muda yang terpampang di sana, menandakan aku positif hamil.

Tubuhku terdorong kasar ke lantai setelah tanpa aba - aba Sehun menendang paha ku dengan keras. Aku meringis, mencoba bangkit.

"Kuping lo hilang fungsi?! Udah dari kapan gue nyuruh lo buat gugurin bayinya?!" sentak Sehun sembari mencengkram daguku.

Aku menggeleng dengan air mata yang masih ku tahan. Sontak saja tolakan ku semakin membuat Sehun memberang. Sehun kembali mendorong tubuhku hingga tersungkur di lantai dengan keras. Aku meringis, merasakan pergelangan kakiku yang Sehun injak dengan keras.

"Gue gak bakal tanggung jawab." ujar Sehun membuang muka. Kakinya masih terus menekan pergelangan kakiku.

"Gakpapa, aku bisa urus bayiku sendiri." cicitku.

Aku memang sudah berencana akan merawat bayiku sendiri bagaimana pun caranya, aku tidak akan meminta Sehun untuk bertanggung jawab karena itu sama saja menjebloskan bayiku ke neraka.

Sehun menarik paksa tubuhku, lalu menyeretku keluar dari ruangannya. Dengan langkah terseok dan menahan rasa sakit di pergelangan kakiku aku mencoba mengimbangi langkah besar Sehun, bahkan aku terjatuh berkali - kali di anak tangga, tapi Sehun tetap menyeret tubuhku bagai binatang. Laki - laki kejam itu bahkan tidak memperdulikan ku yang menjadi tontonan gratis warga sekolah.

"Cabut beasiswa atas nama Aresya Riana." ujar Sehun dengan suara yang lantang berbicara kepada kepala sekolah. Ya, Sehun menyeretku keruangan kepala sekolah.

Perkataan Sehun praktis membuatku panik, aku langsung tersungkur memohon di kaki Sehun, "Jangan..." lirihku memohon.

"Gugurin bayinya. Gue tetep membiarkan lo sekolah di sini kalau lo gugurin bayi itu." ujar Sehun membuat Pak Sugio selaku kepala sekolah tersentak kaget mendengarnya.

Aku terdiam, tidak bisa menjawab. Tanpa menimbang nya lebih dulu aku segera menggeleng, lagi - lagi membantah perintah Sehun untuk menggugurkan bayi yang ku kandung.

Sehun menyentakan kakinya, membuatku terdorong ke belakang. 

"Bapak dengan sendirikan? Dia hamil. D.O dia dari sekolah ini." kata Sehun membuat pak Sugio menatapku prihatin.

Sehun merogoh saku seragamnya, mengambil hape lalu menempelkan hapenya ke daun telinga,

"Pah, Sehun hamilin anak orang. Siapin penghulu, besok Sehun nikah. Gak perlu pernikahan yang mewah, yang penting sah."

* * *

Author Pov

PLAK!!!

Tamparan keras mendarat di pipi Sehun, sang Papah pelakunya. Ergian menatap penuh murka pada anak sulungnya yang meringis kesakitan.

"Kamu sudah gila Sehun?" tanya Ergian bertelak pinggang, menambah kesan galaknya.

Sehun mengangguk, semakin membuat Ergian memberang.

BUGH!!!

Tulang kering kaki kanan Sehun Ergian tendang dengan kuat. Sehun memejamkan mata, menahan sakit.

"Siapa cewek yang kamu tiduri?"

"Ada banyak, tapi yang hamil cuma satu."

Ergian menghela nafas, berusaha sabar menghadapi tingkah anaknya itu.

"Beresin baju kamu, besok berangkat ke Amerika."

Sehun yang dari tadi hanya menunduk kini mendongak, menatap Ergian dengan wajah menegang.

"Nggak! Aku gak mau!" sentak Sehun menolak.

Ergian tertawa meremehkan, "Anak kecil kayak kamu punya apa mau nikahin anak orang? Semua yang kamu nikmatin ini milik saya, Sehun." ujar Ergian sembari tersenyum miring. Mata Ergian mengedar pandang, menatap penjuru kamar Sehun yang kembali ia masukin setelah sekian lama tidak mengunjungi anaknya yang tinggal sendirian di rumah besar yang ia berikan. 

"Kalau kamu gak mau pergi, berarti cewek itu yang harus menghilang." ujar Ergian kemudian beranjak dari kamar Sehun.

"Pergi cari Mamah mu kalau tidak mau nurut sama saya." desis Ergian yang samar - samar Sehun dengar. Sehun memang anak kandung Ergian. Tapi bagi Ergian, Sehun hanya sampah yang istrinya buang lalu ia memungutnya karena kasihan.

Sehun menjambak rambutnya frustasi, ia berteriak. Menjatuhkan semua barang - barang yang terpanjang diatas meja dan bupet. Sehun terus berteriak, melampiaskan kekesalan. Dalam sekejap kamar rapih Sehun berubah seperti kapal pecah, serpihan kaca bertebaran dimana - mana.

Mata Sehun memincing tajam, menatap kepergian mobil sang Papah lewat jendela.

Beberapa orang bilang Sehun adalah orang yang kejam, tak punya hati dan menyebutnya sebagai jelmaan iblis.

Padahal mereka tidak tahu apa yang Sehun lalui untuk bertahan hidup hingga saat ini. Hidup tanpa kasih sayang, miskin perhatian dan memiliki hidup yang penuh kehampaan.

Semua yang orang lain inginkan bisa Sehun dapatkan karena uang, tapi sebanyak apapun uang yang Sehun miliki itu tidak akan pernah bisa membuat Sehun sekali saja merasakan kasih sayang dari kedua orangtuanya.

Bahkan untuk mendapatkan cinta dari orang yang ia suka saja tidak bisa. Di saat orang - orang mendapatkan cinta dengan mudahnya, Sehun malah harus menjadi iblis dulu untuk merealisasikan keinginan nya.

Sehun sama dengan anak - anak lainnya.

Lahir kedunia karena kedua orang tuanya yang saling mencintai, tapi ketika cinta itu hilang, hidup bagi Sehun hanyalah kebohongan.

Comments (2)
goodnovel comment avatar
Yulinda Joeroetoelis
Terus gw mesti bilang wow gitu..
goodnovel comment avatar
Bee Kwon
dan saking gilanya ya Hun ampe ngorbanin anak gadis orang
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status