MasukAlissa's life is pitiful. She's a slave, a 'thing' for the pack to take their aggression out on. With a new alpha about to take over, Alissa dreams her suffering will end. He biggest hope is that the new alpha will let her leave. He doesn't. For she's his mate. A mate he rejects in an instant and watches as her pack beat her to near death. One word changes her life, in a deep and powerful command, he saves her. But can the blossoming relationship survive a secret, a secret the pack had been hiding for centuries? A secret that could mean death for them all.
Lihat lebih banyakSiang itu cuaca yang terlihat di luar jendela kaca ruang kerja Andre amatlah cerah. Namun hati Andre yang tetap terasa mendung sejak kembalinya wanita yang sangat ia cintai Azalea, ke dalam pelukan Aaron, semakin terasa mendung saat mendapati surat pengunduran diri sekretarisnya yang selama ini selalu dapat ia andalkan.
Dengan kesal ia membanting surat itu ke atas mejanya,
“Kenapa bisa tiba-tiba Lydia mengundurkan diri? Apa kau bisa handle semuanya seorang diri, Jo?” tanyanya pada Joshua asisten pribadinya.
Sebenarnya Andre tidak menginginkan seorang asisten pribadi yang selalu mengikutinya dengan berbagai agenda yang harus ia lakukan. Melebihi tugas seorang sekretaris yang telah lama ikut dengannya itu. Namun daddynya memaksanya untuk menerima Joshua sebagai asisten pribadinya.
“Hanya menambah job desk pekerjaan saya saja, Tuan. Tentu saja saya sanggup. Sampai saya menemukan sekretaris yang handal untuk menggantikan posisi Lydia,” jawab Joshua.
"Tidak akan ada yang sehandal dia, Jo! Saya bisa pastikan itu! Daripada kau buang waktu mencari sekretaris lainnya, kenapa tidak kau datangi saja Lydia, tanyakan padanya apa yang menyebabkannya mengundurkan diri, kalau masalah salary, saya bisa naikkan dua kali lipat dari yang sebelumnya!" saran Andre.
Jo sedikit menunduk saat menjawab,
"Baik Tuan Andre. Saya akan mencari tahu dan membujuknya untuk mau kembali bekerja di sini lagi."
Dengan gerakan tangannya, Andre meminta Joshua keluar dari ruangannya,
"Pergilah, dan bawa wanita itu secepatnya!" perintahnya.
Joshua baru akan melangkah keluar saat terdengar ketukan pintu, asisten pribadinya itu pun langsung membukanya dan mendapati salah satu anak buahnya tengah menggendong seorang anak perempuan,
"Apa kau lupa ini masih jam kantor? Kenapa kau membawa anak ke sini?" tanya Joshua.
Suaranya terdengar tegas dan berwibawa saat berbicara dengan anak buahnya, tidak selembut saat berbicara dengan Andre.
"Maaf, Pak Jo. Tapi ini bukan anak saya," jawab anak buahnya.
"Kalau bukan anak kamu, kenapa kamu membawanya ke sini? Apa kau mau memancing kemarahan Tuan Andre?"
Apa mereka tidak tahu kalau suasana hati Andre selalu terlihat buruk. Sedikit saja kesalahan maka pria itu tidak akan segan-segan memecat mereka.
"Maaf Pak Jo, saya tidak akan berani. Tapi tadi seseorang menitipkan anak ini pada saya, dan menegaskan kalau anak ini adalah milik Tuan Andre."
"Jangan gila kamu! Sejak kapan Tuan andre memiliki anak? Menikah saja belum! Berhubungan ba ... " Joshua mengibas tangannya dengan tidak sabar,
"Sudahlah, bawa anak itu keluar! Dan kembalikan pada siapapun yang memberikannya padamu barusan!" perintahnya.
"Tapi ... "
"Apa kau sedang mencoba untuk mengabaikan perintah saya?"
Melihat tatapan tajam Joshua seketika itu juga anak buahnya menunduk, entah karena hormat atau ketakutan.
"Baik Pak Jo. Saya akan kembalikan lagi anak ini!"
Anak buahnya balik badan sambil menggerutu pelan,
"Apa Pak Jo tidak melihat mata anak ini sebiru mata Tuan Andre? Bukan anaknya darimana?"
"Apa yang kau ucapkan barusan?"
Pertanyaan Joshua membuat langkah anak buahnya terhenti. Punggungnya menegang karena ketakutannya akan amarah yang akan ia terima dari Joshua nantinya, ia tidak menyangka kalau gumamannya dapat tertangkap telinga atasannya itu.
Perlahan anak buahnya balik badan kembali ke arah Joshua. Dan saat itu, anak yang semula sedang tertidur dengan menyandarkan kepalanya di dada anak buahnya, sekarang mulai terbangun dan perlahan membuka kedua matanya.
Joshua mundur beberapa langkah ke belakangnya, karena apa yang anak buahnya ucapkan tadi ada benarnya juga, mata anak perempuan itu sama birunya dengan mata Andre. Mata yang saat ini amatlah langka.
"Mommy .... Mommy ... " rengek anak itu dengan bibir bawahnya yang bergetar, sebentar lagi pasti akan segera nangis mencari sosok yang anak itu kenali.
"Bawa masuk!" perintah Joshua, ia membuka pintu lebar-lebar dan menutupnya kembali setelah anak buahnya masuk sambil terus menggendong anak kecil itu.
Lebih baik mereka membicarakannya di dalam, untuk menghindari spekulasi buruk dari para karyawannya nantinya.
"Apa-apaan ini?" tanya Andre saat melihat seseorang memasuki ruangannya dengan seorang anak yang sedang merengek sedih.
"Bawa anak itu ke sana!" seru Joshua sambil menunjuk sofa melingkar di sisi jendela kaca besar yang menampakkan gedung-gedung bertingkat yang seolah berlomba-lomba meninggikan bangunannya.
"Jo! Jelaskan padaku sekarang!" geram Andre. Matanya mengikuti gerak langkah anak buahnya yang sedang menuju sofa tempat Andre biasanya duduk santai.
"Seseorang telah menyerahkan anak itu pada anak buah kita, Tuan. Menurut penuturannya, anak itu adalah milik anda Tuan," jelas Joshua.
Andre menyipitkan kedua matanya dengan dongkol,
"Dan kau percaya begitu saja?"
"Tentu saja saya tidak langsung percaya, Tuan. Mengingat saya tahu hidup selibat anda. Tapi, kalau anda melihat mata anak itu, anda akan mendapati mata yang sama dengan mata anda."
Bahkan Thomas adik kandung Andre sekalipun tidak memiliki mata yang sebiru cerah itu. Sama dengan birunya langit saat ini.
Penasaran dengan yang Joshua ucapkan barusan, Andre pun menoleh ke anak perempuan yang sedang fokus memandangi gedung perkantoran, juga lalu lalang mobil yang terlihat di atas jalan layang depan kantor Andre.
"Bawa ke sini anak itu!" perintahnya.
Dan saat anak buahnya melangkah mendekati Andre, anak yang tadinya terlihat merajuk kini wajahnya mulai terlihat ceria. Pandangan Andre pun langsung tertuju ke dua pasang mata berwarna biru sebiru warna mata Andre,
"Memangnya apa yang orang itu ucapkan saat menyatakan anak itu adalah anak saya?" tanya Andre pada anak buahnya itu.
"Tolong serahkan anak ini pada Tuan Beaufort, dia membutuhkan Daddynya, karena Mommynya sudah tidak sanggup lagi merawatnya," jawab anak buahnya.
"Beaufort siapa yang orang itu maksud? Saya, Daddy saya? atau Thomas?" cecar Andre.
Ia sedikit dongkol dengan cara kerja anak buahnya itu. Nanti, ia akan meminta Joshua untuk melatih kesigapan mereka lagi.
"Maaf, Tuan. Hanya itu yang diucapkan sebelum pria itu bergegas pergi dengan sangat terburu-buru."
Andre bisa mencoret Thomas dari daftar ayah anak ini, karena matanya yang tidak sebiru mata Andre dan mata daddy mereka. Thomas memiliki warna mata mommy mereka.
Dan mengingat Andre tidak pernah sekalipun menyentuh wanita, maka bisa dipastikan kalau anak perempuan itu adalah milik daddynya. Kedua tangannya pun mengepal erat,
"Sial! Apa aku punya adik lagi?" geramnya.
Menghadapi keliaran Thomas saja Andre sudah dibuat pusing, ditambah lagi satu orang adik yang masih batita.
Apa anak ini hasil hubungan daddynya dengan Kitty?
Mengetahui hal itu Andre semakin terbakar emosinya. Ia seolah tidak dapat menerima memiliki adik dari wanita yang pernah kedapatan mencoba menggoda dirinya.
"Jo! Segera hubungi Tuan Beaufort!" perintahnya dengan nada tajam.
Alissa nursed her baby, she cooed down to him, his perfect tiny fingers gripped at her finger while he suckled. “Aunty, where's daddy?” Peta entered the room and sat at Alissa's feet.“He's keeping you safe little one, he loves you so much, come here.” She shifted her baby so Peta could climb on her lap.He peered up to her questioning, “I want daddy.” Tears welled in his emerald eyes.Alissa curled his chin length hair around her fingers. “I know, darling, he has to do his job though, but he has to keep us safe doesn't he? Or he wouldn't be a good wolf.” A large tear fell from Peta's eye. The little one had been very clingy recently.Maybe it was the birth of her and Luca’s little bundle of jo
Alissa couldn’t help flicking her glance to Luca every now and then, it may have been a few days but she still felt he was going to disappear within a moments notice. He caught her eye and opened his arms, dragging her into his body as soon as she was in arms reach. “It’s all going to be alright,” he whispered.She sunk into him, everything felt so right, his arms, his heat, the pressure of him against her body. It was what she needed.“Be better when we’re back home too,” he reassured.Alissa nodded against him, nuzzling slightly. “I miss home,” she whispered.He rocked her gently, squeezing her against him. “Me too, I wish the investigation hadn’t taken so long but at least it’s a
Luca grasped Alissa’s hand tightly as Rufus lead them through the council building to the sitting room beside the meeting room where the Alphas were filing into. “I’ll be right with you,” Rufus directed to the Alphas before following Luca and Alissa in.“Do you have any idea what’s going on?” Luca asked.“I don’t, in truth. I wish to listen to them all regarding their concerns but… please, tell me what happened. I’ve heard Alissa’s perspective, I need yours.”Luca nodded, sitting the the cream sofa, tugging Alissa with him, not wanting to let her go. “From the beginning?” he asked to clarify.Rufus nodded, “Please.”
“I second that query, High Council.”Alissa frowned. A voice she knew so well permeating into her mind. She knew she was hearing wrong, knew that voice wasn’t real. It couldn’t be real… but it sounded so real.Gasps erupted around them, from everyone, not just the council. A ripple of surprise spread from everyone.Michael grabbed her hand and she almost had the confidence to look up but didn’t. She couldn’t look, she didn’t want to confirm or deny it was his voice. She didn’t want to know.“My land is not up for discussion, let alone on a day like this. But it is my land, High Council.”“Alpha Wuffaman,” High Council Vilkaman bre
The sun was warmer than it had been for months, the beginnings of spring poking through barren trees, dandelions budding within the dewy, luscious grass that looked inviting despite what the day was. Alphas, families, betas, and probably some others were sat, some
After getting changed, Alissa popped the wet, stained shirt on the arm of the sofa, unsure where to put it before sitting nervously. Her mind wasn’t really working properly, that was what it felt like. She felt she’d been given more information than she
Luca was vibrating, desperate to not let his anger out but he was finding it hard. Not knowing… Not having a clue what was going on. Angry Malachi had downed him, and he had no idea why.Alissa. Where was Al
His hand fastened tighter over her mouth, preventing any breath to escape. She wriggled and struggled in his hold only for a panic to blind her as his other hand came up, his fingers pinching her nose.He was going






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan