Se connecterIn the mystical realm of Lunaria, Sepharine, a mysterious woman with striking white hair, is shunned by her pack due to a centuries-old prophecy. Unfortunately Sepharine loses her life and a soul of a 21st century skilled assassin,Kira transmigrated into her body. Sepharine's life is entwined with the Lunar Pack's alpha, Damon, who seeks to claim her as his mate to fulfill the prophecy. However, Sepharine's past is marred by secrets: she has triplets with an unknown father, making her an outcast. As Kira now Sepharine navigates the treacherous world of werewolf politics, she must confront her own identity and the truth about her past. Damon's unwavering devotion and protection awaken feelings she thought long buried. With the prophecy unfolding, dark forces seek to exploit Sepharine's unique connection to the moon's power. As she uncovers the secrets of her past and the true meaning of the prophecy, Sepharine must choose between her growing love for Damon and her duty to protect her triplets.
Voir plus"Tia, waktu kakek sudah tidak banyak. Jika kakek sudah tidak ada di dunia, kamu janji harus jadi wanita yang baik dan hidup bahagia," ucap Surya.
"Kakek, jangan bicara seperti itu. Kakek pasti sembuh, Tia cuma punya kakek," ucap gadis cantik bermata coklat, air mata nya sudah menganak sungai membasahi pipi. Gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh sang kakek, kini merasa sangat rapuh karena seminggu belakangan kesehatan sang kakek semakin menurun. Penyakit hipertensi dan usia yang tak muda lagi membuat Surya semakin lemah, ia memberikan sebuah cincin permata kepada sang cucu dengan tangan gemetar. "Sebelum kakek pergi, tolong datang ke keluarga Prayogi perlihatkan cincin ini pada mereka," ucap Surya dengan suara bergetar. Tia hanya bisa menganggukan kepalanya, setelah sang kakek minum obat dan tidur, gadis cantik itu pun menjalankan amanat sang kakek. Dengan sepeda motor maticnya, ia pergi ke kediaman keluarga Prayogi yang terkenal kaya dan memiliki banyak hotel di kota tersebut. "Apa hubungan kakek dengan keluarga kaya itu?" gumam Tia dalam hati. Ia tidak punya banyak waktu untuk berpikir, apapun yang terjadi di masa lalu sang kakek yang penting saat ini ia menjalankan amanat itu. Tia yakin ada hal penting yang ingin di sampaikan sang kakek hingga memintanya untuk datang dan memperlihatkan cincin tersebut pada keluarga Prayogi. ~ "Cincin ini? Kamu siapa, dimana Surya sekarang?" tanya seorang kakek tua yang berdiri dengan tongkatnya. Tia sudah berada di dalam rumah mewah, kediaman keluarga Prayogi. Awalnya ia tak diizinkan masuk oleh security. Namun, tak sengaja bertemu dengan wanita cantik dan baik pemilik rumah tersebut. Setelah memperlihatkan cincin kakeknya, akhirnya Tia pun dipersilahkan masuk, kini ia duduk si sofa ruang tamu rumah mewah itu, ditatap oleh 3 orang keluarga Prayogi. "Saya Tia. Saya cucu kakek Surya, sekarang kakek ada di rumah sakit. Dia minta saya datang kesini dan menunjukan cincin ini pada keluarga Prayogi, saya juga tidak tahu apa maksudnya," ucap Tia. "Tia? Kamu Tiana Fadhilah, anak Seruni dan Fadhil?" tanya Hanifa, wanita cantik yang mengizinkannya masuk, istri dari Hendri Prayogi. Tia menganggukan kepala, sedetik kemudian wanita cantik itu langsung memeluknya dengan erat, membuatnya sangat terkejut. "Ya Tuhan kamu sudah sebesar ini, kemana saja kamu dan kakekmu pergi. Sejak mama dan papamu meninggal, kami tak pernah lagi mendengar kabar kalian," ucap Hanifa. Tia sedikit mengangkat wajahnya, menatap wanita cantik paruh baya di depannya dalam-dalam. Akhirnya ia ingat, wanita tersebut adalah sahabat mamanya, kakek tua yang memegang tongkat adalah sahabat kakeknya. Dulu keluarga mereka sering berlibur bersama, tetapi sejak mama dan papa Tia meninggal, perusahaan bangkrut, Surya pun membawa Tia tinggal di pedesaan. Setelah lulus kuliah dan mendapat pekerjaan di kota barulah Tia membawa sang kakek tinggal di kota. "Tadi kamu bilang Surya di rumah sakit?" tanya kakek Tirta. "Iya, kakek memiliki riwayat penyakit hipertensi. Belakangan kondisi kesehatannya memburuk, sekarang di rawat di rumah sakit karena hipertensi dan komplikasi penyakit lain," jawab Tia. "Dia meminta mu datang kesini, pasti ada hal penting yang ingin di sampaikan," ucap kakek Tirta. Tanpa banyak basa-basi, mereka pun akhirnya pergi menuju rumah sakit untuk melihat kondisi kakek Surya. Setelah sampai di rumah sakit, suasana haru pun sangat mendominasi ruangan. Sahabat lama yang akhirnya dipertemukan kembali, dua lelaki yang sudah tak muda lagi mengenang masa lalu, membahas hal-hal yang pernah mereka lewati bersama, hingga akhirnya terpisah karena keadaan yang tak terduga. "Tirta, aku rasa waktuku sudah tak lama lagi. Cucuku ini tak punya siapa-siapa, jika aku pergi tolong jaga dia. Apa kau masih ingat perjodohan yang pernah kita inginkan dulu? Apa itu masih berlaku?" tanya Surya. "Kakek ...." Mata Tia kembali basah mendengar ucapan sang kakek. Ia tahu setiap bernyawa pasti akan mati, tetapi menghadapi kepergian sang kakek rasanya ia tak pernah siap. Tirta menganggukan kepala menjawab ucapan sahabatnya. "Dulu kita ingin menjodohkan anak, tetapi takdir berkata lain. Anak kita sama-sama perempuan hingga tidak bisa dijodohkan, tapi mereka bersahabat," ucap Tirta. Hanifa menghela nafas, ia pernah mendengar hal itu. Persahabatan nya dengan Seruni pun terjadi karena persahabatan kedua orang tua mereka, tetapi selain itu Hanifa sangat senang bersahabat dengan Seruni karena sifatnya yang baik dan tulus. "Sekarang sepertinya kita bisa mewujudkan perjodohan itu. Cucumu perempuan dan cucuku laki-laki," ucap Tirta. "Sebelum meninggal, aku ingin melihat Tia menikah. Aku tenang meninggalkan dunia ini, jika Tia ada yang menjaga," ucap Surya. "Pernikahan itu pasti terjadi. Cucuku pasti akan jadi suami cucumu!" ucap Tirta. Hanifa menggenggam tangan dan merangkul pundak Tia, ia senang karena anak sahabatnya akan menjadi menantunya. Ia yakin Tia pasti gadis baik seperti ibunya dulu, sementara Tia hanya diam tak bisa berkata apa-apa. Ia harus memenuhi permintaan terakhir sang kakek, meskipun tidak tahu lelaki seperti apa yang akan menikah dengannya nanti. Satu Minggu kemudian. Surya di pindahkan ke ruang rawat VIP, ruang rawat itu kini di hias dengan bunga-bunga segar. Tia sudah menggunakan kebaya, make up tipis, dan hiasan kepala sederhana, pernikahan sederhana dilakukan di ruangan itu karena Surya yang akan menjadi Wali nikah cucunya sendiri. Sementara di luar ruangan. "Ini gila, bahkan aku harus menikah dengan wanita yang tak pernah aku kenal!" ucap Hadi. Lelaki tampan yang merupakan ahli waris perusahaan milik keluarga Prayogi. "Dia anak sahabat mama mu, papa sudah menyelidiki. Dia gadis baik, pintar, dan bagus jika kamu menikah dengannya," ucap Hendri. "Kalau papa pikir seperti itu, kenapa bukan papa saja yang menikahinya!" ucap Hadi sinis. "Hadi jaga ucapanmu! Dia itu gadis baik, lagipula ini permintaan kakek. Perjodohan ini bahkan sudah dibuat sebelum kamu lahir ke dunia," ucap Hanifa. "Tapi aku tidak mencintainya! Karena permintaan kakek ini aku kehilangan orang yang aku cintai," ucap Hadi tambah emosi ketika mengingat sang kekasih yang meninggalkan karena tahu ia di jodohkan dengan wanita lain. Belum sempat Hanifa dan Hendri menjawab ucapan Hadi, seorang penghulu datang dan meminta Hadi untuk memulai pernikahan. Hadi menonjok dinding rumah sakit, ia tidak bisa menolak perjodohan itu, tetap harus menikahi wanita yang tak ia cintai karena sang kakek mengancam akan bunuh diri jika Hadi menolak menikah dengan Tia. Dengan langkah berat, Hadi pun memasuki ruangan tersebut. Ternyata sang kakek sudah menunggu, duduk di samping sahabatnya yang terlihat lemah karena sakit. Ia pun menatap wanita cantik yang duduk dengan kebaya putih sederhana. Meksi wanita itu cantik, tak membuat hati Hadi bergetar, justru ia menatapnya dengan kebencian. Sementara Tia saat pertama menatap Hadi langsung mengenali lelaki itu sebagai teman masa kecilnya dulu. "Dia ... Ternyata lelaki yang akan menikahiku adalah orang yang pernah menyelamatkan ku, orang yang sudah lama aku sukai. Aku pikir tidak akan pernah bertemu lagi, tapi ternyata dia akan jadi suamiku," gumam Tia dalam hati.In the face of this crisis, Alyssa seizes the opportunity to further vilify Seraphine, claiming that her very existence threatens the pack’s safety. The air was thick with tension, voices echoing through the halls of the pack house. Wolves gathered in clusters, their faces filled with worry and frustration. Alyssa’s voice cut through the murmurs, loud and scornful. "Are you all blind? How much more suffering will it take for you to realize the truth?" (She looks around, catching eyes as she steps into the center of the room, her voice cold.) "Ever since Seraphine’s so-called 'transformation,' everything’s gone wrong. This illness? It's no coincidence."Pack Member hesitating "What are you saying, Alyssa? You think Seraphine... caused this?"Alyssa nodding sharply "Yes! Her connection to the Moon Goddess? It’s tainted us. The moment she was 'chosen,' our pack’s luck turned sour. She’s a curse—a danger to us all."Pack Member nervously"But she’s been trying to help, healing everyone w
Just as Seraphine begins to adjust to her new role, disaster strikes. A mysterious illness sweeps through the pack, causing wolves to experience debilitating symptoms—high fevers, fatigue, and nightmares that leave them unable to shift. Panic ensues as pack members fall ill, and Seraphine’s earlier transformation becomes a liability rather than a strength. Many pack members begin to blame her, believing her connection to the Moon Goddess brought this curse upon them.Seraphine sat in the healer’s hut, watching as the pack’s youngest members were cared for, each one pale and feverish, their breaths shallow and strained. The air was thick with the scent of medicinal herbs and the quiet murmurs of worried pack members.Two healers worked frantically, moving from bed to bed, their faces etched with concern. Seraphine’s own hands trembled as she touched the forehead of a young pup, who whimpered softly in her sleep.“Seraphine,” an elder called from the doorway. “The pack’s gathered. They
Damon leaned against his desk, running a hand through his hair as he looked out the windows of his room. The moonlight streamed in, casting shadows across the room, intensifying the haunted look in his eyes. Caleb, his beta and closest friend, stood by the door, waiting patiently for the Alpha King to speak.Damon’s voice was a low murmur. “Caleb, I need you to find her.”Caleb's brow furrowed in concern. “The woman in your dreams?”Damon’s jaw tightened, and he nodded. “She’s not just in my dreams, Caleb. She’s… real. Every detail is vivid, like it happened yesterday. I need you to investigate that night. Find out who set it up, and where she went afterward.”Caleb shifted, crossing his arms thoughtfully. “That night? The one where…” He paused, searching for the right words, but Damon cut him off.“Yes, the night I was framed.” Damon’s voice was cold, tinged with barely concealed anger. “The one that left my reputation in pieces and took away any chance I had at choosing my own path.
In Damon’s private quarters. The night is still, but the air is heavy with tension. Damon, the powerful Alpha King, wakes abruptly from a dream, drenched in sweat. His heart races as images of a woman—her face, her voice, her touch—linger in his mind. He feels the weight of his memories pressing down on him, a secret he cannot shake. As he sits up, trying to steady his breathing, his Beta, Caleb, enters the room.Damon breathing heavily, wiping the sweat from his forehead as he sits up in bed “Not again…”Caleb knocking lightly before stepping inside “Alpha, are you alright? Another dream?”Damon his voice low and gravelly as he swings his legs out of bed “Yes. Her again.”Caleb raising an eyebrow, stepping closer “You dreamt of her… the woman from that night?”Damon clenching his jaw, his fists tightening “I don’t know why she keeps appearing in my dreams. I barely remember her face, but I know she’s real. She’s not just a figment of my imagination.”Caleb crossing his arms, concerne
The night outside suddenly brightened. The moon’s light, once soft and subtle, intensified, flooding the room with a radiant, silver glow. The torches flickered and dimmed until the moonlight was the only source of illumination. The crowd fell silent, confusion spreading like wildfire. Eyes darted
The cheers for Alyssa began to fade as the Alpha descended from the podium, his face impassive, betraying no emotion. As he neared Seraphine, his eyes flicked toward her—just for a moment, cold and devoid of warmth. To him, she was nothing more than a stranger.The Alpha’s mind wandered back to the
After the Festival of Transformation, Seraphine takes on the responsibility of handling pack activities as the new heir. However, despite her new role and the power she demonstrated, the pack remains divided. Some believe in her and see her as the rightful heir, chosen by the Moon Goddess, while ot
Jake’s heart felt as though it were being crushed under the weight of his regret. He watched as Seraphine, now fully transformed into her magnificent wolf form, stood radiating power and grace. The moon symbol on her forehead shone brightly, a clear mark of her connection to the Moon Goddess. The p






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
commentaires