MasukSunrise berdiri terpaku beberapa detik setelah Ardelia pergi, langkah wanita itu menjauh dengan anggun, seolah tak pernah meninggalkan bom waktu di belakangnya. Lorong samping resort kembali lengang, hanya suara tawa anak-anak dari taman depan yang samar terdengar.Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan."Jika Nona sudah tak menginginkannya, bolehkah saya merebutnya?"Kalimat itu berulang di kepalanya seperti jarum yang menusuk pelan tapi dalam. Sunrise menutup mata sejenak, menekan telapak tangannya ke dada, mencoba meredam rasa panas yang menjalar hingga tenggorokan.“Aku baik-baik saja,” gumamnya lirih, lebih seperti usaha meyakinkan diri sendiri.Namun kebohongan itu runtuh saat ia kembali ke area utama. Dari kejauhan, ia melihat Khairen berdiri bersama Ellion dan beberapa anak panti asuhan. Lelaki itu berjongkok, membiarkan Ellion menarik ujung jasnya, tertawa kecil saat bocah itu memamerkan mainan baru. Pemandangan itu membuat dada
Mobil melaju menuruni jalanan Albinen yang masih diselimuti kabut tipis. Pepohonan pinus berdiri diam, seolah menjadi saksi bisu dari kepergian Khairen.Di dalam mobil, keheningan menyelimuti. Hanya suara mesin yang sesekali memecah udara.Nick melirik tuannya lewat kaca spion. Rahangnya mengeras sesaat sebelum akhirnya ia membuka suara, kali ini lebih hati-hati.“Tuan… maaf, jika tadi lancang mengatakannya. Saya tak seharusnya berbicara sejauh itu.”Khairen tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus ke depan, fokus pada jalanan berkelok, namun pikirannya melayang jauh. Kata-kata Nick barusan terus terngiang di kepalanya, berputar seperti gema yang tak mau reda."Masih belum terlambat… memulai kembali…" “Kau benar.” jawab Khairen akhirnya, suaranya datar. “Kau hanya mengatakan apa yang memang sudah kupikirkan.”Nick menghela napas lega, meski ada sesuatu di balik sorot matanya. Ia tahu, ketika Khairen berkata demikian, artinya perang batin tuannya justru baru dimulai.Beberapa jam set
Pintu kamar Ellion tertutup pelan di belakang Sunrise. Ia berdiri sejenak di balik pintu, punggungnya bersandar pada dinding kayu yang dingin, napasnya tertahan. Detak jantungnya belum juga melambat, seolah tubuhnya masih terjebak di dekapan Khairen.Ia menekan telapak tangan ke dada, merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang. Ciuman, dekapan hangat, dan sentuhan itu... membuat kewarasannya hampir hilang.Di kamar Ellion, cahaya lampu tidur jatuh lembut di wajah bocah itu. Sunrise berjalan pelan mendekati Ellion. Ia duduk di sisi ranjang, mengusap rambutnya perlahan. Ellion bergumam kecil dalam tidur, alisnya berkerut sejenak, lalu kembali damai. Sunrise tersenyum getir menatapnya.“Maafkan Mommy,” bisiknya lirih, entah pada siapa.Ia berbaring di sisi ranjang hingga napas Ellion kembali teratur dan dadanya terasa sedikit lebih ringan. Namun rasa bersalah tetap menggantung. Ia tahu, yang terjadi barusan bukan sekadar godaan sesaat. Itu adalah sisa cinta yang belum pernah benar-
Paku itu menancap perlahan, nyaris tanpa suara. Summer berjongkok di samping mobil Khairen, jantungnya berdetak cepat saat udara dingin Albinen menusuk tulang.Ia memastikan lubang kecil itu cukup untuk membuat ban kehilangan tekanan, tapi tidak cukup mencurigakan. Ketika desis halus terdengar, ia menutup mata sesaat, lalu berdiri, menyelipkan paku itu ke saku jaketnya.“Maaf,” bisiknya sekali lagi, sebelum melangkah kembali ke dalam rumah.Pagi belum benar-benar datang ketika Khairen berdiri di teras, mantel tebal sudah dikenakan, tas kecil tergantung di bahu. Kabut tipis kembali merayap di lembah.Sunrise mengantarnya sampai ke halaman, tangan mereka nyaris bersentuhan, namun tak ada yang berani memulai.“Aku harus berangkat sekarang,” ucap Khairen, suaranya datar, berusaha tenang.Sunrise mengangguk. “Hati-hati.”Kalimat itu sederhana, namun sarat makna yang tak terucap. Khairen membuka pintu mobil, duduk, menyalakan mesin. Lampu depan memotong kabut. Ia melambaikan tangan singkat,
Kabut di lembah Albinen perlahan menipis ketika percakapan itu berakhir, namun di sudut rumah kecil itu, ada sepasang telinga yang sejak tadi menahan napas.Summer berdiri di balik pintu taman yang sedikit terbuka. Tangannya menutup mulut, matanya basah. Setiap kata Khairen menembus dadanya, setiap isak Sunrise terasa seperti miliknya sendiri.Ia mengenal kakaknya. Ia tahu bagaimana Sunrise mencintai Khairen. Dan ia juga melihat, dengan kejelasan yang menyakitkan, bahwa Khairen mencintai Sunrise dengan cara yang sama-sama menyakitkan.Mereka bukan tidak saling mencintai. Mereka hanya terlalu takut untuk mengakui bahwa cinta itu masih hiduo di hatinya.Summer menghela napas panjang. Ide cemerlang lahir begitu saja, tanpa rencana matang, tanpa perhitungan rumit. Hanya satu keyakinan sederhana yang terngiang di otaknya, jika tidak ada yang mendorong mereka sekarang, mereka akan terus menjauh. demi alasan yang terdengar tak masuk akal, namun sesungguhnya hanya saling menutupi perasaan.Ia
Udara Albinen terasa segar, membawa aroma tanah basah dan bunga liar dari luar jendela. Sunrise terbangun perlahan, dengan kesadaran penuh bahwa tubuhnya masih berada di antara dua kehangatan, Ellion yang meringkuk di sisinya, dan Khairen yang duduk bersandar di kepala ranjang.Ellion mendengkur kecil, satu tangannya mencengkeram kemeja Khairen, seolah takut lelaki itu akan menghilang jika dilepaskan. Sunrise mengamati pemandangan itu lama, dadanya terasa penuh.Selama enam tahun, ia terbiasa menjadi satu-satunya penopang bagi Ellion. Kini, ada sosok lain yang dengan begitu alami mengisi ruang itu, menjadi bagian yang seharusnya memang ada.Khairen membuka mata, menangkap tatapan Sunrise. Mereka saling diam, berbagi keheningan yang canggung. Ada banyak hal yang ingin diucapkan.“Aku buatkan sarapan,” bisik Khairen akhirnya, suaranya serak karena baru bangun tidur. Ia perlahan melepaskan diri dari genggaman Ellion, menata ulang selimut agar anak itu tetap hangat.Sunrise menatap tak pe
Malam semakin larut, namun tidur tak kunjung datang.Sunrise terbaring kaku, punggungnya membelakangi Khairen. Jarak di antara mereka nyaris tak ada, hanya sehelai kain tipis dan kesepakatan kontrak yang menahan segalanya.Dada Sunrise naik turun tak beraturan. Setiap tarikan napas terasa canggung,
Sunrise merasakan hangat tubuh Khairen, perlindungan yang selama ini selalu ia tolak, kini justru menjelma menjadi tempat paling aman dan nyaman.Perlahan Sunrise menarik diri, menatap wajah Khairen. Mata pria itu gelap, dalam, penuh keteguhan yang membuat dadanya bergetar tanpa alasan yang jelas.
Begitu mereka tiba di basecamp, suasana langsung berubah sibuk. Lampu-lampu tenda medis menyala terang, suara langkah kaki, peralatan dibuka, dan instruksi terdengar saling bersahutan.Namun di tengah kesibukan itu, Sunrise hanya merasakan satu hal, tangan Khairen yang tak pernah melepaskan genggam
Khairen menahan tarikan itu dengan seluruh kekuatannya. Sepatunya menghunjam salju, lututnya menekuk menahan beban Sunrise yang nyaris tergelincir ke bawah. “Pegang aku!” suaranya keras, memerintah, namun ada getar yang tak bisa ia sembunyikan. Ia takut kehilangan.Sunrise mengangguk pan







