MasukSinar matahari siang mulai menyusup melalui tirai jendela rumah sakit. Burung-burung berkicau pelan di luar, memberi kontras damai pada sisa-sisa malam penuh kekacauan.
Sunrise perlahan membuka matanya. Pandangannya buram, samar, dan langit-langit putih rumah sakit menyambutnya dalam sunyi yang asing. Beberapa detik ia terdiam, tubuhnya masih berat, napasnya pelan, dan kepala terasa berdenyut.Satu suara memecah kesunyiannya.“Kakak, kamu sadar?” suara lembut itu familiar. Hangat.Paku itu menancap perlahan, nyaris tanpa suara. Summer berjongkok di samping mobil Khairen, jantungnya berdetak cepat saat udara dingin Albinen menusuk tulang.Ia memastikan lubang kecil itu cukup untuk membuat ban kehilangan tekanan, tapi tidak cukup mencurigakan. Ketika desis halus terdengar, ia menutup mata sesaat, lalu berdiri, menyelipkan paku itu ke saku jaketnya.“Maaf,” bisiknya sekali lagi, sebelum melangkah kembali ke dalam rumah.Pagi belum benar-benar datang ketika Khairen berdiri di teras, mantel tebal sudah dikenakan, tas kecil tergantung di bahu. Kabut tipis kembali merayap di lembah.Sunrise mengantarnya sampai ke halaman, tangan mereka nyaris bersentuhan, namun tak ada yang berani memulai.“Aku harus berangkat sekarang,” ucap Khairen, suaranya datar, berusaha tenang.Sunrise mengangguk. “Hati-hati.”Kalimat itu sederhana, namun sarat makna yang tak terucap. Khairen membuka pintu mobil, duduk, menyalakan mesin. Lampu depan memotong kabut. Ia melambaikan tangan singkat,
Kabut di lembah Albinen perlahan menipis ketika percakapan itu berakhir, namun di sudut rumah kecil itu, ada sepasang telinga yang sejak tadi menahan napas.Summer berdiri di balik pintu taman yang sedikit terbuka. Tangannya menutup mulut, matanya basah. Setiap kata Khairen menembus dadanya, setiap isak Sunrise terasa seperti miliknya sendiri.Ia mengenal kakaknya. Ia tahu bagaimana Sunrise mencintai Khairen. Dan ia juga melihat, dengan kejelasan yang menyakitkan, bahwa Khairen mencintai Sunrise dengan cara yang sama-sama menyakitkan.Mereka bukan tidak saling mencintai. Mereka hanya terlalu takut untuk mengakui bahwa cinta itu masih hiduo di hatinya.Summer menghela napas panjang. Ide cemerlang lahir begitu saja, tanpa rencana matang, tanpa perhitungan rumit. Hanya satu keyakinan sederhana yang terngiang di otaknya, jika tidak ada yang mendorong mereka sekarang, mereka akan terus menjauh. demi alasan yang terdengar tak masuk akal, namun sesungguhnya hanya saling menutupi perasaan.Ia
Udara Albinen terasa segar, membawa aroma tanah basah dan bunga liar dari luar jendela. Sunrise terbangun perlahan, dengan kesadaran penuh bahwa tubuhnya masih berada di antara dua kehangatan, Ellion yang meringkuk di sisinya, dan Khairen yang duduk bersandar di kepala ranjang.Ellion mendengkur kecil, satu tangannya mencengkeram kemeja Khairen, seolah takut lelaki itu akan menghilang jika dilepaskan. Sunrise mengamati pemandangan itu lama, dadanya terasa penuh.Selama enam tahun, ia terbiasa menjadi satu-satunya penopang bagi Ellion. Kini, ada sosok lain yang dengan begitu alami mengisi ruang itu, menjadi bagian yang seharusnya memang ada.Khairen membuka mata, menangkap tatapan Sunrise. Mereka saling diam, berbagi keheningan yang canggung. Ada banyak hal yang ingin diucapkan.“Aku buatkan sarapan,” bisik Khairen akhirnya, suaranya serak karena baru bangun tidur. Ia perlahan melepaskan diri dari genggaman Ellion, menata ulang selimut agar anak itu tetap hangat.Sunrise menatap tak pe
Paginya, dokter datang dan memberikan kabar baik."Kondisi Ellion terus meningkat baik. Ia bisa diizinkan pulang hari ini." ucap Dokter."Syukurlah..." Sunrise tersenyum penuh haru."Kita pulang hari ini, Sayang!" Sunrise memeluk Ellion."Horeee... Ellion sudah sembuh karena Daddy ada di sini!" seru Ellion nampak begitu gembira.Mobil sedan mewah bewarna hitam milik Khairen meluncur meninggalkan halaman rumah sakit dengan senyap. Interiornya luas, berbalut kulit lembut berwarna krem, dengan aroma khas yang menenangkan.Ellion duduk di kursi belakang bersama Sunrise. Matanya berbinar, jari-jarinya menyentuh panel pintu, menekan tombol jendela atas yang perlahan terbuka.“Wow…” Ellion mendongakkan wajahnya ke atas. Menatap langit yang cerah. “Mobil Daddy bagus sekali.”Khairen melirik melalui spion, senyum tipis terbit di sudut bibirnya. “Kau suka?”Ellion mengangguk bersemangat. “Daddy… Daddy orang yang sangat kaya, ya? Apakah Daddy seorang CEO seperti Paman Lucas?”Sunrise menahan nap
Khairen berdiri di sana.Rambutnya sedikit berantakan, lingkar hitam tipis di bawah matanya menandakan kurang tidur. Namun matanya, mata itu, tetap sama. Tajam, dalam, dan kini memuat sesuatu yang sulit Sunrise baca.“Kau sudah kembali,” ucap Sunrise pelan.“Iya,” jawab Khairen. “Baru sampai satu jam lalu.”Mereka saling diam beberapa detik. Udara di antara mereka terasa tegang, penuh hal-hal yang belum terucap.“Boleh aku masuk?” tanya Khairen akhirnya.Sunrise mengangguk dan menyingkir. Khairen melangkah masuk, pandangannya langsung tertuju pada Ellion. Wajahnya melunak seketika.“Dia tidur,” bisik Sunrise.Khairen mendekat, berdiri di sisi ranjang. Tangannya terulur, mengusap rambut Ellion dengan gerakan yang sama seperti sebelumnya, seolah ia sudah menghafalnya.“Aku bawa sesuatu,” katanya pelan. Ia mengeluarkan sebuah mobil mainan dari paperbag, sederhana, namun terlihat dipilih dengan hati-hati. Ia meletakkannya di meja kecil di samping ranjang.Sunrise menatap benda itu, dadany
Pintu itu tertutup pelan, meninggalkan Sunrise sendirian bersama bunyi mesin monitor dan napas halus Ellion yang teratur. Ia memandang lama daun pintu. Berharap Khairen berbalik. Namun langkah kaki itu menjauh, lenyap di lorong rumah sakit.Ada perasaan aneh yang tertinggal di dadanya, bukan lagi takut atau cemas, melainkan sesuatu yang lebih rumit. Harapan yang selama ini ia paksa mati, kini perlahan menggeliat, menuntut ruangnya kembali."Apa yang kau pikirkan, Sunrise? Sadarlah..." Ia menepuk-nepuk pipinya sendiri berulang kali. Pipinya pun terasa menghangat.Sunrise berusaha kembali fokus pada buah hatinya. Ia mengusap rambut Ellion pelan. “Daddy kamu pergi sebentar, Sayang,” bisiknya lirih, lebih pada dirinya sendiri. “Tapi… dia akan kembali.”Kata-kata itu terasa asing di lidahnya. Enam tahun ia membesarkan Ellion seorang diri, mengajarinya menyebut dunia tanpa sosok ayah. Kini, realitas itu berubah begitu cepat.Hari-hari berikutnya berjalan dalam ritme rumah sakit yang melelah
Sunrise menarik napas panjang. “Aku butuh udara,” katanya dingin.Sunrise berjalan keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup pelan di belakangnya.Koridor AndersonNet sunyi. Lampu-lampu putih menyinari dinding logam yang dingin. Ia berjalan beberapa langkah sebelum berhenti.“Steve
Sunrise tidak bergerak. Tatapannya masih terpaku pada sosok yang berdiri di ambang pintu.Lampu ruang kerja AndersonNet yang redup membuat bayangan Steve memanjang di lantai marmer. Wajahnya tenang seperti biasa, sama seperti saat ia membahas kesepakatan dengannya.“Steve?” suaranya rendah.Steve m
Malam itu, di gedung pusat CNC masih terlihat normal.Di lantai teknologi, ruangan Steve terlihat sunyi. Hanya suara pendingin server yang berdengung pelan. Steve duduk di depan komputernya.Di layar, sistem keamanan tingkat empat milik CNC terbuka.Sistem itu terkenal hampir mustahil ditembus. Bah
Sunrise mengikuti langkah Lucas menyusuri lorong bawah tanah AndersonNet. Dinding beton abu-abu memantulkan cahaya lampu LED putih yang dingin, membuat tempat itu terasa lebih seperti bunker daripada ruang kerja perusahaan teknologi. Setiap beberapa meter, kamera keamanan berputar pelan, memindai w







