แชร์

38. Sengaja Menjadi Asing

ผู้เขียน: DF Handayani
last update วันที่เผยแพร่: 2025-07-09 09:00:42

Mobil sedan hitam berhenti perlahan di basement apartemen. Sopir segera turun, membukakan pintu belakang. Summer melangkah keluar, lalu menoleh ke dalam mobil.

"Kak!" panggilnya lirih.

Sunrise duduk diam di sana. Wajahnya teduh tapi beku. Ia keluar tanpa banyak kata. Langkahnya ringan namun tak bertenaga. Aroma rumah sakit masih menempel di kulitnya, meski kini telah berganti dengan mantel wol dan syal tipis.

Selama perjalanan dari rumah sakit ke apartemen, tak ada satu kalimat pu
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • The CEO'S Forbidden Bride    136. Ya, Aku Cemburu!

    Sunrise berdiri terpaku beberapa detik setelah Ardelia pergi, langkah wanita itu menjauh dengan anggun, seolah tak pernah meninggalkan bom waktu di belakangnya. Lorong samping resort kembali lengang, hanya suara tawa anak-anak dari taman depan yang samar terdengar.Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan."Jika Nona sudah tak menginginkannya, bolehkah saya merebutnya?"Kalimat itu berulang di kepalanya seperti jarum yang menusuk pelan tapi dalam. Sunrise menutup mata sejenak, menekan telapak tangannya ke dada, mencoba meredam rasa panas yang menjalar hingga tenggorokan.“Aku baik-baik saja,” gumamnya lirih, lebih seperti usaha meyakinkan diri sendiri.Namun kebohongan itu runtuh saat ia kembali ke area utama. Dari kejauhan, ia melihat Khairen berdiri bersama Ellion dan beberapa anak panti asuhan. Lelaki itu berjongkok, membiarkan Ellion menarik ujung jasnya, tertawa kecil saat bocah itu memamerkan mainan baru. Pemandangan itu membuat dada

  • The CEO'S Forbidden Bride    135. Cemburu Itu Nyata

    Mobil melaju menuruni jalanan Albinen yang masih diselimuti kabut tipis. Pepohonan pinus berdiri diam, seolah menjadi saksi bisu dari kepergian Khairen.Di dalam mobil, keheningan menyelimuti. Hanya suara mesin yang sesekali memecah udara.Nick melirik tuannya lewat kaca spion. Rahangnya mengeras sesaat sebelum akhirnya ia membuka suara, kali ini lebih hati-hati.“Tuan… maaf, jika tadi lancang mengatakannya. Saya tak seharusnya berbicara sejauh itu.”Khairen tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus ke depan, fokus pada jalanan berkelok, namun pikirannya melayang jauh. Kata-kata Nick barusan terus terngiang di kepalanya, berputar seperti gema yang tak mau reda."Masih belum terlambat… memulai kembali…" “Kau benar.” jawab Khairen akhirnya, suaranya datar. “Kau hanya mengatakan apa yang memang sudah kupikirkan.”Nick menghela napas lega, meski ada sesuatu di balik sorot matanya. Ia tahu, ketika Khairen berkata demikian, artinya perang batin tuannya justru baru dimulai.Beberapa jam set

  • The CEO'S Forbidden Bride    134. Belum Terlambat Untuk Memulai

    Pintu kamar Ellion tertutup pelan di belakang Sunrise. Ia berdiri sejenak di balik pintu, punggungnya bersandar pada dinding kayu yang dingin, napasnya tertahan. Detak jantungnya belum juga melambat, seolah tubuhnya masih terjebak di dekapan Khairen.Ia menekan telapak tangan ke dada, merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang. Ciuman, dekapan hangat, dan sentuhan itu... membuat kewarasannya hampir hilang.Di kamar Ellion, cahaya lampu tidur jatuh lembut di wajah bocah itu. Sunrise berjalan pelan mendekati Ellion. Ia duduk di sisi ranjang, mengusap rambutnya perlahan. Ellion bergumam kecil dalam tidur, alisnya berkerut sejenak, lalu kembali damai. Sunrise tersenyum getir menatapnya.“Maafkan Mommy,” bisiknya lirih, entah pada siapa.Ia berbaring di sisi ranjang hingga napas Ellion kembali teratur dan dadanya terasa sedikit lebih ringan. Namun rasa bersalah tetap menggantung. Ia tahu, yang terjadi barusan bukan sekadar godaan sesaat. Itu adalah sisa cinta yang belum pernah benar-

  • The CEO'S Forbidden Bride    133. Hampir Kehilangan Kendali

    Paku itu menancap perlahan, nyaris tanpa suara. Summer berjongkok di samping mobil Khairen, jantungnya berdetak cepat saat udara dingin Albinen menusuk tulang.Ia memastikan lubang kecil itu cukup untuk membuat ban kehilangan tekanan, tapi tidak cukup mencurigakan. Ketika desis halus terdengar, ia menutup mata sesaat, lalu berdiri, menyelipkan paku itu ke saku jaketnya.“Maaf,” bisiknya sekali lagi, sebelum melangkah kembali ke dalam rumah.Pagi belum benar-benar datang ketika Khairen berdiri di teras, mantel tebal sudah dikenakan, tas kecil tergantung di bahu. Kabut tipis kembali merayap di lembah.Sunrise mengantarnya sampai ke halaman, tangan mereka nyaris bersentuhan, namun tak ada yang berani memulai.“Aku harus berangkat sekarang,” ucap Khairen, suaranya datar, berusaha tenang.Sunrise mengangguk. “Hati-hati.”Kalimat itu sederhana, namun sarat makna yang tak terucap. Khairen membuka pintu mobil, duduk, menyalakan mesin. Lampu depan memotong kabut. Ia melambaikan tangan singkat,

  • The CEO'S Forbidden Bride    132. Rencana Kecil Summer dan Ellion

    Kabut di lembah Albinen perlahan menipis ketika percakapan itu berakhir, namun di sudut rumah kecil itu, ada sepasang telinga yang sejak tadi menahan napas.Summer berdiri di balik pintu taman yang sedikit terbuka. Tangannya menutup mulut, matanya basah. Setiap kata Khairen menembus dadanya, setiap isak Sunrise terasa seperti miliknya sendiri.Ia mengenal kakaknya. Ia tahu bagaimana Sunrise mencintai Khairen. Dan ia juga melihat, dengan kejelasan yang menyakitkan, bahwa Khairen mencintai Sunrise dengan cara yang sama-sama menyakitkan.Mereka bukan tidak saling mencintai. Mereka hanya terlalu takut untuk mengakui bahwa cinta itu masih hiduo di hatinya.Summer menghela napas panjang. Ide cemerlang lahir begitu saja, tanpa rencana matang, tanpa perhitungan rumit. Hanya satu keyakinan sederhana yang terngiang di otaknya, jika tidak ada yang mendorong mereka sekarang, mereka akan terus menjauh. demi alasan yang terdengar tak masuk akal, namun sesungguhnya hanya saling menutupi perasaan.Ia

  • The CEO'S Forbidden Bride    131. Hidupku Adalah Kalian

    Udara Albinen terasa segar, membawa aroma tanah basah dan bunga liar dari luar jendela. Sunrise terbangun perlahan, dengan kesadaran penuh bahwa tubuhnya masih berada di antara dua kehangatan, Ellion yang meringkuk di sisinya, dan Khairen yang duduk bersandar di kepala ranjang.Ellion mendengkur kecil, satu tangannya mencengkeram kemeja Khairen, seolah takut lelaki itu akan menghilang jika dilepaskan. Sunrise mengamati pemandangan itu lama, dadanya terasa penuh.Selama enam tahun, ia terbiasa menjadi satu-satunya penopang bagi Ellion. Kini, ada sosok lain yang dengan begitu alami mengisi ruang itu, menjadi bagian yang seharusnya memang ada.Khairen membuka mata, menangkap tatapan Sunrise. Mereka saling diam, berbagi keheningan yang canggung. Ada banyak hal yang ingin diucapkan.“Aku buatkan sarapan,” bisik Khairen akhirnya, suaranya serak karena baru bangun tidur. Ia perlahan melepaskan diri dari genggaman Ellion, menata ulang selimut agar anak itu tetap hangat.Sunrise menatap tak pe

  • The CEO'S Forbidden Bride    96. Malam Ini Aku Milikmu!

    Khairen menunduk, menyentuh rambut Sunrise dengan jemari yang masih gemetar. Gerakannya lembut, seolah setiap sentuhan adalah permohonan maaf yang tak terucap. Ia menggeser langkah mereka ke arah tempat tidur.Sunrise mengikuti, menyandarkan punggung pada ranjang, menatap Khairen dengan tatapan yan

  • The CEO'S Forbidden Bride    95. Hadiah Afrodisiak

    Balkon taman belakang mansion dipilih Khairen untuk tempat makan malam, diterangi lampu-lampu hangat yang memantul di dedaunan basah embun. Makan malam mereka sederhana namun intim, sup iga dengan keju leleh yang mengepul, roti hangat, dan percakapan pelan yang mengalir tanpa beban rapat atau strat

  • The CEO'S Forbidden Bride    94. Kembali Hangat Bersama

    Matahari di Zurich mulai tinggi dengan langit pucat. Khairen duduk di kursi kerjanya, pandangannya fokus tanpa benar-benar melihat dokumen yang dipegangnya. Tumpukan dokumen di meja seperti pajangan, sementara pikirannya tertinggal jauh di Alpen Timur, pada satu nama yang ditinggalkannya tanpa pami

  • The CEO'S Forbidden Bride    93. Penerus Crown Tak Bisa Ditunda

    Nick melangkah cepat menyusuri koridor, langkahnya tegas namun pikirannya bergejolak. Perintah Khairen singkat dan mendesak, pertanda sesuatu yang serius telah terjadi. Ia menekan tombol lift dengan rahang mengeras.Di dalam kepalanya, skenario terburuk berkelebat silih berganti. Jika Khairen

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status