/ Romansa / The CEO's First Class Destiny / 40.000 Kaki di Angkasa

공유

40.000 Kaki di Angkasa

작가: JaneandRoses
last update 최신 업데이트: 2025-12-09 23:28:33

Di ketinggian empat puluh ribu kaki, dunia di bawah sana terasa tidak nyata. Kerajaan bisnis yang runtuh, pemberitaan media yang kejam, dan jeritan sirine kurator pengadilan seolah teredam oleh lapisan awan tebal dan deru mesin jet yang konstan. Di dalam kabin First Class yang temaram, hanya ada Elena, Aiden, dan ketegangan yang merambat pelan di antara mereka.

Pramugari datang dengan langkah nyaris tanpa suara, menyajikan caviar dan teh Earl Grey pesanan Elena, serta segelas lagi wiski untuk Aiden. Elena menggerakkan jemarinya dengan presisi—mengoleskan caviar di atas blini kecil dengan gerakan yang begitu anggun, seolah ia tidak sedang melarikan diri dari kebangkrutan, melainkan sedang menikmati jamuan sore di taman Versailles.

Aiden memperhatikan setiap gerak-gerik itu dari balik gelas kristalnya. "Anda memiliki ketenangan yang mengerikan, Elena. Kebanyakan orang dalam posisi Anda akan menghabiskan waktu dengan menangis di toilet atau mencoba menelepon pengacara hingga baterai ponsel mereka habis."

Elena menyesap tehnya, membiarkan uap hangatnya menenangkan sarafnya. "Menangis hanya akan merusak riasan wajah saya dan tidak akan menambah saldo bank saya, Tuan Valerick. Adapun pengacara? Mereka adalah orang pertama yang pergi saat mencium bau kegagalan. Saya lebih memilih menikmati kenyamanan yang sudah saya bayar mahal ini."

Aiden meletakkan gelasnya, matanya menyipit. "Kenyamanan yang dibayar dengan sisa-sisa harta yang seharusnya menjadi hak kreditur. Sangat... berani."

"Jangan munafik, Aiden," balas Elena tajam, matanya berkilat menatap pria itu. "Anda membeli utang keluarga saya bukan karena Anda ingin membantu kreditur. Anda membelinya karena Anda menginginkan kendali. Anda adalah kolektor kekuasaan, sama seperti saya kolektor seni. Bedanya, saya menghargai jiwa di balik objeknya, sementara Anda hanya peduli pada angka di bawah garis neraca."

Aiden tersenyum tipis. Kali ini, ada sedikit binar pengakuan di matanya. "Jiwa tidak bisa membayar bunga pinjaman, Elena. Di dunia yang saya tinggali, keindahan adalah variabel yang tidak relevan jika tidak menghasilkan profit."

"Itulah kesalahan terbesar Anda," Elena menyandarkan punggungnya, menatap Aiden dengan sorot intelektual yang dalam. "Anda mengambil alih Adiningrat Group, tapi Anda tidak mengerti apa yang sebenarnya Anda beli. Anda membeli aset fisiknya—properti, kilang, galeri—tapi Anda kehilangan 'aset tak berwujud'-nya. Nama Adiningrat adalah simbol kepercayaan di Asia Tenggara selama lima puluh tahun. Tanpa narasi dan sejarah yang menyertainya, semua gedung itu hanyalah tumpukan beton yang menunggu untuk didevaluasi."

Aiden terdiam sejenak. Ia terbiasa berhadapan dengan lawan bisnis yang bicara tentang persentase pasar dan efisiensi operasional. Namun, wanita di depannya ini bicara tentang filosofi nilai dan narasi kekuasaan.

"Jadi, menurut Anda, saya baru saja membeli cangkang kosong?" tanya Aiden, suaranya kini lebih rendah, lebih serius.

"Anda membeli lukisan asli, tapi tanpa tanda tangan sang maestro di sudutnya," Elena menjelaskan dengan analogi yang sempurna. "Dan satu-satunya orang yang tahu di mana tanda tangan itu berada, sedang duduk di sebelah Anda, meminum teh yang mungkin adalah gelas terakhir dalam hidup aristokratnya."

Aiden mencondongkan tubuh ke depan, memasuki ruang privat Elena. Di bawah lampu baca yang redup, wajah pria itu tampak seperti pahatan marmer yang dingin namun memikat. "Anda bukan sekadar wanita rapuh yang hobi berpesta, bukan?"

"Kerapuhan adalah perlindungan terbaik bagi wanita di dunia yang didominasi pria seperti Anda," Elena membalas tenang, tak gentar dengan jarak mereka yang semakin dekat. "Orang-orang meremehkan apa yang mereka anggap cantik dan lemah. Itu memberi saya waktu untuk mengamati, belajar, dan memetakan setiap langkah musuh saya."

"Dan siapa musuh Anda saat ini? Saya?"

Elena menatap Aiden lurus-lurus. "Anda bukan musuh saya, Aiden. Anda adalah badai alam. Sesuatu yang harus dihadapi, bukan dibenci. Tapi ingat, badai bisa menghancurkan kota, namun ia tidak bisa menghancurkan akar yang tertanam cukup dalam."

Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat. Hanya ada suara dengung pelan dari sistem pendingin udara pesawat. Aiden merasa ada sesuatu yang bergeser di dalam dirinya. Ia datang ke penerbangan ini dengan niat untuk mengintimidasi, untuk melihat sisa-sisa keangkuhan Adiningrat hancur di depannya. Namun, yang ia temukan justru baja yang tersembunyi di balik sutra.

Elena tidak hanya tenang; dia berdaulat atas dirinya sendiri. Bahkan di titik terendah dalam hidupnya, dia tidak kehilangan kelasnya.

"Sangat menarik," gumam Aiden, suaranya hampir menyerupai bisikan. "Anda tahu, dewan direksi saya sedang memberontak. Mereka pikir saya terlalu agresif dalam mengakuisisi Adiningrat Group. Mereka butuh sesuatu untuk menenangkan mereka—sebuah wajah yang bisa menjembatani kekasaran bisnis saya dengan keanggunan sejarah yang mereka puja."

Elena mengangkat sebelah alisnya. "Dan Anda berpikir saya adalah wajah itu?"

"Mungkin lebih dari sekadar wajah," Aiden menutup iPad-nya, menandakan bahwa percakapan intelektual ini telah beralih menjadi negosiasi bisnis. "Paris akan sangat dingin bagi seseorang yang tidak memiliki tempat tinggal, Elena. Tapi di Jakarta, penthouse saya memiliki pemandangan terbaik, dan saya butuh seseorang yang mengerti seni lebih dari sekadar harga lelangnya."

Elena merasakan ketegangan baru muncul, jenis ketegangan yang membuat jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat pesawat lepas landas. "Apa yang Anda tawarkan, Tuan Valerick?"

"Kesepakatan," jawab Aiden singkat. "Tapi tidak sekarang. Tidurlah. Kita masih punya sepuluh jam lagi sebelum mendarat di Charles de Gaulle. Saya ingin Anda dalam kondisi terbaik saat mendengar tawaran saya nanti."

Aiden kemudian menekan tombol untuk meratakan kursinya menjadi tempat tidur, lalu mengenakan penutup matanya, seolah-olah percakapan barusan tidak pernah terjadi.

Elena tetap duduk tegak, menatap kegelapan di luar jendela pesawat. Di bawah sana, Samudera yang luas membentang, sama seperti masa depannya yang kini penuh dengan ketidakpastian—dan kemungkinan yang berbahaya bersama pria di sebelahnya.

Ia tahu, setelah penerbangan ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • The CEO's First Class Destiny   Masa Lalu yang Menghantui

    Pagi di Monte Carlo tidak pernah benar-benar sunyi, namun di dalam Diamond Suite, keheningan terasa begitu berat, seolah dinding-dinding marmer itu menyimpan rahasia yang terlalu besar untuk diucapkan. Sisa-sisa dansa semalam masih menggantung di udara—sebuah momen langka di mana Aiden Valerick membiarkan pertahanannya runtuh. Namun, bagi Elena, cahaya fajar yang menyelinap masuk melalui jendela justru membawa rasa penasaran yang lebih dalam.Aiden sedang berada di balkon, berbicara melalui telepon dengan nada rendah yang dingin—kembali menjadi sang CEO yang tak tersentuh. Sementara itu, Elena berdiri di ruang kerja suite tersebut, merapikan beberapa dokumen yang sempat tertinggal semalam.Secara tidak sengaja, ia menyenggol sebuah kotak kayu kecil berwarna gelap yang terletak di sudut meja jati tersebut. Kotak itu terbuka, menampak

  • The CEO's First Class Destiny   Dansa di Bawah Bintang

    Malam di Monte Carlo belum benar-benar berakhir, namun bagi Elena, kebisingan di atas kapal pesiar The Sovereign terasa seperti ribuan tahun cahaya jauhnya. Setelah skandal ciuman yang menggemparkan seluruh aristokrat Eropa itu, Aiden membawanya pergi dalam keheningan yang menyesakkan. Limusin yang membawa mereka kembali ke Hôtel de Paris terasa seperti ruang hampa udara, di mana setiap embusan napas adalah percikan api yang siap meledak.Begitu pintu Diamond Suite tertutup, Elena langsung menuju teras luas yang menghadap ke Laut Mediterania. Ia butuh oksigen. Ia butuh merasakan angin laut yang dingin untuk mendinginkan sarafnya yang terbakar.Lampu-lampu kota Monaco berkilauan di bawah sana seperti hamparan berlian yang tum

  • The CEO's First Class Destiny   Skandal di Monaco

    Langit di atas Laut Mediterania berwarna biru safir yang nyaris tidak masuk akal, sangat kontras dengan putihnya sayap jet pribadi Gulfstream G650 milik Valerick Group. Di dalam kabin yang kedap suara, suasana terasa jauh lebih dingin daripada suhu di luar. Sejak kejadian di penthouse malam itu, ada dinding tak kasat mata yang kembali terbangun antara Elena dan Aiden—sebuah dinding yang terbuat dari rasa canggung dan gairah yang tertahan.Elena menatap ke luar jendela, memperhatikan garis pantai French Riviera yang mulai terlihat. Ia mengenakan setelan linen putih yang santai namun tetap memancarkan aura kemewahan yang tenang."Kita akan mendarat di Nice dalam dua puluh menit," suara Aiden memecah keheningan. Ia menutup laptopnya, tatapannya beralih pada Elena. "Helikopter sudah menunggu untuk membawa kita langsung ke Monte Carlo. K

  • The CEO's First Class Destiny   Gaun Sutra Hitam

    Malam di Jakarta selalu memiliki cara untuk menyembunyikan keburukan di balik lampu-lampu kota yang gemerlap. Namun, di penthouse pribadi Aiden Valerick yang berada di lantai 62, tidak ada yang perlu disembunyikan. Semuanya adalah tentang pernyataan—tentang siapa yang memiliki kendali dan siapa yang hanya menjadi penonton.Elena berdiri di depan cermin besar di ruang ganti tamu yang luasnya hampir menyamai kamar apartemen rata-rata. Ia menatap pantulannya sendiri. Malam ini, ia memilih untuk mengenakan gaun sutra hitam yang ia beli di butik tersembunyi di Paris. Gaun itu memiliki potongan slip-on yang tampak sederhana namun jatuh di tubuhnya dengan presisi yang hanya bisa dihasilkan oleh tangan penjahit ahli. Punggungnya terbuka lebar, memperlihat

  • The CEO's First Class Destiny   Di Balik Pintu Kantor

    Kantor pusat Valerick Group di kawasan Sudirman adalah sebuah monolit kaca dan baja yang melambangkan kekuasaan absolut. Di lantai paling atas, di mana oksigen terasa lebih mahal dan suara bising Jakarta teredam oleh kaca kedap suara setebal sepuluh sentimeter, Elena Adiningrat menemukan dirinya terjebak dalam rutinitas yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.Ia bukan lagi nyonya rumah yang menunggu tamu di galeri seni sambil menyesap teh krisan. Sekarang, ia adalah bagian dari mesin korporasi Aiden Valerick.Pintu kantor Aiden yang terbuat dari kayu ek hitam terbuka secara otomatis melalui sensor. Elena melangkah masuk dengan setumpuk berkas restorasi di tangannya. Ia mengenakan setelan blazer berwarna abu-abu mutiara yang dipotong sempurna, memberikan kesan profesional yang tak tergoyahkan. Namun, setelah sepuluh jam berada di gedung

  • The CEO's First Class Destiny   Debut Kembali

    Lampu-lampu kristal di Hôtel Salomon de Rothschild malam itu berpendar dengan intensitas yang nyaris membutakan. Paris, kota yang selalu memuja estetika dan kekuasaan, menjadi tuan rumah bagi lelang tahunan L’Éclat de l’Art―sebuah acara di mana satu goresan kuas bisa bernilai lebih mahal daripada satu blok apartemen di Menteng.Di dalam limusin yang meluncur pelan menuju karpet merah, suasana terasa begitu sunyi hingga deru napas Elena tedengar jelas. Ia meremas jemarinya yang terbungkus sarung tangan sutra tipis. Ia menggunakan gaunhaute couture berwarna biru tengah malam yang sangat gelap, hampir menyerupai hitam, dengan potongan leher yang rendah namun tetap sopan. Di lehernya melingkar kalung safir Burma seberat tiga puluh karat―bukan milik keluarganya, melainkan bagian dari "seragam" yang disediakan Aiden Valerick.Aiden duduk di sampingnya, membolak-balik katalog lelang di tabletnya tanpa ekspresi.

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status