Home / Romansa / The Day We Do It / BAB 1 - Permintaan Tak Masuk Akal

Share

The Day We Do It
The Day We Do It
Author: Anidania

BAB 1 - Permintaan Tak Masuk Akal

Author: Anidania
last update publish date: 2026-08-12 15:11:10

“Minggu ini, mulailah perbarui portofoliomu dan silakan cari pekerjaan di tempat lain. Saya akan fasilitasi surat rekomendasi terbaik dari perusahaan.”

Perintah itu muncul begitu saja dari pria di hadapan Raia yang sudah tujuh tahun ini menjadi atasannya.

Seketika, tubuh Raia membeku. Jemarinya mencengkram dokumen lebih erat. 

“Ma-maksud Bapak?” tanya Raia sedikit bergetar. 

“Apakah saya dipecat? Atau ada laporan tentang kinerja saya yang tidak sesuai dengan ketentuan perusahaan?” lanjutnya, menatap Leo bosnya dengan penuh tanya.

Leo tak menjawab. Ia meletakkan pulpennya, lalu mengangkat pandangannya. 

“Bukan. Kerjaanmu selalu sempurna, Raia,” jawabnya, menyenderkan punggungnya pada kursi kerjanya.  

“Hanya saja ... dalam waktu dekat, saya akan mengundurkan diri dari jabatan ini.”

“M-mundur, Pak?” potong Raia terkejut.

Leo mengangguk, sekali. “Saya berencana pindah ke tempat yang jauh, dan saya tidak bisa membawamu.”

Raia semakin membelalak. “Pindah ke tempat yang ...jauh? maksud Bapak?”

Leonardos Vaneric. 

Bagi Raia, Leo adalah sosok CEO muda yang sempurna.

Ia memiliki keberanian yang luar biasa. Ketegasan, kebijaksanaan, dan jiwa kepemimpinannya membuat dirinya dihormati tanpa perlu meninggikan suaranya.  

Ditambah dengan kecerdasan dan analisis tajam di dalam situasi sulit, membuat perusahaan yang dipimpinnya melaju dengan begitu pesat.

Selama tujuh tahun mendampingi Leo sebagai sekretaris pribadinya, Raia hafal dengan setiap gerak-gerik dan kebiasaan atasannya itu. 

Di mata Raia, Leo adalah pria terbaik dan sempurna yang pernah ia temui—sosok pemimpin yang selalu mengayomi stafnya, seorang pemimpin yang selalu menggunakan empati dalam setiap tindakannya, dan seorang anak yang begitu menyayangi ibunya.

Namun, kali ini Raia merasa kecolongan dengan rencana hidup Leo—seorang CEO dari salah satu konglomerat terbesar di negara ini, ingin melepaskan segala yang ia miliki dan pergi ke tempat yang jauh? 

Otak Raia bekerja begitu keras mencerna situasi yang tak masuk akal ini. 

Belum juga Raia bisa menanyakan alasannya lebih dalam, Leo sudah berdiri terlebih dahulu. 

Ia meraih jasnya dan melangkah meninggalkan berjuta pertanyaan di benak Raia.

Drtt... Drtt...

Getaran ponsel di saku blazernya menyadarkan Raia dari lamunannya. Ia memejamkan mata sembari menghela napas panjang. 

Tangannya merogoh saku, dan ibu bosnya sudah terpampang di layar.

“Halo, Ibu?” lirih Raia.

Sebagai sekretaris Leo, ia tentu mengenal sosok wanita itu.

“Rai, bisa ke rumah sekarang?”  

Refleks, Raia mengangguk. Meskipun ia tahu jika Ibu Rica tak bisa melihatnya.  “Baik, Ibu.” 

Sambungan terputus. Rica bergegas merapikan barang-barangnya dan segera meninggalkan ruangan dan menuju ke kediaman keluarga Vane.

Setibanya di rumah milik keluarga Vane, Raia disambut oleh seorang pelayan dan membawanya menuju ruang tamu utama. 

Di sana, Bu Rica duduk di sofa beludru berwarna biru dengan raut gelisah dan wajah pucat, jauh dari kesan tenang yang selama ini membingkai wajahnya.

“Rai, duduklah,”  ujar Bu Rica cepat.

Raia mengangguk, ia mengambil posisi duduk di samping Bu Rica. 

Ibu Rica mengepalkan tangannya, pandanganannya melayang jauh, memendam kekecewaan. 

“Leo ... anak itu benar-benar sudah gila, Raia!” ucapnya tertahan. 

“Pagi tadi, dia mendatangi Ibu dan menyatakan akan melepaskan seluruh hak waris serta jabatannya di perusahaan. Siapa yang akan meneruskan perusahaan sebesar ini, Rai?!”

Dada Raia berdesir. Berita yang baru saja didengarnya dari Pak Leo di kantor ternyata bukan sekedar gertakan biasa. 

“Pak Leo sungguh-sungguh ingin mengundurkan diri?” tanya Raia, mengerutkan alisnya.

Ibu Rica mengalihkan tatapannya pada Raia dengan mata berkaca-kaca. 

“Rai, kamu kan sudah tujuh tahun bekerja dengan Leo, dan kamu mengerti dia lebih dari siapapun,” jelas Ibu Rica singkat. 

Tangannya bergerak mengambil jemari Raia dan menggenggamnya erat. “Ibu minta tolong ... carikan wanita-wanita dari keluarga terpandang untuk didekatkan dengan Leo. Buatkan jadwal pertemuan, perjodohan, atau apapun itu,” pintanya terdengar begitu tulus.

Raia mengerutkan dahinya, bingung dengan permintaan mendadak ini. “Perjodohan?”

Pasalnya, selama ini, Rica sama sekali tak pernah mengetahui jika Leo memiliki hubungan dengan perempuan lain. Waktu pria itu hanya dihabiskan dengan berbagai berkas dan rapat silih berganti tanpa jeda.

Ibu Rica menatap foto Leo yang terpajang di dinding belakang Raia dengan tatapan kosong. 

“Hanya ada satu cara untuk menahannya tetap berada di dunia ini ... yaitu, jika dia jatuh cinta dan memilih alasan itu untuk tetap bertahan.”

Raia memicingkan matanya. “Bukannya Pak Leo bilang kalau beliau berniat mengundurkan diri dan pindah ke tempat yang sangat jauh ya, Bu?” tanya Raia, semakin bingung.

Ibu Rica menghembuskan napas panjang.  “Dia ... dia tidak memberitahumu soal rencananya?”

Raia menggelengkan kepalanya. “Beliau tidak memberikan secara detail, Ibu,” jawab Rai jujur.

Ibu Rica mengeratkan genggamannya pada jemari Raia, menatap gadis itu penuh keputusasaan. 

“Leo ... dia bilang ingin menjadi pelayan gereja ... dia ingin menjadi pastor. Ibu harus bagaimana, Rai?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ratu As
ya ampun Pak Leo, mending nikah Pak! enak tahuu ...‍......‍...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • The Day We Do It   Bab 12 - Secret Dinner

    Ponsel di saku blazer Raia tak berhenti bergetar, membuat sng empunya sedikit tersentak dibalik keheningan mencekam di dalam mobil mewah Leo yang tengah membelah jalanan. Nama Bu Rica Vaneric muncul di layar. Raia menelan ludahnya susah payah. Dengan jemari gemetar, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan pada telinganya. “Selamat siang, Ibu,” sapa Raia, sopan. “Raia! Bagaimana?” pertanyaan Raia menyambar tanpa basa-basi. “Pertemuan dengan Clarissa kemarin tidak ada kemajuan, kan? Ibu tidak mau tahu, kamu harus cari cara lain! Ibu baru saja mengirimkan profil Nona Evelyn, putri pemilik Sakkana Group. Atur pertemuan dengannya, secepat mungkin!” Melalui cermin tengah, ekor mata Raia melirik takut pada Leo. Pria itu tampak fokus menatap jalanan dibalik kemudinya. “S-sudah, Bu,” bisik Raia pelan. “Saya sedang menyesuaikan agar berjalan lancar.” “Bagus. Kali ini harus berhasil, Raia. Ibu hanya bisa menggantungkan harapannya padamu,” tegas Bu Rica, sebelum memutuskan sambungannya

  • The Day We Do It   Bab 11 - Seseorang yang Disembunyikan

    Deg. Jantung Raia berhenti berdetak. Jemarinya kaku. Rupanya, Leo memperhatikan apa yang ia bawa pagi tadi. Ia menelan ludahnya dengan susah payah. Menatap manik Leo penuh kilatan tak sabar menuntut jawaban.“B-bukan, Pak,” lirih Raia, samar. “Itu ... hanya draft evaluasi internal yang belum selesai,” lanjutnya, menjaga nada suaranya.“Bawa ke sini,” potong Leo datar. Tangannya terulur di atas meja. “Saya mau periksa sejauh mana draft yang kamu kerjakan.”Napas Raia tercekat. Surat pengunduran diri itu ... berada di waktu yang tidak tepat. Jika Leo membaca isi map itu sekarang, tentu ia akan menolaknya mentah-mentah.“Eum—”Melihat raut kebingungan Raia, Gavi terkekeh sambil menepuk bahu Leo. “Sudahlah, Leo, saya sangat lapar,” lanjutnya memegang perut ya. “Urusan pekerjaan dan berkas lainnya, bisa diurus setelah makan siang. Ayo berangkat sekarang ... reservasi sudah menunggu kita.”“B-baik, Pak Gavi,” sambut Raia tanpa beprikir dua kali. “Saya ambil tas sebentar,” lanjut Raia, menya

  • The Day We Do It   Bab 10 - Mana Berkasnya, Raia?

    Ujung jemari Raia memutih meremas map putih di tangannya, dadanya berdebup kencang. Sepercik keberanian yang ia kumpulkan akhirnya berbuah pada satu keputusan besar, resign. Semalam, ia bergelut dengan rasa takut, cemas, dan air mata yang tak berhenti mengalir. Ia sadar, bertahan lebih lama di perusahaan ini hanya akan melempar dirinya ke dalam perangkap mematikan Leo.Lakukan sekarang, Raia. Jangan ragu.Ia mengambil napas panjang, mendorong pintu ruangan Leo dengan setitik harapan terakhirnya. Namun begitu pintu terbuka, tatapannya tertuju pada sosok Gavi yang duduk di depan Leo, sesekali pria itu melemparkan tawanya, di tengah banyaknya berkas di antara keduanya. Suasana tegang yang sebelumnya Raia bayangkan, seketika lenyap oleh kehangatan Gavi.“Nah ... ini dia!” seru Gavi ketika menyadari kehadiran Raia di depan pintu. Pria itu melirik Leo yang duduk di kursi kebesarannya. “Sekretaris abadi sepanjang masa yang selalu menyelamatkan,” guraunya lagi.Leo mengangkat wajahnya, panda

  • The Day We Do It   Bab 9 - Jawaban Seperti Apa?

    “M-maksud Bapak ...?” tanya Raia parau.Jantungnya seolah berhenti ketika mendengar pertanyaan telak dari Leo. Darahnya mendadak berdesir, membuat jemarinya yang bertaut di atas pangkuannya, gemetar hebat. Kebohongan yang ia susun serapi mungkin demi menutupi kejadian malam itu ... kini perlahan mulai runtuh di hadapan tatapan tajam atasannya.Leo mendengus kesal. “Jangan pura-pura tidak tahu, Raia. Kamu bilang ... kamu hanya meletakkan dokumen itu, lalu pergi. Tapi, ingatan yang tertinggal dalam benak saya ... orang terakhir yang bersama sama di ruangan itu adalah ... kamu, Raia.”Raia terperanjat. Punggungnya membentur sandaran sofa di belakangnya. Sementara tenggorokannya tercekat, ia kehilangan setiap kata untuk bisa menjawab.Sebelum Raia mengeluarkan suaranya, Leo terlebih dahulu bangkit dari duduknya. Pria itu berjalan menghampiri Raia dengan langkah tegas. Sorot mata intimidasinya tertuju pada raut wajah Raia yang tengah menyembu

  • The Day We Do It   Bab 8 - Malam Itu?

    “Raia Sophie, saya tahu kamu di dalam ... buka pintunya atau saya dobrak sekarang juga.”“Pa-Pak Leo,” sapa Raia, terbata. “Bapak—ngapain … di sini?”Leo tak menjawab pertanyaan Raia, pria itu sibuk memindai penampilan Raia dari atas hingga bawah, menyadari ada sesuatu yang baru saja terjadi pada sekretarisnya itu. Sadar akan itu, Raia menundukkan kepalanya, dalam. “Kamu sakit?”“Silakan masuk, Pak,” ujar Raia tak menjawab, ia memberi jalan pada atasannya, membiarkan Leo masuk, lalu dengan buru-buru, ia menyandarkan tubuh lemasnya pada sofa.Leo melangkah masuk, pandangannya mengamati sekeliling ruangan dengan dahi berkerut. Ia merasa heran, sekretaris supernya ambruk dan terlihat kacau—sesuatu yang tak pernah terjadi selama tujuh tahun mereka bekerja sama.Raia berdehem, mencoba mengumpulkan keberaniannya. “Bapak tahu dari mana alamat saya?” tanya Raia parau, sembari memijat pelipisnya bingung.Leo

  • The Day We Do It   Bab 7 - Siapa Tamu Itu?

    Raia terbangun saat sinar matahari pagi menusuk silau matanya, merasa tak nyaman dengan tidurnya. Ia mengerjapkan mata, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Seketika, matanya membelalak, tubuhnya terasa nyeri, lengkap dengan lebam berwarna merah keunguan di leher dan dadanya dan sepasang lengan kokoh memeluknya. Dan… ia mendapati dirinya di atas ranjang mewah milik Leo …. dalam pelukannya, sementara dress yang dipakainya … berserakan di lantai.Pikirannya melayang, sekelebat bayangan Leo memeluknya tadi malam, membuat darahnya berdesir.Tunggu … Bukannya… bosnya ingin jadi pastor?Ya.. tuhan…“Rai, kamu gila! Kamu baru saja menyeret anak tuhan ke dalam dosa ini?!” batin Raia berteriak.Tanpa membuang waktu lebih lama, Raia melepas lengan itu perlahan, melompat dari ranjang. Ia menyambar gaun miliknya gemetar, buru-buru mengenakan dengan cepat, dan menyisir rambut berantakannya dengan jemari.Tanpa berani menoleh ke belakang, Raia berlari menyelinap keluar kantor sebelum ada satpam ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status