Home / Romansa / The Day We Do It / Bab 2 - Kekeuh Leo

Share

Bab 2 - Kekeuh Leo

Author: Anidania
last update publish date: 2026-08-12 15:11:51

Pastor?

Darah Raia berhenti mengalir. Kalimat Bu Rica menampar kesadarannya.

Pria dingin, rasional, dan seorang penguasa bisnis dunia yang selama tujuh tahun ini berdiri di sampingnya ... ingin mengikrarkan janji suci dan meninggalkan kehidupan duniawinya demi mengabdi pada Tuhannya?

“Ibu tidak akan membiarkan ini terjadi, Raia. Tidak akan pernah,” tegas Bu Rica mengguncang tangan Raia.

“Satu-satunya cara untuk menggagalkannya adalah jika ada wanita yang mampu mengikat hatinya di dunia ini. Ibu mohon padamu ... kamu adalah orang terdekat dan paling dipercaya Leo. Bantu ibu dekatkan dengan wanita-wanita pilihan Ibu sebelum semuanya terlambat.”

Bu Rica terdiam. Ia seolah sedang membayangkan bagaimana keberlanjutan keluarganya, jika anak semata wayang keluarga Vane, memutuskan menjadi Pastor dan mengorbankan semua aset yang dimilikinya.

Raia terpaku. Di satu sisi, otaknya masih berusaha memproses kenyataan luar biasa tentang jalan hidup yang dipilih atasannya.

Di sisi lain, kini ia ikut bingung karena jika Leo benar-benar mengundurkan diri, tak ada jaminan setelah ini ia masih akan bekerja di sini atau tidak. Atau setidaknya tidak ada kepastian kapan ia bisa mendapatkan pekerjaan baru. Sementara ia butuh biaya hidup untuk menanggung hidupnya sendiri.

“Ibu …,” lirih Raia, tak mampu menjawab apapun.

Ibu Rica menatap Raia penuh harap. “Ibu percaya padamu … kamu tak akan menolak permintaan Ibu, kan?”

Raia tak langsung menyetujui permintaan Bu Rica. Ia bingung … bagaimana cara dia untuk memulai semua ini?

Semenjak kematian tragis tunangannya tiga tahun lalu, Raia telah menutup rapat hatinya dari segala bentuk rasa cinta. Lalu, sekarang, bagaimana bisa ia harus membantu menumbuhkan cinta di hati pria lain ketika hatinya sendiri telah terkubur dengan kenangan bersama tunangannya itu?

“Bu … apa yang harus saya lakukan?” tanya Raia sedikit ragu. “Maksud saya, sejauh apa saya harus membantu mengatur ini semua untuk Pak Leo?”

“Sejauh apapun yang kamu bisa. Saya percaya denganmu, Raia,” jawab Bu Rica tanpa ragu.

Raia terdiam. Jawaban itu justru membuat pikirannya semakin penuh dengan pertanyaan. Sejauh apa yang dimaksud Bu Rica?

Dalam bayangan Raia, paling jauh ia hanya perlu membantu mengatur jadwal kencan, memilih tempat makan, atau mungkin memberikan beberapa saran sederhana agar Pak Leo bisa lebih dekat dengan seseorang.

Namun, jika harus benar-benar membantu seorang pria menemukan cinta, Raia bahkan tidak yakin dirinya mampu. Bagaimana mungkin ia memberi nasihat tentang sesuatu yang selama tiga tahun terakhir justru ia hindari?

Raia hanya bisa menatap wanita itu dengan tatapan tak percaya.

Pastor.

Satu kata yang bahkan tak pernah terlintas di benak Raia.

Pria yang selama tujuh tahun ini mengambil keputusan bisnis bernilai jutaan dolar hanya dengan satu jentikan jari, pria yang tak pernah melewatkan satu detail sekecil apapun pada setiap laporan keuangan. Kini, ingin menukar jas jutaan dolar itu hanya dengan jubah sederhana dan keheningan gereja.

“Rai,” panggil Bu Rica, membuat Raia tersentak. “Kembalilah ke kantor … Ibu menunggu kabar terbaik darimu.”

Raia mengangguk, tanpa memberi keputusan sedikitpun.

…

“Kamu dari mana, Rai?” tanya Leo, begitu menyadari kehadiran Raia di ruangannya.

“Saya… saya.. ada urusan pak,” jawab Raia, menyerahkan tumpukan dokumen pada Leo dan menunduk.

Leo menghentikan aktivitasnya yang tengah memeriksa sebuah dokumen di hadapannya, ia menatap Raia dengan alis berkerut. “Kamu tidak pandai berbohong, Rai.”

Raia menukik.

“Apa ibu meneleponmu?”

Raia hanya mendesah, lalu mengangguk kecil.

“Jadi, kamu sudah tahu?” guman Leo, rendah. Sementara, Raia hanya menjawab dengan anggukan. “Baguslah… saya tak perlu bersusah payah menjelaskan padamu.”

“Kenapa, Pak?” bisik Raia, dengan suara bergetar.

“Saya sudah memberikan sebagian hidup saya untuk memenuhi ekspektasi semua orang, Raia. Dan kamu tahu itu,” ujar Leo.

“Saya sudah melakukan tugas saya sebagai anak dan seorang pewaris. Perusahaan ini menjadi salah satu perusahaan terbesar. Ibu tak akan kekurangan aset, jika itu yang ditakutkan. Dan sekarang … saya ingin menjalankan apa yang menjadi panggilan hati saya.”

“Tapi, menjadi Pastor bukan hal yang bisa diterima keluarga Vaneric begitu saja, Pak.” cecar Raia.

“Ini hidup saya, Raia. Keputusan ada di tangan saya.” jawab Leo, dingin. “Saya meminta kamu untuk tetap menjaga profesionalisme sampai masa transisi selesai. Tolong.”

Kata ‘tolong’ yang keluar dari mulut seorang Leonardos Vaneric adalah hal yang langka.

Selama ini, pria itu tak pernah satu kali pun memohon apalagi menyangkut kehidupan pribadinya, dan kini, pria itu memohon padanya hanya agar dia bisa meraih kehidupan sucinya.

“Apa.. bapak tidak bisa menimbangnya sekali lagi?” nego Raia sekali lagi.

“Keputusan besar yang Anda ambil akan mengubah semuanya, Pak,” lanjut Raia, berusaha menahan guncangan emosi yang berkecamuk di dadaya.

Leo menggeleng.

“Tidak,” jawabnya tegas, Leo memalingkan wajahnya sekilas. “Tidak ada yang hilang karena satu orang, Rai. Ibu saya tak akan kehilangan apapun dari diri saya ataupun perusahaan … jika itu yang kamu takutkan.”

Raia mengepalkan tangannya. Di satu sisi, ia ingin menghormati keputusan sakral Leo, namun di sisi lain, permintaan Bu Rica selalu terbayang-bayang di benaknya. Ia menghela napas panjang, mencoba menetralkan emosinya.

Pelan-pelan, Raia. Memang tidak mudah.

“Baik, pak. Mari lupakan perihal itu, tapi pekan ini bapak wajib hadir datang tiga pertemuan business dinner dengan beberapa perwakilan perusahaan. Saya harap Bapak bisa mengikutinya,” ujar Raia, sembari menyerahkan dokumen.

Leo memicingkan matanya. “Saya hadir kalau kamu menemani saya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ratu As
hem denganmu? 🫣🫢🫢
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • The Day We Do It   Bab 90 - Istirahatlah, Raia

    Dua jam berada di balik kubikelnya, Raia merasa gedung Vaneric Group mulai memeras seluruh udara dari paru-parunya. Layar monitor di hadapannya menayangkan deretan angka laporan keuangan yang mendadak kabur, tak ada satu pun yang sanggup dicerna oleh otaknya.Ia tidak bisa terus berada di sini. Dinding-dinding kaca kantor ini rasanya bagai sangkar yang kian menyempit dan menyiksa.Dengan jemari yang bergetar, Raia membuka sistem kalender digital untuk memeriksa agenda Leo. Kosong. Hanya ada peninjauan berkas internal rutin tanpa ada rapat direksi atau janji temu penting dengan klien setelah makan siang.Begitu jam istirahat berakhir, Raia mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang tersisa. Ia bangkit dengan langkah gontai, lalu mengetuk pintu ruangan Leo cukup pelan."Masuk." Suara bariton dari dalam memberi izin.Raia mendorong pintu dengan pelan. Pria itu menghentikan ketukan pulpennya begitu mendapati Raia berdiri kaku di dekat ambang pintu."Pak Leo...," bisik Raia amat pelan, menu

  • The Day We Do It   Bab 89 - Dari Mana, Rai?

    "Raia, dengarkan saya sebentar," panggil Leo, menghalangi langkah Raia yang hendak meninggalkannya.Raia menggeleng, matanya menatap lantai dengan berkaca-kaca. Namun, Leo tidak membiarkan perempuan itu pergi dalam keadaan kalut. Pria itu paham betul bagaimana Raia—kelembutan hati dan empati perempuan itu yang tak pernah tega melihat orang lain hancur, sebuah kebaikan yang kini kembali dieksploitasi oleh keadaan."Saya tahu kamu marah. Tapi saya juga tahu persis siapa kamu, Raia," ucap Leo rendah. "Kamu tidak akan pernah tega membiarkan Vaneric Group hancur. Kamu tahu sendiri betapa kerasnya Mama menjaga kehormatan keluarga ini. Kamu pasti nggak akan sampai hati melihat beliau sedih dan hancur kalau sampai tahu kebenarannya, apalagi kalau Vaneric sampai jatuh ke tangan Sandy."Napas Raia tertahan. Kata-kata Leo menghantam tepat di bagian tersulit dari nuraninya. Ia benci diintimidasi, tapi ia jauh lebih benci melihat seorang ibu dihancurkan oleh kekecewaan—dan Leo tahu betul kelemahan

  • The Day We Do It   Bab 88 - Rai, Hanya Kali Ini!

    "Kamu ... kenapa jawabnya sampai gemetaran dan pucat begitu, Raia? Kamu tidak sedang bohong sama saya, kan?"Leo merangsek maju dan berdiri pasang badan di depan Raia. Pria itu menggenggam tangan Raia yang terasa dingin.“Raia gemetaran karena dia takut sama Mama," potongnya. "Mama tahu sendiri gimana wibawa Mama di rumah ini. Dia cuma cemas Mama nggak akan pernah mau menerima dia sebagai calon menantu Mama," terangnya, mengusap punggung tangan Raia dengan lembut.Bu Rica menyilangkan tangannya di dada, menatap keduanya dengan senyum tipis di bibirnya. "Mama cuma nggak mau kamu mengambil keputusan yang salah karena emosi sesaat, Leo.” Wanita itu mengambil napas panjang. Berusaha menetralkan emosinya. “Kamu tahu posisi kamu di Vaneric Group!" tukasnya tegas."Leo nggak gegabah, Ma," sela Leo tegas. "Leo janji sama Mama... Leo bakal buktikan kalau keputusan Leo untuk memilih Raia bukan main-main. Leo bakal buktikan kalau Raia adalah satu-satunya wanita yang layak berdiri di samping Leo,

  • The Day We Do It   Bab 87 - Kami Saling Mencintai

    "Lho? Raia?!" Bu Rica menatap kedatangan Raia dengan tatapan heran, matanya membelalak kaget. Ia melongok ke belakang tubuh Raia dengan raut bingung, sekilas, tengah mencari seseorang. "Kamu ... ngapain ke sini pagi-pagi begini? Sama siapa kamu datang?" tanyanya dengan alis berkerut.Raia menghentikan langkahnya beberapa meter di hadapan Bu Rica. Ia berdiri dengan tubuh kaku. "Saya sendiri, Bu," jawabnya lugas."Sendiri?!" Dahi Bu Rica berkerut, makin terheran. "Lho, kok sendiri? Mana Leo? Nggak biasanya kamu datang ke rumah saya sendirian begini tanpa dipanggil. Ada masalah apa di kantor sampai kamu datang sepagi ini?" runtutnya memberi pertanyaan.Raia melirik jam tangannya sekila. Jarum detik bergeser menunjuk angka 12—tepat pukul 09.00 WIB."Saya ke sini bukan karena urusan kantor, Bu Rica," jawab Raia tenang. "Saya ke sini untuk mengatakan sesuatu pada Ibu. Hubungan saya dan Pak Leo sebenarnya—""Raia! Jangan!"Sebuah teriakan keras memotong kalimat Raia. Membuat wanita itu terpe

  • The Day We Do It   Bab 86 - Kediaman Ibu Vaneric

    Sinta menghentikan kunyahannya. Ia menatap Raia lekat, menyipitkan mata penuh dengan kecurigaan."Tunggu deh, Rai..." Ia memiringkan kepalanya, mengamati wajah sahabatnya yang berubah kaku. "Kok dari tadi kamu penasaran banget sama topik ini sih? Pertanyaan kamu tuh spesifik banget tau nggak."Raia menahan napasnya sejenak, berpura-pura sibuk mengaduk sisa sup di mangkuknya agar tak perlu menatap mata Sinta."Jangan-jangan ..." Sinta menyilangkan tangannya di atas meja, menundukkan sedikit wajahnya untuk memancing tatapan Raia. "Kamu lagi dekat sama cowok yang mau jadi pastor?!" tebaknya.Deg!Jantung Raia serasa berhenti berdetak. Sendok di genggamannya terlepas dan berdenting nyaring menghantam tepian mangkuk."Hah?! N-nggak lah, Sin!" pekik Raia cukup keras, berusaha menyembunyikan kepaikan di wajahnya. Ia buru-buru mengibaskan tangannya cepat. "Mana ada! Kamu kalau tebak-tebakan suka nggak masuk akal!""Ya lagian!" jawab Sinta mmemutar bola matanya. Ia melipat tangannya di depan d

  • The Day We Do It   Bab 85 - Kenapa jadi Pastor?

    "Ehh! Rai! Mau ke mana?!" seru Sinta terkjeut, mmenatap sahabatnya yang sudah menyambar cardigan dan melangkah cepat keluar pintu tanpa menjawab pertanyaannya.Wnita itu menutup pintu rapat, berlari menyusuri koridor menuju lift dengan napas memburu dan jantung yang berdegup kencang. Begitu pintu lift terbuka, langkahnya bergerak cepat menembus udara parkiran yang dingin dan sunyi.Sosok jangkung Leo langsung tertangkap indera penglihatannya—berdiri bersandar di samping mobil mewahnya dengan kemeja yang sudah digulung hingga siku, dan sibuk dengan ponsel di tangannya."Kenapa sih, Pak, malam-malam begini?!" sembur Raia setengah berbisik begitu ia sampai di hadapan pria itu. Amarah dan rasa kesal yang ditahannya sejak tadi meledak begitu saja. "Bapak gila, ya?! Nekat banget mengancam mau naik ke unit saya?!"Leo menatap Raia dengan alis berkerut. Pria itu memajukan tubuhnya, memangkas jarak di antara mereka."Saya cuma mau memastikan..." suara Leo terdengar parau, "...kalau kamu tidak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status