LOGIN“Ma-maaf, Pak, Leo ...” Raia membasahi bibirnya, menahan gemetar di dadanya. “Dalam dunia bisnis, membangun hubungan baik secara personal dengan calon mitra adalah hal yang sangat wajar. Hal demikian bertujuan untuk memperlancar proses investasi dan kerja sama jangka panjang antar perusahaan.”Leo memicingkan matanya. Rahangnya mengeras mendengar jawaban diplomatis dari Raia. Namun, alih-alih mempermalukan Raia di depan tamu mereka, Leo lebih memilih menghembuskan napas panjang, mencoba mengontrol emosinya.Pria itu mengalihkan pandangannya pada Evelyn, mengukir seulas senyum di bibirnya. “Nona Evelyn, mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Draft kerjasama Sakkana Group kami terima dengan baik da tim analisis Vaneric Group akan mempelajari detailnya secara resmi.”Evelyn tersenyum sembari mengangguk paham. “Tentu, Pak, Leo. Saya sangat mengerti akan itu.”“Kalau begitu, saya rasa diskusi awal kita cukup sampai di sini,” lanjut Leo, berdiri dari duduknya. “Saya dan sekretaris saya harus
Ponsel di saku blazer Raia tak berhenti bergetar, membuat sng empunya sedikit tersentak dibalik keheningan mencekam di dalam mobil mewah Leo yang tengah membelah jalanan. Nama Bu Rica Vaneric muncul di layar. Raia menelan ludahnya susah payah. Dengan jemari gemetar, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan pada telinganya. “Selamat siang, Ibu,” sapa Raia, sopan. “Raia! Bagaimana?” pertanyaan Raia menyambar tanpa basa-basi. “Pertemuan dengan Clarissa kemarin tidak ada kemajuan, kan? Ibu tidak mau tahu, kamu harus cari cara lain! Ibu baru saja mengirimkan profil Nona Evelyn, putri pemilik Sakkana Group. Atur pertemuan dengannya, secepat mungkin!” Melalui cermin tengah, ekor mata Raia melirik takut pada Leo. Pria itu tampak fokus menatap jalanan dibalik kemudinya. “S-sudah, Bu,” bisik Raia pelan. “Saya sedang menyesuaikan agar berjalan lancar.” “Bagus. Kali ini harus berhasil, Raia. Ibu hanya bisa menggantungkan harapannya padamu,” tegas Bu Rica, sebelum memutuskan sambungannya
Deg. Jantung Raia berhenti berdetak. Jemarinya kaku. Rupanya, Leo memperhatikan apa yang ia bawa pagi tadi. Ia menelan ludahnya dengan susah payah. Menatap manik Leo penuh kilatan tak sabar menuntut jawaban.“B-bukan, Pak,” lirih Raia, samar. “Itu ... hanya draft evaluasi internal yang belum selesai,” lanjutnya, menjaga nada suaranya.“Bawa ke sini,” potong Leo datar. Tangannya terulur di atas meja. “Saya mau periksa sejauh mana draft yang kamu kerjakan.”Napas Raia tercekat. Surat pengunduran diri itu ... berada di waktu yang tidak tepat. Jika Leo membaca isi map itu sekarang, tentu ia akan menolaknya mentah-mentah.“Eum—”Melihat raut kebingungan Raia, Gavi terkekeh sambil menepuk bahu Leo. “Sudahlah, Leo, saya sangat lapar,” lanjutnya memegang perut ya. “Urusan pekerjaan dan berkas lainnya, bisa diurus setelah makan siang. Ayo berangkat sekarang ... reservasi sudah menunggu kita.”“B-baik, Pak Gavi,” sambut Raia tanpa beprikir dua kali. “Saya ambil tas sebentar,” lanjut Raia, menya
Ujung jemari Raia memutih meremas map putih di tangannya, dadanya berdebup kencang. Sepercik keberanian yang ia kumpulkan akhirnya berbuah pada satu keputusan besar, resign. Semalam, ia bergelut dengan rasa takut, cemas, dan air mata yang tak berhenti mengalir. Ia sadar, bertahan lebih lama di perusahaan ini hanya akan melempar dirinya ke dalam perangkap mematikan Leo.Lakukan sekarang, Raia. Jangan ragu.Ia mengambil napas panjang, mendorong pintu ruangan Leo dengan setitik harapan terakhirnya. Namun begitu pintu terbuka, tatapannya tertuju pada sosok Gavi yang duduk di depan Leo, sesekali pria itu melemparkan tawanya, di tengah banyaknya berkas di antara keduanya. Suasana tegang yang sebelumnya Raia bayangkan, seketika lenyap oleh kehangatan Gavi.“Nah ... ini dia!” seru Gavi ketika menyadari kehadiran Raia di depan pintu. Pria itu melirik Leo yang duduk di kursi kebesarannya. “Sekretaris abadi sepanjang masa yang selalu menyelamatkan,” guraunya lagi.Leo mengangkat wajahnya, panda
“M-maksud Bapak ...?” tanya Raia parau.Jantungnya seolah berhenti ketika mendengar pertanyaan telak dari Leo. Darahnya mendadak berdesir, membuat jemarinya yang bertaut di atas pangkuannya, gemetar hebat. Kebohongan yang ia susun serapi mungkin demi menutupi kejadian malam itu ... kini perlahan mulai runtuh di hadapan tatapan tajam atasannya.Leo mendengus kesal. “Jangan pura-pura tidak tahu, Raia. Kamu bilang ... kamu hanya meletakkan dokumen itu, lalu pergi. Tapi, ingatan yang tertinggal dalam benak saya ... orang terakhir yang bersama sama di ruangan itu adalah ... kamu, Raia.”Raia terperanjat. Punggungnya membentur sandaran sofa di belakangnya. Sementara tenggorokannya tercekat, ia kehilangan setiap kata untuk bisa menjawab.Sebelum Raia mengeluarkan suaranya, Leo terlebih dahulu bangkit dari duduknya. Pria itu berjalan menghampiri Raia dengan langkah tegas. Sorot mata intimidasinya tertuju pada raut wajah Raia yang tengah menyembu
“Raia Sophie, saya tahu kamu di dalam ... buka pintunya atau saya dobrak sekarang juga.”“Pa-Pak Leo,” sapa Raia, terbata. “Bapak—ngapain … di sini?”Leo tak menjawab pertanyaan Raia, pria itu sibuk memindai penampilan Raia dari atas hingga bawah, menyadari ada sesuatu yang baru saja terjadi pada sekretarisnya itu. Sadar akan itu, Raia menundukkan kepalanya, dalam. “Kamu sakit?”“Silakan masuk, Pak,” ujar Raia tak menjawab, ia memberi jalan pada atasannya, membiarkan Leo masuk, lalu dengan buru-buru, ia menyandarkan tubuh lemasnya pada sofa.Leo melangkah masuk, pandangannya mengamati sekeliling ruangan dengan dahi berkerut. Ia merasa heran, sekretaris supernya ambruk dan terlihat kacau—sesuatu yang tak pernah terjadi selama tujuh tahun mereka bekerja sama.Raia berdehem, mencoba mengumpulkan keberaniannya. “Bapak tahu dari mana alamat saya?” tanya Raia parau, sembari memijat pelipisnya bingung.Leo







