Home / Romansa / The Day We Do It / Bab 139 - Potongan Perjanjian

Share

Bab 139 - Potongan Perjanjian

Author: Anidania
last update publish date: 2026-10-16 22:47:07

​Raia merapikan tumpukan berkas yang ada di meja kerjanya, jemarinya menyenggol amplop cokelat tebal berlabel Strictly Confidential. Kertas di dalamnya sedikit menyembul keluar, memperlihatkan judul berhuruf tebal dengan cap meterai.

​DRAF PERJANJIAN PRA-NIKAH & KONTRAK PERTUNANGAN

Pihak Pertama: Leonardo Vaneric

Pihak Kedua: Raia Sophie

​Jantung Raia mencelos. Matanya terpaku membaca klausul di hadapannya, durasi kontrak tiga bulan kalender, kompensasi pengalihan aset seharga puluhan miliar r
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • The Day We Do It   Bab 134 - Kakek Edward

    Sandy bangkit dari kursinya, napasnya memburu dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipis. "Papa, ayo pergi... jangan biarkan mereka membeberkan ini lebih jauh!" bisiknya panik, mencengkeram lengan Robert yang masih mematung.​Bibirnya gemetar menahan malu dan amarah yang meluap, Robert meninggalkan ruang perjamuan tanpa sepatah kata pun lagi, disusul langkah tergesa-gesa putranya.​Tok. Tok.​Bunyi ketukan tongkat berkepala elang di atas marmer memecah keheningan dari ujung kepala meja perjamuan.​Sosok pria tua bertubuh tegap dengan rambut perak rapi yang sedari tadi duduk diam memperhatikan jalannya jamuan perlahan menegakkan punggungnya. Tuan Besar Edward Vaneric meletakkan serbet makannya dengan tenang.​Seluruh kerabat yang tersisa di meja makan langsung menahan napas, tak ada satu pun yang berani bersuara di hadapan sang kepala keluarga.​"Leonardo," panggil Kakek Edward, suaranya berat dan menggelegar tenang, menyapu seluruh penjuru ruangan.​Leo segera bangkit berdiri

  • The Day We Do It   Bab 143 - Om Roberts!

    Robert mendengus, tawa sinisnya memecah keheningan. Pria itu menolak mundur, kedua tangannya mencengkeram tepi meja marmer hingga urat-uratnya menonjol."Bicara soal integritas? Omong kosong!" sergah Robert, tatapan kebencian pada Leo dan Raia bergantian. "Keluarga ini butuh penerus yang pasti, bukan eksperimen emosional seorang pewaris manja! Tempo lalu, Sandy dan Evelyn sudah resmi mengikat pertunangan. Putri konglomerat yang menjadi mitra bisnis perusahaan Vaneric! Itu yang namanya menyatukan darah terhormat demi martabat dan kejayaan empat generasi Vaneric!"Robert menepuk dadanya sendiri dengan dagu terangkat angkuh, melirik putranya, Sandy, yang duduk di ujung meja dengan senyum pongah yang tertahan.Leo mendengarkan ocehan itu dengan wajah tanpa ekspresi. Alis tebalnya hanya terangkat, memperlihatkan kebosanan terhadap manuver murahan pamannya."Lalu?" suara bariton Leo terdengar begitu dingin dan datar. "Apa hubungannya pertunangan anakmu dengan keputusanku malam ini, Om Rober

  • The Day We Do It   Bab 142 - Pertemuan Mendebarkan

    "Leonardo, sejak kapan sekretaris kantor diizinkan memakai kalung sakral keluarga kita?"​Suara berat dan dingin milik Om Robert membelah keheningan ruang pertemuan utama kediaman Vaneric. Puluhan pasang mata langsung menghunus tajam pada dua sosok yang baru saja melangkah masuk. Leo yang tampak gagah dalam setelan tuksedo gelap, dan Raia yang berdiri tenang di sampingnya dengan gaun beludru biru dongker—serta liontin safir yang berkilau di leher jenjangnya.​Om Robert berdiri tegak, memandang Raia dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan senyum sinis yang merendahkan.​"Kami mengira panggilan malam ini untuk membahas restrukturisasi aset keluarga, bukan menyaksikan drama romansa rendahan," lanjut Robert, menoleh ke arah Ibu Rica yang duduk kaku di ujung meja. "Sejak kapan standar keluarga Vaneric jatuh sampai membiarkan orang lain menyentuh perhiasan peninggalan Ibu, Rica?"​Ibu Rica hendak membuka mulut, namun Leo melangkah maju, menempatkan tubuh tegapnya sebagai perisai di ha

  • The Day We Do It   Bab 141 - Sudah lebih Ringan?

    "Apa yang sedang kamu hukum di dalam kepalamu itu, Rai?" tanya Leo menyadari Raia yang tengah termenung, suaranya yang lembut memecah lamunan wanita.Raia tersentak. Tangannya menegang hingga buku-buku kukunya memutih. "Bukan apa-apa, Leo. Aku cuma... sedikit lelah karena urusan kantor tadi.""Bohong," sela Leo tanpa ragu. Pria itu mengulurkan tangannya melintasi meja makan, membiarkan telapak tangannya terbuka. "Jemarimu memutar cincin itu sejak sepuluh menit yang lalu. Matamu melihat ke arahku, tapi pikiranmu sedang berada di tempat lain yang sangat jauh entah dimana."Senyum palsu di bibir Raia perlahan luruh. Bahunya merosot, pertahanannya runtuh di hadapan Leo yang selalu mampu membaca dirinya luar dalam.Raia menatap permukaan meja dengan tatapan kosongnya, sementara suaranya tercekat di tenggorokan."Kadang... ada bagian dari diriku yang menyangkal kalau semuanya sudah berakhir, Leo," bisik Raia parau. "Tiga tahun aku meyakinkan diriku kalau aku sudah baik-baik saja, kalau aku

  • The Day We Do It   Bab 140 - Keputusan Raia

    ​"Aku cuma panik," bisik Leo parau. Pria itu mengangkat wajahnya perlahan, menatap Raia dengan dengan tatapan haru. "Aku takut kamu berpikir semua yang kulakukan belakangan ini cuma bagian dari skenario tiga bulan sialan itu."​Raia memperhatikan guratan cemas di wajah pria di hadapannya.​"Waktu membaca judul itu, aku emang sempat merasa bodoh," tutur Raia pelan. "Aku sempat berpikir kalau aku cuma pion yang kamu bayar mahal demi mengamankan takhta dari keluarga besarmu."​ "Rai—"​"Dengarkan aku dulu," potong Raia, mengusap punggung tangan pria itu dengan ibu jarinya agar Leo tidak memotong. "Tapi aku ingat malam di vila itu, Leo. Aku ingat bagaimana kamu berlutut di lantai supaya aku tidak merasa terancam. Aku ingat kamu terjaga semalaman demi memastikan tanganku tidak kedinginan, dan bagaimana kamu menyiapkan sarapanku pagi-pagi tanpa meminta apa pun sebagai gantinya."​Sudut bibir Raia terangkat, membentuk senyuman tipis yang begitu tulus.​"Orang yang cuma menjalankan kontrak bi

  • The Day We Do It   Bab 139 - Potongan Perjanjian

    ​Raia merapikan tumpukan berkas yang ada di meja kerjanya, jemarinya menyenggol amplop cokelat tebal berlabel Strictly Confidential. Kertas di dalamnya sedikit menyembul keluar, memperlihatkan judul berhuruf tebal dengan cap meterai.​DRAF PERJANJIAN PRA-NIKAH & KONTRAK PERTUNANGANPihak Pertama: Leonardo VanericPihak Kedua: Raia Sophie ​Jantung Raia mencelos. Matanya terpaku membaca klausul di hadapannya, durasi kontrak tiga bulan kalender, kompensasi pengalihan aset seharga puluhan miliar rupiah, terpampang jelas di hadapannya.​"Rai?" Suara barinton yang begitu familiar tiba-tiba mengejutkannya.​Raia tersentak, ia menatap pria di dekatnya dengan tatapan terkejut. Tangannya bergerak menarik map untuk menyembunyikan lembaran kontrak tersebut.​Namun gerakannya kalah cepat.​Leo terlebih dahulu mengenali kertas itu.Tanpa membuang waktu lebih lama, tangannya terulur merenggut kertas itu dari bawah lengan Raia.​Sreeek!​Bunyi kertas yang terkoyak paksa menejadi alunan yang terdeng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status