Home / Romansa / The Day We Do It / Bab 6 - Malam Ini, Jangan Pergi!

Share

Bab 6 - Malam Ini, Jangan Pergi!

Author: Anidania
last update publish date: 2026-08-12 15:14:57

Malamnya, kemewahan private dining room Hotel Frixca yang disinari chandelier kristal justru terasa mencekam bagi Raia. 

Ia duduk kaku di sebelah Leo, sementara Nona Evelyn duduk berhadapan dengan mereka, wanita itu mengenakan gaun malam mewah dengan pesona high society yang terlalu memikat.

“Jujur saja Pak Leo, saya cukup terkejut ... saya sama sekali tidak menyangka jika Anda sendiri yang mendatangi saya malam ini,” ujar Evelyn, menyandarkan punggung santai.

“Awalnya saya pikir ini hanya obrolan biasa antarperusahaan,” lanjut Evelyn melirik Raia sejenak, sebelum kembali menatap Leo. 

“Tapi, Ibu Rica secara pribadi menghubungi saya, beliau bilang, malam ini bukan hanya pembahasan bisnis. Melainkan, kesempatan untuk kita mengenal lebih dekat secara pribadi.”

Deg.

Darah Raia seakan berhenti mengalir. Nafasnya tercekat di tenggorokan. Ia mengepalkan tangannya di balik meja, berharap lantai ini runtuh dan menelannya begitu saja.

Evelyn menyunggingkan senyum tipisnya. “Ibu Anda bilang, beliau sangat berharap perkenalan kita ini bisa berlanjut pada hubungan yang lebih jauh,” lanjutnya.

Leo tampak tidak terkejut dengan pernyataan Evelyn. Namun, garis rahangnya berubah tajam. Perlahan, pria itu memutar kepalanya, menatap Raia tajam yang kini hanya bisa tertunduk kaku di sampingnya.

“Jadi ...,” desis Leo dengan suara rendah, sarat akan amarah yang siap meledak. “Ini alasan kamu begitu gigih memaksa saya hadir dan duduk di sini, Rai?” 

“Ma-maaf, Pak, Leo ...” Raia membasahi bibirnya, menahan gemetar di dadanya. 

“Dalam dunia bisnis, membangun hubungan baik secara personal dengan calon mitra adalah hal yang sangat wajar. Hal demikian bertujuan untuk memperlancar proses investasi dan kerja sama jangka panjang antar perusahaan.”

Leo memicingkan matanya. 

Rahangnya mengeras mendengar jawaban diplomatis dari Raia. Namun, alih-alih mempermalukan Raia di depan tamu mereka, Leo lebih memilih menghembuskan napas panjang, mencoba mengontrol emosinya.

Pria itu mengalihkan pandangannya pada Evelyn, mengukir seulas senyum di bibirnya. “Nona Evelyn, mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Draft kerjasama Sakkana Group kami terima dengan baik da tim analisis Vaneric Group akan mempelajari detailnya secara resmi.”

Evelyn tersenyum sembari mengangguk paham. “Tentu, Pak, Leo. Saya sangat mengerti akan itu.”

“Kalau begitu, saya rasa diskusi awal kita cukup sampai di sini,” lanjut Leo, berdiri dari duduknya. “Saya dan sekretaris saya harus kembali untuk merapikan beberapa berkas yang mendesak.”

Evelyn mengangguk sopan, wanita itu ikut berdiri dari duduknya sambil mengulurkan tangan. “Terima kasih untuk waktu dan jauannya, Pak Leo. Saya tunggu kabar baik dari tim Vaneric Group.” 

Leo meraih jabatan tangan dengan tegas.

“Mari,” pamitnya, melangkah keluar tanpa menunggu Raia.

Sementara Raia dengan sigap membereskan iPad dan tas kerjanya. Ia membungkuk sopan pada Evelyn sebelum mempercepat langkahnya, mengekor langkah lebar atasannya. Ia melihat Leo berdiri di samping mobilnya, refleks ia sedikit berlari.

“P-pak Leo ... untuk malam ini, saya bisa pulang sendiri seperti biasa—”

“Masuk, Raia,” potong Leo cepat. Pria itu memutari mobil dan membukakan pintu untuknya.

Raia menelan ludahnya susah payah, ia mengerti, dalam situasi seperti ini, tidak ada gunanya berdebat dengan Leo, pria itu tak akan merubah keputusan apapun.

Raia mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil mewah tersebut.

Suasana di dalam mobil terasa begitu canggung, tak ada obrolan apapun selama perjalanan menuju apartemen tempat tinggal Raia. 

Di kursinya, Raia hanya bisa mengepalkan tangannya, menatap lurus ke luar jendela dengan napas tertahan. Sementara Leo, memilih fokus pada jalanan di depannya.

Laju mobil akhirnya melambat dan berhenti tepat di lobi apartemen Raia. Tanpa sepatah katapun, Leo memindahkan tuas transisi ke dalam posisi Park, hingga membuat kunci otomatisnya terlepas. 

Raia mengembuskan napas lega. Ia menoleh pada Leo.

“Terima kasih atas tumpangannya, Pak Leo. Laporan hasil pertemuan malam ini akan saya kirimkan ke email Anda sebelum pukul sembilan pagi, besok.”

Raia meraih tas dan iPad-nya, lalu mengangkat tangan hendak membuka pintu. Namun, sebelum sempat melakukannya, suara central lock terdengar.

Klik.

Pintu kembali terkunci rapat.

Jantung Raia seketika berdegup lebih kencang. Ia menatap Leo dengan tatapan terkejut. “Pak Leo ...?”

Leo perlahan memutar kepalanya. Manik matanya menatap Raia tajam.

“Rai,” panggilnya dingin. “Saya tahu Ibu saya yang menyuruhmu melakukan semua ini.”

Raia terdiam.

“Kamu tidak perlu sejauh itu menuruti keinginan Ibu,” lanjut Leo, suaranya tetap tenang. “Kamu bekerja untuk saya, bukan untuk memenuhi semua keinginannya.”

Raia menunduk, tak mampu membantah.

Leo kembali menatapnya lekat. “Saya tahu kamu hanya ingin membantu Ibu. Tapi ada beberapa hal yang tidak perlu kamu ikut campuri terlalu jauh.”

Raia perlahan mengangkat wajahnya.

“Terutama soal keputusan  ... dan perasaan saya,” lanjut Leo dengan tegas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • The Day We Do It   Bab 91 - Besok Kita Bertemu

    Setiap kali Raia mencoba menelan masakan yang diantarkan ke apartemennya, makanan itu terasa tak ubahnya seperti pasir kering—kasar dan keras. Aroma sajian berkelas yang memenuhi meja makan miliknya justru terasa seperti teror baginya. Makanan itu bukan sekadar bentuk perhatian, melainkan penanda bahwa sang bos bisa menjangkau dan mengarahkan hidupnya kapan saja ia mau.Napas Raia mulai memburu, ia butuh pertolongan. Ia butuh seseorang yang mengerti kesehatan jiwa, seseorang yang berada jauh di luar lingkaran beracun Vaneric Group.Di tengah kepanikan yang ia rasakan, satu nama mendadak terlintas di benak Raia.Javier.Teman dekatnya sejak masa kuliah dulu yang kini berprofesi sebagai seorang psikolog klinis. Javier—atau yang biasa disapa Javi—adalah sosok yang memiliki ketenangan luar biasa, punya pemikiran kritis, pendengar yang luar biasa baik, dan satu-satunya orang yang pernah menjadi tempat Raia bersandar saat masa-masa paling kelam di kampus.Dengan jemari gemetar, Raia meraih

  • The Day We Do It   Bab 90 - Istirahatlah, Raia

    Dua jam berada di balik kubikelnya, Raia merasa gedung Vaneric Group mulai memeras seluruh udara dari paru-parunya. Layar monitor di hadapannya menayangkan deretan angka laporan keuangan yang mendadak kabur, tak ada satu pun yang sanggup dicerna oleh otaknya.Ia tidak bisa terus berada di sini. Dinding-dinding kaca kantor ini rasanya bagai sangkar yang kian menyempit dan menyiksa.Dengan jemari yang bergetar, Raia membuka sistem kalender digital untuk memeriksa agenda Leo. Kosong. Hanya ada peninjauan berkas internal rutin tanpa ada rapat direksi atau janji temu penting dengan klien setelah makan siang.Begitu jam istirahat berakhir, Raia mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang tersisa. Ia bangkit dengan langkah gontai, lalu mengetuk pintu ruangan Leo cukup pelan."Masuk." Suara bariton dari dalam memberi izin.Raia mendorong pintu dengan pelan. Pria itu menghentikan ketukan pulpennya begitu mendapati Raia berdiri kaku di dekat ambang pintu."Pak Leo...," bisik Raia amat pelan, menu

  • The Day We Do It   Bab 89 - Dari Mana, Rai?

    "Raia, dengarkan saya sebentar," panggil Leo, menghalangi langkah Raia yang hendak meninggalkannya.Raia menggeleng, matanya menatap lantai dengan berkaca-kaca. Namun, Leo tidak membiarkan perempuan itu pergi dalam keadaan kalut. Pria itu paham betul bagaimana Raia—kelembutan hati dan empati perempuan itu yang tak pernah tega melihat orang lain hancur, sebuah kebaikan yang kini kembali dieksploitasi oleh keadaan."Saya tahu kamu marah. Tapi saya juga tahu persis siapa kamu, Raia," ucap Leo rendah. "Kamu tidak akan pernah tega membiarkan Vaneric Group hancur. Kamu tahu sendiri betapa kerasnya Mama menjaga kehormatan keluarga ini. Kamu pasti nggak akan sampai hati melihat beliau sedih dan hancur kalau sampai tahu kebenarannya, apalagi kalau Vaneric sampai jatuh ke tangan Sandy."Napas Raia tertahan. Kata-kata Leo menghantam tepat di bagian tersulit dari nuraninya. Ia benci diintimidasi, tapi ia jauh lebih benci melihat seorang ibu dihancurkan oleh kekecewaan—dan Leo tahu betul kelemahan

  • The Day We Do It   Bab 88 - Rai, Hanya Kali Ini!

    "Kamu ... kenapa jawabnya sampai gemetaran dan pucat begitu, Raia? Kamu tidak sedang bohong sama saya, kan?"Leo merangsek maju dan berdiri pasang badan di depan Raia. Pria itu menggenggam tangan Raia yang terasa dingin.“Raia gemetaran karena dia takut sama Mama," potongnya. "Mama tahu sendiri gimana wibawa Mama di rumah ini. Dia cuma cemas Mama nggak akan pernah mau menerima dia sebagai calon menantu Mama," terangnya, mengusap punggung tangan Raia dengan lembut.Bu Rica menyilangkan tangannya di dada, menatap keduanya dengan senyum tipis di bibirnya. "Mama cuma nggak mau kamu mengambil keputusan yang salah karena emosi sesaat, Leo.” Wanita itu mengambil napas panjang. Berusaha menetralkan emosinya. “Kamu tahu posisi kamu di Vaneric Group!" tukasnya tegas."Leo nggak gegabah, Ma," sela Leo tegas. "Leo janji sama Mama... Leo bakal buktikan kalau keputusan Leo untuk memilih Raia bukan main-main. Leo bakal buktikan kalau Raia adalah satu-satunya wanita yang layak berdiri di samping Leo,

  • The Day We Do It   Bab 87 - Kami Saling Mencintai

    "Lho? Raia?!" Bu Rica menatap kedatangan Raia dengan tatapan heran, matanya membelalak kaget. Ia melongok ke belakang tubuh Raia dengan raut bingung, sekilas, tengah mencari seseorang. "Kamu ... ngapain ke sini pagi-pagi begini? Sama siapa kamu datang?" tanyanya dengan alis berkerut.Raia menghentikan langkahnya beberapa meter di hadapan Bu Rica. Ia berdiri dengan tubuh kaku. "Saya sendiri, Bu," jawabnya lugas."Sendiri?!" Dahi Bu Rica berkerut, makin terheran. "Lho, kok sendiri? Mana Leo? Nggak biasanya kamu datang ke rumah saya sendirian begini tanpa dipanggil. Ada masalah apa di kantor sampai kamu datang sepagi ini?" runtutnya memberi pertanyaan.Raia melirik jam tangannya sekila. Jarum detik bergeser menunjuk angka 12—tepat pukul 09.00 WIB."Saya ke sini bukan karena urusan kantor, Bu Rica," jawab Raia tenang. "Saya ke sini untuk mengatakan sesuatu pada Ibu. Hubungan saya dan Pak Leo sebenarnya—""Raia! Jangan!"Sebuah teriakan keras memotong kalimat Raia. Membuat wanita itu terpe

  • The Day We Do It   Bab 86 - Kediaman Ibu Vaneric

    Sinta menghentikan kunyahannya. Ia menatap Raia lekat, menyipitkan mata penuh dengan kecurigaan."Tunggu deh, Rai..." Ia memiringkan kepalanya, mengamati wajah sahabatnya yang berubah kaku. "Kok dari tadi kamu penasaran banget sama topik ini sih? Pertanyaan kamu tuh spesifik banget tau nggak."Raia menahan napasnya sejenak, berpura-pura sibuk mengaduk sisa sup di mangkuknya agar tak perlu menatap mata Sinta."Jangan-jangan ..." Sinta menyilangkan tangannya di atas meja, menundukkan sedikit wajahnya untuk memancing tatapan Raia. "Kamu lagi dekat sama cowok yang mau jadi pastor?!" tebaknya.Deg!Jantung Raia serasa berhenti berdetak. Sendok di genggamannya terlepas dan berdenting nyaring menghantam tepian mangkuk."Hah?! N-nggak lah, Sin!" pekik Raia cukup keras, berusaha menyembunyikan kepaikan di wajahnya. Ia buru-buru mengibaskan tangannya cepat. "Mana ada! Kamu kalau tebak-tebakan suka nggak masuk akal!""Ya lagian!" jawab Sinta mmemutar bola matanya. Ia melipat tangannya di depan d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status