Home / Romansa / The Day We Do It / Bab 5 - Apa yang Mereka Lakukan?

Share

Bab 5 - Apa yang Mereka Lakukan?

Author: Anidania
last update publish date: 2026-08-12 15:14:16

Raia menatap Leo lekat, melihat raut keputusasaan di wajah Leo yang tak pernah ia lihat sebelumnya. 

Dengan sedikit keraguan, tangan Raia terangkat, menerima gelas berisi cairan berwarna kuning itu dengan sedikit gemetar. 

Seketika, aroma alkohol semakin menyengat tercium oleh Raia. Ia menatap gelas di tangannya sekilas, lalu mengalihkan pandangan kepada Leo yang kini menganggukkan kepala, seolah meyakinkannya untuk meneguk minuman itu.

“Mau lagi?” lirih Leo.

Entah kenapa, suara itu membuat Raia menurut. Ia menarik napas panjang, lalu memberanikan diri meneguk minuman asing tersebut beberapa kali.

“Ini minuman terakhir yang akan saya minum,” ucap Raia pelan.

Sensasi panas dan terbakar langsung menjalar dari tenggorokannya, membuat kepalanya mulai terasa pening. Leo kemudian meneguk whisky miliknya hingga tandas sebelum melangkah mendekati Raia.

“Enak?” tanyanya.

Raia hanya mengangguk kecil. Namun, belum sempat ia mengatakan apa-apa, Leo sudah berdiri tepat di hadapannya. Satu tangannya bertumpu di meja di samping tubuh Raia, membuat jarak mereka begitu dekat hingga aroma alkohol kembali memenuhi indra penciumannya.

“Pak ...,” bisik Raia, mencoba menyadarkan pria itu.

Leo justru menatapnya cukup lama. Tatapan pria itu yang biasanya tajam kini terlihat sayu, membuat Raia tanpa sadar mengeratkan jemarinya pada gelas di tangan.

“Kenapa mereka begitu sulit menerima keputusan saya?” gumam Leo pelan.

Raia menelan ludah. Ia tahu betapa kerasnya keluarga Leo berusaha mengubah keputusan pria itu, tetapi mendengar keluhannya secara langsung membuat hatinya ikut terasa berat.

“Selama ini saya selalu mengikuti kemauan mereka.” Leo terkekeh lirih, terdengar getir. “Sekali saja saya memilih untuk diri sendiri ... kenapa begitu sulit?”

Raia terdiam. Tatapannya turun sejenak, mencari jawaban yang entah kenapa terasa begitu sulit untuk diucapkan.

“Pak Leo, keluarga Anda hanya membutuhkan waktu untuk—” 

Raia menghentikan kalimatnya sendiri ketika menyadari Leo masih menatapnya.

Tatapan itu membuat tengkuknya meremang. Dalam beberapa detik, Raia bahkan hanya bisa diam, seolah pikirannya mendadak kehilangan arah. Ia ingin mengalihkan pandangan, tetapi entah kenapa matanya justru bertahan di sana.

Leo perlahan mendekat.

Napas Raia tercekat. Tubuhnya menegang ketika wajah pria itu semakin dekat, tetapi kakinya seakan kehilangan tenaga untuk mundur.

Sampai akhirnya, bibir Leo menyentuh bibirnya.

Raia seketika membeku. Matanya melebar, sementara jantungnya berdegup begitu keras hingga ia hampir lupa bagaimana caranya bernapas.

. . . .

Setelah kejadian malam itu, Raia memilih untuk segera pulang tanpa banyak bicara. Ia berusaha menganggap ciuman tersebut sebagai kesalahan yang terjadi karena Leo sedang mabuk dan tidak ingin memikirkannya lagi.

Namun, pagi ini, ingatan itu masih saja sesekali muncul di benaknya hingga membuatnya tanpa sadar melamun. Padahal, Leo sendiri juga tampak biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa meskipun canggung masih terasa di sana.

Sepertinya, pria itu memang tak sadar dan benar-benar di bawah pengaruh alkohol.

Ponsel di saku blazer Raia tak berhenti bergetar, membuat sang empunya sedikit tersentak di balik keheningan mencekam di dalam mobil mewah Leo yang tengah membelah jalanan. 

Nama Bu Rica Vaneric muncul di layar. Raia menelan ludahnya susah payah. Dengan jemari gemetar, ia menggeser tombol hijau dan menempelkannya pada telinga.

“Selamat siang, Ibu,” sapa Raia sopan.

“Selamat siang, Ibu,” sapa Raia sopan.

“Raia! Bagaimana?” Pertanyaan Bu Rica menyambar tanpa basa-basi. “Pertemuan dengan Clarissa kemarin tidak ada kemajuan, kan? Ibu tidak mau tahu, kamu harus cari cara lain! Ibu baru saja mengirimkan profil Nona Evelyn, putri pemilik Sakkana Group. Atur pertemuan dengannya, secepat mungkin!”

Melalui cermin tengah, ekor mata Raia melirik takut pada Leo. Pria itu tampak fokus menatap jalanan di balik kemudinya. Namun, entah mengapa, melihat wajah Leo pagi ini justru membuat ingatan tentang semalam kembali muncul.

Raia buru-buru mengalihkan pandangan.

“S-sudah, Bu,” bisik Raia pelan. “Saya sedang menyesuaikan agar berjalan lancar.”

“Bagus. Kali ini harus berhasil, Raia. Ibu hanya bisa menggantungkan harapannya padamu,” tegas Bu Rica sebelum memutuskan sambungannya secara sepihak.

Dengan dada berdesir, Raia membuka iPad kerjanya untuk mengirimkan undangan dengan subjek ‘Penting’ kepada perwakilan Sakkana Group. Kemudian, ia menyusun reservasi dinner di Hotel Frixca dan menyelipkan nama Nona Evelyn dengan dalih pertemuan investasi.

Jemarinya berhenti sesaat di atas layar.

Membayangkan Leo duduk berdua dengan wanita lain yang dijodohkan dengannya mendadak membuat relung hatinya terasa diremas.

Bukankah hatinya sudah terkubur bersama tunangannya sejak tiga tahun lalu?

Lalu, mengapa rasanya begitu sesak hanya karena membayangkan Leo bersama perempuan lain?

Raia segera mematikan layar iPad dan menoleh kepada Leo.

“Pak Leo ... malam ini, pukul tujuh, Anda memiliki agenda business dinner di Hotel Frixca bersama perwakilan dari Sakkana Group.”

Leo menautkan alisnya dan menatap Raia dari ekor matanya.

“Perwakilan Sakkana Group?” ulang Leo datar. “Sama seperti makan malam kita dengan Nona Clarissa minggu kemarin?”

Raia mengepalkan tangannya, berusaha menjaga ekspresi wajahnya tetap santai.

“Pihak mereka meminta permohonan khusus untuk mempercepat diskusi draf investasi, Pak. Nona Evelyn hadir secara pribadi mewakili ayahnya.”

Mobil berhenti di lampu merah.

Leo memiringkan tubuhnya hingga sepenuhnya menatap Raia. Jarak yang mendadak terasa begitu dekat membuat Raia tanpa sadar menahan napas. Aroma parfum khas pria itu kembali memenuhi indra penciumannya, dan sialnya, ingatan tentang bibir Leo semalam ikut muncul begitu saja.

“Apakah kamu ikut?” desis Leo.

Raia menggigit bibirnya. Kali ini, ingin rasanya ia menolak jadwal itu.

“Saya tanya sekali lagi, Raia ... kamu ikut makan malam ini atau tidak?”

Raia tersentak. Jemarinya semakin kaku meremas iPad.

“M-maksud Bapak? Agenda ini adalah pertemuan eksklusif, Pak. Saya tidak berkewajiban untuk hadir ...”

“Jawabanmu mudah, Raia. Ya atau tidak,” potong Leo tanpa kompromi. Nada suaranya kini berubah mengintimidasi. “Saya tidak akan datang ke pertemuan tersebut jika tidak denganmu. Dan, kali ini saya tidak memintamu untuk menunggu di mobil atau duduk terpisah dengan. Kamu sekretaris saya, jadi kamu harus duduk satu meja dengan saya dan Nona Evelyn.”

Dada Raia bergemuruh. Duduk bertiga? “Tapi, Pak Leo, itu tidak sopan bagi Nona Evelyn—”

“Atau ... saya batalkan seluruh investasi Sakkana Group malam ini juga,” ancam Leo, menginjak pedal gas tepat ketika lampu berubah hijau. “Pilihannya ada di tangan kamu, Raia. Kamu duduk di samping saya sepanjang acara, atau saya batalkan pertemuan ini.” 

Dengan napas tertahan, Raia akhirnya mengangguk, pasrah. “B-baik, Pak. Saya akan pertimbangkan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • The Day We Do It   Bab 94 - Ngedate

    ​"Dari mana saja kamu, Raia?"​Raia tersentak, hampir saja ia menjatuhkan tas yang dipegangnya. Matanya tertuju pada sosok Leo yang sudah berdiri di depan pintu ruangannya dengan melipat kedua tangan di dada. Pria itu seakan sudah memerhatikan area meja Raia yang kosong sejak tadi."Kenapa tidak ada di meja saat?" selidik Leo tajam.​Raia menelan ludah dengan susah payah, dadanya berdebar, merasa cemas karena kepergiannya tertangkap basah oleh sang bos. Ia menarik napas panjang, berusah menyembunyikan rasa gugupnya.​"M-maaf, Pak Leo. Tadi saya baru saja keluar sebentar... ada kepentingan di kafe depan," jawab Raia. "Apakah ada dokumen yang perlu saya siapkan atau ada yang bisa saya bantu, Pak?" Lanjutnya buru-buru mengalihkan pembicaraan.​Leo menatap Raia sejenak, mengamati wajah Raia yang seperti tak nyaman dengan situasi ini. Pria itu menghembuskan napas pelan, lalu menggeleng.​"Tidak," sahut Leo singkat. Namun, bukannya kembali masuk ke ruangannya, ia justru maju mendekati mej

  • The Day We Do It   Bab 93 - Kamu Suka Dia?

    "Coba cerita ke aku," potong Javier tanpa basa-basi, begitu Raia baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi sebuah kafe. "Apa yang terjadi tadi pagi di kantor? Apa yang dia lakuin atau ucapin ke kamu?"Raia menarik napas panjang, mencondongkan tubuhnya ke depan agar suaranya tak terdengar pengunjung lain. Jemarinya yang dingin meremas cangkir kopi erat-erat."Tadi pagi... dia manggil aku ke ruangannya buat ngomongin hal gila, Jav," bisik Raia dengan suara bergetar, matanya melirik ke kanan dan kirim memastikan tak ada yang mendengar ucapannya. "Ibunya sempet maksa aku buat jodohin sama anak temen keluarganya... supaya dia gak jadi mengambil jalan hidup buat jadi pastor."Javier mengangkat kedua alisnyia terkejut dengan apa yang diucapkan Raia, pria itu tidak menyela, memberi ruang bagi Raia untuk menumpahkan seluruh isi kepalanya."Tapi dia nolak keras," lanjut Raia dengan napas terengah. "Dia bilang dia cuma mau aku. Ibunya gak setuju sama sekali sama aku, tapi dia mendesak... Dia maksa

  • The Day We Do It   Bab 92 - Sinta Curiga

    ​"G-Gavi...?" beo Raia gugup, tenggorokannya mendadak terasa kering.​"Iya, Gavi. Kalian kan sekantor," potong Javier cepat. "Kamu satu perusahaan, satu gedung sama dia. Maksud aku... orang yang bikin kamu tertekan setengah mati ini ada hubungannya sama Gavi atau enggak? Apa dia tahu kondisi kamu sekarang?" Lsnjut Javier, mencoba menggali informasi lebih lanjut.​Raia menggeleng cepat, meski Javier tidak bisa melihatnya di seberang telepon. Ia menelan ludah dengan susah payah, berusaha menyembunyikan getaran di suaranya.​"Enggak, Jav…," bisik Raia pelan, suaranya terdengar begitu putus asa. "Enggak ada yang tahu... Gavi pun enggak tahu apa-apa.""Bagus kalau Gavi gak tahu," cetus Javier lugas.Raia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi di belakangnya, ia memejamkan mata. membuat salah satu bayangan pendek dari kantor tadi siang mendadak melintas di kepalanya.​"Sebenernya... cuma Sinta yang mulai curiga, Jav," bisik Raia lirih.​"Sinta? Temen kamu itu?" tanya Javier memastikan.S

  • The Day We Do It   Bab 91 - Besok Kita Bertemu

    Setiap kali Raia mencoba menelan masakan yang diantarkan ke apartemennya, makanan itu terasa tak ubahnya seperti pasir kering—kasar dan keras. Aroma sajian berkelas yang memenuhi meja makan miliknya justru terasa seperti teror baginya. Makanan itu bukan sekadar bentuk perhatian, melainkan penanda bahwa sang bos bisa menjangkau dan mengarahkan hidupnya kapan saja ia mau.Napas Raia mulai memburu, ia butuh pertolongan. Ia butuh seseorang yang mengerti kesehatan jiwa, seseorang yang berada jauh di luar lingkaran beracun Vaneric Group.Di tengah kepanikan yang ia rasakan, satu nama mendadak terlintas di benak Raia.Javier.Teman dekatnya sejak masa kuliah dulu yang kini berprofesi sebagai seorang psikolog klinis. Javier—atau yang biasa disapa Javi—adalah sosok yang memiliki ketenangan luar biasa, punya pemikiran kritis, pendengar yang luar biasa baik, dan satu-satunya orang yang pernah menjadi tempat Raia bersandar saat masa-masa paling kelam di kampus.Dengan jemari gemetar, Raia meraih

  • The Day We Do It   Bab 90 - Istirahatlah, Raia

    Dua jam berada di balik kubikelnya, Raia merasa gedung Vaneric Group mulai memeras seluruh udara dari paru-parunya. Layar monitor di hadapannya menayangkan deretan angka laporan keuangan yang mendadak kabur, tak ada satu pun yang sanggup dicerna oleh otaknya.Ia tidak bisa terus berada di sini. Dinding-dinding kaca kantor ini rasanya bagai sangkar yang kian menyempit dan menyiksa.Dengan jemari yang bergetar, Raia membuka sistem kalender digital untuk memeriksa agenda Leo. Kosong. Hanya ada peninjauan berkas internal rutin tanpa ada rapat direksi atau janji temu penting dengan klien setelah makan siang.Begitu jam istirahat berakhir, Raia mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang tersisa. Ia bangkit dengan langkah gontai, lalu mengetuk pintu ruangan Leo cukup pelan."Masuk." Suara bariton dari dalam memberi izin.Raia mendorong pintu dengan pelan. Pria itu menghentikan ketukan pulpennya begitu mendapati Raia berdiri kaku di dekat ambang pintu."Pak Leo...," bisik Raia amat pelan, menu

  • The Day We Do It   Bab 89 - Dari Mana, Rai?

    "Raia, dengarkan saya sebentar," panggil Leo, menghalangi langkah Raia yang hendak meninggalkannya.Raia menggeleng, matanya menatap lantai dengan berkaca-kaca. Namun, Leo tidak membiarkan perempuan itu pergi dalam keadaan kalut. Pria itu paham betul bagaimana Raia—kelembutan hati dan empati perempuan itu yang tak pernah tega melihat orang lain hancur, sebuah kebaikan yang kini kembali dieksploitasi oleh keadaan."Saya tahu kamu marah. Tapi saya juga tahu persis siapa kamu, Raia," ucap Leo rendah. "Kamu tidak akan pernah tega membiarkan Vaneric Group hancur. Kamu tahu sendiri betapa kerasnya Mama menjaga kehormatan keluarga ini. Kamu pasti nggak akan sampai hati melihat beliau sedih dan hancur kalau sampai tahu kebenarannya, apalagi kalau Vaneric sampai jatuh ke tangan Sandy."Napas Raia tertahan. Kata-kata Leo menghantam tepat di bagian tersulit dari nuraninya. Ia benci diintimidasi, tapi ia jauh lebih benci melihat seorang ibu dihancurkan oleh kekecewaan—dan Leo tahu betul kelemahan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status