LOGINRaia menatap Leo lekat, melihat raut keputusasaan di wajah Leo yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Dengan sedikit keraguan, tangan Raia terangkat, menerima gelas berisi cairan berwarna kuning itu dengan sedikit gemetar.
Seketika, aroma alkohol semakin menyengat tercium oleh Raia. Ia menatap gelas di tangannya sekilas, lalu mengalihkan pandangan kepada Leo yang kini menganggukkan kepala, seolah meyakinkannya untuk meneguk minuman itu.
“Mau lagi?” lirih Leo.
Entah kenapa, suara itu membuat Raia menurut. Ia menarik napas panjang, lalu memberanikan diri meneguk minuman asing tersebut beberapa kali.
“Ini minuman terakhir yang akan saya minum,” ucap Raia pelan.
Sensasi panas dan terbakar langsung menjalar dari tenggorokannya, membuat kepalanya mulai terasa pening. Leo kemudian meneguk whisky miliknya hingga tandas sebelum melangkah mendekati Raia.
“Enak?” tanyanya.
Raia hanya mengangguk kecil. Namun, belum sempat ia mengatakan apa-apa, Leo sudah berdiri tepat di hadapannya. Satu tangannya bertumpu di meja di samping tubuh Raia, membuat jarak mereka begitu dekat hingga aroma alkohol kembali memenuhi indra penciumannya.
“Pak ...,” bisik Raia, mencoba menyadarkan pria itu.
Leo justru menatapnya cukup lama. Tatapan pria itu yang biasanya tajam kini terlihat sayu, membuat Raia tanpa sadar mengeratkan jemarinya pada gelas di tangan.
“Kenapa mereka begitu sulit menerima keputusan saya?” gumam Leo pelan.
Raia menelan ludah. Ia tahu betapa kerasnya keluarga Leo berusaha mengubah keputusan pria itu, tetapi mendengar keluhannya secara langsung membuat hatinya ikut terasa berat.
“Selama ini saya selalu mengikuti kemauan mereka.” Leo terkekeh lirih, terdengar getir. “Sekali saja saya memilih untuk diri sendiri ... kenapa begitu sulit?”
Raia terdiam. Tatapannya turun sejenak, mencari jawaban yang entah kenapa terasa begitu sulit untuk diucapkan.
“Pak Leo, keluarga Anda hanya membutuhkan waktu untuk—”
Raia menghentikan kalimatnya sendiri ketika menyadari Leo masih menatapnya.
Tatapan itu membuat tengkuknya meremang. Dalam beberapa detik, Raia bahkan hanya bisa diam, seolah pikirannya mendadak kehilangan arah. Ia ingin mengalihkan pandangan, tetapi entah kenapa matanya justru bertahan di sana.
Leo perlahan mendekat.
Napas Raia tercekat. Tubuhnya menegang ketika wajah pria itu semakin dekat, tetapi kakinya seakan kehilangan tenaga untuk mundur.
Sampai akhirnya, bibir Leo menyentuh bibirnya.
Raia seketika membeku. Matanya melebar, sementara jantungnya berdegup begitu keras hingga ia hampir lupa bagaimana caranya bernapas.
. . . .
Setelah kejadian malam itu, Raia memilih untuk segera pulang tanpa banyak bicara. Ia berusaha menganggap ciuman tersebut sebagai kesalahan yang terjadi karena Leo sedang mabuk dan tidak ingin memikirkannya lagi.
Namun, pagi ini, ingatan itu masih saja sesekali muncul di benaknya hingga membuatnya tanpa sadar melamun. Padahal, Leo sendiri juga tampak biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa meskipun canggung masih terasa di sana.
Sepertinya, pria itu memang tak sadar dan benar-benar di bawah pengaruh alkohol.
Ponsel di saku blazer Raia tak berhenti bergetar, membuat sang empunya sedikit tersentak di balik keheningan mencekam di dalam mobil mewah Leo yang tengah membelah jalanan.
Nama Bu Rica Vaneric muncul di layar. Raia menelan ludahnya susah payah. Dengan jemari gemetar, ia menggeser tombol hijau dan menempelkannya pada telinga.
“Selamat siang, Ibu,” sapa Raia sopan.
“Selamat siang, Ibu,” sapa Raia sopan.
“Raia! Bagaimana?” Pertanyaan Bu Rica menyambar tanpa basa-basi. “Pertemuan dengan Clarissa kemarin tidak ada kemajuan, kan? Ibu tidak mau tahu, kamu harus cari cara lain! Ibu baru saja mengirimkan profil Nona Evelyn, putri pemilik Sakkana Group. Atur pertemuan dengannya, secepat mungkin!”
Melalui cermin tengah, ekor mata Raia melirik takut pada Leo. Pria itu tampak fokus menatap jalanan di balik kemudinya. Namun, entah mengapa, melihat wajah Leo pagi ini justru membuat ingatan tentang semalam kembali muncul.
Raia buru-buru mengalihkan pandangan.
“S-sudah, Bu,” bisik Raia pelan. “Saya sedang menyesuaikan agar berjalan lancar.”
“Bagus. Kali ini harus berhasil, Raia. Ibu hanya bisa menggantungkan harapannya padamu,” tegas Bu Rica sebelum memutuskan sambungannya secara sepihak.
Dengan dada berdesir, Raia membuka iPad kerjanya untuk mengirimkan undangan dengan subjek ‘Penting’ kepada perwakilan Sakkana Group. Kemudian, ia menyusun reservasi dinner di Hotel Frixca dan menyelipkan nama Nona Evelyn dengan dalih pertemuan investasi.
Jemarinya berhenti sesaat di atas layar.
Membayangkan Leo duduk berdua dengan wanita lain yang dijodohkan dengannya mendadak membuat relung hatinya terasa diremas.
Bukankah hatinya sudah terkubur bersama tunangannya sejak tiga tahun lalu?
Lalu, mengapa rasanya begitu sesak hanya karena membayangkan Leo bersama perempuan lain?
Raia segera mematikan layar iPad dan menoleh kepada Leo.
“Pak Leo ... malam ini, pukul tujuh, Anda memiliki agenda business dinner di Hotel Frixca bersama perwakilan dari Sakkana Group.”
Leo menautkan alisnya dan menatap Raia dari ekor matanya.
“Perwakilan Sakkana Group?” ulang Leo datar. “Sama seperti makan malam kita dengan Nona Clarissa minggu kemarin?”
Raia mengepalkan tangannya, berusaha menjaga ekspresi wajahnya tetap santai.
“Pihak mereka meminta permohonan khusus untuk mempercepat diskusi draf investasi, Pak. Nona Evelyn hadir secara pribadi mewakili ayahnya.”
Mobil berhenti di lampu merah.
Leo memiringkan tubuhnya hingga sepenuhnya menatap Raia. Jarak yang mendadak terasa begitu dekat membuat Raia tanpa sadar menahan napas. Aroma parfum khas pria itu kembali memenuhi indra penciumannya, dan sialnya, ingatan tentang bibir Leo semalam ikut muncul begitu saja.
“Apakah kamu ikut?” desis Leo.
Raia menggigit bibirnya. Kali ini, ingin rasanya ia menolak jadwal itu.
“Saya tanya sekali lagi, Raia ... kamu ikut makan malam ini atau tidak?”
Raia tersentak. Jemarinya semakin kaku meremas iPad.
“M-maksud Bapak? Agenda ini adalah pertemuan eksklusif, Pak. Saya tidak berkewajiban untuk hadir ...”
“Jawabanmu mudah, Raia. Ya atau tidak,” potong Leo tanpa kompromi. Nada suaranya kini berubah mengintimidasi. “Saya tidak akan datang ke pertemuan tersebut jika tidak denganmu. Dan, kali ini saya tidak memintamu untuk menunggu di mobil atau duduk terpisah dengan. Kamu sekretaris saya, jadi kamu harus duduk satu meja dengan saya dan Nona Evelyn.”
Dada Raia bergemuruh. Duduk bertiga? “Tapi, Pak Leo, itu tidak sopan bagi Nona Evelyn—”
“Atau ... saya batalkan seluruh investasi Sakkana Group malam ini juga,” ancam Leo, menginjak pedal gas tepat ketika lampu berubah hijau. “Pilihannya ada di tangan kamu, Raia. Kamu duduk di samping saya sepanjang acara, atau saya batalkan pertemuan ini.”
Dengan napas tertahan, Raia akhirnya mengangguk, pasrah. “B-baik, Pak. Saya akan pertimbangkan.”
Dua jam berada di balik kubikelnya, Raia merasa gedung Vaneric Group mulai memeras seluruh udara dari paru-parunya. Layar monitor di hadapannya menayangkan deretan angka laporan keuangan yang mendadak kabur, tak ada satu pun yang sanggup dicerna oleh otaknya.Ia tidak bisa terus berada di sini. Dinding-dinding kaca kantor ini rasanya bagai sangkar yang kian menyempit dan menyiksa.Dengan jemari yang bergetar, Raia membuka sistem kalender digital untuk memeriksa agenda Leo. Kosong. Hanya ada peninjauan berkas internal rutin tanpa ada rapat direksi atau janji temu penting dengan klien setelah makan siang.Begitu jam istirahat berakhir, Raia mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang tersisa. Ia bangkit dengan langkah gontai, lalu mengetuk pintu ruangan Leo cukup pelan."Masuk." Suara bariton dari dalam memberi izin.Raia mendorong pintu dengan pelan. Pria itu menghentikan ketukan pulpennya begitu mendapati Raia berdiri kaku di dekat ambang pintu."Pak Leo...," bisik Raia amat pelan, menu
"Raia, dengarkan saya sebentar," panggil Leo, menghalangi langkah Raia yang hendak meninggalkannya.Raia menggeleng, matanya menatap lantai dengan berkaca-kaca. Namun, Leo tidak membiarkan perempuan itu pergi dalam keadaan kalut. Pria itu paham betul bagaimana Raia—kelembutan hati dan empati perempuan itu yang tak pernah tega melihat orang lain hancur, sebuah kebaikan yang kini kembali dieksploitasi oleh keadaan."Saya tahu kamu marah. Tapi saya juga tahu persis siapa kamu, Raia," ucap Leo rendah. "Kamu tidak akan pernah tega membiarkan Vaneric Group hancur. Kamu tahu sendiri betapa kerasnya Mama menjaga kehormatan keluarga ini. Kamu pasti nggak akan sampai hati melihat beliau sedih dan hancur kalau sampai tahu kebenarannya, apalagi kalau Vaneric sampai jatuh ke tangan Sandy."Napas Raia tertahan. Kata-kata Leo menghantam tepat di bagian tersulit dari nuraninya. Ia benci diintimidasi, tapi ia jauh lebih benci melihat seorang ibu dihancurkan oleh kekecewaan—dan Leo tahu betul kelemahan
"Kamu ... kenapa jawabnya sampai gemetaran dan pucat begitu, Raia? Kamu tidak sedang bohong sama saya, kan?"Leo merangsek maju dan berdiri pasang badan di depan Raia. Pria itu menggenggam tangan Raia yang terasa dingin.“Raia gemetaran karena dia takut sama Mama," potongnya. "Mama tahu sendiri gimana wibawa Mama di rumah ini. Dia cuma cemas Mama nggak akan pernah mau menerima dia sebagai calon menantu Mama," terangnya, mengusap punggung tangan Raia dengan lembut.Bu Rica menyilangkan tangannya di dada, menatap keduanya dengan senyum tipis di bibirnya. "Mama cuma nggak mau kamu mengambil keputusan yang salah karena emosi sesaat, Leo.” Wanita itu mengambil napas panjang. Berusaha menetralkan emosinya. “Kamu tahu posisi kamu di Vaneric Group!" tukasnya tegas."Leo nggak gegabah, Ma," sela Leo tegas. "Leo janji sama Mama... Leo bakal buktikan kalau keputusan Leo untuk memilih Raia bukan main-main. Leo bakal buktikan kalau Raia adalah satu-satunya wanita yang layak berdiri di samping Leo,
"Lho? Raia?!" Bu Rica menatap kedatangan Raia dengan tatapan heran, matanya membelalak kaget. Ia melongok ke belakang tubuh Raia dengan raut bingung, sekilas, tengah mencari seseorang. "Kamu ... ngapain ke sini pagi-pagi begini? Sama siapa kamu datang?" tanyanya dengan alis berkerut.Raia menghentikan langkahnya beberapa meter di hadapan Bu Rica. Ia berdiri dengan tubuh kaku. "Saya sendiri, Bu," jawabnya lugas."Sendiri?!" Dahi Bu Rica berkerut, makin terheran. "Lho, kok sendiri? Mana Leo? Nggak biasanya kamu datang ke rumah saya sendirian begini tanpa dipanggil. Ada masalah apa di kantor sampai kamu datang sepagi ini?" runtutnya memberi pertanyaan.Raia melirik jam tangannya sekila. Jarum detik bergeser menunjuk angka 12—tepat pukul 09.00 WIB."Saya ke sini bukan karena urusan kantor, Bu Rica," jawab Raia tenang. "Saya ke sini untuk mengatakan sesuatu pada Ibu. Hubungan saya dan Pak Leo sebenarnya—""Raia! Jangan!"Sebuah teriakan keras memotong kalimat Raia. Membuat wanita itu terpe
Sinta menghentikan kunyahannya. Ia menatap Raia lekat, menyipitkan mata penuh dengan kecurigaan."Tunggu deh, Rai..." Ia memiringkan kepalanya, mengamati wajah sahabatnya yang berubah kaku. "Kok dari tadi kamu penasaran banget sama topik ini sih? Pertanyaan kamu tuh spesifik banget tau nggak."Raia menahan napasnya sejenak, berpura-pura sibuk mengaduk sisa sup di mangkuknya agar tak perlu menatap mata Sinta."Jangan-jangan ..." Sinta menyilangkan tangannya di atas meja, menundukkan sedikit wajahnya untuk memancing tatapan Raia. "Kamu lagi dekat sama cowok yang mau jadi pastor?!" tebaknya.Deg!Jantung Raia serasa berhenti berdetak. Sendok di genggamannya terlepas dan berdenting nyaring menghantam tepian mangkuk."Hah?! N-nggak lah, Sin!" pekik Raia cukup keras, berusaha menyembunyikan kepaikan di wajahnya. Ia buru-buru mengibaskan tangannya cepat. "Mana ada! Kamu kalau tebak-tebakan suka nggak masuk akal!""Ya lagian!" jawab Sinta mmemutar bola matanya. Ia melipat tangannya di depan d
"Ehh! Rai! Mau ke mana?!" seru Sinta terkjeut, mmenatap sahabatnya yang sudah menyambar cardigan dan melangkah cepat keluar pintu tanpa menjawab pertanyaannya.Wnita itu menutup pintu rapat, berlari menyusuri koridor menuju lift dengan napas memburu dan jantung yang berdegup kencang. Begitu pintu lift terbuka, langkahnya bergerak cepat menembus udara parkiran yang dingin dan sunyi.Sosok jangkung Leo langsung tertangkap indera penglihatannya—berdiri bersandar di samping mobil mewahnya dengan kemeja yang sudah digulung hingga siku, dan sibuk dengan ponsel di tangannya."Kenapa sih, Pak, malam-malam begini?!" sembur Raia setengah berbisik begitu ia sampai di hadapan pria itu. Amarah dan rasa kesal yang ditahannya sejak tadi meledak begitu saja. "Bapak gila, ya?! Nekat banget mengancam mau naik ke unit saya?!"Leo menatap Raia dengan alis berkerut. Pria itu memajukan tubuhnya, memangkas jarak di antara mereka."Saya cuma mau memastikan..." suara Leo terdengar parau, "...kalau kamu tidak







