Home / Fantasi / The Empress / 2. Hukuman

Share

2. Hukuman

Author: Lord Devil
last update publish date: 2024-05-29 10:14:40

Seusai melaksanakan hukuman mandiri mereka, kedua anak Qin Lang dan Wang Yin berlari ke kamar Qin Qiu. Ketidakpuasan dalam hati Qin Lian mendorong dirinya untuk terus bertanya soal ibunya.

Sebelum pergi meninggalkan kamar Wang Yin, anak itu sempat mencium pipi ibunya dan berbisik agar perempuan itu segera bangun.

"Kakek!" teriak Qin Lian.

"Apa yang membuatmu seorang pangeran bertindak seperti ini?" tanya Qin Qiu begitu menyadari semua tamu agak terkejut dengan tingkah tidak biasa itu di kalangan bangsawan.

Qin Lian membereskan pakaian dan mendadak bertingkah bagai pangeran yang terhormat.

"Pangeran ini mencari kakeknya karena ingin membicarakan banyak hal," ucapnya santai dengan penuh wibawa.

Qin Lian adalah tipe periang dan suka membuat kekacauan seperti layaknya ibunya.

"Selamat datang, Pangeran," sapa mereka semua.

"Begini saja baru kalian menyapa aku. Tak heran ibuku tidak suka dengan semua kepalsuan dan basa-basi ini," pikir Qin Lian dalam hatinya.

Tak lama kemudian, Qin Yue datang menyusul dengan anggun. Perempuan itu sangat mirip dengan Qin Lang termasuk wajahnya. Kalau saja dia laki-laki, bisa dipastikan mereka adalah kembaran yang sempurna dalam segala hal.

"Selamat datang, Putri," sapa beberapa tamu Qin Qiu.

"Sejak, pangeran dan putri sudah di sini, maka kurasa lebih baik kami kembali," kata Ling Wen yang datang berkunjung.

Sebenarnya, ini adalah kunjungan kerajaan. Akan tetapi, lelaki itu memilih untuk berbicara secara personal dengan Qin Qiu. Mereka dulunya adalah sahabat dan Liu Xun anaknya sudah menggantikan dirinya sebagai raja.

Jadi, sekarang dia hanyalah seorang ayah Yang Mulia yang pengangguran. Berbeda dengan Qin Qiu yang super sibuk.

Karena itulah, dia memilih untuk mengunjungi sahabatnya sesekali.

"Tak disangka pangeran ini sudah menganggu," kata Qin Lian mencoba menahan Ling Wen.

Dia tidak tahu apa hubungan lelaki itu dengan Liu Ji. Dirinya menebak, kemungkinan mereka ada kaitannya. Hal itu terlihat dari reaksi Ling Wen setiap kali mereka membicarakan nama manusia yang membuat Wang Yin koma sampai sekarang.

"Tidak masalah, Pangeran, saya hanyalah tamu. Orang tua ini tidak boleh mengganggu kepentingan kerajaan," kata Ling Wen meminta pamit dari ruangan itu.

Setelah dia pergi, barulah Qin Lian kembali ke habitatnya, maksudnya kembali ke sifat aslinya.

"Kakek, ceritakan pada kami, bagaimana ayah dan ibu bisa menikah!"

Qin Qiu awalnya ingin marah, tetapi mengingat kedua cucunya masih lima tahun dan yang ditanyakan adalah hal penting, aura kemarahannya mendadak lenyap dan dia duduk dengan tenang lalu menyesap tehnya.

"Tidak adakah yang bisa kau lakukan selain bertanya soal itu?"

Qin Lian kecewa mengapa kakeknya memberikan respons seperti itu. Setiap kali mereka bertanya, kakek tua itu hanya mengelus jenggotnya dan berkata, "Nanti kau akan tahu. Belum saatnya. Atau, lain kali akan kujelaskan."

"Kakek, ayolah. Aku merasa kau hanya mengulur waktu, apa sahabatmu itu Ling Wen ada hubungannya dengan Liu Ji?" tanya Qin Lian dengan nada mendesak.

Qin Qiu terbatuk dan dia mendadak terkejut mengapa anak kecil itu bertanya demikian.

"Kakek, jujur sajalah. Aku tidak akan menyalahkan ayahnya karena kesalahan anaknya. Asalkan kakek mau menceritakan yang sebenarnya," kata Qin Lian lagi.

Qin Yue masih memperhatikan dan belum berbicara sama sekali. Dalam hati dia juga sama penasarannya dengan Qin Lian.

Terdiam cukup lama, akhirnya Qin Qiu bersuara.

"Baiklah, akan kuceritakan," katanya.

Mendengar itu, Qin Lian dan Qin Yue mendadak patuh dan duduk dengan tenang untuk mendengarkan kakeknya soal pernikahan ayah dan ibu mereka.

Melihat wajah keduanya, Qin Qiu merasa lemah dan tidak bisa lagi menolak permintaan dua anak kecil yang sangat merongrong jiwanya.

"Baiklah, aku tidak tahu ibu kalian akan bangun. Setidaknya mereka memiliki kenangan indah," gumam lelaki tua itu.

Perlahan dia mengingat kembali kejadian enam tahun lalu itu dan menceritakan pada kedua cucunya yang sudah tidak sabar menanti.

Flashback : pernikahan

Suasana Kerajaan Yi sudah dihias meriah, besok adalah pernikahan pangeran kedua mereka, Qin Lang. Tak disangka setelah beberapa kali menolak perempuan yang dituangkan dengannya.

Beberapa orang sempat menduga kalau Qin Lang mungkin saja tidak normal.

"Akhirnya dia menikah, tak kusangka gadis itu akan dipilih," ujar Qin Qiu yang juga pangeran Kerajaan Yi.

"Memangnya kenapa?" tanya Qin Jun heran.

"Tidak ada. Hanya tidak pernah terduga atau terpikirkan sebelumnya."

Qin Qiu mengingat beberapa hari lalu pemilihan istri pangeran.

Ratusan gadis terbaik sudah dikumpulkan dari lima kerajaan yang ingin menjadi istri Qin Lang.

"Ini yang terakhir dan semua sudah ditolak oleh pangeran, kuharap yang terakhir akan menjadi yang terbaik," kata pelayan mengumumkan gadis terakhir yang akan menjadi calon istri Qin Lang.

"Perempuan ini agak unik, suka berkuda, memanah dan melatih dirinya dengan ilmu bela diri."

Ucapan itu terhenti dan semua orang agak terkejut dengan ekspresi Qin Lang yang mengangkat kepalanya. Biasanya dia akan diam tanpa melirik walau perempuan itu disebutkan sangat cantik, seksi atau menarik. Bahkan, jika dia putri dari kerajaan lain.

"Selain itu, dia mempunyai hobi yang aneh, suka berlarian di hutan," kata pelayan itu membacakan biodata yang dia terima.

"Aiyo, gadis macam apa yang ditawarkan itu. Ini namanya menghina pangeran!" teriak seseorang pejabat kerajaan.

Qin Lang tidak tampak seperti terhina, netra emasnya malah semakin cerah dan wajahnya bersemangat.

"Namanya adalah---"

"Wang Yin!" teriak Qin Lang dengan suara dalam dan parau.

Belum selesai pelayan membacakan namanya, Qin Lang sudah berlari dari kursinya untuk mendapatkan perempuan aneh itu.

Semua orang terkejut, kecuali ayahnya sang raja dan juga pangeran mahkota, Qin Lan.

Mereka sudah menduga kalau Qin Lang selama ini memang menunggu seseorang dan akhirnya seseorang itu datang.

"Qin Lang," sapa Wang Yin dengan senyuman manis.

Dari semua perempuan di sana hanya dia yang tidak memakai riasan dan pakaiannya yang paling sederhana.

"Kau ingat?" tanya Qin Lang heran.

"Tentu saja, aku bahkan sering melihatmu mendatangi tempat itu," jelas Wang Yin sambil cekikikan membuat semua pelayan dan pejabat menutup mata dan telinga mereka.

"Tidak tahu malu," dengus Qin Qiu.

"Wang Yin, kau---"

Wang Yin tersenyum manis dan sangat manis.

"Maafkan aku, awalnya aku tidak tahu kalau kau memang pangeran. Tapi beberapa hari lalu, kakakmu datang padaku dan menjelaskan segalanya."

Para pendengar semakin riuh dan menjadi agak kacau. Bagaimana bisa pangeran mahkota berbuat seperti itu?

"Kakakku?" gumam Qin Lang mewakili para pendengar yang juga ikut penasaran.

"Iya, itu aku. Tak sengaja aku bertemu dengan Nona Wei ketika aku dan ayah diam-diam mengikutimu ke tengah hutan setiap hari. Kami penasaran dengan apa yang kau lakukan di sana. Adakah yang menarik atau apa yang membuatmu sangat senang ke sana, terutama saat kau menemukan pita merah itu," kata Qin Lan membocorkan rahasia adiknya.

Semua orang mendadak diam dan heran karena ternyata raja dan pangeran mahkota juga ikut menjadi komplotan pendukung gadis aneh itu?

"Lalu?" tanya Qin Lang.

"Akhirnya kami menemukan Ratu Wang dan meminta untuk datang hari ini. Apa kau senang, Wangji?" tanya Qin Lan di akhir kalimatnya.

"Ratu Wang?" tanya Qin Lang terkejut dengan keakraban itu. Telinganya memerah menandakan kalau dia senang.

"Ya, aku tahu kau senang. Ratu Wang adalah sepupu Li Wanyin, istriku."

Penjelasan singkat itu membuat semua orang terdiam walau dalam hatinya mereka sangat terkejut dengan fakta itu.

Sejak kapan istri pangeran pertama itu memiliki sepupu sejenis Wang Yin.

"Qin Lang, kau belum menjawab. Apa kau senang?" tanya Wang Yin memanggil nama lahir sang pangeran.

Tidak ada yang berani bertindak selancang itu, sebab menyebut nama pangeran hukumannya adalah penggal alias hukuman mati.

"Tentu saja," kata Qin Lang.

Wang Yin tersenyum manis dan begitu dia berbalik orang-orang sadar kalau perempuan itu memang sangat cantik dan tegas. Cantik, wajah tegas, seksi dan berwibawa. Dia lebih mirip panglima perang dibandingkan hanya sekadar perempuan biasa.

Begitulah pernikahan mereka terjadi setelah penantian lima tahun yang tak kunjung bersambut.

Di hari pernikahan, Wang Yin hanya mengenakan ikat rambut merah tanpa riasan wajah dan perhiasan.

Awalnya, semua orang akan memaksa Wang Yin untuk berpakaian layaknya istri pangeran, tetapi karena Qin Lang tidak memprotesnya dan membiarkan Wang Yin memakai pakaian sesukanya, maka tak ada lagi yang berani memaksanya.

"Qin Lang, apa kau bahagia?" bisik Wang Yin sebelum melakukan sujud tiga kali.

"Sangat bahagia," jawab Qin Lang mengintip wajah Wang Yin dari pinggir kerudungnya.

Wang Yin tertawa kecil dan mereka melaksanakan upacara pernikahan dengan lancar dan damai.

Pernikahan yang sederhana berjalan dan keduanya resmi menjadi suami-istri.

Bersambung ...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • The Empress   74. Surat dari Negeri Han

    Pos perbatasan tua yang menghadap jalur dagang menuju negeri han, wilayah yang selama ini tidak ikut campur dalam urusan lima kerajaan seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun seekor elang hitam menjatuhkan surat yang ditulis dengan tinta biru, warna yang hanya dipakai keluarga penguasa Negeri Han. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena Negeri Han menawarkan bantuan, tetapi Qin Lang curiga bantuan yang datang terlalu cepat selalu membawa ha

  • The Empress   73. Mahkota Kabut

    Aula kecil kota huan yang dindingnya penuh lukisan burung api tanpa kepala, peninggalan kuil tua sebelum kota itu ditinggalkan seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun Hua Ning tiba-tiba bersuara lagi, tetapi kata-katanya bukan miliknya sendiri. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena Menara Kabut menginginkan Mahkota Kabut, benda yang mampu meminjam nama korban untuk membuka gerbang kedua. Dalam dunia mereka, musuh jarang datang dengan waja

  • The Empress   72. Putri Phoenix

    Kemah darurat di pinggir lembah, di mana para tabib, prajurit, dan anak-anak korban dipisahkan oleh lingkaran garam penahan kabut seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun gelar putri Phoenix menyebar lebih cepat daripada perintah Qin Lang untuk merahasiakannya. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena utusan dari lima kerajaan mulai melihat Wang Yin bukan hanya sebagai ratu yang bangkit, tetapi sebagai kunci politik yang bisa diperebutkan. Da

  • The Empress   71. Orang yang Mati di Balik Gerbang

    Ambang gerbang phoenix yang terbuka di lembah barat kota huan, ketika kabut merah muda menggantung rendah seperti tirai yang enggan disingkap seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun seseorang yang selama ini dicatat mati dalam arsip Kerajaan Yi berdiri di balik gerbang dan memanggil Wang Yin sebagai putri Phoenix. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena rombongan Qin tidak tahu apakah sosok itu penyelamat, saksi, atau awal jebakan baru yang

  • The Empress   70. Gerbang Phoenix Terbuka

    Lembah barat kota huan yang dipenuhi kabut tipis, batu hitam, dan akar pohon merah tua yang tumbuh seperti urat di tanah seharusnya memberi keluarga Qin kesempatan untuk bernapas. Akan tetapi, kerajaan yang baru saja selamat dari bulan merah tidak langsung berubah menjadi rumah yang tenang. Abu lentera masih menempel pada batu sungai, para penjaga masih menoleh dua kali setiap kali mendengar bunyi langkah asing, dan para pelayan masih berbicara lebih pelan ketika melewati kamar Wang Yin. Tidak ada yang mau mengucapkan kata bahaya, seolah kata itu sendiri bisa memanggil musuh baru. Namun justru dalam kesunyian seperti itulah tanda-tanda kecil biasanya datang. Gerbang Phoenix tidak berdiri megah seperti legenda, melainkan terbaring di lereng batu seperti luka besar yang belum pernah dijahit. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi orang-orang yang baru melewati makam, ritual nama, dan pengkhianatan, pertanyaan sederhana bisa lebih menyakitkan daripada pedang.Qin Lang tida

  • The Empress   69. Mahkota yang Tidak Dipakai

    Alun-alun kota huan yang berubah menjadi ruang sidang terbuka antara rakyat, prajurit yi, utusan lima kerajaan, dan anak-anak korban seharusnya memberi keluarga Qin kesempatan untuk bernapas. Akan tetapi, kerajaan yang baru saja selamat dari bulan merah tidak langsung berubah menjadi rumah yang tenang. Abu lentera masih menempel pada batu sungai, para penjaga masih menoleh dua kali setiap kali mendengar bunyi langkah asing, dan para pelayan masih berbicara lebih pelan ketika melewati kamar Wang Yin. Tidak ada yang mau mengucapkan kata bahaya, seolah kata itu sendiri bisa memanggil musuh baru. Namun justru dalam kesunyian seperti itulah tanda-tanda kecil biasanya datang. para utusan menuntut satu orang disalahkan agar perjanjian lima kerajaan tetap terlihat bersih. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi orang-orang yang baru melewati makam, ritual nama, dan pengkhianatan, pertanyaan sederhana bisa lebih menyakitkan daripada pedang.Qin Lang tidak langsung menjawab. Ia te

  • The Empress   15. Kuil Tua

    Kuil tua di lereng utara berdiri seperti bangkai masa lalu.Atapnya sebagian runtuh. Pilar-pilar kayunya hitam dimakan usia dan lembap, sementara lumut merayap di lantai batu yang retak. Patung dewa penjaga di gerbang masuk kehilangan satu mata, membuat wajahnya tampak seperti sedang menat

  • The Empress   3. Seorang Pria dari Jauh

    Suasana kamar pangeran mendadak riuh, Qin Lian sibuk mencari baju zirahnya dan mengenakannya.Tak hanya itu, dia juga mengambil pedangnya yang diasah dan diukir mirip seperti milik ibunya, Pedang Hong.*Pedang Hong : merah sesuai dengan warna sarungnya."Qin Lian mau ke mana?" tanya Qin Qiu terkejut

  • The Empress   1. Awal Cerita

    Suasana hutan di belakang pusat Kerajaan Yi, Hutan Larangan begitu hening dan damai. Qin Lang, pangeran kedua kerajaan Yi berjalan-jalan untuk menenangkan hatinya.Sudah berkali-kali dia menolak untuk menikah, akan tetapi ada begitu banyak tawaran dan hadiah berupa calon istri yang diberikan kepadan

  • The Empress   Prolog

    Ratu Wang Yin mengalami koma berkepanjangan setelah melahirkan anak kembarnya, Qin Lian dan Qin Yue. Tidur panjang Sang Ratu masih menjadi misteri dan menjadi pertanyaan bagi banyak orang. Entah sihir apa yang telah dirapalkan pada Sang Ratu sampai-sampai dia tertidur selama itu.Qin Lang, selaku R

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status