LOGINAfter witnessing her boyfriend’s proposal to another woman on their third-year anniversary, Jacyn decided to take her revenge on all the people who hurt her and her whole family. She came back as the powerful heiress of the Lou Group of Companies, a rich and influential family in City B. She only has one purpose in returning to her previous life and that is to make them pay. On the first day of her return, a handsome man popped out of nowhere claiming to be her forgotten fiancé. Liam was a heartless and domineering CEO of the Lee Group of companies. He showed no mercy to all his enemies in the business world. He only had one purpose in life – to catch her murderer. “Little Jacyn, please stay with me. I will never let you go again. Never again.” The cold CEO was like a puppy asking her to stay. “Who are you?” “I am your future husband.” He arrogantly claimed her.
View MoreDalam kegelapan malam, langit membentang luas di atas pegunungan Tethra, diterangi hanya oleh cahaya bintang-bintang. Di bawah langit yang tenang itu, kerajaan Drakonik berjaga dalam keheningan. Di tengah pusat kerajaan, berdiri sebuah kastil megah yang dipahat dari batu hitam, tempat Raja Naga, Drakonis, memerintah dengan bijaksana. Sebagai penguasa naga terakhir, ia memiliki kekuatan besar yang tak tertandingi di dunia manusia. Drakonis telah menjaga keseimbangan antara manusia dan makhluk magis selama berabad-abad.
Namun, di malam itu, ketenangan hanya menjadi ilusi tipis. Sesuatu yang gelap, berbahaya, dan tidak terlihat sedang bersembunyi di balik tembok kastil. Jenderal Arkanis, salah satu panglima perang terpercaya Raja Naga, berjalan cepat melewati koridor batu yang dingin, matanya penuh tekad dan niat busuk. Dalam diam, ia menggenggam erat sebuah permata hitam, artefak kuno yang selama ini tersembunyi dari pandangan Drakonis. Raja Naga duduk di singgasananya, tubuhnya yang megah berbalut sisik emas yang berkilauan di bawah cahaya lilin. Matanya yang besar dan berwarna kuning memandang lurus ke depan, menatap langit-langit yang tinggi di atasnya, seolah bisa merasakan ada sesuatu yang salah. Namun, sebelum ia dapat bereaksi, pintu besar di ruangan itu terbuka dengan suara bergemuruh. Arkanis melangkah masuk dengan langkah pasti. "Arkanis," suara Raja Naga terdengar dalam dan menggetarkan dinding-dinding kastil, "Apa yang terjadi? Mengapa kau datang dengan terburu-buru di tengah malam begini?" Arkanis berhenti beberapa langkah dari singgasana, menyembunyikan permata hitam di balik jubahnya. Wajahnya tetap tenang, tetapi di balik ketenangan itu ada kemarahan dan dendam yang telah lama tumbuh. "Yang Mulia," kata Arkanis dengan suara rendah, "Aku datang dengan berita yang tak mengenakkan. Dunia manusia mulai bergolak. Kerajaan di utara mulai menentang kedamaian yang kita bangun. Mereka merencanakan pemberontakan, dan aku khawatir kita harus bertindak sebelum mereka menghancurkan segalanya." Drakonis menatap Arkanis dengan pandangan tajam. Dia sudah terlalu lama hidup untuk tidak bisa mencium pengkhianatan, namun dia masih meragukan bahwa Arkanis, prajurit yang paling dia percayai, akan menjadi musuhnya. "Aku lebih tahu apa yang terjadi di dunia manusia daripada denganmu, Arkanis," jawab Drakonis, matanya kini penuh dengan kewaspadaan. "Kita tidak akan bertindak gegabah. Perseteruan kecil antar umat manusia bukan sesuatu hal yang dapat kita campuri seenaknya, selama dunia ini tetap dalam keseimbangan, dan tidak merugikan kita maka biarkan saja." Arkanis memandang Raja Naga dengan tatapan dingin. Di hatinya, kedamaian yang diinginkan Drakonis hanyalah kelemahan. Sebuah dunia di mana manusia harus terus-menerus tunduk kepada naga, tidak pernah bisa berkembang menjadi lebih kuat. Ia tidak bisa menerima itu. Kekuasaan seharusnya berada di tangan mereka yang tahu bagaimana menggunakannya, bukan mereka yang hanya ingin mempertahankan status quo. "Tapi Yang Mulia," katanya dengan suara lebih mendesak, "Jika kita tidak bertindak sekarang, kita akan kehilangan kesempatan. Kedamaian yang kau pertahankan tidak akan berarti apa-apa jika umat manusia semakin mengganas seiring waktu." Drakonis menggelengkan kepalanya, sisik emasnya berkilau dalam cahaya. "Kita tidak akan kalah, Arkanis. Aku memiliki kekuatan untuk melindungi dunia ini, dan aku akan melakukannya dengan kebijaksanaan, bukan dengan kekerasan." Arkanis tahu bahwa inilah saatnya. Tidak ada jalan kembali. Ia mengangkat tangannya, menunjukkan permata hitam yang kini bersinar dengan kekuatan jahat yang mencekam. Mata Drakonis membelalak, menyadari bahaya yang mengancam, tetapi sebelum dia bisa bergerak, Arkanis telah merapal mantra gelap yang telah ia pelajari dari sudut-sudut dunia yang terlarang. "Cukup sudah," teriak Arkanis, suaranya menggema di seluruh ruangan. "Hari ini, kau akan jatuh, Drakonis! Dengan kekuatan ini, aku akan mengambil alih dunia ini dan membawa manusia ke puncak kekuasaan!" Drakonis mengerang marah, tubuhnya mulai bertransformasi menjadi sosok naga raksasa yang mengerikan, sayapnya membentang hingga hampir menyentuh dinding kastil. Tetapi mantra Arkanis bekerja cepat, memerangkap Raja Naga dalam lingkaran sihir gelap yang memancarkan cahaya ungu suram. Drakonis mencoba melawan, memanggil kekuatan Drakonik dalam dirinya, tetapi kekuatan gelap yang dimiliki Arkanis terlalu kuat. “!!!” “Pengkhianat!” Suara Drakonis menggelegar di udara, menggetarkan dinding-dinding kastil hingga retak. "Aku ternyata salah mempercayaimu!" "Aku tidak butuh kepercayaanmu lagi, naga tua," balas Arkanis dingin. "Dengan ini, kekuatanmu akan menjadi milikku!" Tubuh Drakonis mulai melemah. Mantra hitam perlahan menghisap energinya, menyegel kekuatan naga itu ke dalam permata hitam yang digenggam Arkanis. Sebagai pertahanan terakhir, Drakonis melemparkan kutukan ke langit, memanggil hujan petir yang menghantam bumi dengan kemarahan yang tak terbendung. Namun, itu tidak cukup. Dalam hitungan detik, tubuh besar Drakonis terjatuh ke tanah, napasnya terengah-engah. Kilau sisiknya meredup, dan matanya yang kuning kini memudar. Kekuatan yang selama ini menjaga keseimbangan dunia perlahan menghilang, menyisakan tubuh naga besar yang tak bernyawa di hadapan Arkanis. Dengan senyum penuh kemenangan, Arkanis melangkah maju, memandangi tubuh raksasa naga yang dulu merupakan rajanya. "Sekarang, dunia ini akan tunduk padaku," gumamnya dengan penuh kepuasan. "Dan tidak ada lagi yang bisa menghalangiku." Tapi di kejauhan, di balik reruntuhan kastil, sebuah kekuatan tersembunyi mulai bergerak. Kekuatan terakhir dari Drakonis mulai bekerja, melesat ke cakra wala dan menembus ruang-waktu tak terbatas, kejadian kecil yang tidak diketahui oleh siapa pun. Sang Raja Naga mungkin telah jatuh, tapi warisannya belum berakhir. Langit malam itu, yang tadinya begitu damai, kini berubah menjadi panggung bagi kemarahan alam. Hujan deras turun, angin berhembus liar, dan petir terus menyambar seolah meratapi kejatuhan Drakonis. Demikian Raja Naga yang pernah menguasai dunia hanya menjadi sebuah legenda ribuan tahun kemudian.Jacyn was falling.The world around her spun in a blur of red and black. Screams echoed in the distance—familiar voices twisted by terror. Her body felt weightless, as if suspended in time, yet every second dragged like an eternity. She reached out, grasping for something—anything—but her fingers met only air.Then came the sound.Gunshots.Sharp. Ruthless. Final.She turned her head and saw the bus again. The same bus from the outing. But this time, it wasn’t rolling—it was burning. Flames licked the windows, smoke billowed into the sky, and silhouettes of people pounded against the glass, begging to be let out.Jacyn tried to run toward them, but her feet wouldn’t move. She was frozen—a spectator to the horror. Her heart pounded violently in her chest.“Liam!” she screamed.No answer.She saw him inside the bus, shielding her with his body, blood dripping from his forehead. His eyes met hers—pleading, desperate.Then the explosion came.The bus erupted in a deafening blast, throwing
She groggily wakes up to the sound of the alarm. She felt so tired and sleepy yet she had to get up else the young master would scold her for being late again.Jacyn hastily got up and readied herself. She had no time to waste as it was already late. Silence enveloped her as she went out of her room. She silently went to the kitchen and heated whatever leftover food from last night as she waited for Liam. But thirty minutes gone and he was still out of sight. As she was beginning to feel something was amiss, she knocked on his room only to find out that the young master had already left."Why did he leave me? Why did he not wake me up?" Jacyn complained to herself. Sometimes, she couldn't understand him. She couldn't decipher his thoughts. "Ahhh…did I make him angry again?" Suddenly, she felt nervous. What if the young master was angry at her? He may make her life more miserable.She ran and got her things. She could just drive alone at the company. She saw her car keys in her bag but
The past few weeks were like a roller coaster ride for Jacyn. From her ex-boyfriend's betrayal to her failed revenge plan, she felt everything's going against her. She felt her world was crushed down and then, when she decided to fight, everyone unites and brings her down to the core. Nothing's going according to her plan.During those times of chaos and turmoil, except for her grandparents, Liam was the only constant in her life. Since he was introduced as her fiance, he was really acting like one. Like he had known her all his life and as if it was not arranged. The first time they met, he made it look like they weren't strangers. He even told her that she had forgotten him. Since that day, he had not told her why he had said that. She was also afraid to know so she never asked him. They avoid the topic like a plague. But she could feel that Liam treats her differently from the others. He was a cold, distant CEO to other people. They were scared and just admired him from afar. But
"Achoo…" Jacyn sneezed as she shivered. Did someone think badly about her?"Hey, are you okay?" Liam asked her worriedly as he checked on her temperature."I'm okay. I just feel cold all of a sudden." She smiled at him. They're on their way to the office. Though they went to the office together almost everyday, no one suspects anything about them. They believed it was just a pure employer-employee relationship. "Drink some meds later." His brows knitted. "Uhmm, okay boss." She rolled her eyes at him as she agreed or else he won't stop on nagging her. As days passed by, she felt comfortable with him like she already knew him for so long. Even she couldn't believe it, she knew how long she could warm up to people, but to Liam. It took him barely a month for her to feel like they were the best of friends. "Young master?""Uhmm, yeah?" He answered gently without looking at her."Why are you so good to me?" She asked while she looked at his side face. He was so handsome even on the side












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews