Inicio / Romansa / The Golden Switch / Bab 5 Penyamaran di Balik Pagar Emas

Compartir

Bab 5 Penyamaran di Balik Pagar Emas

last update Fecha de publicación: 2026-02-11 18:34:48

Aram memegang gagang telepon dengan jemari yang masih gemetar. Di dalam tubuh Dominic yang atletis, ia merasa seperti seorang pencuri yang tertangkap basah, meski ia sedang berbicara dengan pemilik asli tubuh tersebut. Suara di seberang sana adalah suara aslinya—suara Aram—namun nada bicaranya adalah nada bicara sang majikan yang arogan.

​"Ada apa, Aram? Saya Dominic," ucap Aram, mencoba menstabilkan suaranya agar terdengar seperti sang megabintang.

​Di ujung telepon, Dominic tertawa. Tawa yang getir dan penuh hinaan terhadap nasibnya sendiri. "Kau sudah pandai berakting rupanya? Apa kau menikmati kasur empukku sementara aku harus bertarung dengan kecoa di rumah reyotmu ini? Kau menikmati hidupku, hah?"

​"Saya sangat kesulitan, Tuan," sahut Aram pelan, matanya melirik Grace yang berdiri tak jauh darinya dengan tatapan curiga. "Setiap detik di sini terasa seperti berjalan di atas bara api."

​Dominic mendengus. Ia mengeluhkan segala hal: udara yang panas, dinding yang pecah, hingga bau kambing yang menurutnya melekat permanen di kulitnya. Aram hanya bisa tersenyum pahit. Ironis rasanya melihat seorang pria yang memiliki segalanya harus tumbang hanya karena seekor kambing.

​"Kau masih mendengarku, Sopir?" gertak Dominic.

​"Masih, Aram. Bicaralah," sahut Aram cepat. Ia terpaksa memanggil namanya sendiri dengan nada memerintah untuk menjaga sandiwara di depan istrinya.

​"Ingat satu hal," suara Dominic mendadak menjadi sangat dingin dan penuh ancaman. "Jangan pernah sentuh Grace. Seujung kuku pun! Jika kau berani menodai istriku dengan tangan kasarmu, aku bersumpah akan menghancurkan hidupmu berkeping-keping saat kita kembali nanti. Kau mengerti?"

​Aram menelan ludah, menatap punggung Grace yang membelakanginya. "Tenang saja. Saya tahu batasan saya. Saya memegang janji saya."

​Sebelum menutup telepon, Dominic menyampaikan rencana utamanya. Ia tidak tahan lagi hidup di desa. Ia menuntut untuk kembali ke kediamannya, meski harus menyamar menjadi bawahan di rumahnya sendiri. Aram menyetujuinya, meski ia tahu ini adalah risiko besar.

​Intrik di Balik Layar

​Saat telepon ditutup, Grace langsung mendekat dengan wajah tidak senang. "Kenapa kau memberinya harapan? Kita sudah memecatnya, Nic! Dia pembawa sial!"

​Aram menarik napas panjang, mencoba meniru ketegasan Dominic. "Dia tidak akan menjadi supir lagi. Dia akan bekerja sebagai tukang kebun dan membantu urusan rumah tangga di sini. Aku butuh orang yang tahu seluk-beluk kendaraan dan taman ini."

​"Tapi, Sayang—"

​"Keputusanku mutlak, Grace. Jangan mendebatku," potong Aram dengan nada bariton yang tajam.

​Grace terdiam, rahangnya mengeras. Ia tidak suka dibantah, namun ia tahu Dominic tidak pernah menerima komplain. Ia memilih berbalik dan berjalan menghampiri Brandon, asisten pribadi Dominic, yang sedang menyiapkan teh di sudut ruangan.

​"Dia selalu begitu," gerutu Grace pada Brandon, suaranya pelan namun penuh kekesalan. "Aku hanya dianggap sebagai hiasan, piala yang dipajang di rumah ini tanpa pernah didengar suaranya."

​Brandon tersenyum miring, sebuah senyum yang menyimpan maksud tersembunyi. Ia mendekat, nyaris menyentuh tangan Grace jika saja tidak ada pelayan lain yang lewat. "Ada aku di sini yang selalu menghargaimu, Grace. Kau tahu itu, kan?"

​Grace menatap Brandon dengan binar yang berbeda. Di saat Dominic (atau pria yang ia kira Dominic) menjauhinya, Brandon selalu ada untuk mengisi kekosongan itu. Aram memperhatikan interaksi itu dari kejauhan dengan kening berkerut. Apakah Tuan Dominic tahu istrinya sedekat itu dengan asistennya? batinnya.

​Kepulangan Sang Penguasa dalam Kehinaan

​Di desa, suasana perpisahan terasa mengharukan. Bu Idah membungkuskan nasi dengan lauk pauk sederhana ke dalam kotak plastik. Matanya berkaca-kaca menatap "Aram".

​"Kamu di sana baik-baik ya, Nak. Hati-hati dengan keluarga Kailash. Mereka orang kaya, biasanya mereka keras pada orang kecil seperti kita," ucap Bu Idah sambil mengusap kepala Dominic.

​Dominic tertegun. Sentuhan itu... ia merasakannya lagi. Kehangatan yang tulus yang tidak pernah ia dapatkan dari Ibu kandungnya yang selalu sibuk dengan urusan sosialita dan bisnis.

​"Saya akan kembali, Bu. Saya ke sana hanya untuk bekerja," sahut Dominic, berusaha menekan keangkuhannya.

​Saat ia melangkah masuk ke mobil jemputan, para pengawal keluarga Kailash memandangnya dengan rendah. Mereka membentak "Aram" agar segera duduk di kursi depan, sementara mereka tertawa-tawa di belakang. Dominic mengepal tinjunya hingga memutih. Awas kalian. Nama-nama kalian sudah kucatat dalam daftar hitamku, umpatnya dalam hati.

​Begitu tiba di gerbang megah kediaman Kailash, Dominic merasa dunianya kembali, meski ia masuk lewat pintu samping. Aram menyambutnya di ruang kerja pribadi. Saat pintu tertutup rapat, mereka berdua terpaku.

​Dominic menghampiri Aram, lalu tanpa sadar meraba wajahnya sendiri yang kini ditempati Aram. "Aku benar-benar sangat tampan... lihat rahang ini, benar-benar sempurna," gumamnya memuji dirinya sendiri.

​Plak!

Seorang pengawal yang kebetulan lewat di luar jendela (dan mengira tukang kebun baru itu bertindak kurang ajar) langsung masuk dan menyentak tangan Dominic. "Heh! Jangan berani-berani menyentuh Tuan Dominic, sampah! Sadar posisimu!"

​Dominic membelalak, amarahnya memuncak. "Kau memanggilku apa?!"

​Aram segera menengahi. "Sudah, biar saya yang bicara dengannya. Keluarlah."

​Setelah pengawal itu pergi, Dominic mengamuk. "Beraninya dia! Itu tubuhku! Itu wajahku!"

​"Tuan, tenanglah," bisik Aram gelisah. "Kita harus fokus. Tuan melihat Grace tadi? Dia sedang mengobrol dengan Brandon."

​Dominic terhenti. Matanya menatap ke arah taman melalui jendela besar. Di sana, Grace tertawa kecil menanggapi ucapan Brandon. "Sejak kapan mereka seakrab itu? Brandon hanya asisten, bukan teman curhat!"

​Pertukaran Rahasia dan Rasa Syukur

​"Tuan," Aram memanggil dengan nada serius. "Menjadi Anda sangatlah sulit. Tekanan dari Pelatih Robert, ambisi keluarga Anda... semuanya terasa mencekik. Saya mulai mengerti mengapa Anda menjadi pria yang begitu keras."

​Dominic duduk selonjoran di sofa kulit aslinya, menghirup udara AC yang dingin dengan nikmat. "Lupakan soal itu. Aku hanya ingin menikmati oksigen mahal ini sebentar. Rumahmu itu neraka, Aram. Panas dan penuh nyamuk."

​"Tuan, tolonglah... Ibu saya sangat merindukan anaknya," Aram menyodorkan ponsel. "Hubungi dia. Katakan Tuan sudah sampai."

​Dengan enggan, Dominic menelpon Bu Idah. Percakapan singkat itu membuat Aram yang mendengarnya menangis dalam diam. Mendengar suara Ibunya yang penuh kasih sayang membuat Aram sadar betapa berharganya keluarganya, sesuatu yang selama ini ia abaikan karena sibuk mengiri pada kekayaan Dominic.

​"Ibumu... dia sangat hangat," ucap Dominic tiba-tiba setelah menutup telepon. Suaranya melunak. "Bersyukurlah kau punya orang tua seperti itu. Ibuku sendiri? Dia bahkan mungkin tidak tahu aku masuk rumah sakit kalau asistenku tidak menelponnya."

​Keheningan menyelimuti ruangan. Untuk sesaat, jurang kasta di antara mereka seolah hilang. Namun, Dominic segera teringat akan sesuatu yang mengganggunya.

​"Aram, soal Grace... apa dia meminta 'jatahnya' padamu?" tanya Dominic dengan tatapan menginterogasi.

​Aram tampak ragu, wajahnya memerah. "Katakan!" gertak Dominic.

​"Di awal pertama... dia meminta. Tapi saya menolak dengan alasan kepala saya masih pusing. Dia marah besar, Tuan. Tapi sejak itu, saya selalu menghindar."

​Dominic mengerutkan kening. "Dia menyerah begitu saja? Tidak mungkin. Grace bukan wanita yang sabar." Ia mulai curiga. Apakah penolakan Aram yang mendorong Grace ke pelukan Brandon?

​"Dengar, Aram. Ada satu hal penting," Dominic merendahkan suaranya. "Pergi ke kamarku. Di bawah pot bunga besar di balkon, ada ponsel cadangan berwarna hitam. Itu rahasia terbesarku. Ambil ponsel itu dan berikan padaku secara sembunyi-sembunyi. Jangan sampai ada orang lain—termasuk Grace atau Brandon—yang tahu keberadaannya."

​Aram mengangguk mantap. "Saya mengerti, Tuan."

​Di luar, petir menyambar, menandakan badai akan segera datang. Sama seperti badai yang kini tengah mengintai di dalam rumah mewah itu—badai rahasia, pengkhianatan, dan sebuah takdir yang belum selesai memberikan pelajarannya.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • The Golden Switch   Bab 5 Penyamaran di Balik Pagar Emas

    Aram memegang gagang telepon dengan jemari yang masih gemetar. Di dalam tubuh Dominic yang atletis, ia merasa seperti seorang pencuri yang tertangkap basah, meski ia sedang berbicara dengan pemilik asli tubuh tersebut. Suara di seberang sana adalah suara aslinya—suara Aram—namun nada bicaranya adalah nada bicara sang majikan yang arogan.​"Ada apa, Aram? Saya Dominic," ucap Aram, mencoba menstabilkan suaranya agar terdengar seperti sang megabintang.​Di ujung telepon, Dominic tertawa. Tawa yang getir dan penuh hinaan terhadap nasibnya sendiri. "Kau sudah pandai berakting rupanya? Apa kau menikmati kasur empukku sementara aku harus bertarung dengan kecoa di rumah reyotmu ini? Kau menikmati hidupku, hah?"​"Saya sangat kesulitan, Tuan," sahut Aram pelan, matanya melirik Grace yang berdiri tak jauh darinya dengan tatapan curiga. "Setiap detik di sini terasa seperti berjalan di atas bara api."​Dominic mendengus. Ia mengeluhkan segala hal: udara yang panas, dinding yang pecah, hingga bau

  • The Golden Switch   Bab 4 Fragmen Harga Diri yang Terluka

    Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar di gym pribadi keluarga Kailash, namun bagi Aram, cahaya itu terasa seperti lampu interogasi. Pelatih Robert berdiri di sana dengan jam sukat (stopwatch) di tangan dan ambisi yang meluap-luap. Di sekeliling mereka, para perawat pribadi dan fisioterapis bersiap dengan peralatan medis.​"Fokus, Dominic! Piala Dunia tidak akan menunggu kakimu sembuh dengan sendirinya!" suara Robert menggelegar, memenuhi ruangan yang kedap suara itu.​Aram, yang berada di dalam tubuh atletis Dominic, mencoba melakukan peregangan statis. Namun, setiap kali ia menarik otot pahanya, rasa nyeri seperti sayatan pisau menjalar hingga ke pinggang. Tubuh ini memang hebat, tapi trauma kecelakaan itu meninggalkan kekakuan yang nyata.​"Ayo, berjalan ke garis itu. Buktikan pada dunia bahwa sang raja belum mati!" perintah Robert tanpa belas kasihan.​Aram mengatupkan rahangnya. Ia mulai melangkah. Satu langkah, dua langkah... ia merasa seperti berjalan di atas paku pana

  • The Golden Switch   Bab 3 Dua Dunia yang Terjungkir

    ​Langkah kaki Dominic yang berada di dalam tubuh Aram terasa sangat berat saat memasuki rumah petak di pinggiran kota. Bu Idah, yang ia anggap sebagai "wanita asing berbau dapur", menuntunnya masuk dengan senyum bangga karena anaknya telah pulang. Namun, bagi Dominic, rumah itu lebih mirip seperti sel penjara yang menyesakkan.​Tembok rumah itu kusam, dengan retakan menjalar di sana-sini seperti urat nadi yang pecah. Langit-langitnya rendah, membuat Dominic merasa oksigen di sekitarnya menipis. Tak ada marmer, tak ada lampu kristal, hanya ada lantai semen dingin dan satu lampu pijar kekuningan yang berkedip-kedip seolah hampir mati.​"Mas Aram pulang! Mas Aram bawa kue!" seru dua bocah laki-laki, adik Aram, yang langsung menyerbu bungkusan di tangan Bu Idah.​Dominic membelalak. Ia melihat bagaimana kedua bocah itu berebut sepotong kue pasar dengan rakus, seolah itu adalah harta karun paling berharga di dunia. Pemandangan macam apa ini? batinnya mual.​"Pelan-pelan, Rian, Doni... Mas

  • The Golden Switch   Bab 2 Perjanjian di Ambang Maut

    ​Kegelapan itu tidak memiliki batas. Tidak ada lantai, tidak ada dinding, hanya kekosongan yang menyesakkan. Di tengah kehampaan itu, Aram dan Dominic melayang tanpa bobot. Satu-satunya sumber cahaya adalah pijar putih pucat yang menyinari sosok raksasa di hadapan mereka: seorang pria dengan jubah hitam yang menjuntai hingga ke tiada, wajahnya tersembunyi di balik bayang-bayang tudung yang pekat.​"Kita di mana? Lepaskan aku! Kau tahu siapa aku?!" teriak Dominic. Suaranya bergema, namun terdengar kecil di hadapan keheningan yang absolut.​Aram tidak berteriak. Ia hanya gemetar, tangannya meraba udara, mencoba mencari pegangan yang tidak ada. Matanya terpaku pada pria berjubah itu. Ia merasa jiwanya telanjang, seolah seluruh dosa dan rahasianya terbaca seperti buku terbuka.​"Aram... Dominic..."​Suara itu tidak keluar dari mulut, melainkan berdentum langsung di dalam kepala mereka. Berat, dingin, dan berwibawa.​"Siapa kau? Malaikat Maut?" tanya Dominic dengan nafas memburu. Keangkuha

  • The Golden Switch   Bab 1 Takdir yang Tergelincir

    ​Matahari pagi itu masih malu-malu menampakkan sinarnya, namun Aram sudah sibuk di garasi luas kediaman megah keluarga Kailash. Sebagai supir pribadi Dominic, sang striker emas yang namanya dielu-elukan di seluruh stadion dunia, ketelitian adalah harga mati. Tangannya yang kasar dengan cekatan memeriksa tekanan ban, level oli, hingga kebersihan interior mobil mewah yang akan membawa sang majikan menuju sesi latihan krusial menjelang Piala Dunia.​Di teras rumah, Dominic tampak sedang menikmati kopi terakhirnya. Sosoknya tinggi, atletis, dengan aura keangkuhan yang lahir dari bakat luar biasa dan kekayaan melimpah.​"Sudah atau belum? Kita tidak punya waktu untuk drama keterlambatan, Aram," suara Dominic bariton dan tajam, memecah kesunyian pagi.​Aram segera menutup kap mesin dan mengelap tangannya dengan kain perca. "Sudah, Tuan. Semuanya dalam kondisi sempurna. Kita bisa berangkat sekarang."​Dominic bangkit, mengabaikan tatapan patuh supirnya. Sebelum melangkah ke kursi belakang, s

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status