Home / Romansa / The Golden Switch / Bab 4 Fragmen Harga Diri yang Terluka

Share

Bab 4 Fragmen Harga Diri yang Terluka

Author: Alna Selviata
last update publish date: 2026-02-11 18:32:17

Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar di gym pribadi keluarga Kailash, namun bagi Aram, cahaya itu terasa seperti lampu interogasi. Pelatih Robert berdiri di sana dengan jam sukat (stopwatch) di tangan dan ambisi yang meluap-luap. Di sekeliling mereka, para perawat pribadi dan fisioterapis bersiap dengan peralatan medis.

​"Fokus, Dominic! Piala Dunia tidak akan menunggu kakimu sembuh dengan sendirinya!" suara Robert menggelegar, memenuhi ruangan yang kedap suara itu.

​Aram, yang berada di dalam tubuh atletis Dominic, mencoba melakukan peregangan statis. Namun, setiap kali ia menarik otot pahanya, rasa nyeri seperti sayatan pisau menjalar hingga ke pinggang. Tubuh ini memang hebat, tapi trauma kecelakaan itu meninggalkan kekakuan yang nyata.

​"Ayo, berjalan ke garis itu. Buktikan pada dunia bahwa sang raja belum mati!" perintah Robert tanpa belas kasihan.

​Aram mengatupkan rahangnya. Ia mulai melangkah. Satu langkah, dua langkah... ia merasa seperti berjalan di atas paku panas. Keringat dingin mulai membasahi dahi dan punggungnya. Pada langkah kelima, keseimbangan tubuhnya goyah. Koordinasi antara otak Aram dan memori otot Dominic belum sinkron sempurna.

​Bruk!

​Aram tersungkur. Lututnya menghantam lantai kayu dengan keras.

​"Dominic!" Robert berlari menghampiri, namun bukannya bertanya tentang rasa sakit, ia malah berteriak, "Bangun! Ini hanya benturan kecil! Kau pernah menghadapi tekel yang lebih keras dari ini di lapangan!"

​Aram meringis, nafasnya tersengal. "Sakit... pelatih. Kakiku... rasanya tidak mau menurut."

​"Itu hanya ada di kepalamu! Ayo coba lagi!" Robert menarik lengan Aram dengan kasar agar ia kembali berdiri.

​Seorang perawat wanita segera menyela, wajahnya penuh kekhawatiran. "Pak Robert, cukup! Tekanan darahnya meningkat dan ototnya mengalami spasme. Jika Anda terus memaksanya, karirnya benar-benar akan berakhir hari ini!"

​"Dia tidak punya waktu untuk istirahat!" bentak Robert, wajahnya memerah karena amarah. "Satu minggu! Hanya satu minggu lagi pertandingan pembuka dimulai. Jika dia tidak pulih, reputasiku sebagai pelatih terbaik akan hancur!"

​Aram menatap Robert dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia melihat seorang pria yang tidak peduli pada manusia di hadapannya, melainkan hanya pada piala dan ketenaran. Jadi, seperti ini rasanya menjadi Dominic? batin Aram. Dikelilingi orang-orang yang hanya mencintai kesuksesanmu, bukan dirimu.

​Tanpa memedulikan perdebatan Robert dan perawat, Aram bangkit dengan susah payah. Ia tidak kembali ke garis latihan, melainkan berjalan perlahan menuju bangku panjang di pojok ruangan.

​"Tuan Dominic, mau ke kamar?" tanya perawat itu lembut.

​Aram mengangguk lemah. "Ya. Saya butuh waktu sendiri."

​Robert mendesis, menatap punggung "Dominic" dengan kebencian yang tertahan. "Jika kau menyerah sekarang, kau akan menjadi pecundang terbesar dalam sejarah sepak bola, Nic!"

​Rahasia di Balik Strategi

​Di tengah rasa frustrasinya, Edi muncul di ambang pintu. Sahabat lama Dominic itu membawa sesuatu di tangannya—selembar kertas tua yang sudah kumal. Setelah Robert pergi dengan kemarahan yang meluap, Edi duduk di samping Aram.

​"Jangan dengarkan si tua gila itu," ujar Edi sambil menyodorkan kertas tersebut. "Kau tahu dia hanya memikirkan liga-liga besar yang ingin merekrutnya jika kita menang."

​Aram menerima kertas itu. Di sana terdapat coretan skema serangan yang rumit namun brilian. Garis-garis panah menunjukkan pergerakan pemain yang sangat strategis.

​"Ini... tulisanku?" tanya Aram ragu.

​"Itu strategi yang kau berikan padaku tahun lalu saat aku hampir didepak dari tim," Edi tersenyum tulus. "Kau bilang padaku, 'Edi, kau tidak perlu menjadi aku. Kau hanya perlu berada di posisi ini saat aku menarik bek lawan.' Karena strategi ini, aku mencetak gol penentu. Kau menyelamatkan karirku, Nic."

​Aram terpaku. Ia menatap Edi, lalu menatap kertas itu. Ada sisi dari Dominic yang tidak pernah ia lihat dari kursi supir. Dominic bukan sekadar atlet sombong; dia adalah seorang jenius taktis yang diam-diam mendukung sahabatnya.

​"Kau memberikan aku kesempatan untuk menjadi diriku sendiri di lapangan," lanjut Edi dengan nada haru. "Jadi, jangan menyerah. Jika kau tidak bisa lari, kita akan bermain dengan otakmu."

​Aram menepuk bahu Edi. Ia merasa sedikit lebih tenang, namun beban di pundaknya terasa semakin berat. Ia bukan Dominic yang jenius itu. Ia hanyalah Aram yang tahu cara menyetir mobil, bukan menyetir jalannya pertandingan dunia.

​Sang Bintang di Tengah Kandang Kambing

​Sementara itu, di sebuah desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Dominic sedang berdiri di tengah padang rumput yang gersang. Di tangannya ada sebuah tongkat kayu, dan di hadapannya ada sebelas ekor kambing yang terus mengembik berisik.

​"Aram, Bapak pergi dulu ya. Jaga baik-baik, jangan sampai ada yang hilang," teriak Pak Rudi dari kejauhan sambil memacu motor tuanya.

​Dominic menatap seekor kambing jantan besar yang menatapnya balik dengan pandangan menantang. "Jangan mendekat, makhluk bau!" desis Dominic, menjaga jarak beberapa meter.

​Bu Idah keluar dari dapur membawa segelas teh hangat yang terlalu manis untuk selera Dominic. "Kenapa takut toh? Kamu kan biasanya mengajak mereka bicara, bahkan pernah kamu beri nama satu-satu."

​Dominic mendengus. "Bicara dengan kambing? Lebih baik aku bicara dengan tembok."

​"Hush, tidak boleh begitu. Mereka itu sumber rezeki kita," tegur Bu Idah sambil mengusap pundak Dominic.

​Terpaksa, Dominic menggiring kambing-kambing itu ke area rumput yang lebih hijau. Namun, kambing-kambing itu seolah tahu bahwa pria yang menggiring mereka bukanlah Aram yang asli. Mereka mulai memberontak, saling menyeruduk dan berlarian ke arah yang berbeda.

​"Hei! Kembali ke posisi!" teriak Dominic spontan, menggunakan suara otoriter yang biasa ia gunakan di lapangan sepak bola. "Kalian, jangan bertengkar! Nomor tujuh, kembali ke barisan! Atau kuberi kalian kartu kuning!"

​Kambing-kambing itu tentu saja tidak peduli. Dominic merasa sangat terhina. Ia, sang kapten yang ditakuti bek-bek tangguh Eropa, kini dipermalukan oleh segerombolan ternak.

​"Sialan kau, Aram! Kau membuatku menjadi penggembala kambing sementara kau mungkin sedang menikmati massage di rumahku!"

​Rasa cemburu dan rindu pada istrinya, Grace, mulai membakar hatinya. Ia harus tahu apa yang terjadi di rumahnya. Dominic berlari kembali ke rumah kecil itu, mencari ponsel milik Aram. Ia memutar nomor rumahnya dengan tangan gemetar.

​Telepon dari Masa Lalu

​Di kediaman Kailash, telepon ruang tengah berdering berkali-kali. Para pelayan sedang sibuk di dapur, hingga akhirnya Grace yang sedang lewat mengangkat gagang telepon itu.

​"Halo? Siapa ini? Mencari siapa?" tanya Grace dengan nada tidak sabar.

​Dominic terdiam sejenak. Mendengar suara istrinya membuat matanya panas. "Grace... ini aku..." bisiknya, namun ia segera tersadar. "Maksud saya... saya Aram. Apa boleh saya bicara dengan Tuan Dominic?"

​Nada bicara Grace seketika berubah menjadi dingin dan tajam. "Aram? Berani sekali kau menelepon ke sini? Kau sudah dipecat! Kau hampir membunuh suamiku dengan kelalaianmu, dan sekarang kau masih punya muka untuk menelepon?"

​"Tolong, Nyonya... hanya sebentar saja. Ada hal sangat penting yang harus saya sampaikan pada Tuan," mohon Dominic dengan nada merendah yang sangat menyakitkan bagi harga dirinya.

​Grace memutar matanya, ia ingin menutup telepon itu, namun rasa penasaran dan keinginan untuk melihat suaminya "menghajar" supir itu secara verbal membuatnya berubah pikiran. "Baiklah. Tunggu di sana. Jangan berani-berani menutup teleponnya sebelum suamiku bicara."

​Grace berjalan menuju ruang gym, di mana Aram dan Edi masih duduk berbincang.

​"Sayang," panggil Grace, suaranya melunak saat menatap Aram. "Supir sialan itu, Aram, menelepon. Katanya ada hal penting. Apa kau mau bicara atau aku matikan saja?"

​Jantung Aram berdegup kencang. Ia menatap gagang telepon di tangan Grace seolah itu adalah bom yang siap meledak. Ia tahu siapa yang ada di ujung telepon itu. Itu adalah sang pemilik tubuh yang asli, sang majikan yang kini sedang meringkuk di rumah miskinnya.

​Aram mengambil napas dalam-dalam dan menerima telepon itu dari tangan Grace.

​"Halo?" ucap Aram pelan.

​"Aram... dengarkan aku baik-baik," suara Dominic di seberang sana terdengar parau dan penuh ancaman namun putus asa. "Jika kau menyentuh istriku sedikit saja, aku akan memastikan kau tidak akan punya tempat untuk bersembunyi di dunia ini. Sekarang, dengarkan instruksiku... kita harus mencari cara untuk membatalkan kegilaan ini sebelum pertandingan itu menghancurkan hidupku."

​Aram melirik Grace dan Edi yang memperhatikannya dengan rasa ingin tahu. Ia harus berhati-hati. "Ya, saya mengerti. Kita perlu bertemu untuk membicarakan 'pekerjaan' itu kembali."

​Dua jiwa yang tertukar itu kini saling terhubung melalui kabel telepon, masing-masing membawa rahasia yang bisa menghentikan detak jantung mereka dalam seketika jika terbongkar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • The Golden Switch   Bab 5 Penyamaran di Balik Pagar Emas

    Aram memegang gagang telepon dengan jemari yang masih gemetar. Di dalam tubuh Dominic yang atletis, ia merasa seperti seorang pencuri yang tertangkap basah, meski ia sedang berbicara dengan pemilik asli tubuh tersebut. Suara di seberang sana adalah suara aslinya—suara Aram—namun nada bicaranya adalah nada bicara sang majikan yang arogan.​"Ada apa, Aram? Saya Dominic," ucap Aram, mencoba menstabilkan suaranya agar terdengar seperti sang megabintang.​Di ujung telepon, Dominic tertawa. Tawa yang getir dan penuh hinaan terhadap nasibnya sendiri. "Kau sudah pandai berakting rupanya? Apa kau menikmati kasur empukku sementara aku harus bertarung dengan kecoa di rumah reyotmu ini? Kau menikmati hidupku, hah?"​"Saya sangat kesulitan, Tuan," sahut Aram pelan, matanya melirik Grace yang berdiri tak jauh darinya dengan tatapan curiga. "Setiap detik di sini terasa seperti berjalan di atas bara api."​Dominic mendengus. Ia mengeluhkan segala hal: udara yang panas, dinding yang pecah, hingga bau

  • The Golden Switch   Bab 4 Fragmen Harga Diri yang Terluka

    Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar di gym pribadi keluarga Kailash, namun bagi Aram, cahaya itu terasa seperti lampu interogasi. Pelatih Robert berdiri di sana dengan jam sukat (stopwatch) di tangan dan ambisi yang meluap-luap. Di sekeliling mereka, para perawat pribadi dan fisioterapis bersiap dengan peralatan medis.​"Fokus, Dominic! Piala Dunia tidak akan menunggu kakimu sembuh dengan sendirinya!" suara Robert menggelegar, memenuhi ruangan yang kedap suara itu.​Aram, yang berada di dalam tubuh atletis Dominic, mencoba melakukan peregangan statis. Namun, setiap kali ia menarik otot pahanya, rasa nyeri seperti sayatan pisau menjalar hingga ke pinggang. Tubuh ini memang hebat, tapi trauma kecelakaan itu meninggalkan kekakuan yang nyata.​"Ayo, berjalan ke garis itu. Buktikan pada dunia bahwa sang raja belum mati!" perintah Robert tanpa belas kasihan.​Aram mengatupkan rahangnya. Ia mulai melangkah. Satu langkah, dua langkah... ia merasa seperti berjalan di atas paku pana

  • The Golden Switch   Bab 3 Dua Dunia yang Terjungkir

    ​Langkah kaki Dominic yang berada di dalam tubuh Aram terasa sangat berat saat memasuki rumah petak di pinggiran kota. Bu Idah, yang ia anggap sebagai "wanita asing berbau dapur", menuntunnya masuk dengan senyum bangga karena anaknya telah pulang. Namun, bagi Dominic, rumah itu lebih mirip seperti sel penjara yang menyesakkan.​Tembok rumah itu kusam, dengan retakan menjalar di sana-sini seperti urat nadi yang pecah. Langit-langitnya rendah, membuat Dominic merasa oksigen di sekitarnya menipis. Tak ada marmer, tak ada lampu kristal, hanya ada lantai semen dingin dan satu lampu pijar kekuningan yang berkedip-kedip seolah hampir mati.​"Mas Aram pulang! Mas Aram bawa kue!" seru dua bocah laki-laki, adik Aram, yang langsung menyerbu bungkusan di tangan Bu Idah.​Dominic membelalak. Ia melihat bagaimana kedua bocah itu berebut sepotong kue pasar dengan rakus, seolah itu adalah harta karun paling berharga di dunia. Pemandangan macam apa ini? batinnya mual.​"Pelan-pelan, Rian, Doni... Mas

  • The Golden Switch   Bab 2 Perjanjian di Ambang Maut

    ​Kegelapan itu tidak memiliki batas. Tidak ada lantai, tidak ada dinding, hanya kekosongan yang menyesakkan. Di tengah kehampaan itu, Aram dan Dominic melayang tanpa bobot. Satu-satunya sumber cahaya adalah pijar putih pucat yang menyinari sosok raksasa di hadapan mereka: seorang pria dengan jubah hitam yang menjuntai hingga ke tiada, wajahnya tersembunyi di balik bayang-bayang tudung yang pekat.​"Kita di mana? Lepaskan aku! Kau tahu siapa aku?!" teriak Dominic. Suaranya bergema, namun terdengar kecil di hadapan keheningan yang absolut.​Aram tidak berteriak. Ia hanya gemetar, tangannya meraba udara, mencoba mencari pegangan yang tidak ada. Matanya terpaku pada pria berjubah itu. Ia merasa jiwanya telanjang, seolah seluruh dosa dan rahasianya terbaca seperti buku terbuka.​"Aram... Dominic..."​Suara itu tidak keluar dari mulut, melainkan berdentum langsung di dalam kepala mereka. Berat, dingin, dan berwibawa.​"Siapa kau? Malaikat Maut?" tanya Dominic dengan nafas memburu. Keangkuha

  • The Golden Switch   Bab 1 Takdir yang Tergelincir

    ​Matahari pagi itu masih malu-malu menampakkan sinarnya, namun Aram sudah sibuk di garasi luas kediaman megah keluarga Kailash. Sebagai supir pribadi Dominic, sang striker emas yang namanya dielu-elukan di seluruh stadion dunia, ketelitian adalah harga mati. Tangannya yang kasar dengan cekatan memeriksa tekanan ban, level oli, hingga kebersihan interior mobil mewah yang akan membawa sang majikan menuju sesi latihan krusial menjelang Piala Dunia.​Di teras rumah, Dominic tampak sedang menikmati kopi terakhirnya. Sosoknya tinggi, atletis, dengan aura keangkuhan yang lahir dari bakat luar biasa dan kekayaan melimpah.​"Sudah atau belum? Kita tidak punya waktu untuk drama keterlambatan, Aram," suara Dominic bariton dan tajam, memecah kesunyian pagi.​Aram segera menutup kap mesin dan mengelap tangannya dengan kain perca. "Sudah, Tuan. Semuanya dalam kondisi sempurna. Kita bisa berangkat sekarang."​Dominic bangkit, mengabaikan tatapan patuh supirnya. Sebelum melangkah ke kursi belakang, s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status