LOGINLangkah kaki Dominic yang berada di dalam tubuh Aram terasa sangat berat saat memasuki rumah petak di pinggiran kota. Bu Idah, yang ia anggap sebagai "wanita asing berbau dapur", menuntunnya masuk dengan senyum bangga karena anaknya telah pulang. Namun, bagi Dominic, rumah itu lebih mirip seperti sel penjara yang menyesakkan.
Tembok rumah itu kusam, dengan retakan menjalar di sana-sini seperti urat nadi yang pecah. Langit-langitnya rendah, membuat Dominic merasa oksigen di sekitarnya menipis. Tak ada marmer, tak ada lampu kristal, hanya ada lantai semen dingin dan satu lampu pijar kekuningan yang berkedip-kedip seolah hampir mati.
"Mas Aram pulang! Mas Aram bawa kue!" seru dua bocah laki-laki, adik Aram, yang langsung menyerbu bungkusan di tangan Bu Idah.
Dominic membelalak. Ia melihat bagaimana kedua bocah itu berebut sepotong kue pasar dengan rakus, seolah itu adalah harta karun paling berharga di dunia. Pemandangan macam apa ini? batinnya mual.
"Pelan-pelan, Rian, Doni... Mas kalian masih sakit," tegur Bu Idah lembut.
Tiba-tiba, pintu depan terbuka. Pak Rudi masuk dengan handuk kumal melingkar di leher. Aroma tajam dari keringat bercampur bau kotoran kambing langsung menyeruak memenuhi ruangan yang sempit itu. Pak Rudi baru saja kembali dari kandang belakang.
"Aram, syukurlah kamu sudah di rumah," ucap Pak Rudi dengan suara parau penuh kelegaan.
Dominic tidak menjawab. Bau itu membuatnya ingin muntah. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan masuk ke kamar yang ia yakini sebagai kamar Aram, lalu membanting pintunya keras-keras.
"Ini tidak adil!" desis Dominic sambil meninju kasur tipis yang keras seperti papan kayu. "Aku seharusnya ada di griya tawangku, mandi di bathtub air hangat, bukan di gudang pengap berbau ternak ini! Aram pasti sedang tertawa di atas penderitaanku!"
Ia membuka lemari kayu yang sudah reyot. Isinya hanya beberapa lembar kaus oblong murahan yang warnanya sudah memudar dan beberapa celana jins yang kasar. Dominic menyentuh kain itu dengan ujung jari, merasa ngeri jika kulit "mahalnya" harus bersentuhan dengan kain sekualitas itu. "Aku bisa kena dermatitis jika memakai rongsokan ini!"
Pesta yang Terasa Seperti Eksekusi
Di sisi lain kota, kemewahan menyambut Aram. Rumah besar keluarga Kailash benderang oleh lampu-lampu taman. Alunan musik jazz lembut mengiringi pesta penyambutan "sang pahlawan" yang baru kembali dari rumah sakit. Teman-teman setim Dominic, para pemain sepak bola elit, berkumpul dengan gelas sampanye di tangan.
Aram berdiri di tengah kerumunan itu dengan setelan jas seharga gaji supirnya selama setahun. Ia merasa seperti penipu ulung. Setiap senyuman yang ia berikan terasa seperti beban seberat satu ton.
"Dominic! Sang kapten sudah kembali!" teriak seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan tatapan ambisius. Itu adalah Robert, sang pelatih kepala.
"Terima kasih, Pak," sahut Aram pendek, mencoba meniru nada bicara Dominic yang sombong namun terkendali.
"Jangan hanya terima kasih!" Robert merangkul bahu Aram dengan kencang, matanya berkilat tajam. "Dua hari lagi latihan intensif dimulai. Kita ketinggalan banyak waktu. Dunia menunggumu mengangkat trofi itu. Kamu harus jadi monster di lapangan hijau!"
Jantung Aram seolah berhenti berdetak. Sepak bola dunia? Kapten? Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia memang sering bermain bola di lapangan tanah merah di kampungnya, tapi memimpin tim nasional di hadapan jutaan pasang mata adalah hal yang mustahil.
"Aku... aku tidak yakin kekuatanku sudah pulih sepenuhnya, Pak Robert," lirih Aram, suaranya bergetar.
Robert mengernyit, tatapannya menjadi dingin dan menekan. "Apa maksudmu? Kamu adalah Dominic Kailash. Kamu tetap bermain meski kakimu patah sekalipun! Jangan katakan kecelakaan itu membuat nyalimu ciut, atau aku akan mencoretmu dari daftar starter!"
Ketegangan meningkat. Rekan-rekan setimnya mulai berbisik-bisik melihat keraguan "Dominic". Untungnya, Edi, sahabat terdekat Dominic, segera menengahi.
"Sudahlah, Pelatih! Dia baru saja bangun dari koma seminggu. Beri dia waktu untuk bernapas," ujar Edi sambil menarik Aram menjauh dari kerumunan.
Saat mereka hanya berdua di sudut balkon, Edi menatap Aram dengan saksama. "Ada yang aneh denganmu, Nic. Biasanya kau akan memaki Robert jika dia menekanmu seperti itu. Kenapa kau jadi begitu penurut?"
Aram menelan ludah. "Aku hanya... merasa beruntung bisa hidup, Ed. Itu saja."
Edi menepuk pundaknya. "Jangan khawatir. Aku akan membantumu di lapangan nanti. Tapi ingat, Nic, seluruh negara bergantung pada kakimu."
Malam yang Menyiksa
Malam tiba, dan bagi Aram, ini adalah ujian paling berat. Ia berada di kamar utama yang luar biasa mewah. Piyama sutra yang ia kenakan terasa begitu lembut di kulit, namun pikirannya sangat tersiksa. Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Grace yang keluar dengan pakaian tidur transparan yang menyisakan sedikit ruang bagi imajinasi.
Aram duduk di tepi ranjang, menunduk dalam-dalam. Harum parfum Grace memenuhi ruangan, membuat naluri lelakinya bergejolak. Namun, wajah Dominic yang asli terus membayang di benaknya. Ini bukan milikku. Aku tidak boleh mengkhianatinya, ia terus merapal doa itu dalam hati.
"Kamu nungguin aku, Sayang?" tanya Grace, suaranya merayu. Ia duduk tepat di samping Aram, tubuh mereka bersentuhan.
"Kepalaku... masih sangat sakit, Grace," Aram mencoba mencari alasan, tangannya memijat pelipisnya sendiri dengan keras hingga memerah.
Grace tidak menyerah. Ia mendekat, menempelkan dadanya ke punggung Aram dan melingkarkan tangannya di leher pria itu. Nafasnya hangat di telinga Aram. "Aku kangen sekali. Kamu tahu betapa takutnya aku kehilanganmu?"
Aram memejamkan mata dengan rapat. Setiap sel di tubuhnya berteriak untuk menyerah pada godaan itu, tapi jiwanya menolak. Ia segera berdiri, melepaskan diri dari dekapan Grace dengan gerakan yang terlalu mendadak.
"Maaf, aku benar-benar butuh tidur sendiri malam ini. Tolong... hargai kondisiku," ucap Aram dengan suara yang sedikit lebih keras dari maksudnya.
Wajah Grace yang tadinya penuh gairah seketika berubah menjadi merah padam karena amarah. Ia merasa terhina. "Apa? Tidur sendiri? Dominic, aku istrimu! Kamu belum pernah menolakku sesadis ini sejak kita menikah!"
"Tolong, Grace... ini demi kesembuhanku," pinta Aram.
Brak!
Grace membanting pintu kamar dengan kekuatan penuh, meninggalkan Aram sendirian di kamar besar yang terasa dingin. Ia keluar menuju balkon, meneguk alkohol untuk meredakan kekesalannya. "Ada apa dengannya? Dia menatapku seolah aku adalah orang asing yang menjijikkan," isyak Grace dalam amarahnya.
Kasih Sayang yang Asing
Sementara itu, di rumah kecil Aram, Dominic sedang bertarung dengan musuh yang jauh lebih kecil namun mematikan: nyamuk. Tanpa AC, ruangan itu terasa seperti oven. Ia terus mengibas-ngibaskan tangannya, mengumpat dalam gelap.
"Pergi kalian, serangga jahanam! Darahku ini mahal!" teriaknya frustrasi.
Pintu kamar terbuka. Bu Idah masuk membawa obat nyamuk bakar dan kipas sate dari anyaman bambu. Di belakangnya, Pak Rudi membawa sebotol minyak kayu putih.
"Kamu kenapa toh, Ram? Kok ngamuk-ngamuk sendiri?" tanya Bu Idah cemas.
"Kamar ini! Banyak nyamuk! Aku tidak bisa tidur!" protes Dominic, suaranya terdengar seperti anak kecil yang sedang tantrum.
Pak Rudi hanya bisa menggelengkan kepala. "Biasanya kamu paling tahan banting, Ram. Dulu tidur di pos ronda saja kamu pulas."
Bu Idah duduk di tepi tempat tidur kayu yang berderit. Tanpa diduga, ia mulai menggerakkan kipas bambu di tangannya, menciptakan semilir angin kecil yang menerpa wajah Dominic. Tangannya yang lain dengan lembut mengusap dahi Dominic, menyingkirkan rambut yang basah oleh keringat.
"Tidurlah, Nak... Ibu akan kipasi kamu sampai nyamuknya pergi," ucap Bu Idah dengan nada yang begitu tulus.
Dominic tertegun. Ia mematung, merasakan sentuhan tangan yang kasar namun penuh kehangatan itu. Di dunia aslinya sebagai Dominic Kailash, ibunya adalah seorang pengusaha sukses yang hanya menemuinya di meja makan saat ada urusan bisnis. Ia dibesarkan oleh pengasuh berseragam yang menjalankan tugas karena gaji, bukan cinta.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Dominic merasakan perhatian yang tidak mengharapkan balasan apa pun. Ia memilih membalikkan badan, membelakangi Bu Idah agar wanita itu tidak melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Sial... kenapa aku jadi cengeng begini," gumamnya pelan.
Di tengah panasnya udara dan suara jangkrik di luar rumah, Dominic akhirnya jatuh tertidur di bawah kipasan tangan seorang ibu yang ia anggap miskin. Namun, jauh di lubuk hatinya, sebuah ketakutan besar muncul: Bagaimana jika Grace sedang menyerahkan dirinya pada Aram malam ini?
Dendam, cemburu, dan rasa haru bercampur menjadi satu, menciptakan mimpi buruk yang siap menyambut mereka saat fajar menyingsing.
Aram memegang gagang telepon dengan jemari yang masih gemetar. Di dalam tubuh Dominic yang atletis, ia merasa seperti seorang pencuri yang tertangkap basah, meski ia sedang berbicara dengan pemilik asli tubuh tersebut. Suara di seberang sana adalah suara aslinya—suara Aram—namun nada bicaranya adalah nada bicara sang majikan yang arogan."Ada apa, Aram? Saya Dominic," ucap Aram, mencoba menstabilkan suaranya agar terdengar seperti sang megabintang.Di ujung telepon, Dominic tertawa. Tawa yang getir dan penuh hinaan terhadap nasibnya sendiri. "Kau sudah pandai berakting rupanya? Apa kau menikmati kasur empukku sementara aku harus bertarung dengan kecoa di rumah reyotmu ini? Kau menikmati hidupku, hah?""Saya sangat kesulitan, Tuan," sahut Aram pelan, matanya melirik Grace yang berdiri tak jauh darinya dengan tatapan curiga. "Setiap detik di sini terasa seperti berjalan di atas bara api."Dominic mendengus. Ia mengeluhkan segala hal: udara yang panas, dinding yang pecah, hingga bau
Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar di gym pribadi keluarga Kailash, namun bagi Aram, cahaya itu terasa seperti lampu interogasi. Pelatih Robert berdiri di sana dengan jam sukat (stopwatch) di tangan dan ambisi yang meluap-luap. Di sekeliling mereka, para perawat pribadi dan fisioterapis bersiap dengan peralatan medis."Fokus, Dominic! Piala Dunia tidak akan menunggu kakimu sembuh dengan sendirinya!" suara Robert menggelegar, memenuhi ruangan yang kedap suara itu.Aram, yang berada di dalam tubuh atletis Dominic, mencoba melakukan peregangan statis. Namun, setiap kali ia menarik otot pahanya, rasa nyeri seperti sayatan pisau menjalar hingga ke pinggang. Tubuh ini memang hebat, tapi trauma kecelakaan itu meninggalkan kekakuan yang nyata."Ayo, berjalan ke garis itu. Buktikan pada dunia bahwa sang raja belum mati!" perintah Robert tanpa belas kasihan.Aram mengatupkan rahangnya. Ia mulai melangkah. Satu langkah, dua langkah... ia merasa seperti berjalan di atas paku pana
Langkah kaki Dominic yang berada di dalam tubuh Aram terasa sangat berat saat memasuki rumah petak di pinggiran kota. Bu Idah, yang ia anggap sebagai "wanita asing berbau dapur", menuntunnya masuk dengan senyum bangga karena anaknya telah pulang. Namun, bagi Dominic, rumah itu lebih mirip seperti sel penjara yang menyesakkan.Tembok rumah itu kusam, dengan retakan menjalar di sana-sini seperti urat nadi yang pecah. Langit-langitnya rendah, membuat Dominic merasa oksigen di sekitarnya menipis. Tak ada marmer, tak ada lampu kristal, hanya ada lantai semen dingin dan satu lampu pijar kekuningan yang berkedip-kedip seolah hampir mati."Mas Aram pulang! Mas Aram bawa kue!" seru dua bocah laki-laki, adik Aram, yang langsung menyerbu bungkusan di tangan Bu Idah.Dominic membelalak. Ia melihat bagaimana kedua bocah itu berebut sepotong kue pasar dengan rakus, seolah itu adalah harta karun paling berharga di dunia. Pemandangan macam apa ini? batinnya mual."Pelan-pelan, Rian, Doni... Mas
Kegelapan itu tidak memiliki batas. Tidak ada lantai, tidak ada dinding, hanya kekosongan yang menyesakkan. Di tengah kehampaan itu, Aram dan Dominic melayang tanpa bobot. Satu-satunya sumber cahaya adalah pijar putih pucat yang menyinari sosok raksasa di hadapan mereka: seorang pria dengan jubah hitam yang menjuntai hingga ke tiada, wajahnya tersembunyi di balik bayang-bayang tudung yang pekat."Kita di mana? Lepaskan aku! Kau tahu siapa aku?!" teriak Dominic. Suaranya bergema, namun terdengar kecil di hadapan keheningan yang absolut.Aram tidak berteriak. Ia hanya gemetar, tangannya meraba udara, mencoba mencari pegangan yang tidak ada. Matanya terpaku pada pria berjubah itu. Ia merasa jiwanya telanjang, seolah seluruh dosa dan rahasianya terbaca seperti buku terbuka."Aram... Dominic..."Suara itu tidak keluar dari mulut, melainkan berdentum langsung di dalam kepala mereka. Berat, dingin, dan berwibawa."Siapa kau? Malaikat Maut?" tanya Dominic dengan nafas memburu. Keangkuha
Matahari pagi itu masih malu-malu menampakkan sinarnya, namun Aram sudah sibuk di garasi luas kediaman megah keluarga Kailash. Sebagai supir pribadi Dominic, sang striker emas yang namanya dielu-elukan di seluruh stadion dunia, ketelitian adalah harga mati. Tangannya yang kasar dengan cekatan memeriksa tekanan ban, level oli, hingga kebersihan interior mobil mewah yang akan membawa sang majikan menuju sesi latihan krusial menjelang Piala Dunia.Di teras rumah, Dominic tampak sedang menikmati kopi terakhirnya. Sosoknya tinggi, atletis, dengan aura keangkuhan yang lahir dari bakat luar biasa dan kekayaan melimpah."Sudah atau belum? Kita tidak punya waktu untuk drama keterlambatan, Aram," suara Dominic bariton dan tajam, memecah kesunyian pagi.Aram segera menutup kap mesin dan mengelap tangannya dengan kain perca. "Sudah, Tuan. Semuanya dalam kondisi sempurna. Kita bisa berangkat sekarang."Dominic bangkit, mengabaikan tatapan patuh supirnya. Sebelum melangkah ke kursi belakang, s







