Home / Romansa / The Golden Switch / Bab 2 Perjanjian di Ambang Maut

Share

Bab 2 Perjanjian di Ambang Maut

Author: Alna Selviata
last update publish date: 2026-02-11 18:27:24

​Kegelapan itu tidak memiliki batas. Tidak ada lantai, tidak ada dinding, hanya kekosongan yang menyesakkan. Di tengah kehampaan itu, Aram dan Dominic melayang tanpa bobot. Satu-satunya sumber cahaya adalah pijar putih pucat yang menyinari sosok raksasa di hadapan mereka: seorang pria dengan jubah hitam yang menjuntai hingga ke tiada, wajahnya tersembunyi di balik bayang-bayang tudung yang pekat.

​"Kita di mana? Lepaskan aku! Kau tahu siapa aku?!" teriak Dominic. Suaranya bergema, namun terdengar kecil di hadapan keheningan yang absolut.

​Aram tidak berteriak. Ia hanya gemetar, tangannya meraba udara, mencoba mencari pegangan yang tidak ada. Matanya terpaku pada pria berjubah itu. Ia merasa jiwanya telanjang, seolah seluruh dosa dan rahasianya terbaca seperti buku terbuka.

​"Aram... Dominic..."

​Suara itu tidak keluar dari mulut, melainkan berdentum langsung di dalam kepala mereka. Berat, dingin, dan berwibawa.

​"Siapa kau? Malaikat Maut?" tanya Dominic dengan nafas memburu. Keangkuhannya mulai retak oleh rasa takut yang murni. "Aku belum ingin mati! Aku punya kontrak jutaan dolar, aku punya istri, aku punya segalanya! Kau tidak bisa mengambilku sekarang!"

​Sosok itu bergerak sedikit, dan suhu di sekitar mereka seolah anjlok hingga ke titik beku.

​"Kalian akan dihukum," suara itu menggelegar. "Kalian adalah dua sisi dari koin yang sama: ketidakbersyukuran. Kau, Aram... matamu selalu memandang ke atas dengan rasa iri yang menghitamkan hati. Kau menginginkan hidup Dominic seolah itu adalah hakmu, tanpa peduli pada berkah yang sudah kau genggam."

​Aram tertunduk. Kata-kata itu menghujam jantungnya. Benar, setiap malam ia menatap rumah megah majikannya dan mengutuk nasibnya yang hanya seorang supir. Ia memimpikan tepuk tangan penonton stadion yang seharusnya ditujukan padanya, bukan pada pria angkuh di kursi belakang mobilnya.

​"Dan kau, Dominic," sosok itu beralih pada sang bintang. "Kau berdiri di puncak dunia hanya untuk meludahi mereka yang ada di bawahmu. Kau menganggap manusia lain sebagai alat, sebagai sampah yang bisa kaubuang setelah lelah kau gunakan. Kau melupakan bahwa tubuhmu adalah pinjaman, dan bakatmu adalah titipan."

​Dominic terdiam, wajahnya pucat pasi. Ia teringat bagaimana ia sering memaki Aram hanya karena kopi yang kurang panas, atau bagaimana ia membiarkan supirnya itu terjaga 20 jam sehari tanpa peduli pada rasa lelahnya.

​"Karena itu, semesta akan memberikan apa yang kalian inginkan," lanjut pria berjubah hitam itu. "Kalian akan bertukar tempat. Jiwa kalian akan menempati tubuh satu sama lain. Kau akan merasakan posisi yang selama ini kau irikan, Aram. Dan kau akan merasakan kehinaan yang selama ini kau ciptakan, Dominic."

​"TIDAK! Aku tidak mau menjadi supir!" jerit Dominic histeris. "Aku lebih baik mati daripada hidup sebagai rakyat jelata!"

​"Pilihan yang bagus," sahut sosok itu dingin. "Jika kalian menolak, maka nafas kalian di bumi akan berhenti detik ini juga. Tubuh kalian akan dingin di ruang mayat, dan perjalanan kalian berakhir di sini."

​Aram terbelalak. Ia memandang Dominic yang tampak bimbang antara harga diri dan ketakutan akan kematian. "Tuan... kumohon," bisik Aram. "Terima saja. Setidaknya kita masih hidup."

​Setelah keheningan yang menyiksa, Dominic mengangguk lemah. "Baik. Aku terima. Tapi... sampai kapan?"

​"Hingga kalian mempelajari apa yang harus kalian pelajari. Namun ingat satu aturan mutlak: Jangan pernah membongkar identitas asli kalian kepada siapa pun. Satu kata saja terucap tentang kebenaran ini, maka jantung kalian akan berhenti berdetak saat itu juga. Takdir tidak menerima pengkhianatan."

​Tanpa peringatan, mereka terlempar ke bawah. Rasanya seperti jatuh dari gedung pencakar langit masuk ke dalam lubang hitam yang tak berujung. Terowongan waktu menarik mereka, memutar balik memori, hingga kesadaran mereka terhempas kembali ke dunia nyata.

​Dilema di Ruang VIP

​Aram mengerjap. Langit-langit ruangan itu berwarna krem mewah dengan lampu kristal yang redup. Ia menghirup aroma lili putih. Aku kembali, batinnya. Namun, saat ia melihat tangannya yang putih bersih dengan kuku yang terawat, ia tahu ia bukan lagi Aram sang supir.

​Pintu terbuka. Grace masuk dengan gaun yang sangat pas di tubuhnya, membawa senyum yang biasanya hanya diberikan pada kamera.

​"Kamu mau makan, Sayang?" tanya Grace lembut.

​Aram mengangguk kaku. Ia berusaha menekan rasa gugupnya. Di hadapannya adalah istri majikannya—wanita yang selama ini hanya berani ia lirik dari kaca spion tengah. Sekarang, wanita itu duduk di tepi tempat tidurnya, menyentuh lututnya dengan mesra.

​"Besok kita pulang ke rumah ya. Aku sudah siapkan sambutan kecil untukmu," bisik Grace.

​Tiba-tiba, Grace mencondongkan tubuh, memeluk Aram dengan erat. Aram tersentak, tubuhnya menegang seperti papan. Aroma parfum mahal Grace menyerbu indra penciumannya, memicu debar jantung yang tak menentu. Ini salah. Ini sangat salah.

​"Sayang, kok kamu kaku sekali?" Grace melepaskan pelukan, menatap suaminya dengan dahi berkerut. "Kamu tidak kangen padaku?"

​"Ah... bukan begitu," Aram gelagapan. Suaranya kini adalah suara bariton Dominic yang berwibawa. "Hanya... kepalaku masih sedikit pening. Efek benturan itu."

​Grace tidak puas dengan jawaban itu. Ia adalah wanita yang terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia mendekatkan wajahnya, matanya menatap bibir Aram. Tanpa peringatan, ia mendaratkan kecupan sensual di bibir pria itu.

​Aram membelalak. Pikirannya berteriak: Ini istri Tuan Dominic! Ini dosa! Ia secara refleks mendorong bahu Grace menjauh, meski pelan.

​"Maaf... maksudku... jangan sekarang, Non... eh, Sayang," Aram hampir saja membongkar identitasnya. Peluh dingin mengucur di pelipisnya.

​Wajah Grace berubah masam. "Non? Kamu memanggilku apa tadi? Dan kenapa kamu menolakku? Dominic, kita sudah menikah dua tahun, ada apa denganmu?"

​Aram menarik nafas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. Ia harus berakting. Nyawanya taruhannya. "Maafkan aku. Aku hanya... aku hanya merasa sangat lelah. Kecelakaan itu membuatku merasa seperti orang yang berbeda. Beri aku waktu, ya?"

​Aram mengulurkan tangannya yang gemetar, membelai rambut Grace dengan ragu. Grace tersenyum tipis, meski matanya masih menyiratkan kecurigaan. Sementara itu, dalam hati Aram menjerit, Tuan Dominic, tolong maafkan saya!

​Pahitnya Bubur di Bangsal Kelas Tiga

​Di belahan lain rumah sakit, Dominic merasakan neraka yang berbeda. Ruangan bangsal itu panas karena hanya ada kipas angin tua yang berderit. Aroma obat-obatan murah dan keringat menusuk hidungnya.

​"Makan dulu, Nak. Ibu sudah belikan bubur ayam kesukaanmu," Bu Idah menyodorkan sendok plastik ke mulut Dominic.

​Dominic menatap bubur di piring plastik itu dengan rasa jijik yang luar biasa. Baginya, itu tampak seperti makanan sisa. Namun, perutnya keroncongan, dan tatapan penuh kasih dari wanita tua di hadapannya membuatnya merasa terpojok. Ia teringat ancaman pria berjubah hitam itu: Jangan bongkar identitasmu.

​Ia membuka mulutnya. Bubur itu masuk ke lidahnya. Rasa merica yang tajam dan kuah kuning yang kental memenuhi rongga mulutnya. Terlepas dari penampilannya, rasanya ternyata lumayan. Namun, harga diri Dominic tetap merasa terhina.

​"Enak, kan?" tanya Bu Idah sambil tersenyum hingga kerutan di matanya terlihat jelas.

​Dominic hanya bergumam tidak jelas. Tiba-tiba, pintu bangsal yang sedikit rusak itu diketuk. Seorang gadis dengan pakaian sederhana namun wajah yang sangat manis masuk. Namanya Lili.

​"Aram!" Lili berlari kecil dan duduk di kursi plastik di samping tempat tidur. "Ya Tuhan, aku hampir mati ketakutan saat dengar mobilmu masuk jurang."

​Dominic memutar bola matanya. Satu lagi drama, batinnya. Ia menatap Lili dengan dingin. Gadis ini cantik, jauh lebih tulus daripada Grace, tapi ia bukan tipenya.

​"Aku bawakan kue lapis," kata Lili ceria.

​"Terima kasih," jawab Dominic singkat, datar, dan tanpa ekspresi.

​Bu Idah yang merasa suasananya kaku, memilih beranjak. "Ibu pulang dulu ya sebentar, mau cuci baju. Lili, tolong jaga Aram ya."

​Setelah Bu Idah pergi, keheningan yang canggung menyelimuti mereka. Lili memandang "Aram" dengan tatapan penuh tanya. Biasanya, Aram akan langsung menggenggam tangannya atau menceritakan lelucon untuk menghiburnya. Tapi pria di hadapannya ini hanya menatap langit-langit dengan wajah angkuh.

​"Mas... ada yang sakit?" tanya Lili lembut, mencoba memecah kebekuan.

​"Aku hanya lelah bicara. Bisa tidak kau diam saja?" sahut Dominic kasar.

​Lili tersentak. Matanya berkaca-kaca. "Maaf... aku tidak bermaksud mengganggu."

​Dominic tidak peduli. Pikirannya terbang ke ruang VIP di lantai atas. Ia membayangkan Aram—supirnya yang bodoh itu—sedang berdua dengan Grace. Darahnya mendidih. Ia tahu betapa cantiknya istrinya, dan ia tahu bagaimana pria mana pun akan menatap Grace.

​Kalau sampai kau menyentuh istriku dengan tangan kotormu itu, Aram... aku bersumpah akan menghancurkanmu setelah ini berakhir, ancam Dominic dalam hati, tangannya mengepal di balik selimut tipis rumah sakit yang kasar.

​Ia tidak sadar bahwa di dunia baru ini, ia hanyalah seorang pria tanpa kuasa, dan "suara" yang paling didengar sekarang adalah suara Aram yang berada di dalam tubuhnya yang perkasa. Pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • The Golden Switch   Bab 5 Penyamaran di Balik Pagar Emas

    Aram memegang gagang telepon dengan jemari yang masih gemetar. Di dalam tubuh Dominic yang atletis, ia merasa seperti seorang pencuri yang tertangkap basah, meski ia sedang berbicara dengan pemilik asli tubuh tersebut. Suara di seberang sana adalah suara aslinya—suara Aram—namun nada bicaranya adalah nada bicara sang majikan yang arogan.​"Ada apa, Aram? Saya Dominic," ucap Aram, mencoba menstabilkan suaranya agar terdengar seperti sang megabintang.​Di ujung telepon, Dominic tertawa. Tawa yang getir dan penuh hinaan terhadap nasibnya sendiri. "Kau sudah pandai berakting rupanya? Apa kau menikmati kasur empukku sementara aku harus bertarung dengan kecoa di rumah reyotmu ini? Kau menikmati hidupku, hah?"​"Saya sangat kesulitan, Tuan," sahut Aram pelan, matanya melirik Grace yang berdiri tak jauh darinya dengan tatapan curiga. "Setiap detik di sini terasa seperti berjalan di atas bara api."​Dominic mendengus. Ia mengeluhkan segala hal: udara yang panas, dinding yang pecah, hingga bau

  • The Golden Switch   Bab 4 Fragmen Harga Diri yang Terluka

    Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar di gym pribadi keluarga Kailash, namun bagi Aram, cahaya itu terasa seperti lampu interogasi. Pelatih Robert berdiri di sana dengan jam sukat (stopwatch) di tangan dan ambisi yang meluap-luap. Di sekeliling mereka, para perawat pribadi dan fisioterapis bersiap dengan peralatan medis.​"Fokus, Dominic! Piala Dunia tidak akan menunggu kakimu sembuh dengan sendirinya!" suara Robert menggelegar, memenuhi ruangan yang kedap suara itu.​Aram, yang berada di dalam tubuh atletis Dominic, mencoba melakukan peregangan statis. Namun, setiap kali ia menarik otot pahanya, rasa nyeri seperti sayatan pisau menjalar hingga ke pinggang. Tubuh ini memang hebat, tapi trauma kecelakaan itu meninggalkan kekakuan yang nyata.​"Ayo, berjalan ke garis itu. Buktikan pada dunia bahwa sang raja belum mati!" perintah Robert tanpa belas kasihan.​Aram mengatupkan rahangnya. Ia mulai melangkah. Satu langkah, dua langkah... ia merasa seperti berjalan di atas paku pana

  • The Golden Switch   Bab 3 Dua Dunia yang Terjungkir

    ​Langkah kaki Dominic yang berada di dalam tubuh Aram terasa sangat berat saat memasuki rumah petak di pinggiran kota. Bu Idah, yang ia anggap sebagai "wanita asing berbau dapur", menuntunnya masuk dengan senyum bangga karena anaknya telah pulang. Namun, bagi Dominic, rumah itu lebih mirip seperti sel penjara yang menyesakkan.​Tembok rumah itu kusam, dengan retakan menjalar di sana-sini seperti urat nadi yang pecah. Langit-langitnya rendah, membuat Dominic merasa oksigen di sekitarnya menipis. Tak ada marmer, tak ada lampu kristal, hanya ada lantai semen dingin dan satu lampu pijar kekuningan yang berkedip-kedip seolah hampir mati.​"Mas Aram pulang! Mas Aram bawa kue!" seru dua bocah laki-laki, adik Aram, yang langsung menyerbu bungkusan di tangan Bu Idah.​Dominic membelalak. Ia melihat bagaimana kedua bocah itu berebut sepotong kue pasar dengan rakus, seolah itu adalah harta karun paling berharga di dunia. Pemandangan macam apa ini? batinnya mual.​"Pelan-pelan, Rian, Doni... Mas

  • The Golden Switch   Bab 2 Perjanjian di Ambang Maut

    ​Kegelapan itu tidak memiliki batas. Tidak ada lantai, tidak ada dinding, hanya kekosongan yang menyesakkan. Di tengah kehampaan itu, Aram dan Dominic melayang tanpa bobot. Satu-satunya sumber cahaya adalah pijar putih pucat yang menyinari sosok raksasa di hadapan mereka: seorang pria dengan jubah hitam yang menjuntai hingga ke tiada, wajahnya tersembunyi di balik bayang-bayang tudung yang pekat.​"Kita di mana? Lepaskan aku! Kau tahu siapa aku?!" teriak Dominic. Suaranya bergema, namun terdengar kecil di hadapan keheningan yang absolut.​Aram tidak berteriak. Ia hanya gemetar, tangannya meraba udara, mencoba mencari pegangan yang tidak ada. Matanya terpaku pada pria berjubah itu. Ia merasa jiwanya telanjang, seolah seluruh dosa dan rahasianya terbaca seperti buku terbuka.​"Aram... Dominic..."​Suara itu tidak keluar dari mulut, melainkan berdentum langsung di dalam kepala mereka. Berat, dingin, dan berwibawa.​"Siapa kau? Malaikat Maut?" tanya Dominic dengan nafas memburu. Keangkuha

  • The Golden Switch   Bab 1 Takdir yang Tergelincir

    ​Matahari pagi itu masih malu-malu menampakkan sinarnya, namun Aram sudah sibuk di garasi luas kediaman megah keluarga Kailash. Sebagai supir pribadi Dominic, sang striker emas yang namanya dielu-elukan di seluruh stadion dunia, ketelitian adalah harga mati. Tangannya yang kasar dengan cekatan memeriksa tekanan ban, level oli, hingga kebersihan interior mobil mewah yang akan membawa sang majikan menuju sesi latihan krusial menjelang Piala Dunia.​Di teras rumah, Dominic tampak sedang menikmati kopi terakhirnya. Sosoknya tinggi, atletis, dengan aura keangkuhan yang lahir dari bakat luar biasa dan kekayaan melimpah.​"Sudah atau belum? Kita tidak punya waktu untuk drama keterlambatan, Aram," suara Dominic bariton dan tajam, memecah kesunyian pagi.​Aram segera menutup kap mesin dan mengelap tangannya dengan kain perca. "Sudah, Tuan. Semuanya dalam kondisi sempurna. Kita bisa berangkat sekarang."​Dominic bangkit, mengabaikan tatapan patuh supirnya. Sebelum melangkah ke kursi belakang, s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status