ログインKecelakaan tragis mengubah garis tangan Aram, seorang supir pribadi, dan majikannya, Dominic—sang megabintang sepak bola dunia. Setelah koma selama satu minggu, mereka terbangun dalam kenyataan yang mustahil: jiwa mereka tertukar. Aram kini terjebak dalam tubuh atletis Dominic yang dipuja jutaan orang, sementara Dominic harus mendekam di tubuh sederhana sang supir. Di tengah kepanikan, sebuah turnamen besar sudah di depan mata. Dominic, yang tak sudi reputasinya hancur, terpaksa melatih Aram dengan keras agar bisa "berakting" menjadi pemain unggul di lapangan hijau. Di luar lapangan, tantangan tak kalah berat. Aram harus menghadapi kemegahan dan intrik keluarga besar Kailash, sementara Dominic harus belajar mengecap pahit-getirnya kehidupan rakyat jelata di keluarga Aram. Bisakah mereka kembali ke tubuh masing-masing, ataukah takdir memaksa mereka menjalani hidup yang bukan milik mereka selamanya?
もっと見るMatahari pagi itu masih malu-malu menampakkan sinarnya, namun Aram sudah sibuk di garasi luas kediaman megah keluarga Kailash. Sebagai supir pribadi Dominic, sang striker emas yang namanya dielu-elukan di seluruh stadion dunia, ketelitian adalah harga mati. Tangannya yang kasar dengan cekatan memeriksa tekanan ban, level oli, hingga kebersihan interior mobil mewah yang akan membawa sang majikan menuju sesi latihan krusial menjelang Piala Dunia.
Di teras rumah, Dominic tampak sedang menikmati kopi terakhirnya. Sosoknya tinggi, atletis, dengan aura keangkuhan yang lahir dari bakat luar biasa dan kekayaan melimpah.
"Sudah atau belum? Kita tidak punya waktu untuk drama keterlambatan, Aram," suara Dominic bariton dan tajam, memecah kesunyian pagi.
Aram segera menutup kap mesin dan mengelap tangannya dengan kain perca. "Sudah, Tuan. Semuanya dalam kondisi sempurna. Kita bisa berangkat sekarang."
Dominic bangkit, mengabaikan tatapan patuh supirnya. Sebelum melangkah ke kursi belakang, seorang wanita cantik dengan gaun tidur sutra keluar dari pintu utama. Grace, istri Dominic yang jelita namun dingin.
"Aku berangkat dulu, Sayang. Pastikan jadwal makan malamku dengan sponsor tidak berubah," ucap Dominic datar.
Grace mendekat, melingkarkan lengannya di leher sang suami dan memberikan kecupan manja di pipi. "Hati-hati, Sayang. Cepat pulang, aku tidak suka rumah ini terlalu sepi tanpamu."
Mobil meluncur halus meninggalkan gerbang emas keluarga Kailash. Di balik kemudi, Aram merasa kepalanya sedikit berat. Semalaman ia tidak tidur karena harus mengantar Grace dari satu pesta sosialita ke pesta lainnya hingga dini hari, dan kini ia harus terjaga untuk sang suami. Musik instrumen pelan sengaja ia putar, sekadar untuk menahan kelopak matanya agar tidak terpejam.
Dominic sendiri memilih untuk memejamkan mata di kursi belakang, menyumbat telinganya dengan noise-canceling headphone. Ia tidak peduli pada supirnya; baginya, Aram hanyalah bagian dari mesin yang menjalankan hidupnya.
Kesunyian itu pecah saat mereka melintasi jalanan perbukitan yang berkelok. Tiba-tiba, dari balik semak belukar, segerombolan sapi menyeberang tanpa peringatan.
"Tuan! Awas!" jerit Aram spontan.
Aram membanting setir ke kiri dengan keras untuk menghindari hantaman langsung. Namun, kecepatan dan momentum tidak berpihak pada mereka. Ban mobil mencicit nyaring di atas aspal sebelum akhirnya kehilangan traksi. Mobil mewah itu meluncur bebas ke arah jurang.
"AHHHHHH!!!"
Suara besi yang beradu dengan pohon dan batu terdengar memekakkan telinga. Mobil itu berguling beberapa kali sebelum akhirnya mendarat dalam posisi terbalik di dasar jurang. Asap hitam mengepul dari kap mesin yang hancur. Di tengah kesadaran yang memudar, Aram melihat bayangan aneh—seorang pria berjubah hitam berdiri di tengah kepulan asap, menatap mereka dengan tatapan yang dingin. Sosok itu seolah menarik sesuatu yang tak kasatmata dari dada mereka berdua.
Lalu, semuanya gelap.
Instalasi Gawat Darurat: Persimpangan Dua Dunia
Rumah sakit kota berubah menjadi medan pertempuran emosi. Dua ambulans datang hampir bersamaan, membawa dua tubuh yang bersimbah darah. Keluarga besar Kailash datang dengan pengawalan ketat, sementara orang tua Aram tiba dengan motor tua dan pakaian kerja yang masih melekat.
"Ini semua karena anakmu!" jerit Grace, suaranya melengking di lorong rumah sakit yang dingin. Ia menunjuk tepat ke wajah Ibu Aram, Bu Idah, yang sedang terisak di pelukan suaminya. "Suami saya adalah aset dunia! Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Dominic, saya pastikan anakmu membusuk di penjara!"
Pak Rudi, Ayah Aram, mencoba membela diri dengan suara gemetar. "Kami minta maaf, Nyonya... tapi anak saya juga sedang bertaruh nyawa. Ini murni musibah."
"Musibah? Itu kelalaian!" bentak Grace lagi. "Jangan berani-berani menyamakan nyawa supir rendahan dengan nyawa seorang Dominic Kailash!"
Ibunda Dominic, Ny. Kailash, yang sejak tadi terdiam, akhirnya melangkah maju. Berbeda dengan Grace, ia memiliki ketenangan yang berwibawa. Ia menyentuh bahu Grace untuk menenangkannya, lalu menatap Bu Idah dengan mata yang sembab. "Sudahlah, Grace. Di sini, mereka berdua hanya dua orang manusia yang sedang terluka. Berdoa adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan."
Dua keluarga itu menunggu di dua sisi lorong yang berbeda, dipisahkan oleh status sosial, namun dipersatukan oleh ketakutan yang sama.
Terbangun dalam Asing
Seminggu kemudian, di dalam ruang Very Important Person (VIP) yang harum dengan aroma lili putih, tangan Dominic mulai bergerak. Grace, yang sedang memoles kuku, segera melompat bangun.
"Sayang? Dominic? Kau bisa mendengarku?"
Kelopak mata itu terbuka. Namun, tatapan yang keluar dari mata Dominic bukan lagi tatapan tajam dan penuh percaya diri. Itu adalah tatapan penuh ketakutan dan kebingungan.
"Ibu... Bapak?" gumam pria di tempat tidur itu. Suaranya serak, namun nada bicaranya tidak seperti Dominic.
Grace mengernyit. "Siapa yang kau panggil, Sayang? Ini aku, Grace. Dokter! Dia sudah siuman!"
Pria di tempat tidur itu panik. Ia melihat ke sekeliling; ruangan itu terlalu mewah, terlalu luas. Mengapa ada banyak pengawal di depan pintu? Dan siapa wanita cantik yang memanggilnya 'sayang' ini?
"Anda siapa? Mengapa saya di sini? Di mana orang tua saya?" tanya pria itu lagi.
"Dominic, jangan bercanda. Ini efek obat, ya?" Grace mencoba tertawa, namun hatinya mulai waswas.
Pria itu meronta, ia ingin turun dari kasur. Dokter segera masuk dan mencoba menahannya. "Tenang, Tuan Dominic. Anda baru saja melewati masa kritis."
"Saya bukan Tuan Dominic! Saya Aram!" teriak pria itu histeris. "Kenapa suara saya jadi begini? Kenapa tangan saya halus sekali?"
Jiwa Aram bergejolak hebat di dalam dada Dominic. Ia meraba wajahnya, merasakan hidung yang lebih mancung dan rahang yang lebih tegas. Saat ia melihat bayangannya di layar televisi yang mati, ia menjerit. Sosok di layar itu adalah majikannya.
"Tidak! Ini tidak mungkin! Kenapa aku menjadi Tuan Dominic?!"
Karena Aram terus memberontak dan mengaku-ngaku sebagai supir, dokter terpaksa menyuntikkan obat penenang. "Ini post-traumatic shock syndrome", bisik dokter pada keluarga Kailash yang tampak pucat.
Kemurkaan di Bangsal Kelas Tiga
Di sudut lain rumah sakit, di sebuah bangsal sempit dengan aroma karbol yang menyengat, pria di tubuh Aram juga membuka mata. Dominic terbangun dengan rasa sakit yang menusuk di sekujur tubuhnya. Ia mencoba duduk, namun kepalanya terasa berputar.
"Alhamdulillah, Aram... kamu sudah sadar, Nak," Bu Idah mencoba membelai dahi anaknya.
Dominic tersentak. Ia menepis tangan Bu Idah dengan kasar seolah tangan itu adalah bara api. "Jangan sentuh saya! Siapa kamu? Dan ruangan menjijikkan apa ini? Mengapa banyak lalat di sini?"
Bu Idah dan Pak Rudi terpaku. "Nak... ini Ibu. Kamu kenapa bicara begitu?"
Dominic melihat tangannya yang berkulit sawo matang, kasar, dan memiliki bekas luka kecil akibat bekerja di bengkel. Ia memandang pakaiannya—kaus oblong tipis yang sudah pudar warnanya.
"Di mana cermin? Berikan saya cermin!" teriak Dominic dengan nada memerintah yang biasa ia gunakan pada pelayan di rumahnya.
Pak Rudi memberikan cermin kecil dari tas istrinya. Saat Dominic melihat pantulan wajah di sana, ia merasakan dunianya runtuh. Wajah itu bukan miliknya. Itu adalah wajah Aram, pria yang ia anggap tidak lebih dari sebuah bayangan di kursi kemudi.
"Ini lelucon macam apa?!" Dominic membanting cermin itu ke lantai hingga hancur berkeping-keping. "Kalian menculik saya? Kalian melakukan operasi plastik pada saya saat saya tidur?!"
"Aram, istigfar, Nak..." Bu Idah menangis tersedu-sedu. "Kami ini orang tuamu. Mungkin kepalamu terbentur terlalu keras."
"Diam! Saya Dominic Kailash! Saya punya jutaan dollar di bank, saya punya koleksi mobil mewah, dan saya adalah pemain sepak bola terbaik di dunia! Saya bukan sopir kumal seperti ini!" Dominic berdiri, mencoba melangkah namun kakinya lemas. Ia terjatuh di lantai yang dingin.
"Aram, jangan bicara begitu, Nak... meskipun kita miskin, jangan sampai kamu hilang ingatan dan menghina orang tuamu sendiri," ucap Pak Rudi dengan suara bergetar karena sakit hati.
Dominic tertawa terbahak-bahak, tawa yang penuh dengan penghinaan. "Orang tua? Saya tidak punya orang tua yang berpakaian seperti gelandangan! Keluar kalian! Panggilkan pengacara saya! Panggilkan Grace!"
Bu Idah dan Pak Rudi keluar dari bangsal dengan hati yang hancur. Mereka tidak mengerti mengapa putra mereka yang biasanya lembut dan sopan kini berubah menjadi monster yang penuh kebencian.
Di dalam bangsal yang pengap, Dominic terus memaki. Ia menatap jarum infus di tangannya dengan jijik. Ia terjebak dalam tubuh orang yang paling ia remehkan, sementara di luar sana, pertandingan besar Piala Dunia sedang menantinya.
Takdir telah melemparkan dadu yang kejam. Sang pangeran kini menjadi jelata, dan sang pelayan kini harus memegang takhta yang tidak pernah ia dambakan.
Aram memegang gagang telepon dengan jemari yang masih gemetar. Di dalam tubuh Dominic yang atletis, ia merasa seperti seorang pencuri yang tertangkap basah, meski ia sedang berbicara dengan pemilik asli tubuh tersebut. Suara di seberang sana adalah suara aslinya—suara Aram—namun nada bicaranya adalah nada bicara sang majikan yang arogan."Ada apa, Aram? Saya Dominic," ucap Aram, mencoba menstabilkan suaranya agar terdengar seperti sang megabintang.Di ujung telepon, Dominic tertawa. Tawa yang getir dan penuh hinaan terhadap nasibnya sendiri. "Kau sudah pandai berakting rupanya? Apa kau menikmati kasur empukku sementara aku harus bertarung dengan kecoa di rumah reyotmu ini? Kau menikmati hidupku, hah?""Saya sangat kesulitan, Tuan," sahut Aram pelan, matanya melirik Grace yang berdiri tak jauh darinya dengan tatapan curiga. "Setiap detik di sini terasa seperti berjalan di atas bara api."Dominic mendengus. Ia mengeluhkan segala hal: udara yang panas, dinding yang pecah, hingga bau
Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar di gym pribadi keluarga Kailash, namun bagi Aram, cahaya itu terasa seperti lampu interogasi. Pelatih Robert berdiri di sana dengan jam sukat (stopwatch) di tangan dan ambisi yang meluap-luap. Di sekeliling mereka, para perawat pribadi dan fisioterapis bersiap dengan peralatan medis."Fokus, Dominic! Piala Dunia tidak akan menunggu kakimu sembuh dengan sendirinya!" suara Robert menggelegar, memenuhi ruangan yang kedap suara itu.Aram, yang berada di dalam tubuh atletis Dominic, mencoba melakukan peregangan statis. Namun, setiap kali ia menarik otot pahanya, rasa nyeri seperti sayatan pisau menjalar hingga ke pinggang. Tubuh ini memang hebat, tapi trauma kecelakaan itu meninggalkan kekakuan yang nyata."Ayo, berjalan ke garis itu. Buktikan pada dunia bahwa sang raja belum mati!" perintah Robert tanpa belas kasihan.Aram mengatupkan rahangnya. Ia mulai melangkah. Satu langkah, dua langkah... ia merasa seperti berjalan di atas paku pana
Langkah kaki Dominic yang berada di dalam tubuh Aram terasa sangat berat saat memasuki rumah petak di pinggiran kota. Bu Idah, yang ia anggap sebagai "wanita asing berbau dapur", menuntunnya masuk dengan senyum bangga karena anaknya telah pulang. Namun, bagi Dominic, rumah itu lebih mirip seperti sel penjara yang menyesakkan.Tembok rumah itu kusam, dengan retakan menjalar di sana-sini seperti urat nadi yang pecah. Langit-langitnya rendah, membuat Dominic merasa oksigen di sekitarnya menipis. Tak ada marmer, tak ada lampu kristal, hanya ada lantai semen dingin dan satu lampu pijar kekuningan yang berkedip-kedip seolah hampir mati."Mas Aram pulang! Mas Aram bawa kue!" seru dua bocah laki-laki, adik Aram, yang langsung menyerbu bungkusan di tangan Bu Idah.Dominic membelalak. Ia melihat bagaimana kedua bocah itu berebut sepotong kue pasar dengan rakus, seolah itu adalah harta karun paling berharga di dunia. Pemandangan macam apa ini? batinnya mual."Pelan-pelan, Rian, Doni... Mas
Kegelapan itu tidak memiliki batas. Tidak ada lantai, tidak ada dinding, hanya kekosongan yang menyesakkan. Di tengah kehampaan itu, Aram dan Dominic melayang tanpa bobot. Satu-satunya sumber cahaya adalah pijar putih pucat yang menyinari sosok raksasa di hadapan mereka: seorang pria dengan jubah hitam yang menjuntai hingga ke tiada, wajahnya tersembunyi di balik bayang-bayang tudung yang pekat."Kita di mana? Lepaskan aku! Kau tahu siapa aku?!" teriak Dominic. Suaranya bergema, namun terdengar kecil di hadapan keheningan yang absolut.Aram tidak berteriak. Ia hanya gemetar, tangannya meraba udara, mencoba mencari pegangan yang tidak ada. Matanya terpaku pada pria berjubah itu. Ia merasa jiwanya telanjang, seolah seluruh dosa dan rahasianya terbaca seperti buku terbuka."Aram... Dominic..."Suara itu tidak keluar dari mulut, melainkan berdentum langsung di dalam kepala mereka. Berat, dingin, dan berwibawa."Siapa kau? Malaikat Maut?" tanya Dominic dengan nafas memburu. Keangkuha
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.