Share

Bab 53

Author: _PenaKaisar
last update publish date: 2026-09-17 21:38:15

‎Beberapa menit setelah Mutan Evolusi Dua itu tumbang, Bayu dan Siti sudah kembali berdebat. Kali ini tentang siapa yang paling berjasa dalam pertarungan tadi.

‎Bayu duduk di atas beton dengan tombaknya yang sudah kembali berbentuk sebatang besi. "Kau lihat sendiri, kan? Aku yang pertama melumpuhkan kakinya. Tanpa itu, kau tidak akan punya celah untuk menusuk lehernya dari belakang."

‎Siti mendengus sambil menggulung lolipop di mulutnya. "Halah. Kalau bukan karena pisauku yang menancap di m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • The Last Regressor: Kesempatan Kedua Untuk Membalas Dendam    Bab 54

    Mereka tiba di markas Cipeundeuy ketika Reivan dan kawan-kawan turun dari mobil mereka. Sebuah benteng pertahanan dengan tembok kokoh yang tinggi yang dibangun dari beton menyambut mereka. Terdapat menara pengawas di setiap sudut dan lampu-lampu tenaga surya yang menerangi area dalam.‎‎Sita yang juga sudah turun dari mobilnya berjalan mendekati Reivan.‎‎"Inilah markas kami. Ayo kita masuk."‎‎Kata Sita lalu berbalik dan berjalan di depan. Reivan mengangguk ketika ia dan kawan-kawannya bersama Nia dan anggotanya mengikuti langkah Sita.‎‎Sita membawa mereka melewati gerbang utama. Beberapa penjaga yang mengenali Wakil Kapten itu langsung memberi jalan tanpa bertanya.‎‎"Kapten sudah menunggu kita di dalam. Setelah aku menghubunginya dengan radio, dia sangat ingin bertemu dengan kalian."‎‎Katanya ketika tiba-tiba perut Bayu berbunyi.‎‎Krruukk!‎‎Semua orang menatap Bayu ketika Bayu hanya menyeringai malu.‎‎"Ehehehe! Aku sangat lapar..." Katanya menggaruk kepalanya yang tid

  • The Last Regressor: Kesempatan Kedua Untuk Membalas Dendam    Bab 53

    ‎Beberapa menit setelah Mutan Evolusi Dua itu tumbang, Bayu dan Siti sudah kembali berdebat. Kali ini tentang siapa yang paling berjasa dalam pertarungan tadi.‎‎Bayu duduk di atas beton dengan tombaknya yang sudah kembali berbentuk sebatang besi. "Kau lihat sendiri, kan? Aku yang pertama melumpuhkan kakinya. Tanpa itu, kau tidak akan punya celah untuk menusuk lehernya dari belakang."‎‎Siti mendengus sambil menggulung lolipop di mulutnya. "Halah. Kalau bukan karena pisauku yang menancap di matanya, kau masih sibuk menghindari serangannya sampai sekarang."‎‎Siska yang sedang menyimpan katananya menoleh ke arah mereka dengan ekspresi lelah. "Kalian berdua selalu saja berdebat. Mutannya sudah mati, jadi tidak usah ribut soal siapa yang paling hebat."‎‎Raka yang duduk di samping Siti hanya tersenyum tipis. Ia menggulung lolipop kedua di mulutnya tanpa berkata apa-apa.‎‎Reivan mengembuskan asap cerutunya pelan. "Kalian semua berkembang. Tapi masih banyak yang harus diperbaiki. Bay

  • The Last Regressor: Kesempatan Kedua Untuk Membalas Dendam    Bab 52

    ‎Mutan Evolusi Dua itu mengaum ke arah kumpulan manusia yang ada di hadapannya.‎‎"ROAR!"‎‎"MO-MONSTER!" teriak empat orang rekan Nia yang masih hidup.‎‎"Kalian pergilah dulu." Kata Reivan saat matanya tak lepas dari Mutan Evolusi Dua itu.‎‎"Lalu bagaimana dengan kalian?" tanya Nia. "Bukankah lebih bagus jika kita melawannya bersama?" ‎‎Reivan menatapnya dengan mata sedikit menyipit. "Kalian hanya akan menjadi pengganggu bagi kami. Jadi biarkan kami yang menyelesaikan yang satu ini."‎‎Reivan menoleh pada Sarah, temannya Nia. "Bawa teman kalian pergi dari sini."‎‎Sarah mengangguk ketika ia menarik Nia menjauh. "Ayo, Nia! Kita harus menjauh sebelum terlambat!"‎‎Mereka berdua berlari menjauh ketika Nia menoleh ke belakang dan berkata. "Bertahanlah! Kami akan mencari bantuan!" Teriak Nia. ‎‎Sementara Mutan Evolusi Dua itu kembali mengaum.‎‎"Roar!"‎‎Ia melesat maju ke arah kelompok Reivan. Reivan melesat ke depan dan menendang Mutan itu.‎‎"Diamlah! Jangan berisik!" K

  • The Last Regressor: Kesempatan Kedua Untuk Membalas Dendam    Bab 51

    ‎"Lariiiiii!" teriak teman-teman Dimas ketika di belakang mereka para Mutan mengejar.‎‎"Roar! Roar! Rawr!"‎‎Sambil berlari menjauh, Dimas menoleh ke belakang ketika menembakkan pistolnya.‎‎Dor! Dor! Dor!‎‎"Matilah kalian, binatang! Jangan mendekat!" kata Dimas sambil terus menembak para Mutan.‎‎Sarah yang berada di depan berseru. "Tidak! Di depan jalan buntu!" Katanya saat melihat tembok tinggi yang ada di depan mereka. ‎‎Sementara Dimas terus menembak dan melawan para Mutan, ia berkata. "Kalian tunggu apa lagi! Ayo cepat keluarkan senjata kalian! Teriaknya pada teman-temannya di sela dirinya terus menembaki para Mutan. Lalu ia melihat Nia yang melawan Mutan dengan tongkat.‎"Oi, Nia! Di mana senjatamu?"‎‎Nia yang mengayunkan tongkatnya untuk menghantam salah satu Mutan yang mendekat ke arahnya berkata. "Aku memberikannya pada anak-anak tadi!"‎‎Dimas menoleh padanya. "Bodoh! Kita di sini tidak bisa melindungi diri sendiri, dan kau malah memberikan senjatamu pada merek

  • The Last Regressor: Kesempatan Kedua Untuk Membalas Dendam    Bab 50

    Reivan berdiri menatap bagasi mobil mereka saat ia memeriksa apa yang mereka temukan.‎‎"Roti, air, obat-obatan, makanan kaleng, mi instan, alkohol..."‎‎Lalu Bayu yang berdiri di sampingnya berkata. "Kau pasti akan senang melihat ini, Van..."‎‎Bayu mengangkat satu pak rokok.‎‎"Ooh? Ada rokok?" Reivan membelalakkan matanya ketika ia sedikit tersenyum.‎‎Bayu menatap Reivan ketika ia menaikkan alisnya dan berkata seraya tersenyum. "Hehe, coba kau perhatikan baik-baik, Van... ini adalah satu boks cerutu dari tahun seribu sembilan ratusan. Gimana?” Tanya Bayu dengan nada membanggakan diri. ‎Reivan tersenyum lalu memegang boks itu. "Bagus-bagus," katanya saat ia menepuk pundak Bayu. "Cukup untuk merokok cukup lama."‎‎Reivan kemudian menyimpan boks rokok itu ke dalam bagasi lalu menutupnya.‎‎Bug!‎‎Ia kemudian berkata setengah berteriak kepada teman-temannya. "Ayo siap-siap, kita berangkat sekarang!"‎‎Dan itu dibalas anggukan oleh mereka. "Oke, Kak!" seru Siti dan Raka bers

  • The Last Regressor: Kesempatan Kedua Untuk Membalas Dendam    Bab 49

    ‎Di dalam bak sebuah truk yang melaju kencang, sekelompok mahasiswa duduk berdesakan. Mereka adalah orang-orang yang dikirim oleh kelompok Kapten Satria.‎‎Seorang pria berambut gondrong bernama Dimas mengeluh dengan kesal. "Sialan! Mereka seenaknya aja nyuruh kita kerja!"‎‎Seorang wanita berambut panjang bernama Sarah menimpali. "Cukup. Kita udah bergantung hidup sama mereka. Wajar kalau mereka nyuruh kita kerja."‎‎Dimas mendecak. "Apa kalian rela diperlakukan kayak gini? Kita ini mahasiswa dari universitas ternama!"‎‎Seorang pria berkaos coklat yang duduk di sampingnya menghela napas. "Kau nggak perlu ngungkit itu. Aku bahkan udah dapet tawaran kerja di perusahaan. Masa depanku harusnya cerah. Tapi sekarang..."‎‎Ucapannya terpotong saat ia melihat area sekitar yang hancur. Ia hanya bisa menghela napas.‎‎Dimas menimpali lagi. "Seharusnya sekarang aku udah lanjut S2 di luar negeri. Visaku bahkan udah siap."‎‎Seorang wanita berambut hitam yang diikat ekor kuda bernama Nia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status