Share

Ruang Teh

Author: Aster Chronos
last update publish date: 2026-10-07 19:43:57

"Dan lalu... seingatku Countess pernah mengatakan soal Lady Elara yang cenderung memendam perasaan jika ada sesuatu yang terjadi. Kemungkinan itu juga bisa dipertimbangkan—bahwa Lady Elara sengaja menyembunyikan soal Kaisar dari kalian," tambah Mara.

"Siapa pun di istana memang harus masuk ke daftar tersangka," cetus Jane tegas. "Dugaanmu itu terdengar cukup mustahil, tapi tidak ada salahnya dibuktikan. Lalu apa yang akan kamu lakukan di pesta dansa nanti?"

"Bukankah dansa mengalirkan keintiman
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • The Prince's Dead Mistress   A Price to Pay

    “Tadi seenaknya membuat keributan! Sekarang, kenapa tak ada satu pun dari kalian yang berani bersuara, hah?” bentak Marchioness Selena.Seluruh pihak yang terlibat dalam perkelahian, beserta beberapa saksi, kini telah dikumpulkan di ruang tengah kediaman keluarga Folkenstein. Mereka duduk berjajar di hadapan sang Marchioness.Di sisi kanan, Mara duduk di antara Emily dan Sarah. Sementara itu, di sisi kiri, Florencia duduk bersama Cedric dan Theon.Rambut Emily dan Florencia masih berantakan akibat perkelahian tadi. Keduanya enggan saling menatap, meski sesekali melirik dengan tatapan kesal.“Dan kau, Cedric!” Selena beralih kepada putra sulungnya. “Kau melihat adikmu kehilangan kendali, tetapi malah diam saja menonton!”Cedric mengangkat bahu. “Aku tidak suka keributan. Lagi pula, Emily sendiri yang memulainya.”“Ibu!” Emily langsung menyela. “Kalau Florencia tidak memprotes kemenangan kelompok kami, keributan tadi tidak akan terjadi. Dia ju

  • The Prince's Dead Mistress   Perkelahian Dua Lady

    Peluit terakhir berbunyi, seluruh peserta menurunkan busur mereka.Butler yang memimpin kompetisi maju ke depan sambil membawa catatan perolehan poin. Ia berhenti sejenak, membiarkan para peserta menunggu dengan tegang.“Setelah menghitung seluruh poin dari setiap kelompok, kami telah mendapatkan hasil akhirnya!”Mara merapatkan jemarinya di sekitar busur. Di sampingnya, Emily tampak berusaha menahan senyum, sementara Cedric berdiri dengan kedua tangan bertumpu di pinggang.“Juara ketiga diraih oleh kelompok nomor dua!”Tepuk tangan terdengar dari salah satu sisi lapangan.“Juara kedua diraih oleh kelompok nomor lima!”Kini, hanya tersisa satu pengumuman. Mara menoleh kepada Sarah, yang balas menatapnya dengan mata membesar.“Dan juara pertama kompetisi panahan kali ini jatuh kepada kelompok nomor tujuh, dipimpin oleh Lady Emily!”Emily menjerit kegirangan, lalu melompat dan merengkuh Mara serta Sarah sekaligus.“Kita menang! Kita benar-benar menang!”Namun, sorak-sorai itu mendadak t

  • The Prince's Dead Mistress   Melesat di Udara

    Lidah Mara mendadak kelu saat melihat Theon berjalan ke arah mereka. Jantungnya berdegup lebih cepat, sementara jemarinya tanpa sadar mengerat pada busur yang dipegangnya.Pria berambut hitam legam itu mengenakan setelan biru tua yang membuat penampilannya tampak berkharisma.“Ah, kebetulan sekali, Tuan Muda Theon,” ujar Cedric. “Kami sedang mencari anggota kelima.”Emily menyilangkan tangan di depan dada dan membuang muka.Theon menatap Mara yang masih menatapnya sejak tadi. "Kita bertemu lagi, Lady Mara," sapanya meraih tangan Mara dan mengecup punggung tangan gadis itu.Mara sedikit tergagap. Sarah yang berada di sampingnya melongo, begitu juga Emily yang tak mampu menyembunyikan reaksi shocknya.Theon menyunggingkan senyum tipis sebelum melepaskan tangan Mara. Ia kemudian menoleh kepada Sarah dan Emily secara bergantian.“Jadi, bagaimana? Sepertinya kompetisi akan segera dimulai.”Emily melirik kelompok-kelompok lain yang mulai bersiap di garis batas. Dengan enggan, ia menghela na

  • The Prince's Dead Mistress   Demi Menyelamatkan Keluarga

    “Yeah... aku sudah terlibat terlalu jauh.”Raut wajah Mara berubah muram. Kekhawatiran tampak jelas di matanya.“Kita usahakan agar perubahan ini tidak membawa dampak buruk. Kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri atas sesuatu yang belum terjadi,” ujar Jane menenangkan.Mara mengangguk. Kemudian, ia mengeluarkan beberapa lembar catatan dari dalam tasnya, lalu menyerahkannya kepada Alaric.Catatan itu berisi puisi-puisi Elara yang berhasil ia terjemahkan, beserta rangkuman penyelidikan yang sebelumnya ia tulis di papan tulis.“Bagian yang berhasil kuterjemahkan sudah kutandai dengan kertas penanda. Kalian bisa memeriksanya.”Alaric menerima buku dan lembaran catatan itu, lalu membacanya satu per satu. Dahinya berkerut ketika menemukan bagian tertentu.“Upaya peracunan?”“Kakakku pernah menceritakannya,” jawab Eron. “Ada seseorang yang mencoba meracuninya, tetapi upaya itu berhasil digagalkan. Sayangnya, aku tidak tahu siapa pelakunya.”Alaric meletakkan catatan tersebut di atas meja.

  • The Prince's Dead Mistress   Sejarah Mulai Berubah

    Alaric menjentikkan jari, memberi isyarat kepada Matthew yang berdiri tak jauh dari mereka. Sang kesatria segera mendekat, menyerahkan sebuah gulungan kertas kepada Eron, lalu kembali ke tempatnya semula.“Nama-nama yang tercantum di sana adalah orang-orang yang perlu kalian awasi,” lanjut Alaric.Eron membuka gulungan itu dan membaca isinya sekilas.“Bagaimana jika kami mengganti mereka dengan pelayan pilihan kami sendiri?”“Jangan terburu-buru,” sahut Lucien. “Untuk sementara, bersikaplah seperti biasa. Jika kau langsung menyingkirkan orang-orang yang ditempatkan Kaisar, tindakanmu bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap pemberiannya.”“Lucien benar,” tambah Alaric. “Kau tidak bisa begitu saja memecat atau mengganti orang-orang itu sesaat setelah menerima mansion tersebut. Tunggu sampai beberapa waktu berlalu. Setelah itu, kau bisa mengganti mereka dengan alasan membutuhkan pelayan yang lebih sesuai dengan kebutuhan rumah tanggamu di Kaisergard.”Eron mengangguk pelan, memahami ma

  • The Prince's Dead Mistress   Gadis dari Masa Depan

    “Maksudku…”“Jelaskan dengan terus terang apa yang sebenarnya kau maksud dengan perkataanmu tadi,” potong Lucien tajam. Tatapannya tertuju pada Mara, seolah tak akan membiarkannya menghindar dengan jawaban setengah-setengah.Eron mengernyit. Ia mengamati wajah Mara beberapa saat sebelum mengajukan pertanyaan yang bahkan terdengar asing baginya sendiri.“Jangan-jangan… kau benar-benar berasal dari masa depan?”“Sejujurnya, aku sudah lama curiga,” timpal Jane. Berbeda dari Eron yang masih tampak ragu, perempuan itu berbicara dengan tenang, “Pengetahuanmu jauh melampaui orang-orang di zaman ini. Belum lagi caramu memprediksi tindakan Kaisar dengan begitu yakin, seolah-olah kau sudah tahu apa yang akan terjadi.”Mara terdiam sambil menatap Alaric.Namun, sang pangeran hanya membalas tatapannya dengan sebelah alis terangkat dan sudut bibir yang nyaris membentuk senyum. Tatapan itu seolah berkata, Kau sendiri yang ceroboh. Sekarang tanggung akibatnya.Mara mendengus kesal. Tentu saja Alaric

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status