Home / Romansa / The Prince's Dead Mistress / Senyuman Bersimbah Duka

Share

Senyuman Bersimbah Duka

Author: Aster Chronos
last update publish date: 2026-10-01 07:44:40

Aurelian mengangkat sebelah alisnya. Sesuatu di balik matanya tampak menggelitik geli saat menatap Isolda dengan senyum tak tertebak—entah terhibur, kagum, atau tengah menyembunyikan rencana.

Duke Evan menepuk pelan telapak tangannya, seolah baru teringat sesuatu.

"Ah, aku hampir lupa mengucapkan belasungkawa pada Countess," ucapnya, menatap Isolda dalam-dalam sebelum berganti memandang Alaric. "Juga padamu, Alaric. Semoga kedamaian menyertai kalian setelah ini. Bagaimanapun, hal yang menimpa E
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • The Prince's Dead Mistress   Senyuman Bersimbah Duka

    Aurelian mengangkat sebelah alisnya. Sesuatu di balik matanya tampak menggelitik geli saat menatap Isolda dengan senyum tak tertebak—entah terhibur, kagum, atau tengah menyembunyikan rencana.Duke Evan menepuk pelan telapak tangannya, seolah baru teringat sesuatu."Ah, aku hampir lupa mengucapkan belasungkawa pada Countess," ucapnya, menatap Isolda dalam-dalam sebelum berganti memandang Alaric. "Juga padamu, Alaric. Semoga kedamaian menyertai kalian setelah ini. Bagaimanapun, hal yang menimpa Elara memang harus terjadi—demi menjaga kehormatan mahkota."Hening. Tak ada balasan dari Alaric maupun Isolda. Mara hanya mendapati jemari Isolda mengepal kencang pada gagang kipasnya. Wajah wanita itu tetap dingin tak beriak, seolah kalimat beracun tadi angin lalu belaka."Benar," sahut Aurelian, suaranya tenang namun berat. "Aku pun berharap hubungan Kekaisaran dan Veyne tak terpengaruh oleh peristiwa itu."Ia melempar tatapan lurus ke arah Duke Evan."Ikatan kita dirajut ratusan tahun lalu ol

  • The Prince's Dead Mistress   Sosok Penumpah Darah

    Mara menoleh mengikuti arah pandang semua orang.Alaric melangkah masuk. Raut wajahnya kembali terkunci dalam topeng dingin yang biasa ia kenakan di depan umum.Di sisinya, Adelaide berjalan dengan jemari terpaut erat di lengan Alaric, gaun merah marunnya mengembang anggun seiring langkahnya yang penuh percaya diri.Mata Alaric sempat bertemu sekilas dengan Mara. Tak ada lagi jejak kehangatan yang samar-samar pernah ia rasakan dari pria itu.Mara menegakkan punggungnya, menahan napas pelan. Sejak pelukan di kereta menuju Kuil Seraphine, pria itu mengunci diri rapat-rapat."Yang Mulia Putra Mahkota dan Putri Mahkota," Isolda membungkuk anggun.Alaric mengangguk singkat pada Countess dan Eron.Begitu tiba di hadapan Mara, tatapannya hanya menyapu sekilas—tak sampai sedetik—sebelum membuang muka dan berbalik penuh ke arah Adelaide.Adelaide tersenyum puas, melirik Mara dengan sorot mata penuh kemenangan yang terang-terangan.Mara tak merasa terganggu sama sekali dengan tatapan itu.Di za

  • The Prince's Dead Mistress   Jamuan Istana

    "Nak, angkat dagumu! Jalan menunduk membuatmu terlihat tidak percaya diri," tegur Isolda seraya menaikkan dagu Mara menggunakan ujung gagang kipasnya.Mara mengembuskan napas kasar. Ia tak bisa membantah, meskipun kakinya terasa mau patah menopang tubuhnya sendiri. Gaun berlapis yang ia kenakan begitu berat, membuat setiap langkah terasa seperti menenteng karung gandum.Sudah tiga jam ia dipaksa menguasai tata cara berjalan ala bangsawan demi menghadiri undangan jamuan istana yang dikirim tadi malam."Nah tanganmu juga jangan lesu," kritik Isolda lagi, melihat tangan Mara bergelantungan tak tahu arah."Sulit sekali fokus menggerakan tubuh dan pandangan secara bersamaan Countess," gerutu Mara, goyah sesaat sebelum menyeimbangkan tubuhnya kembali.Isolda menjentikkan jari, meminta Mara melanjutkan latihannya tanpa banyak bicara. Namun, Mara seketika melepas sepatunya dan bersandar ke dinding."Apakah ini benar-benar harus dilakukan? Countess bisa bilang putrimu yang hilang ini belum semp

  • The Prince's Dead Mistress   Undangan Menjelang Fajar

    "Iya, Countess. Akhirnya aku memeluk dia... karena merasa dia menyedihkan." Mara menatap ke arah kegelapan danau, helaan napasnya terdengar berat. "Tapi setelah itu dia mengabaikanku."Keheningan merayap cukup lama di antara mereka, hanya diselingi kepakan sayap burung malam dari seberang danau."Dia tidak mengabaikanmu karena benci, Mara," bisik Isolda pelan, suaranya sarat akan pemahaman yang getir. "Dia mengabaikanmu karena dia ketakutan."Mara menoleh, alisnya bertaut heran. "Ketakutan?"Isolda mengangguk pelan. "Meskipun aku tidak terlalu dekat dengannya, dia bagaimanapun adalah menantuku. Aku cukup lama memperhatikan sikapnya saat bersama Elara. Dia bukan orang yang mudah membuka diri."Isolda menatap lurus ke dalam mata Mara, suaranya mengalun tenang namun dalam."Ada alasan untuk itu. Permaisuri Daphne, ibu kandung Alaric, meninggal saat usianya baru lima tahun. Ada rumor ia diracun, tapi tidak pernah ada bukti yang cukup kuat. Tidak lama setelah itu, selir Gwen—ibu Pangeran L

  • The Prince's Dead Mistress   Bukan Bayang-Bayang Elara

    Kata-kata Isolda menggantung di udara malam, bergetar bersama desir angin yang menyapu permukaan danau.Mendapati Mara yang terdiam, Isolda mencoba menjelaskan lebih lanjut dengan hati-hati."Maksudku... jika kamu berkenan. Kamu tidak hanya menjadi putriku untuk kepentingan kasus Elara, tapi selama kamu menjalaninya, kamu benar-benar boleh bersandar padaku."Mara memandangi genggaman Isolda di tangannya, lalu perlahan menarik jemarinya mundur."Countess... sebenarnya, aku lelah dianggap orang lain.""Bukan begitu... aku bukan menganggapmu sebagai Elara. Aku ingin memberimu rumah yang sungguhan, sebagai dirimu sendiri. Aku hanya merasa... tidak ingin kamu merasa dimanfaatkan," lanjut Isolda pelan, suaranya sarat keteguhan."Tawaran itu benar-benar menggiurkan, Countess. Rasanya aku hampir melompat kegirangan, karena mungkin akhirnya aku punya keluarga lagi, selain kakekku," balas Mara, kemudian berhenti sejenak."Tapi... apa alasan Countess sebenarnya melakukan itu? Melihat bagaimana or

  • The Prince's Dead Mistress   Perempuan di Gundah Malam

    Kereta memasuki pelataran mansion tepat saat malam. Di sepanjang gerbang, pendar kuning dari lentera-lentera dinding menyala samar, memantulkan bayangan roda kereta yang bergoyang di atas hamparan kerikil basah.Countess Isolda dan Philip berdiri menanti di puncak anak tangga.Matthew melompat turun dari kudanya, lalu mengulurkan tangannya pada Mara.Begitu telapak kakinya menjejak lantai batu, Mara meringis karena rasa panas dan nyeri dari lecet di tumitnya menusuk hingga ke tulang."Mara apa yang terjadi padamu?" tanya Isolda yang berlari terburu-buru menghampiri Mara."Hanya lecet, Countess. Aku tidak terbiasa menggunakan sepatu hak tinggi untuk jalan terlalu lama.""Apakah sudah diobati?'Mara melirik ke arah Alaric yang baru turun dari kereta kuda. "Tadi Yang Mulia sudah membantuku membasuh lukanya dengan air. Tidak perlu khawatir, hanya luka kecil."Countess Isolda menghembuskan napas kasar, lalu merangkul pundak Mara. "Bagaimana belanja hari ini? Sudahkah menemukan gaun yang ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status