LOGINHer mother's death and her being wolfless made everything in her life change. Having given up on life, Leila tried to commit suicide but was shocked when she realised she had a second chance mate and wolf. Will her second chance mate accept her?
View More***
"Yudistira kabur."
Bagai disambar petir di siang bolong, itulah yang dirasakan Elliana setelah sebuah informasi buruk didapatkannya dari Athlas—sang papa yang kini berdiri persis di depannya.
Sudah cantik dengan kebaya putih juga sanggul bahkan siger, hari ini Elliana seharusnya menikah dengan Yudistira sang kekasih. Menyiapkan pesta selama dua bulan, acara siap digelar di sebuah hotel berbintang dan tanpa ada hambatan, semua berjalan dengan lancar sampai akhirnya beberapa waktu lalu—tepat pukul setengah sembilan, Elliana dihampiri kedua orang tuanya yang datang untuk memberikan kabar buruk.
Sang calon suami dan kedua orang tuanya tak kunjung datang.
Itulah kabar yang didapatkan Elliana dari kedua orang tuanya dan tentu saja hal tersebut membuat moodnya memburuk. Hampir menangis karena rasa takut yang datang menghampiri, Elliana berusaha bersikap tenang kemudian menunggu sang papa melakukan konfirmasi sampai akhirnya setelah beberapa menit berlalu, pria itu kembali.
Bukan membawa kabar baik tentang Yudistira yang mungkin saja terjebak macet, sang papa justru datang memberikan kabar buruk tentang sang calon suami yang katanya kabur dan tak hanya Elliana, orang-orang di dalam kamar pun ikut terkejut usai mendengar pernyataan tersebut.
"Ka-kabur?" tanya Elliana dengan kedua mata berkaca-kaca. "Kabur gimana maksud Papa? Jangan bercanda deh, ini enggak lucu."
"Ya kabur, pergi," kata Pria itu dengan rahang yang juga mengeras karena tentu saja sekarang dia emosi. "Barusan Papa berhasil hubungin Papanya Yudis dan beliau bilang anak sialannya enggak ada. Enggak tahu kapan pergi, tapi yang jelas pagi-pagi banget dia udah enggak ada dan salah satu kopernya hilang."
"Enggak," sanggah Elliana sambil menggeleng. "Yudistira enggak mungkin kabur, Pa. Dia enggak mungkin pergi. Dia pasti datang karena dia mau nikahin aku. Dia udah janji dan-"
Tak selesai bicara, Elliana lebih dulu menangis dan tak lagi berdiri, perempuan itu kini duduk di ujung kasur dengan rasa sedih yang tentu saja datang.
Ditinggal kabur sang calon suami, demi apa pun Elliana tak menyangka jika hal tersebut akan terjadi padanya karena hubungan dia dan Yudistira selama ini sangat baik. Meskipun awalnya dia dan pria itu dijodohkan, rasa cinta sudah lama muncul dan tak sebentar, hubungan mereka pun sudah berlangsung dua tahun sehingga sakit rasanya ketika sekarang—tepat di hari pernikahan mereka, sang calon suami pergi.
"Yudis ke mana, Ma? Dia enggak mungkin kabur," lirih Elliana yang kini tengah ditenangkan oleh sang mama, sementara sang papa sendiri sibuk membicarakan semuanya dengan anggota keluarga yang lain karena kaburnya calon suami Elliana jelas bukan masalah sepele. "Dia udah janji buat nikahin aku bahkan semalam dia masih hubungin aku. Coba tanya lagi, Ma, siapa tahu ada sesuatu terjadi sama Yudis."
"Tenang ya, sayang, kamu jangan nangis. Papa lagi coba cari solusinya dan Papa pasti lakuin yang terbaik. Jangan nangis ya."
"Gimana aku mau tenang kalau calon suami yang harusnya nikahin aku, enggak ada, Ma?" tanya Elliana. "Mau taruh di mana muka aku kalau orang-orang tahu aku ditinggal nikah sama calon suami aku."
Tak tahu harus menjawab apa, perempuan di samping Elliana itu hanya bisa menenangkan Elliana hingga sang suami yang pergi beberapa menit lalu untuk membicarakan semuanya, kembali dan tak diam, pria itu berkata,
"Papa udah hubungin Papanya Yudis lagi buat pastiin dan sampai sekarang Yudistira enggak ada," kata Athlas. "Barusan Papa bicarain semuanya sama keluarga besar dan mereka kompak minta Papa buat terus lanjutin pestanya karena nama baik keluarga kita dipertaruhkan kalau sampai pesta pernikahan Elliana batal. Tamu yang datang juga udah banyak."
"Mau lanjutin gimana kalau Yudistira aja enggak ada, Pa?" tanya Elliana. "Dia yang harusnya nikahin aku dan seka-"
"Kakak siap gantiin Yudistira."
Belum selesai Elliana bicara, seorang pria lebih dulu buka suara—membuat atensi dia juga kedua orang tuanya tentu saja beralih. Bukan orang lain, pria berkemeja batik tersebut adalah Sagara—kakak angkat Elliana yang kini berdiri dengan raut wajah serius.
Bukan sembarang kakak angkat, Sagara sudah lama memiliki perasaan cinta pada Elliana dan tentunya tak sekadar menyimpan, pria itu sempat pula menyatakan cintanya pada sang adik angkat. Namun, ditolak karena Elliana hanya menganggapnya sebagai kakak. Tak lebih.
"Maksud Kakak apa?" tanya Elliana.
"Ya karena Yudistira kabur dan kamu harus tetap menikah, Kakak siap gantiin dia buat nikahin kamu," ucap Sagara. "Kita bukan saudara sedarah dan khalayak ramai tahu status kita. Jadi aku pikir enggak masalah kalau kit-"
"Enggak!" tolak Elliana dengan segera. "Kakak enggak bisa nikahin aku karena kita saudara. Aku sama kakak emang enggak ada hubungan darah, tapi aku udah anggap kakak seperti kakak kandung aku sendiri. Jadi mustahil kalau kita nikah. Jangan ngaco deh, Kak."
"Kenapa ngaco?" tanya Sagara. "Sekarang kakak tanya, kamu mau menikah sama siapa kalau Yudis enggak ada? Apa kamu enggak dengar ucapan Papa barusan? Nama baik keluarga besar kita tercoreng kalau pesta pernikahannya batal dan-"
"Aku enggak mau, Kak!" tolak Elliana lagi. "Aku enggak mau permalukan keluarga besar aku, tapi aku juga enggak mau nikah sama Kakak. Kita saudara, Kak, dan kit-"
"Bukan kandung," potong Athlas yang sejak beberapa detik lalu mencerna tawaran Sagara yang menurutnya bisa jadi solusi. "Saran Sagara menurut Papa cukup baik karena kamu sama dia bukan saudara kandung dan orang-orang tahu itu. Daripad batalin pesta, mendingan kamu nikah sama Kak Sagara dan-"
"Pa," desah Elliana. "Aku-"
"Ide bagus." Belum selesai Elliana buka suara, sebuah pendapat diberikan seorang pria yang tak lain adalah sang Paman. "Karena cari pengantin pengganti itu susah, enggak buruk kalau Sagara yang menikahi kamu. Dia baik dan kita semua tahu bagaimana tingkah laku Sagara. Jadi enggak ada salahnya kamu terima pertolongan Kakak kamu. Enggak mau, kan, bikin nama besar keluarga kita tercoreng? Bukan cuman nama keluarga besar, tapi nama kamu pun akan ikut jelek bahkan mungkin orang-orang akan meledek kamu Elliana. Mau emangnya?"
Tak menjawab, Elliana hanya memandang sang paman dengan perasaan yang tentu saja bingung hingga beberapa pernyataan dari anggota keluarga besarnya yang hampir semua mendukung Sagara membuat dia tentu saja terjepit.
Tak langsung menjawab, pada akhirnya Elliana meminta waktu pada semua orang agar dibiarkam sendiri di dalam kamar dan karena waktu terus berjalan, Elliana hanya diberikan kesempatan selama lima menit untuk berpikir.
"Ya Allah aku harus apa?" tanya Elliana setengah mendesah. "Aku cinta sama Yudistira, tapi aku juga sakit hati atas apa yang dia lakuin. Menikah dengan Kak Gara ... itu juga terlalu enggak masuk akal, tapi aku juga enggak punya opsi lain karena cuman dia harapan aku sama keluarga."
"Ah, aku harus apa?!"
Waktu lima menit akhirnya habis, Elliana dengan segera membuka pintu dan apa yang dia lakukan tentu saja menarik perhatian semua orang terutama sang papa yang kini langsung menghampiri untuk kemudian bertanya,
"Gimana Elliana, mau enggak kamu nikah sama Kak Sagara?"
"Iya aku mau, tapi aku juga punya syarat yang mau diajuin dan aku harap Papa setuju."
Mendengar ucapan sang putri, pria di depan Elliana tersebut tentu saja mengerutkan kening dan tanpa banyak menunda, dengan segera dia bertanya,
"Syarat apa memangnya?"
Third POV.“Lyannette, go back home. Your father and I will go down there to see where we can help if Leila is in danger,” Selene said to her daughter who was walking out of Erebus's mansion.“Okay. I will be busy here anyway,” she said as she winked at her mom who chuckled as she understood what she was up to.Although it was risky doing so, she knew that Lynette was stronger than others thus she couldn't be defeated. Also, she would ask some of the warriors to be at her disposal if she needed their help.Erebus stood still as he was confused cause he didn’t know what to do.At the rogue's pack:Amaya looked at Oizys coldly as if she had never seen someone with the guts to hurt her. She looked at the puppet that had walked in with Oizys and had been standing behind her as if it were her bodyguard. The more she looked at it the more she felt familiar, making her frown as the only people she was supposed to feel familiar with were her mother and Elaine.The puppet felt eyes on it making
Third POV. “Dad?” Elana asked as she couldn’t believe it. Although it had been a long time since she saw her father, she couldn’t still recognize his voice anytime she heard it. She turned around and looked at the man who was at the entrance. If one didn’t know, they would mistake Josiah for being older than the other man because the man still looked young. “Yes it is me, my dear child,” Elias said with a smile on his face when he hurriedly walked towards his eldest daughter. Elana forgot how the others always saw her, ran towards her father, and jumped into his arms. “Dad. Why did you leave us?” she asked in a whisper as she cried. She poured all the grievances she had suffered and she had endured cause she didn’t want either Marcus or Leila to know on her father’s shoulder. “I am sorry dear but I have always had an eye on you guys,” Elias said as he patted her back as a way to soothe her. Hearing this, Elana stopped crying and looked at her father with anger in her eyes. “
Third POV. The more Oizys continued to inject Leila with the drug the more she frowned. It was supposed to work after ten times but she had injected her more than twenty times. Cause of this, she started to doubt whether Leila’s darkness was really locked up or not. “Leila, are you sure your darkness hasn’t awakened yet?” she asked with a frown on her face. As someone who has been taught how to read people’s expressions, Leila could tell that she had continued playing dumb for a long time making Oizys start suspecting her. Leila looked at her innocently and in confusion. “Aunt, you know I don’t know how to tell when my darkness is awake,” Leila said, making the alpha chuckle while Oizys face slapped herself cause she now understood why Leila wasn’t saying anything else apart from crying out loudly when she was being injected. She felt frustrated at how stupid she was believing that the little girl could detect it. “What are you feeling currently?” Oizys asked with a bit of worr
Third POV. “Why did I even marry you in the first place?” Erebus continued cussing at the woman making everyone halt what they were doing and looked at him. They had never seen him be so angry before thus it was quite shocking. Lynnette looked at her father in amusement and knew that if things escalated to this point, he might make them suffer so much. Now, she indeed understood her value and position in her father’s heart. “Dear, what are you saying? Don’t forget that I am even more pure than you! You have darkness in you which causes you to be evil. Can’t you think that it was the darkness inside them that made them be how they are now? Be so malicious and have the urge to see blood?” the wife asked, making Erebus even more furious. “You woman! I will kill you today!” he shouted angrily but the woman just rolled her eyes as she wasn’t afraid of death cause she knew that she would still die today even if she remained silent. “I know that even if you won’t kill me your precious d
Third POV.“Lyannette gave birth?” he asked in disbelief.“Yes sir. She has two daughters, Elana and Leila but they have lived all their lives on the land,” the servant answered as she looked up to see the expression on his face.“I have granddaughters? My precious girl has two daughters. Why have I ne
Third POV. “What are you doing?” He asked immediately before the servant went as he felt that his wife was acting rather restless “What are you trying to say? I have to go so that he can save Leila!”Selene told him immediately as she panicked, making Endymion frown. He also had always thought that
Third POV. The almighty Erebus coward upon hearing the stern angelic yet cold voice. He looked in the direction and saw Selene and Endymion walk in. Although he was looking at them, they were looking at Lyannette who was standing beside Erebus as they were shocked to see her there. “Lyannette, what
Third POV.Leila cooperated with Oizys to give her what she wanted with an innocent look on her face.Oizys looked at Leila and felt that she was so stupid and she felt that she was as lucky as she would be able to control Leila’s darkness when it awakes as it would have been awakened by her and not i






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.