LOGINSetelah berpamitan pulang kepada ayahnya, Svanna mengambil langkah secara tentatif melewati lorong yang pernah membawa dia pada suatu informasi serius, meski itu adalah gambaran paling menyakitkan.
Kamar rawat di sana .... Svanna menelan ludah kasar saat jarak tempuhnya sudah semakin dekat. Berharap tidak memberanikan diri sekadar terus melanjutkan, tetapi rasa ingin tahu terkadang bertindak dengan kurang ajar. Tidak dimungkiri bahwa ada keabsahan yang memberinya lebih banyak“Datang ke ruang rawat Yohana sekarang." "Ya, bawa pakaian ganti.” Percakapan Nightroe bersama seseorang selesai, tetapi Svanna merasa itu seperti menunggu daftar badai berikutnya. Begitu banyak ketakutan menyergap, seolah – olah sudah tidak ada lagi hal waras dapat dipertahankan. Semua hilang. Nightroe hanya berhenti ketika pria itu merasa puas, sementara apa yang telah dia hadapi adalah ketakutan. Ironi di balik ironi. Semua menjadi percuma. Nightroe tidak akan mengerti bagaimana rasanya menjadi seseorang yang tak berdaya. Bukankah tujuan pria itu sejak awal sudah lebih daripada mantap untuk membuatnya menghadapi sisi traumatis? Nightroe berhasil. Pria itu benar – benar berhasil. Barangkali pula, bajingan kejam sepertinya tak sadar bahwa telah melakukan tindakan pemerkosaan, alih – alih memperlakukan dia sebagai seorang istri. Tidak akan pernah. Svanna tidak pernah dianggap seperti seseorang yang perlu diperlakukan dengan hormat, meski hubungan pernika
“Kau mau apa, Nightroe?” Betapa Svanna bisa mendengar suaranya luar biasa gemetar hebat. Apa pun tujuan Nightroe, barangkali itu tak lepas dari hasrat untuk menghukum. Dia bisa melihat langsung bagaimana mata sapphire itu menyimpan banyak bentuk gumpalan pekat yang perlu dilampiaskan. “Nightroe ....” Lagi. Svanna harap bisa menarik Nightroe ke permukaan. Pria itu terlihat sedang dilingkupi kemarahan yang luar biasa tak terduga. Apakah Nightroe sungguh berpikir dia dan Orlando melakukan sesuatu di sini? Terlihat sangat dekat dengan kontak fisik tadi? Tidakkah pria itu menilai dari sudut pandang lebih positif? Yang merupakan bagian dari kebenarannya .... Percuma. Sekarang Svanna harus menerima kenyataan bahwa Nightroe baru saja menjebak mereka di satu ruang bertiga ... dengan tirai yang bahkan menutup celah apa pun dari luar. Ini tidak benar. Nightroe harus mengerti apa yang pria itu lakukan nanti dapat mengancam nyawa seseorang. Sekarang bukan lagi tenta
Setelah berpamitan pulang kepada ayahnya, Svanna mengambil langkah secara tentatif melewati lorong yang pernah membawa dia pada suatu informasi serius, meski itu adalah gambaran paling menyakitkan. Kamar rawat di sana .... Svanna menelan ludah kasar saat jarak tempuhnya sudah semakin dekat. Berharap tidak memberanikan diri sekadar terus melanjutkan, tetapi rasa ingin tahu terkadang bertindak dengan kurang ajar. Tidak dimungkiri bahwa ada keabsahan yang memberinya lebih banyak gambaran dan tingkat rasa penasaran yang membludak. Entahlah, Svanna merasa dia tidak baik – baik saja jika tidak melihat langsung sesuatu—mungkin sedang Nightroe lakukan di dalam sana, meski dia tahu risiko seperti apa yang akan diterima, jika pria itu mengetahui sikap lancangnya. Sekarang atau tidak pernah. Svanna menelan ludah kasar. Menegakkan tubuh sembari memastikan bahwa dia ternyata akan lebih siap menghadapi apa pun nanti. Mungkin hanya perlu tidak memberi Nightroe petunjuk b
“Yang kudengar dia adalah donatur untuk rumah sakit besar ini. Jadi, kupikir itu sudah menjadi kewajibannya ada di sini.” Ayahnya masih diliputi pemikiran positif tentang pria itu. Andai saja Svanna tidak pernah tahu tentang keberadaan Yohanna di rumah sakit yang sama, mungkin dia juga akan dicecoki gambaran serupa; menyanjung betapa besar empati Nightroe terhadap orang – orang di sekitar. Hal tersebut jelas adalah sesuatu yang salah. Ada niat terselubung dan semua masih menjadi motivasi rahasia bagi mereka yang hijau. Yohanna adalah alasan terbesar, mengapa Nightroe sering berkeliaran di sekitar ayahnya .... “Apa kau melihatnya selama tiga hari di sini, Papa?” Svanna tidak akan menahan diri lebih lama. Lagi—cukup dengan anggukan samar dari Heldfan, dia dapat merasakan betapa ledakan itu begitu hebat. Ledakan yang membuat banyak perpecahan dan dia masih harus memungut satu demi satu untuk menyatukan kembali sesuatu yang nyaris menyerupai rusak. “Nightroe tida
Laut Mediterania sering kali menjadi objek penantian di benak Svanna. Tenang; permukaan yang berkilau di bawah siraman cahaya matahari; dan bagian paling mengesankan adalah sapuan angin—terasa menampar wajah merupakan gambaran paling berharga—membuat dia merasa lebih betah, walau tidak dapat mengabaikan satu prospek yang mendesak dirinya supaya mempertanyakan keberadaan seseorang. Nightroe tidak pulang selama tiga hari sejak kali terakhir pria itu hampir kelepasan. Dia tidak begitu mengerti. Mungkin kata – katanya telah melukai harga diri seseorang, yang membuat mereka saling membebaskan kekacauan paling fatal. Kenangan buruk di masa lalu tidak akan pernah bisa berubah. Maksudnya, tidak akan pernah membawa mereka pada keadaan baik – baik saja. Semua telanjur. Tembok telah menjulang tinggi. Tidak akan pernah ada tempat untuk memperbaiki situasi terburuk di antara mereka. Svanna tak bisa membayangkan bagaimana dia sanggup bertahan ... memikirkan beberapa rumpang yang meng
“Apa yang membuatmu sampai berpikir aku mengatakan kebohongan?” Svanna berbalik tanya. Cukup yakin ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang merompak kebenaran di antara mereka dan tampaknya informasi di puncak kepala Nightroe diseludipi oleh kebohongan ganjil. “Apa yang kau harapkan? Kau berpikir ada sesuatu yang salah dari pernyataanku? Empat tahun lalu aku melihat sendiri warna aslimu. Jangan bersikap seperti gadis polos. Kau bukan lagi Johansson yang kukenal pertama kali.” Seolah pria itu bisa memahami apa yang sedang dia pikirkan. Apakah sekarang Svanna bisa menyebut tentang adanya kesalahan berpikir? Nightroe seperti baru saja mengungkapkan satu hal yang selama ini pria itu pendam. “Terserah, Nightroe. Aku tidak merasa wajib meyakinkan pandanganmu. Hakmu jika memang itu yang kau percayakan. Aku sudah kedinginan. Bisakah kau menyingkir sebentar?” Percuma. Ya, semua hanya akan menjadi sia – sia andai dia masih berupaya memberi pria itu pengetahuan serius. Nigh
“Ms, Anda di dalam?” Tubuh Svanna tersentak mendengar suara Alina di balik pintu kamar. Setelah pelbagai tindakan dilakukan sendiri, dia memang memutuskan untuk mengunci pintu, berharap pria itu tidak pernah kembali. Walau ... memang, Nightroe tidak pernah kembali, seolah bajingan luar biasa
Situasi tampak mengejutkan ketika Svanna harus tersentak bangun dan mendapati dirinya sudah tidak lagi berhadapan dengan lantai kamar yang dingin, tetapi ini bukan tempat tidur. Aneh. Siapa yang memindahkannya ke atas sofa? Masih di kamar yang sama. Wajah Svanna mengedar ke pelbagai arah. Ranjang
Sekarang, tiba – tiba satu sentuhan membuat kontak mata mereka beradu pekat. Svanna menahan napas mendeteksi cengkeraman Nightroe cukup menyakitkan di tulang rahangnya. Dia sedikit meringis. Dengan reaksi murni menyentuh pergelangan tangan yang terasa kokoh, supaya pria itu mengerti bagaimana cara
Nightroe melihatnya menawarkan diri pada pernikahan mereka dan seharusnya tidak menjadi berita mengejutkan jika Svanna akan menghadapi saat – saat di mana malam pernikahan terasa semacam teriring ke tambak kutub membekukan. Dia tak menyangkal tentang betapa sakitnya ketika semua orang menyaksikan







