LOGINUntuk terakhir kali, senyum Nightroe terlihat lebar. Mula – mula semua agenda tergambarkan melalui cara pria itu menerima coretan canva—mereka bahkan masih membicarakan beberapa hal kecil; seperti ketika Svanna memperhatikan ke mana Nightroe akan menyimpan lukisan tersebut. Pria itu kembali mengedikkan bahu. Tampak akan mengatakan sesuatu. Namun, secara tentatif semua menjadi samar. Semua perlahan – lahan menghilang.
Svanna mengerjap. Dapat dipastikan dia masih mengingat setiap detil jaLaut Mediterania sering kali menjadi objek penantian di benak Svanna. Tenang; permukaan yang berkilau di bawah siraman cahaya matahari; dan bagian paling mengesankan adalah sapuan angin—terasa menampar wajah merupakan gambaran paling berharga—membuat dia merasa lebih betah, walau tidak dapat mengabaikan satu prospek yang mendesak dirinya supaya mempertanyakan keberadaan seseorang. Nightroe tidak pulang selama tiga hari sejak kali terakhir pria itu hampir kelepasan. Dia tidak begitu mengerti. Mungkin kata – katanya telah melukai harga diri seseorang, yang membuat mereka saling membebaskan kekacauan paling fatal. Kenangan buruk di masa lalu tidak akan pernah bisa berubah. Maksudnya, tidak akan pernah membawa mereka pada keadaan baik – baik saja. Semua telanjur. Tembok telah menjulang tinggi. Tidak akan pernah ada tempat untuk memperbaiki situasi terburuk di antara mereka. Svanna tak bisa membayangkan bagaimana dia sanggup bertahan ... memikirkan beberapa rumpang yang meng
“Apa yang membuatmu sampai berpikir aku mengatakan kebohongan?” Svanna berbalik tanya. Cukup yakin ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang merompak kebenaran di antara mereka dan tampaknya informasi di puncak kepala Nightroe diseludipi oleh kebohongan ganjil. “Apa yang kau harapkan? Kau berpikir ada sesuatu yang salah dari pernyataanku? Empat tahun lalu aku melihat sendiri warna aslimu. Jangan bersikap seperti gadis polos. Kau bukan lagi Johansson yang kukenal pertama kali.” Seolah pria itu bisa memahami apa yang sedang dia pikirkan. Apakah sekarang Svanna bisa menyebut tentang adanya kesalahan berpikir? Nightroe seperti baru saja mengungkapkan satu hal yang selama ini pria itu pendam. “Terserah, Nightroe. Aku tidak merasa wajib meyakinkan pandanganmu. Hakmu jika memang itu yang kau percayakan. Aku sudah kedinginan. Bisakah kau menyingkir sebentar?” Percuma. Ya, semua hanya akan menjadi sia – sia andai dia masih berupaya memberi pria itu pengetahuan serius. Nigh
“Apa yang kau lakukan, Orlando!” Svanna yakin suaranya terdengar tidak main – main, tetapi reaksi Orlando menunjukkan informasi sebaliknya, seolah pria itu tidak terpengaruh apa pun. Malah, diselingi tawa kecil, yang membuat dia secara naluriah mengusap wajah dengan kasar hingga menyugar rambut ke belakang. “Kau tahu tindakanmu semalam sudah cukup membuatku berada dalam masalah besar. Nightroe akan sangat marah jika dia melihatku seperti ini." Semua gambaran di benak Svanna terjun bebas ke dalam jurang saat dia menyadari bahwa pakaian-nya; dress tipis yang dia ambil semalam dan kenakan; benar – benar basah merekat, bahkan memperlihatkan dalaman kontras—dan mungkin akan meninggalkan banyak pemikiran kotor kepada semua orang. Kepada Orlando yang saat ini menatap dengan kilatan menerawang, lalu berkata, “Kau terlalu serius seperti suami bajinganmu.” Itu tidak sepenuhnya benar.Dulu Nightroe tidak terlihat sedingin, kaku, dan terlalu serius seperti saat ini. Sam
Untuk terakhir kali, senyum Nightroe terlihat lebar. Mula – mula semua agenda tergambarkan melalui cara pria itu menerima coretan canva—mereka bahkan masih membicarakan beberapa hal kecil; seperti ketika Svanna memperhatikan ke mana Nightroe akan menyimpan lukisan tersebut. Pria itu kembali mengedikkan bahu. Tampak akan mengatakan sesuatu. Namun, secara tentatif semua menjadi samar. Semua perlahan – lahan menghilang. Svanna mengerjap. Dapat dipastikan dia masih mengingat setiap detil jawaban Nightroe. “Akan kusimpan ke mana saja, asal setiap kali aku melihat coretan gambar wajahmu ... aku selalu jatuh cinta.” Sayangnya, detik ini cinta itu sudah hilang terhapuskan. Siraman cahaya lampu segera mendorong Svanna untuk merangkak ke permukaan. Dia perlu berulang kali mempelajari situasi terakhir di sekitar. Bayangan dari ketakutan di benaknya seperti meninggalkan sedikit sisi traumatis sekadar membayangkan bahwa sekarang sudah berada di suatu tempat—cukup tidak as
“Bakar semua barang yang dia bawa ke tempat ini. Pastikan tidak ada satu pun yang tersisa.” No .... Secara naluriah alarm peringatan dalam diri Svanna memberontak hebat. Nightroe tidak bisa mengambil keputusan seperti itu. Mereka tidak bisa membumi-hanguskan segala sesuatu yang menjadi miliknya, tetapi mungkin ... harus ada usaha lebih besar untuk menghentikan semua ini. “Jangan, Nightroe. Aku mohon. Kau boleh menghukumku. Apa saja. Asal jangan membakar semua barangku.” Semua terungkap dalam sekejap. Svanna tahu ini merupakan negosiasi paling tolol. Nightroe telah menatapnya seolah pria itu sedang menimbang sesuatu paling layak. “Apa saja?” dan bertanya demi memastikan apa yang akan mereka sepakati bersama. “Ya.” Svanna belum sepenuhnya siap. Tiba – tiba, Nightroe menjambak rambut panjangnya menuju ke suatu tempat. Mereka melewati sebuah lorong panjang. Lorong dengan minim pencahayaan, yang membuat pelbagai bentuk pertanyaan mengerikan meng
Konyol membayangkan harus membawa makanan terbuang yang dipungut dari bak sampah di kamar Nightroe, lalu memasukkannya ke dalam plastik untuk dipindahkan ke tempat lebih layak—agar tidak menimbulkan kekacauan jika pria itu sampai mengetahui kebenaran di antara mereka. Svanna tak ingin membahayakan siapa pun lagi. Cukup Elisabeth dan sedikit bersyukur bahwa wanita paruh baya itu terlihat baik – baik saja ketika mereka tidak sengaja bertemu, yang juga sempat bertanya mengenai luka di lengannya. Sekarang sudah merasa lebih baik. Svanna tidak mempermasalahkan apa pun, saat semua itu murni merupakan akar dari kesalahannya. Dia terlalu keras kepala dan ternyata ... masih dilingkupi sikap serupa; memaksa Alex untuk mengantarnya sampai di tempat ini, meski Alex sempat ingin menolak. Hanya ketika izin telah didapatkan dan akhirnya mereka sepakat agar tidak menghabiskan waktu terlalu lama. Sesaat, Svanna menoleh ke belakang. Alex jelas sedang menunggunya. Dia mengerjap. Seg







