LOGIN
“Kau tahu aku sangat membencimu. Bersiaplah pada neraka yang akan kau hadapi, jika sekali saja berani untuk menandatangani kontrak pernikahan ini.”
Svanna mengerti bahwa dia tidak akan pernah lepas dari gambaran kehidupan gelap setelah memutuskan untuk meninggalkan California dan kembali terdampar pada kota mengerikan ini. Tidak ada pilihan. Tidak ada prospek bagus yang bisa menyelamatkannya dari darurat putus asa. Nightroe telah menjelaskan bagaimana pria itu masih sangat membencinya setelah empat tahun berlalu. Empat tahun yang penuh dengan kilatan buruk, sehingga Svanna berharap dia tidak lagi memiliki ingatan sempurna sekadar ditarik kembali pada masa – masa kelam yang menyakitkan. Napasnya berembus panjang ketika menyaksikan bagaimana bahu lebar Nightroe sudah tak terlihat di balik pintu rumah. Betapa menyedihkan. Pria itu datang hanya untuk memberi peringatan tentang sesuatu yang menjadi keputusan rumit di antara mereka. Svanna tidak pernah berharap kalau – kalau tawaran tentang pernikahan di atas kertas akan membawa kehidupan sempurna. Juga sangat yakin jika sebuah ikatan murni dapat menjadi gagasan sungkar dimengerti. Nightroe tidak akan pernah menaruh perasaan apa pun kepadanya saat pria itu sendiri begitu membenci. Svanna hanya tidak memiliki pilihan, antara terus mempertimbangkan tawaran dari Russol Sullivan atau tetap berpegangan utuh pada sisa kewarasan yang masih menggantung di pundaknya. Semua masih terasa rumit. Dia butuh uang dengan nominal sangat besar untuk biaya pengobatan ayahnya di rumah sakit. Tidak bisa menemukan cara lain. Nyaris putus asa setelah dipecat atas satu tindakan yang sama sekali tidak dia lakukan. Dor! Tembakan menggelegar dari arah luar membuat tubuh Svanna tersentak. Ketakutan segera menyerbu di benaknya mengenai bahaya mengancam di sekitar. Ini dunia kelam. Dia tidak seharusnya terkejut oleh situasi seperti sekarang. Nightroe akan mewarisi kepemimpinan Tuan Sullivan setelah menikah, dan pria itu baru saja berkeliaran pada tempat di mana dia tinggal. Sangat masuk akal jika terjadi adegan berbahaya seperti ini. Atau mungkin tidak. Sebagian petunjuk di benak Svanna seolah memberi tahu bahwa ada sesuatu yang ganjil mengenai suara keras tersebut. Secara tentatif, dia memutuskan untuk melangkah ke arah pintu. Barangkali Nightroe memiliki motivasi liar terhadap kebutuhan mengancam dengan cara lebih menakutkan. “Nightroe, kau di sana?” Svanna menelan ludah kasar saat desakan dalam dirinya menyematkan alarm tak terduga. Ketegangan di bahu meningkat secara brutal ketika menghadapi kebutuhan menyentuh gagang pintu yang dingin. “Nightroe ....“ Dia masih begitu hati – hati saat genggaman tangan telah begitu mantap di sana. Pintu rumah baru setengah terbuka, dan secara tak terduga satu lesatan peluru dengan cepat cepat menancap pada properti rumah. Svanna menahan napas, tetapi tiba – tiba seseorang membekap bibirnya dari belakang. Dia memberontak. Hampir mengeluarkan seluruh tenaga demi menghindari risiko apa pun itu. “Diamlah!” Tidak menyangka bahwa Nightroe adalah pelaku terduga. Cengkeraman pria itu luar biasa kuat ketika kembali menariknya masuk ke dalam rumah, sementara tembakan dahsyat di ruang terbuka benar – benar hampir memekakkan telinga. “Apa yang terjadi?” Svanna masih berusaha mengerti situasi di antara mereka. Sedikit tak percaya jika ternyata Nightroe ... ya, Nightroe ... bersedia melakukan kontak fisik dengannya. Pria itu selalu merasa jijik acapkali ada pertemuan tak terduga sejak persitiwa empat tahun lalu mengubah segalanya. “Bersembunyilah di tempat kau merasa aman.” Suara dingin membekukan Nightroe mencuak ke permukaan setelah selesai dengan kegiatan mengendarkan pandangan di sekitar. Pria itu bahkan segera menyusuri jendela dan membuat tameng sederhana sembari mengarahkan senjata lewat celah kecil terbuka. Svanna menyadari bahwa seharusnya dia menuruti perintah Nightroe sebelum pria itu berubah pikiran, hingga berbalik arah menembak mati ke arahnya. Dia yakin hal tersebut begitu ingin Nightroe lakukan—hanya berusaha menahan diri, karena kematiannya akan terasa mudah dan pria itu sama sekali tidak menginginkan prospek demikian terjadi. Tempat di mana dia merasa aman .... Svanna tidak akan menyangkal hal itu. Segera berlari ke arah kamar, kemudian merangkak masuk ke bawah ranjang. Rumah ini sempit—demi Tuhan. Dia tak punya pilihan dan tidak dimungkiri kenangan empat tahun lalu yang relevan masih terasa begitu indah. Svanna menutup kedua telinga. Suara – suara itu sangat menyakitkan pendengaran, tetapi dia perlu menunggu sampai hening tidak lagi bergemuruh liar di sekitar. Semua sudah selesai? Dia bertanya – tanya tak mengerti, sedikit tersentak saat derap langkah seseorang yang tegas terdengar semakin dekat ke arah kamarnya. Pintu terbuka dan rayuan dari sepatu gelap Nightroe terasa begitu mengikat. Svanna ingin segera beranjak keluar, cukup tertahan ketika pria itu lebih dulu menunduk untuk menemukannya sedang menelungkup. Wajah Nightroe begitu dingin, terutama warna sapphire di mata itu menatap sangat tajam. Svanna tidak berharap akan melakukan kesalahan, langsung mengambil tindakan agar beranjak keluar. Dia menepuk debu – debu yang mungkin menempel di tubuhnya setelah berada pada posisi yang sama dan tertahan lama di bawah ranjang. Svanna mengangkat wajah saat berdiri menghadap tubuh menjulang Nightroe. “Kau melindungiku ...,” ucapnya lambat. Tidak ada yang salah dari pernyataan tersebut, tetapi dalam sekejap Svanna mendapati ekspresi Nightroe berubah gelap. Otot – otot di wajah tegas itu mengetat keras. Sepertinya Nightroe tak suka. Dia hanya ingin berterima kasih, salahkah?“Cantik sekali. Dari mana kau mendapatkannya?”Svanna begitu antusias saat Alina mengetuk pintu kamar dan ternyata wanita itu muncul membawa sepaket bunga lily yang indah berikut dengan warnanya. Dia langsung mempersilakan Alina masuk; membiarkan bagaimana wanita itu menyaksikan tangannya dengan telaten memindahkan satu demi satu tangkai bunga ke dalam vas.“Itu lily jenis Stargazer, Ms. Saya membelinya di pasar, karena penjaga toko mengatakan ini bunga lily yang paling harum,” ucap Alina menjelaskan.Secara naluriah Svanna membungkuk hanya untuk menghirup bunga lily itu. Benar. Aromanya sangat menyenangkan. Dia tersenyum; sesekali memainkan benang sari panjang yang mencolok. “Saya sempat bingung harus membeli warna kuning atau pink,” Alina kembali menambahkan. “Warna apa saja bagus. Tapi aku senang kau membawa pulang yang pink. Terima kasih.”“Dengan senang hati, Ms. Ngomong – ngomong apa yang akan Anda lakukan dengan bunga Ester ini? Mereka masih cuk
Kening Svanna mengernyit setelah selesai menenangkan diri di halaman belakang dan sekarang ... saat berniat masuk ke kamar, dia malah mendapati para staf mansion sibuk memindahkan beberapa barang di dalam sana ke suatu tempat—untuk saat ini, sama sekali belum dia ketahui.“Ke mana kalian akan membawa barang – barangku?” tanyanya, sambil menghentikan Alina yang berjalan lesu. Ekspresi tidak nyaman di wajah wanita itu tidak dimungkiri. Mungkin saja ... Alina tidak setuju terhadap Nightroe kali ini. Namun, keputusan apa yang tampaknya benar – benar akan melukai mereka.“Tuan meminta kami untuk memindahkan barang – barang Anda dan sedikit milik beliau ke kamar tamu, Nona.”Sebelah alis Svanna terangkat tinggi menanggapi satu ungkapan tersebut. Wajar jika adanya sikap ketidakpersetujuan dari wanita itu. Dia juga berharap bisa mengajukan penolakan. Kamar ini sudah ditempati sejak pernikahannya dan Nightroe berlangsung. Jujur, Svanna mengakui bahwa dia mulai nyaman, tetapi
“Luka-mu perlu diobati dengan serius, Nightroe. Jangan tiduran saja.” Tidak ada dokter; tidak ada panggilan apa pun, karena bahkan Nightroe melarang para staff untuk menghubungi dokter pribadi keluarga Sullivan sekadar melihat langsung kondisi dari luka tembak di lengan pria itu. Sebaliknya, usai menginjakkan kaki di mansion mewah ini, Nightroe buru – buru melangkah masuk ke dalam kamar. Seperti yang akhirnya Svanna dapati di sini. Dia menghela napas sesaat melihat bagaimana pria itu tidur dengan posisi menelungkup, bahkan masih dengan pentofel yang merekat di kaki. Kalau saja mereka tidak menikah. Svanna tidak akan mau melangkah secara tentatif; kemudian duduk di pinggir ranjang hanya untuk membuka alas kaki pria itu sambil menunggu apa yang akan suaminya katakan. Nyaris terlalu hening. Nightroe masih tidak peduli. Apakah terlalu nyaman membiarkan bra dan dalamannya mengikat erat di sana? “Nightroe,” panggil Svanna pelan. Dengan sedikit geram, akhirny
“Bagaimana jika seseorang datang menjemput kita, Nightroe?”Svanna berusaha mengingatkan, meski dia tahu hasilnya percuma. Nightroe sama sekali tidak menaruh perhatian atau berusaha peduli. Pria itu hanya ingin tubuhnya—mendapatkan apa pun yang saat ini sedang diincar secara gila – gilaan.Bagaimanapun, Svanna tidak bisa terus – terusan menolak sensasi ini. Nightroe tahu cara membuat seseorang menyerah dan pria itu benar – benar berhasil melakukan hal tersebut. Tidak dimungkiri bahwa dia nyaris melepaskan lenguhan singkat tepat setelah Nightroe membuka kedua kakinya lebar dan menjatuhkan mulut di sana.Sebagian kenyataan membuat wajah Svanna memanas. Tidak pernah menduga bahwa dia dan suaminya akan melakukan adegan seks di saat – saat seperti ini, bahkan di tempat yang tidak menjanjikan. Insting masih mencoba agar setidaknya dia bisa menghentikan Nightroe dari keinginan berlebihanseperti ini. Namun, yang terjadi malah erangan dari bibirnya menjadi lebih tidak t
“Kenapa? Bagaimana kalau Orlando kembali?” tanya Svanna sebagai gambaran serius.Dia sempat menoleh ke belakang, tetapi Nightroe kembali berkata, “Aku bilang ... kunci pintunya.”Svanna tidak punya pilihan; buru – buru menuruti permintaan pria itu. Dari luar, gudang ini tidak terlihat seperti adanya kehidupan. Sekelompok orang – orang itu sepertinya cenderung memikirkan cara untuk mempertahankan diri setelah apa yang terjadi. Sekarang, tempat ini bisa disebut sedikit lebih aman. Mula – mula, Svanna memutuskan untuk kembali mendatangi Nightroe. Ingin menuntut pria itu. Bagaimana jika sesuatu terjadi kepada Orlando dan mereka bertanggung jawab penuh karena tidak memberi pria tersebut akses masuk supaya bisa bersembunyi?“Kau tahu Orlando masih di luar. Kenapa harus mengunci pintu?” tanya Svanna sanksi sambil melipat lengan di depan dada.Mata sapphire Nightroe terus memperhatikan apa yang dia lakukan. Kemudian sudut bibir pria itu membentuk seringai sama
Tetap bersembunyi adalah satu – satu pilihan paling tepat untuk bersikap waspada. Svanna tidak ingin jika tiba – tiba sekelompok orang menggeledah gudang rumah sakit secara masif sekadar mencari keberadaannya, sehingga memilih tempat paling pojok—dengan pelbagai barang – barang di gudang yang ditumpuk sebagai tempat paling menjanjikan.Karena pada akhirnya ... dugaannya benar bahwa seseorang akan menargetkan tempat ini untuk diselidiki. Dia dengan waspada memperhatikan pintu gudang yang dibuka secara perlahan, lalu kembali menutup rapat. Sesekali akan mengintip kaki jenjang yang terlihat menjulang, meski belum ada langkah tambahan. Diam – diam itu membuat Svanna mengepalkan tangan tanpa sadar. Otaknya bekerja sangat keras agar setidaknya dia bisa melakukan sesuatu. Ada sebatang balok kayu—bekas dari meja – meja rusak, dan tangannya dengan waspada menggenggam erat benda tersebut; sudah cukup siap untuk melakukan perlawanan.Namun, suara bersin berulang segera memberi pet
Sekarang, tiba – tiba satu sentuhan membuat kontak mata mereka beradu pekat. Svanna menahan napas mendeteksi cengkeraman Nightroe cukup menyakitkan di tulang rahangnya. Dia sedikit meringis. Dengan reaksi murni menyentuh pergelangan tangan yang terasa kokoh, supaya pria itu mengerti bagaimana cara
Nightroe melihatnya menawarkan diri pada pernikahan mereka dan seharusnya tidak menjadi berita mengejutkan jika Svanna akan menghadapi saat – saat di mana malam pernikahan terasa semacam teriring ke tambak kutub membekukan. Dia tak menyangkal tentang betapa sakitnya ketika semua orang menyaksikan
“Kau pikir aku melindungi-mu?”Tubuh Svanna tersentak di dinding kamar setelah cengkeraman tiba – tiba mendarat di rahangnya. Nightroe bahkan berbisik sinis, seolah ingin menunjukkan bahwa semua ini bukan bagian dari keinginan pria itu.Suara tembakan. Segala bentuk kejadian menciptakan bunyi mengg
Situasi tampak mengejutkan ketika Svanna harus tersentak bangun dan mendapati dirinya sudah tidak lagi berhadapan dengan lantai kamar yang dingin, tetapi ini bukan tempat tidur. Aneh. Siapa yang memindahkannya ke atas sofa? Masih di kamar yang sama. Wajah Svanna mengedar ke pelbagai arah. Ranjang







