LOGINNightroe benar – benar setuju bahwa mereka akan menikmati bulan madu. Suatu keputusan yang jelas membuat Svanna tak bisa membayangkan bagaimana prospek mendatang nanti. Dia tidak bisa mengajukan banyak protes, sekalipun sudah begitu banyak sikap penolakan membentuk gumpalan hebat di benaknya.
Setelah mendapat apa yang diinginkan; tubuhnya. Nightroe pergi begitu saja. Perilaku buruk yang jelas – jelas membuat Svanna sangat muak. Entah sebuah kebiasaan usang atau pria itu memang tidak“Anna, buka pintunya!”“Aku butuh obat pereda nyeriku!”Suara gedoran pintu dengan keras hampir membuat Svanna diam terpaku di tempat. Dia belum menyelesaikan apa-apa, baru saja melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi dan hanya dalam balutan handuk melilit di tubuh, tetapi ... pernyataan Nightroe telah meninggalkan sesuatu yang jelas menariknya secara kasar.Obat pereda nyeri ....Betapa bodoh.Svanna sungguh benar – benar lupa mengenai hal tersebut. Bukan tentang apa yang telah mereka lalui selama beberapa waktu terakhir. Semalam, Nightroe memang kembali berulang kali meminta agar dia membukakan pintu. Tidak ada alasan signifikan. Pria itu hanya mengaku kalau mereka sudah seharusnya tidur bersama. Demikian pula, Svanna tidak berusaha menaruh perhatian.Cukup sekarang. Kata – kata Nightroe merupakan bagian paling krusial untuk digaris bawahi. Ingatan lain segera muncul menggantung di bahunya, Svanna sadar bahwa kondisi pria itu terkadang tidak baik – baik s
Nyaris dua hari, dan Svanna masih dihadapkan pada tuntutan untuk memikirkan ke mana Nightroe pergi sebenarnya. Tidak ada kabar. Sedikitpun tanpa pesan singkat, atau alih – alih pria itu meluangkan waktu untuk menghubunginya, meski ini masih merupakan perayaan mengembirakan. Dia tahu bagaimana tanpa minatnya Nightroe. Barangkali pria itu lupa harus kembali. Lebih baik tidak usah kembali. Sambil mendengkus. Svanna mengeluarkan buku bacaan. Merasa sangat penting mengalihkan pikiran. Mungkin tidak apa – apa menghabiskan beberapa jam ke depan di dalam kamar. Dia masih memiliki waktu di saat – saat mendatang untuk melihat beberapa bagian vila yang belum ditelusuri. Kebetulan, dampak dari luka tusuk di lutut sudah mengalami proses penyembuhan signifikan. Svanna bisa berjalan sedikit normal. Yakin ... peningkatan yang dihadapi tidak akan memancing Nightroe untuk membopong tubuhnya lagi, andai saja pria itu di sini. Namun tidak. Nightroe tidak di mana pun, selain kesibukan
Sampai di pulau di mana mereka hanya akan menghabiskan waktu berdua. Nightroe masih menggunakan cara yang sama untuk membawa Svanna menuju kamar. Dia terombang ambing di garis bahu pria itu ketika menghadapi undakan tangga. Pening masih menyergap, tetapi pula ... Svanna diam – diam menancapkan kuku tangan di punggung suaminya. Sengaja ingin membalaskan setiap apa pun tindakan Nightroe, walau pria itu tidak menunjukkan reaksi signifikan. Bahkan masih terlalu tenang saat mengambil tindakan kasar untuk menjatuhkannya ke atas ranjang. Svanna bisa merasakan pantulan empuk. Hanya tidak mengajukan protes apa – apa saat sementara beberapa pengawai Nightroe turut menyusul membawa perlengkapan mereka ke dalam kamar. Mereka meletakkan koper dan tas ke sudut ruangan, kemudian berpamitan pergi kepada sang majikan yang masih menjulang tinggi. Wajah Nightroe setengah berpaling, mungkin menunggu saat – saat pengawal pria itu meninggalkan mereka berdua di sini. “Ada beberapa uru
Svanna mengerjap. Celakalah. Dia secara tidak langsung menarik tuntutan dalam diri Nightroe menggebu lebih besar, meski tampaknya pria itu hanya ingin menguji sejauh mana dia akan jujur. Mungkin sebaiknya mereka menghindari percakapan sensitif seperti ini. “Bukan apa – apa. Lupakan. Kita sebaiknya berangkat. Alex sudah menunggu di luar.” Nyaris. Ya. Svanna nyaris beranjak bangun, tetapi Nightroe kembali mendorongnya jatuh terduduk di atas kasur. “Kau lebih baik bicara jujur kepadaku.” Barangkali, bagi pria itu dia adalah jendela terbuka, yang dengan mudah diterobos masuk. Nightroe dapat dipastikan telah melihat ketakutan bersarang luar biasa jelas di matanya. Sesuatu yang mati – matian Svanna sembunyikan, tetapi semua terasa percuma. “Sudah empat tahun berlalu, Nightroe. Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi.” Bagaimanapun, Svanna harus menghindari semua ini. Sedikit bersyukur kalau – kalau dia berhasil menyingkirkan Nightroe dari hadapannya,
“Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan, Nightroe? Sesuatu membentur kepalamu dengan keras?” Pada akhirnya Svanna tak bisa menahan diri lebih lama. Segera mengajukan pertanyaan dan cukup diyakini bahwa Nightroe akan sangat memahami pelbagai bentuk kebingungan, yang menyebabkan badai usang di antara mereka. Sentuhan pria itu masih sama—meninggalkan sensasi ganjil yang tidak Svanna mengerti. Protes belum coba disampaikan kembali dan sekarang ... Nightroe telah menuntutnya untuk menengadah; mereka melakukan kontak mata—sekelebat bayangan di sana, bahkan tidak sedikitpun meninggalkan petunjuk. “Mengapa kau tidak memberitahuku kalau peristiwa empat tahun lalu tidak ada hubungannya denganmu?” Tiba – tiba pria itu membawa topik pembicaraan yang tidak sama sekali pernah dia bayangkan. Kening Svanna bertaut bingung. Berusaha keras memahami maksud pernyataan Nightroe barusan. Sudah lama sekali. Mengapa baru sekarang dipertanyakan? “Apa maksudmu?” dia tidak ingin ke
Nightroe benar – benar setuju bahwa mereka akan menikmati bulan madu. Suatu keputusan yang jelas membuat Svanna tak bisa membayangkan bagaimana prospek mendatang nanti. Dia tidak bisa mengajukan banyak protes, sekalipun sudah begitu banyak sikap penolakan membentuk gumpalan hebat di benaknya. Setelah mendapat apa yang diinginkan; tubuhnya. Nightroe pergi begitu saja. Perilaku buruk yang jelas – jelas membuat Svanna sangat muak. Entah sebuah kebiasaan usang atau pria itu memang tidak bisa berbaring sebentar saja saat mereka masih berada di satu ranjang berdua. Svanna jelas tidak memiliki keberanian utuh untuk mempertahankan Nightroe di sampingnya. Mereka tidak melakukan kontak apa pun sejak beberapa waktu lalu. Lagi pula, sesuatu dalam diri Svanna mendorong ego supaya melarang mereka bicara berdua. Peristiwa di ruang kerja Nightroe masih meninggalkan rasa takjub yang menyedihkan. Bekas pukulan pria itu bahkan masih terasa basah di punggung. Hanya di sini, dia dihadapk
“Kau pikir aku melindungi-mu?”Tubuh Svanna tersentak di dinding kamar setelah cengkeraman tiba – tiba mendarat di rahangnya. Nightroe bahkan berbisik sinis, seolah ingin menunjukkan bahwa semua ini bukan bagian dari keinginan pria itu.Suara tembakan. Segala bentuk kejadian menciptakan bunyi mengg
“Kau tahu aku sangat membencimu. Bersiaplah pada neraka yang akan kau hadapi, jika sekali saja berani untuk menandatangani kontrak pernikahan ini.” Svanna mengerti bahwa dia tidak akan pernah lepas dari gambaran kehidupan gelap setelah memutuskan untuk meninggalkan California dan kembali terdampar
Situasi tampak mengejutkan ketika Svanna harus tersentak bangun dan mendapati dirinya sudah tidak lagi berhadapan dengan lantai kamar yang dingin, tetapi ini bukan tempat tidur. Aneh. Siapa yang memindahkannya ke atas sofa? Masih di kamar yang sama. Wajah Svanna mengedar ke pelbagai arah. Ranjang
Sekarang, tiba – tiba satu sentuhan membuat kontak mata mereka beradu pekat. Svanna menahan napas mendeteksi cengkeraman Nightroe cukup menyakitkan di tulang rahangnya. Dia sedikit meringis. Dengan reaksi murni menyentuh pergelangan tangan yang terasa kokoh, supaya pria itu mengerti bagaimana cara







