LOGINNyaris dua hari, dan Svanna masih dihadapkan pada tuntutan untuk memikirkan ke mana Nightroe pergi sebenarnya. Tidak ada kabar. Sedikitpun tanpa pesan singkat, atau alih – alih pria itu meluangkan waktu untuk menghubunginya, meski ini masih merupakan perayaan mengembirakan. Dia tahu bagaimana tanpa minatnya Nightroe. Barangkali pria itu lupa harus kembali. Lebih baik tidak usah kembali.
Sambil mendengkus. Svanna mengeluarkan buku bacaan. Merasa sangat penting mengalihkan pikiran. Mungki“Sudah tiga hari. Aku tidak melihat Nightroe ada di mana pun dan terakhir yang kutahu ... kau membuatnya kesal dan meninggalkan mansion.”Lagi. Svanna harus menghentikan kegiatannya saat Yohana mengatakan sesuatu mengenai Nightroe. Wanita itu benar. Sejak kejadian di kolam—Nightroe pergi tanpa meninggalkan petunjuk apa pun.Namun, sebagai seseorang yang sudah terbiasa dengan pola seperti itu, Svanna berusaha terlihat tidak terpengaruh. Meski keberadaan Yohana di sini benar – benar menjadi masalah besar. Wanita tersebut sudah tidak lagi membutuhkan kursi roda. Terapi rutin selama beberapa hari setidaknya memberi efek menjanjikan.“Itu sudah kebiasaannya meninggalkan rumah berhari – hari. Tidak perlu khawatir. Lagi pula, bukan urusanmu apakah Nightroe akan pulang atau tidak. Kau tidak berhak mencampuri apa pun,” ucap Svanna seraya menaruh perhatian secara serius pada bunga – bunga yang baru mekar. Mereka indah. Andai saja dia bisa menanam lily di sini—mungkin tamannya
“Sepertinya kau merasa sangat puas sudah menjauhkan Nightroe dariku.”Jujur, Svanna ingin tenang di dapur setelah Nightroe membuatnya terkurung nyaris dua jam di dalam kamar. Bukan malah suasana seperti ini yang mendadak meninggalkan sensasi menyedihkan di benaknya. Dia sempat menarik napas dalam – dalam; mengembuskan secara kasar, lalu meletakkan pisau yang digunakan untuk memotong buah.“Itu tuduhan serius,” ucap Svanna sambil berbalik badan menghadap Yohana. Wanita itu masih di kursi roda. Setidaknya dia harus menunduk dan secara naluriah mengangkat sebelah alis tinggi setelah menemukan sesuatu yang tidak bisa.Sepertinya Yohana menangis cukup lama, sehingga meninggalkan jejak sangat jelas di mata itu. Sungguh, Svanna tidak tahu efeknya akan sangat berlebihan. Dia hanya ingin mempertahankan apa yang seharusnya dia miliki. Bukan hanya tentang Nightroe, tetapi apa yang sebaiknya seorang istri lakukan. Mengingatkan wanita lain tentang posisi mereka.“Masih tidak mau
“Nightroe.”Sampai suara Yohana mengubah sebagian momen. Pria itu nyaris menoleh, tetapi ... Svanna lebih tahu untuk melakukan ini. Menarik wajah suaminya dan merenggut bibir Nightroe. Merasakan bahwa kemarahan masih berdiam di sana, meski semua menjadi runtuh ketika perhatian pria itu teralihkan; membalas setiap sentuhan bibir mereka dengan merampas lebih kasar.Dia hampir kehabisan napas andai saja tidak memberi Nightroe petunjuk. Namun, pria itu terlalu rakus untuk membiarkan waktu berjalan lama. Svanna kembali kewalahan menghadapi lumatan demi lumatan yang penuh dengan tuntutan.“Nightroe.”Mereka hanya berhenti ketika suara Yohana kembali muncul ke permukaan. Ada perasaan tidak rela jika Nightroe akan memperhatikan wanita itu lagi. Sayangnya Svanna tidak berusaha mengatakan apa pun; cukup gengsi menunjukkan langsung kepada Nightroe bahwa keberadaan Yohana sebenarnya sangat mengganggu.“Dokter terapimu akan segera datang. Kau tidak seharusnya meminta bantuank
Lagi. Rencana serupa dari Yohana—dengan sengaja meminta Elisabeth menyampaikan pesan bahwa wanita itu ingin bertemu Nightroe merupakan sesuatu yang membuat Svanna merasa benar – benar terganggu.Dia melihat sendiri bagaimana Nightroe masih cukup kelelahan setelah semalam pamit untuk melakukan pekerjaan pribadi. Svanna tidak tahu persis pekerjaan pribadi yang Nightroe maksud, tetapi dia tidak bisa menahan pria itu; karena suaminya dapat dipastikan akan meminta waktu tambahan agar mereka bisa melakukan kegiatan seks lebih lama.Jadi, dia hanya diam menyaksikan Nightroe menyiapkan semua kebutuhan; salah satunya ... pisau yang sempat pria itu asah di kamar ini—secara harfiah Svanna harus menyebut kamar mereka.Dia cukup yakin Nightroe kembali begitu larut saat tidak sengaja terbangun karena pria itu tanpa sadar meninggalkan suara sayup. Walau memang ... dia memutuskan kembali tidur, seolah tidak terjadi apa pun. Sampai di sini ....Svanna sedang dihadapkan pada situ
Svanna tersenyum gugup sambil pelan – pelan beranjak mundur. Sudah merasa yakin bahwa dia bisa melarikan diri, tetapi tiba – tiba ....Nightroe mencekal pergelangan tangannya, kemudian membuat dia kembali terdampar di atas ranjang. Napas Svanna tercekat persis ketika pria itu mengurung—nyaris menindih; menatap serius dengan iris sapphire yang begitu tajam.“Kau ingin mempermainkanku?” dan bertanya sarat nada menuduh.Svanna malu – malu merasa; antara tertangkap basah dan kehilangan prospek terbaik sekadar menyelamatkan diri sendiri menyadari betapa lidahnya menjadi keluh. Dia tidak bermaksud mempermainkan Nightroe. Ini juga merupakan bagian dari kontribusi pria itu kali ketika memutuskan untuk membawa Yohana di mansion ini dan akibatnya ... mereka harus menghadapi kondisi tertentu seperti sekarang.“Aku—aku mau menyimpan piring dan gelas kembali ke dapur.”Dia mungkin menemukan alasan cukup masuk akal, tetapi Nightroe jelas bukan tipikal pria yang mudah diyakinka
“Kau sungguh ingin becerai dariku, Anna?” Sekali lagi. Svanna merasakan sesuatu seperti menyumbat di ujung tenggorokan. Lidahnya mendadak keluh, apalagi saat ini ujung jemari Nightroe telah berpindah, menyentuh bagian tubuh Svanna yang lain hanya untuk membuatnya seperti diburu predator buas dan akhirnya ... dia mengangguk sebagai jawaban. Nightroe terdengar menggeram; ntah sebagai bentuk kemarahan atau karena pria itu merasa sangat puas. Namun, Svanna harus memejam oleh dampak antisipasi ketika tangan besar Nightroe telah menggenggam batang lehernya. Wajah pria itu benar – benar sangat dekat .... “Sampai kapan pun, kau tidak akan pernah menjadi jandaku, apalagi selama aku masih hidup. Mengerti?” lalu berkata—dengan sengaja membuat bibir mereka bersentuhan. Ada protes yang ingin Svanna sampaikan; bahwa dia tidak menduga Nightroe akan menolak gagasan bercerai, tetapi sampai dia berusaha sekadar bersuara, pria itu lebih dulu melumat bibirnya. Sesekali memberi
Situasi tampak mengejutkan ketika Svanna harus tersentak bangun dan mendapati dirinya sudah tidak lagi berhadapan dengan lantai kamar yang dingin, tetapi ini bukan tempat tidur. Aneh. Siapa yang memindahkannya ke atas sofa? Masih di kamar yang sama. Wajah Svanna mengedar ke pelbagai arah. Ranjang
Nightroe melihatnya menawarkan diri pada pernikahan mereka dan seharusnya tidak menjadi berita mengejutkan jika Svanna akan menghadapi saat – saat di mana malam pernikahan terasa semacam teriring ke tambak kutub membekukan. Dia tak menyangkal tentang betapa sakitnya ketika semua orang menyaksikan
“Kau pikir aku melindungi-mu?”Tubuh Svanna tersentak di dinding kamar setelah cengkeraman tiba – tiba mendarat di rahangnya. Nightroe bahkan berbisik sinis, seolah ingin menunjukkan bahwa semua ini bukan bagian dari keinginan pria itu.Suara tembakan. Segala bentuk kejadian menciptakan bunyi mengg
“Kau tahu aku sangat membencimu. Bersiaplah pada neraka yang akan kau hadapi, jika sekali saja berani untuk menandatangani kontrak pernikahan ini.” Svanna mengerti bahwa dia tidak akan pernah lepas dari gambaran kehidupan gelap setelah memutuskan untuk meninggalkan California dan kembali terdampar







