INICIAR SESIÓNPenyatuan lambat yang menghunjam di dalam, ditambah dengan gesekan konstan jariku di bagian paling sensitifnya, menciptakan kombinasi yang terlalu kenikmatan hingga membuatnya nyaris frustrasi. Tiara bisa merasakan gelenyar panas yang menjalar cepat ke seluruh bagian perutnya, memicu dinding rahimnya untuk menjepit milikku semakin erat dan berdenyut hebat.
Aku menyeringai puas melihat bagaimana tubuhnya bergetar hebat di bawah kuasaku."Kenapa jangan, Sayang? Bukannya ini ya"Atau jangan-jangan... kanker rahimmu itu hasil dari ulah bejatmu di belakangku karena tidak bisa setia, hah?" pungkasku melayangkan tuduhan yang tepat menghantam mentalnya.Aku menyunggingkan senyum miring, menatapnya dari atas sampai bawah tanpa sisa rasa hormat sedikit pun."Tuhan memang tidak pernah tidur, Sari. Kamu menabur bangkai, sekarang kamu yang harus menelan baunya sendiri."Sari memegangi dadanya yang sesak, matanya melotot lebar dengan air mata yang menetes deras. Kalimat itu membakarnya hidup-hidup, menghancurkan sisa harga dirinya hingga tak berbekas."Bang! Cukup, Bang!" jerit Sari dengan suara parau, gemetar hebat menahan malu dan rasa bersalah yang mendalam. "Jangan cela penyakitku seperti itu! Aku memang salah, tapi demi Allah... aku tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain lagi setelah itu!"Aku mengambil tabletku dan menampilkan video dari kamera tersembunyi yang kupasang di vas bunga di depan kamar ini—kamar k
"Tuduhan katamu? Jangan lupa, ruang kerja suamiku terpasang CCTV. Kamu tidak tahu, kan? Bahkan Teh Sari saja tidak tahu. Yang diberi tahu Abang cuma aku. Kenapa? Ya karena Abang kecintaan sama aku," ucap Tiara lalu tertawa puas. Sabryna membatu di tempat, tak sanggup menyusun satu kata pun untuk membela diri. Rahasia keberadaan kamera pengawas itu benar-benar membuatnya malu. "Ngomong-ngomong soal kerja, kerja yang bagaimana? Kamu menawarkan teh untuk suamiku? Dan waktu itu kamu pakai baju crop top seksi kurang bahan lho, sampai ditegur Bang Bonar. Mau aku buka CCTV milik Abang?" Tiara mengamati wajah merah padam Sabryna yang terbungkam fakta. Senyum miring terpatri di bibirnya saat melirik dua asisten rumah tangga yang diam-diam menyimak di sudut dapur. "Kalau mau lihat sekalian, kebetulan banget ada Bi Inah, Bi Asih, dan yang lainnya di sini." Rasa malu yang luar biasa bercampur panik membuat dadanya sesak, ter
Pintu terbuka dan sosok Sabryna muncul di sana. Gadis itu melangkah masuk dengan senyum manis yang dipaksakan, membawa sebuah nampan berisi cangkir kopi yang masih berasap. Pakaian kerjanya kelewat ketat untuk ukuran seorang staf magang, sengaja memperlihatkan lekuk tubuh yang justru membuatku muak."Om Bonar... ini saya bawakan kopi hitam tanpa gula, persis seperti yang Om suka," ucapnya dengan nada suara yang dibuat-buat lembut, lalu meletakkan cangkir itu di ujung mejaku.Aku tidak menyentuh cangkir itu sama sekali. Mataku dingin menatapnya. "Siapa yang menyuruhmu ke sini, Sabryna? Tugas pembukuanmu dari Lydia sudah selesai?"Sabryna sedikit terkejut dengan nada dinginku, tetapi dia cepat-cepat menguasai diri. Ia menyibak rambutnya ke belakang telinga, mencoba bersikap manja. "Sudah hampir selesai kok, Om. Saya cuma khawatir Om capek baru pulang dari Jakarta, jadi saya inisiatif buatkan kopi. Lagipula, Tante Tiara kan tidak bisa menemani Om di k
Setelah Rully pergi dikawal orang-orang Bonar, kini hanya tersisa Bonar dan Sadikin. "Pak, bagaimana jika Bu Tiara suatu saat ingin bertemu bapaknya? Beliau pasti akan menyadari jika sudah lama tidak melihat bapaknya. Pak Bonar harus memberikan jawaban yang logis untuk Bu Tiara," tanya Sadikin sambil berjalan di sampingnya menuju bangunan utama Dirga Group yang terletak beberapa blok dari gudang. Aku menghembuskan asap rokok ke udara sebelum menoleh ke arah Sadikin dengan wajah datar. "Biar aku yang atur," jawabku tenang. "Tiara tahu bapaknya punya utang di mana-mana dan sering kabur-kaburan. Kalau dia bertanya, aku tinggal katakan kalau Rully pergi ke luar pulau untuk menghindari penagih utang dan memulai hidup baru dengan uang yang kuberikan. Tiara tidak akan curiga, karena memang seperti itulah kelakuan bapaknya dari dulu." "Soal penyebar video masa lalu istriku bagaimana, Kang? Sudah ketemu? Jangan lupa hapus
Kembali ke suasana mencekam di dalam gudang belakang kantor Dirga Group, beberapa saat sebelum Bonar menumpahkan amarahnya pada Rully. Sadikin berdiri tegak di dekat pintu besi yang terkunci rapat, mengawasi dengan tatapan waspada. Di tengah ruangan yang remang-remang, bau keringat dingin dan ketakutan yang pekat. Dua orang debt collector berbadan kekar yang awalnya sangar saat menagih utang di jalanan, kini tertunduk lesu dengan tangan terikat kuat ke belakang kursi. Di sebelah mereka, Rully Sondang tampak jauh lebih mengenaskan; wajahnya pucat pasi, napasnya memburu, dan matanya terus bergerak gelisah. Pintu terbuka dengan bunyi berderit pelan. Langkah kaki Bonar yang mantap dan berat seketika memotong keheningan. Aura dingin yang dibawanya langsung membuat atmosfer ruangan terasa makin menghimpit. Aku berjalan tenang, lalu menarik sebuah kursi besi. Lalu membaliknya dan duduk dengan santai tepat di hadapan ket
Pesawat akhirnya mendarat di Pekanbaru sore itu. Begitu keluar dari area bandara, dua mobil hitam sudah menunggu di lobi penjemputan. Aku menuntun Tiara menuju mobil pertama yang akan membawa pulang dengan pengawalan ketat. Sebelum masuk ke kabin, Tiara berbalik dan menatapku."Abang, jangan lama-lama, cepat pulang ya," ucapnya sambil mencengkeram kaus polo hitamku seperti anak kecil.Aku tersenyum hangat, mengusap punggung tangan Tiara lalu mengecup keningnya dalam. "Iya, Sayang. Selesai urusan, Abang langsung pulang."****Setelah mobil yang membawa Tiara melaju pergi dengan pengawalan ketat, rahangku kembali mengeras. Kehangatan yang terpancar di mataku untuk istriku beberapa detik lalu sirna seketika, Aku berbalik dan melangkah lebar menuju mobil kedua, sebuah SUV hitam yang mesinnya sudah menyala dengan sopir yang sigap membukakan pintu.Sadikin langsung menyusul dan duduk di kursi depan, suasana di dalam kabin langsun
Aku kembali ke kursi kebesaranku, menyandarkan punggung dengan santai sambil menyesap wiski. Bunyi denting es batu dalam gelas kristal menjadi satu-satunya musik di ruangan ini. Mataku tak lepas darinya, menatap intens setiap jengkal kulitnya yang kini memerah karena malu.Tiara berdiri mematung di
Tanganku terangkat, jemariku yang kasar mengusap pelan pundaknya yang terbuka, turun perlahan mengikuti garis tulang selangkangnya. "Bayangkan, Tiara... malam ini saja kau menolak, besok bapakmu mungkin sudah membusuk di sel kabupaten, dan kau akan berakhir di ranjang pengap para aki-aki itu."Aku
Sadikin menyulutkan korek ke ujung cerutuku. Asap tebal langsung mengepul, aromanya berat menyengat di ruangan yang remang itu. Aku duduk santai, menyilangkan satu kaki di atas paha. Aku selalu berbaju serba hitam, kontras dengan kulitku yang sawo matang khas orang lapangan yang sering terpa
Alert! Seluruh nama tokoh, alur cerita, serta latar tempat dalam kisah ini merupakan karya fiksi. Apabila terdapat kesamaan nama, karakter, peristiwa, maupun lokasi dengan kehidupan nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak disengaja. Cerita ini ditulis untuk tujuan hiburan da







