Partager

Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit
Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit
Auteur: Vanilla Ice Creamm

1. Denting Kelambu

last update Date de publication: 2026-05-29 20:18:29

Udara malam di pinggiran perkebunan sawit itu selalu terasa berat dan lembap, membawa aroma tanah basah dan bau menyengat buah sawit yang membusuk di pengepulan. Di dalam kamar kecil berdinding papan kayu, Tiara duduk di depan cermin rias yang kacanya sudah mulai buram di beberapa sudut.

Satu per satu, jemarinya yang lentik mengusapkan minyak zaitun ke lengan dan perutnya yang rata, memberikan efek kilau sehat di bawah temaram lampu bohlam 5 watt. Malam ini, dia tidak akan membawakan tari tradisional. Malam ini, ada pesanan khusus untuk tarian belly dance di perayaan kecil di balai warga.

Tiara meraih bra berbahan beledu merah marun yang dihiasi ribuan payet dan koin-koin kecil. Dengan cekatan, ia mengikat talinya kuat-kuat. Setiap gerakan tubuhnya memicu suara klinting-klinting halus dengan suara yang baginya adalah musik profesionalisme, namun bagi para pria di luar sana, itu adalah undangan.

Tiara memulas matanya dengan celak hitam yang tebal, menciptakan kesan misterius ala Timur Tengah yang kontras dengan garis wajah jawanya yang ayu. Ia melilitkan hip scarf sehelai selendang pinggul yang penuh dengan koin emas imitasi.

Ia berdiri, lalu melakukan satu getaran kecil di pinggulnya. Shimmy. Koin-koin itu beradu, menciptakan irama ritmik yang presisi. Di depan cermin, Tiara bukan lagi putri gadis biasa yang rumahnya nyaris roboh. Di sini, dia adalah seorang ratu.

"Ingat, Tiara. Hanya menari. Jangan lebih," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri.

Prinsip itu adalah satu-satunya harga diri yang ia miliki. Ia tahu banyak penari lain yang dengan senang hati menerima "uang sawer" tambahan di balik semak-semak atau di dalam truk-truk pengangkut sawit. Tapi Tiara tidak. Baginya, setiap jengkal kulitnya yang terbuka di atas panggung adalah seni yang tidak boleh disentuh.

Suara pintu depan terbuka dengan kasar. Bunyi botol kaca yang beradu dan igauan tidak jelas dari ruang tamu menandakan ayahnya baru saja pulang dalam kondisi kacau. Lagi.

Tiara menghela napas panjang, menekan rasa sesak di dadanya. Ia segera mengenakan kebaya panjang untuk menutupi kostumnya yang minim sebelum keluar rumah. Ia harus segera berangkat sebelum ayahnya mulai meminta uang untuk berjudi.

Namun, saat ia melangkah keluar melewati pintu belakang, sepasang mata sudah mengawasinya dari kegelapan di bawah pohon beringin dekat persimpangan. Sadikin. Pria tangan kanan Bang Bonar itu berdiri bersandar pada motor besar dengan rokok yang menyala di sela jarinya.

"Cantik sekali malam ini, Tiara," suara Sadikin parau, matanya menyisir sosok Tiara dari kepala hingga kaki meskipun terbungkus kebaya. "Bang Bonar pasti senang melihat laporan saya."

Tiara tidak menjawab. Ia mempercepat langkahnya, mengabaikan denting koin di balik kebayanya yang seolah-olah berteriak memberi tahu posisinya. Ia tidak tahu bahwa malam ini adalah awal dari jeratan yang sudah disiapkan sang Juragan Sawit untuk merenggut satu-satunya kemerdekaan yang ia punya.

Aula balai warga malam itu pengap. Bau asap rokok kretek murahan campur aduk dengan bau keringat orang-orang kampung yang berjejal di pinggir panggung beton setinggi lutut. Sebuah speaker aktif ukuran besar di pojok ruangan berdengung kencang, memutar musik ala timur tengah yang dipaksakan beritme padang pasir—palsu dan cempreng.

Tiara berdiri di balik tirai lusuh. Dia buang napas panjang, lalu menyentakkan kain kebaya yang tadi menutup kostumnya. Sekarang, dia cuma pakai bra beludru merah dan rok lilit yang pinggulnya penuh koin. Telanjang kaki. Kulitnya yang sudah dipoles minyak zaitun mengilap kena lampu sorot warna-warni yang berputar tak karuan

Musik intro menghentak. Tiara melangkah keluar.

Matanya tajam, lurus ke depan, nggak peduli sama siulan norak dan sorakan kasar para pria yang langsung riuh. Dia mulai bergerak.

Gerakannya bukan mendayu-dayu pelan. Dia menyentak. Pinggulnya bergetar kencang—shimmy—membuat ratusan koin di sabuknya beradu, suaranya gemerincing kasar, mengalahkan suara jangkrik di luar. Perutnya yang rata meliuk-liuk bak ular, otot-ototnya terlihat jelas bekerja keras menahan napas dan mengatur tempo.

Satu putaran cepat, roknya mengembang, memperlihatkan betisnya yang kencang. Dia berhenti mendadak, lalu memukul pinggulnya ke kanan, lalu ke kiri. Koin-koin itu berbunyi setiap kali dia ganti posisi.

Di barisan paling depan, para mandor sawit matanya melotot. Ada yang mulutnya menganga, lidahnya menjilat bibir yang pecah-pecah. Tangan mereka sudah siap dengan lembaran uang sepuluh ribuan dan dua puluh ribuan yang lusuh, digulung-gulung, siap dilempar ke panggung.

Tiara terus menari. Keringat mulai bercucuran dari pelipis, turun ke leher, terus ke belahan dadanya, bikin payet-payet di bajunya makin berkilau basah. Dia tancap gas, gerakan dadanya menghentak mengikuti dentuman bass kencang dari speaker. Dia profesional. Dia tahu bagaimana cara bikin mata mereka nggak bisa lepas, tanpa dia harus mengiba.

Uang kertas mulai beterbangan jatuh ke panggung beton yang kotor. Tiara nggak peduli. Dia nggak akan membungkuk buat ambil uang itu. Itu tugas panitia nanti.

Tapi dari semua mata yang lapar itu, ada satu pasang mata di kegelapan pojok aula yang nggak berkedip. Bukan di barisan depan yang gaduh. Tapi di belakang, bersandar di tiang kayu. Sadikin.

Dia nggak ikut bersorak. Dia cuma diam, rokoknya tinggal puntung, menatap Tiara seolah dia sedang menakar berapa harga mainan baru buat tuannya.

Tarian berakhir dengan satu sentakan pinggul terakhir yang keras. Tiara diam mematung, napasnya memburu, dadanya kembang kempis. Aula hening sedetik sebelum meledak dengan tepuk tangan dan siulan panjang.

Tiara cuma kasih anggukan kepala dingin, lalu balik badan dan jalan cepat masuk ke balik tirai, mengabaikan teriakan "Lagi! Lagi!" dari kerumunan pria yang masih haus. Baginya, tugas malam ini selesai. Dia nggak tahu kalau tarian barusan cuma pembuka dari panggung sandiwara yang jauh lebih brutal yang sudah disiapkan Bonar buat dia.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (2)
goodnovel comment avatar
buchaa
Keren banget....
goodnovel comment avatar
Razi Maulidi
duhhh, baru baca bab pertama aja udah bikin deg-deg deh. alurnya bagus....lanjut ahh
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   7-1. Menuju Pagi

    "Panggil aku seperti Sari memanggilku," perintahku rendah saat dia sudah berdiri tepat di tepi ranjang. Tiara mendongak, matanya yang besar tampak bingung dan gentar. "Ma-maksud Juragan?" Aku melangkah maju, memangkas jarak hingga ujung kakiku menyentuh jemari kakinya yang mungil. Aku membungkuk, menumpukan tanganku di atas tempat tidur, mengurung tubuhnya di antara lenganku. "Sari memanggilku 'Abang'. Aku ingin kau melakukan hal yang sama. Mulai malam ini, panggil aku Abang Bonar." "Tapi... itu terdengar tidak pantas, Juragan," bisiknya dengan suara tercekat. Aku tersenyum tipis, "Pantas atau tidak, akulah yang menentukan di rumah ini. Sekarang, panggil namaku." Tiara menelan ludah, bibirnya yang ranum bergetar hebat saat mencoba mengeluarkan suara. "A-Abang... Abang Bonar." Suara itu terdengar seperti musik yang jauh lebih indah daripada gemerincing koin di perutnya tadi. Ada nada kepasrahan yang manis di sana. Aku mengulurkan tangan, menyisir rambutnya yang masih basah

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   6. Buka Bajumu

    Aku kembali ke kursi kebesaranku, menyandarkan punggung dengan santai sambil menyesap wiski. Bunyi denting es batu dalam gelas kristal menjadi satu-satunya musik di ruangan ini. Mataku tak lepas darinya, menatap intens setiap jengkal kulitnya yang kini memerah karena malu.Tiara berdiri mematung di tengah ruangan, dikelilingi kemewahan yang tampak asing baginya. Jemarinya yang gemetar mulai meraih pengait kostum di balik punggungnya. Suara gemerincing koin imitasi itu kini terdengar putus-putus, mengikuti irama napasnya yang tidak teratur."Jangan menutup mata, Tiara. Tatap aku," perintahku saat melihat gadis muda itu menangis.Aku menikmati setiap detik penderitaannya. Cairan amber di gelasku memberikan kehangatan yang kontras dengan tatapan dinginku. Ketika helai demi helai kain itu luruh ke lantai, aku tidak terburu-buru. Aku bukan pria yang hanya lapar akan kepuasan fisik; aku menikmati proses penaklukan ini. Aku ingin dia sadar sepenuhnya bahwa mulai detik ini, tak ada satu inci

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   5. Keinginan Sari Terwujud

    Tanganku terangkat, jemariku yang kasar mengusap pelan pundaknya yang terbuka, turun perlahan mengikuti garis tulang selangkangnya. "Bayangkan, Tiara... malam ini saja kau menolak, besok bapakmu mungkin sudah membusuk di sel kabupaten, dan kau akan berakhir di ranjang pengap para aki-aki itu."Aku mencengkeram lembut pinggangnya, menariknya sedikit lebih dekat hingga ia bisa merasakan detak jantungku. "Di sini, kau hanya perlu melayaniku. Kau akan memakai sutra, bukan kain murahan. Sekarang, tunjukkan tarian yang membuatku harus membayar mahal untukmu."Tiara menghirup nafasnya dalam-dalam, hal yang dia pikirkan saat terjepit seperti ini selalu saja Rully. Meski bapaknya sendiri tak pernah perduli padanya. Menjadi simpanan juragan Bonar, tentu Tiara tak ingin rugi dan harus memanfaatkan dengan baik pria itu."Tunggu, Juragan. Saya minta satu hal lagi."Aku menaikkan sebelah alis, menatapnya dengan tatapan meremehkan. "Katakan. Tapi ingat, jangan menguji kesabaranku dengan permintaan y

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   4. Menari Tanpa Musik

    Sejak Sari sakit, aku memilih tidur di kamar terpisah. Dia menjadi sangat sensitif dan emosional, mungkin karena rasa rendah diri yang menggerogotinya dari dalam. Aku bukan tipe pria yang telaten membujuk atau mengobral kata manis. Daripada kami terus ribut atau aku lepas kendali dan main kasar, lebih baik aku menghindar.Mungkin orang akan menyebut perlakuanku ini silent treatment, tapi bagiku, ini cara terbaik menjaga sisa kewarasan kami berdua.Aku masuk ke bathup membenamkan tubuh tinggi atletisku ke dalam air yang sejuk. Kulit kecoklatanku tampak mengilat di bawah lampu ruang rias yang mewah. Sambil memejamkan mata, aku menunggu kedatangan Tiara. Jujur saja, aku belum pernah berinteraksi langsung dengannya. Tiap kali aku menginginkan seorang wanita, Sadikin-lah yang maju menyampaikan pesan dan membereskan segalanya.Beberapa kali aku melihat gadis itu menari. Gerakannya erotis namun elegan. Tubuhnya ramping, dengan lekukan pinggang kecil yang men

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   3. Butuh Pewaris

    Tiara melangkah keluar dari kedai tuak dengan napas tersengal. Rasa mual mengaduk perutnya, bukan karena bau alkohol yang menyengat tadi, tapi karena kenyataan bahwa harga dirinya ditawar seperti daging kiloan di pasar. Ternyata bapaknya bukan cuma pemabuk, tapi lubang hitam yang menghisap hidupnya.Ia nekat berjalan kaki menuju Polsek yang jaraknya dua kilometer dari sana. Jalanan aspal yang membelah perkebunan sawit itu gelap gulita, hanya dibantu cahaya bulan yang redup. Suara pelepah sawit yang saling bergesek karena angin malam terdengar seperti bisikan orang-orang yang menertawakan nasibnya.Sampai di kantor polisi yang sepi, bau karbol dan asap rokok menyambutnya. Di sudut sel yang pengap, ia melihat Rully duduk meringkuk. Wajah pria itu babak belur, matanya bengkak, dan baju kemeja kumalnya robek di bagian bahu. Begitu melihat Tiara, Rully bukannya merasa bersalah, justru merangkak mendekati jeruji besi."Tiara! Kamu bawa uangnya? Tolong

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   2. Calon Duren

    Sadikin menyulutkan korek ke ujung cerutuku. Asap tebal langsung mengepul, aromanya berat menyengat di ruangan yang remang itu. Aku duduk santai, menyilangkan satu kaki di atas paha. Aku selalu berbaju serba hitam, kontras dengan kulitku yang sawo matang khas orang lapangan yang sering terpapar matahari.Di usiaku menginjak 37 tahun, Aku sudah jadi penguasa tunggal di wilayah ini. Dan Aku sebentar lagi bakal jadi duda; istriku, Sari, tinggal menunggu waktu karena kanker yang menggerogoti tubuhnya sampai tinggal tulang. Tapi bagiku, hidup harus tetap jalan."Apa benar dia masih perawan?" tanyaku datar, mataku menatap asap cerutu yang meliuk-liuk di udara."Kalau soal itu, masih kabar burung, Juragan," jawab Sadikin sambil menyimpan korek ke saku celananya."Saya sendiri agak sangsi. Mana ada penari di kampung ini yang belum pernah 'dipakai'? Penampilannya saja sudah mengundang hasrat."Aku mengembuskan asap pelan, matanya menyipit membayan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status