เข้าสู่ระบบ
Alert!
Seluruh nama tokoh, alur cerita, serta latar tempat dalam kisah ini merupakan karya fiksi. Apabila terdapat kesamaan nama, karakter, peristiwa, maupun lokasi dengan kehidupan nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak disengaja. Cerita ini ditulis untuk tujuan hiburan dan imajinasi semata. Selamat membaca, dan semoga Anda menikmati setiap kisah yang tersaji di dalamnya. ---- Udara malam di pinggiran perkebunan sawit itu selalu terasa berat dan lembap, membawa aroma tanah basah dan bau menyengat buah sawit yang membusuk di pengepulan. Di dalam kamar kecil berdinding papan kayu, Tiara duduk di depan cermin rias yang kacanya sudah mulai buram di beberapa sudut. Satu per satu, jemarinya yang lentik mengusapkan minyak zaitun ke lengan dan perutnya yang rata, memberikan efek kilau sehat di bawah temaram lampu bohlam 5 watt. Malam ini, dia tidak akan membawakan tari tradisional. Malam ini, ada pesanan khusus untuk tarian belly dance di perayaan kecil di balai warga. Tiara meraih bra berbahan beledu merah marun yang dihiasi ribuan payet dan koin-koin kecil. Dengan cekatan, ia mengikat talinya kuat-kuat. Setiap gerakan tubuhnya memicu suara klinting-klinting halus dengan suara yang baginya adalah musik profesionalisme, namun bagi para pria di luar sana, itu adalah undangan. Tiara memulas matanya dengan celak hitam yang tebal, menciptakan kesan misterius ala Timur Tengah yang kontras dengan garis wajah jawanya yang ayu. Ia melilitkan hip scarf sehelai selendang pinggul yang penuh dengan koin emas imitasi. Ia berdiri, lalu melakukan satu getaran kecil di pinggulnya. Shimmy. Koin-koin itu beradu, menciptakan irama ritmik yang presisi. Di depan cermin, Tiara bukan lagi putri gadis biasa yang rumahnya nyaris roboh. Di sini, dia adalah seorang ratu. "Ingat, Tiara. Hanya menari. Jangan lebih," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri. Prinsip itu adalah satu-satunya harga diri yang ia miliki. Ia tahu banyak penari lain yang dengan senang hati menerima "uang sawer" tambahan di balik semak-semak atau di dalam truk-truk pengangkut sawit. Tapi Tiara tidak. Baginya, setiap jengkal kulitnya yang terbuka di atas panggung adalah seni yang tidak boleh disentuh. Suara pintu depan terbuka dengan kasar. Bunyi botol kaca yang beradu dan igauan tidak jelas dari ruang tamu menandakan ayahnya baru saja pulang dalam kondisi kacau. Lagi. Tiara menghela napas panjang, menekan rasa sesak di dadanya. Ia segera mengenakan kebaya panjang untuk menutupi kostumnya yang minim sebelum keluar rumah. Ia harus segera berangkat sebelum ayahnya mulai meminta uang untuk berjudi. Namun, saat ia melangkah keluar melewati pintu belakang, sepasang mata sudah mengawasinya dari kegelapan di bawah pohon beringin dekat persimpangan. Sadikin. Pria tangan kanan Bang Bonar itu berdiri bersandar pada motor besar dengan rokok yang menyala di sela jarinya. "Cantik sekali malam ini, Tiara," suara Sadikin parau, matanya menyisir sosok Tiara dari kepala hingga kaki meskipun terbungkus kebaya. "Bang Bonar pasti senang melihat laporan saya." Tiara tidak menjawab. Ia mempercepat langkahnya, mengabaikan denting koin di balik kebayanya yang seolah-olah berteriak memberi tahu posisinya. Ia tidak tahu bahwa malam ini adalah awal dari jeratan yang sudah disiapkan sang Juragan Sawit untuk merenggut satu-satunya kemerdekaan yang ia punya. Aula balai warga malam itu pengap. Bau asap rokok kretek murahan campur aduk dengan bau keringat orang-orang kampung yang berjejal di pinggir panggung beton setinggi lutut. Sebuah speaker aktif ukuran besar di pojok ruangan berdengung kencang, memutar musik ala timur tengah yang dipaksakan beritme padang pasir—palsu dan cempreng. Tiara berdiri di balik tirai lusuh. Dia buang napas panjang, lalu menyentakkan kain kebaya yang tadi menutup kostumnya. Sekarang, dia cuma pakai bra beludru merah dan rok lilit yang pinggulnya penuh koin. Telanjang kaki. Kulitnya yang sudah dipoles minyak zaitun mengilap kena lampu sorot warna-warni yang berputar tak karuan Musik intro menghentak. Tiara melangkah keluar. Matanya tajam, lurus ke depan, nggak peduli sama siulan norak dan sorakan kasar para pria yang langsung riuh. Dia mulai bergerak. Gerakannya bukan mendayu-dayu pelan. Dia menyentak. Pinggulnya bergetar kencang—shimmy—membuat ratusan koin di sabuknya beradu, suaranya gemerincing kasar, mengalahkan suara jangkrik di luar. Perutnya yang rata meliuk-liuk bak ular, otot-ototnya terlihat jelas bekerja keras menahan napas dan mengatur tempo. Satu putaran cepat, roknya mengembang, memperlihatkan betisnya yang kencang. Dia berhenti mendadak, lalu memukul pinggulnya ke kanan, lalu ke kiri. Koin-koin itu berbunyi setiap kali dia ganti posisi. Di barisan paling depan, para mandor sawit matanya melotot. Ada yang mulutnya menganga, lidahnya menjilat bibir yang pecah-pecah. Tangan mereka sudah siap dengan lembaran uang sepuluh ribuan dan dua puluh ribuan yang lusuh, digulung-gulung, siap dilempar ke panggung. Tiara terus menari. Keringat mulai bercucuran dari pelipis, turun ke leher, terus ke belahan dadanya, bikin payet-payet di bajunya makin berkilau basah. Dia tancap gas, gerakan dadanya menghentak mengikuti dentuman bass kencang dari speaker. Dia profesional. Dia tahu bagaimana cara bikin mata mereka nggak bisa lepas, tanpa dia harus mengiba. Uang kertas mulai beterbangan jatuh ke panggung beton yang kotor. Tiara nggak peduli. Dia nggak akan membungkuk buat ambil uang itu. Itu tugas panitia nanti. Tapi dari semua mata yang lapar itu, ada satu pasang mata di kegelapan pojok aula yang nggak berkedip. Bukan di barisan depan yang gaduh. Tapi di belakang, bersandar di tiang kayu. Sadikin. Dia nggak ikut bersorak. Dia cuma diam, rokoknya tinggal puntung, menatap Tiara seolah dia sedang menakar berapa harga mainan baru buat tuannya. Tarian berakhir dengan satu sentakan pinggul terakhir yang keras. Tiara diam mematung, napasnya memburu, dadanya kembang kempis. Aula hening sedetik sebelum meledak dengan tepuk tangan dan siulan panjang. Tiara cuma kasih anggukan kepala dingin, lalu balik badan dan jalan cepat masuk ke balik tirai, mengabaikan teriakan "Lagi! Lagi!" dari kerumunan pria yang masih haus. Baginya, tugas malam ini selesai. Dia nggak tahu kalau tarian barusan cuma pembuka dari panggung sandiwara yang jauh lebih brutal yang sudah disiapkan Bonar buat dia.Pintu terbuka dan sosok Sabryna muncul di sana. Gadis itu melangkah masuk dengan senyum manis yang dipaksakan, membawa sebuah nampan berisi cangkir kopi yang masih berasap. Pakaian kerjanya kelewat ketat untuk ukuran seorang staf magang, sengaja memperlihatkan lekuk tubuh yang justru membuatku muak."Om Bonar... ini saya bawakan kopi hitam tanpa gula, persis seperti yang Om suka," ucapnya dengan nada suara yang dibuat-buat lembut, lalu meletakkan cangkir itu di ujung mejaku.Aku tidak menyentuh cangkir itu sama sekali. Mataku dingin menatapnya. "Siapa yang menyuruhmu ke sini, Sabryna? Tugas pembukuanmu dari Lydia sudah selesai?"Sabryna sedikit terkejut dengan nada dinginku, tetapi dia cepat-cepat menguasai diri. Ia menyibak rambutnya ke belakang telinga, mencoba bersikap manja. "Sudah hampir selesai kok, Om. Saya cuma khawatir Om capek baru pulang dari Jakarta, jadi saya inisiatif buatkan kopi. Lagipula, Tante Tiara kan tidak bisa menemani Om di k
Setelah Rully pergi dikawal orang-orang Bonar, kini hanya tersisa Bonar dan Sadikin. "Pak, bagaimana jika Bu Tiara suatu saat ingin bertemu bapaknya? Beliau pasti akan menyadari jika sudah lama tidak melihat bapaknya. Pak Bonar harus memberikan jawaban yang logis untuk Bu Tiara," tanya Sadikin sambil berjalan di sampingnya menuju bangunan utama Dirga Group yang terletak beberapa blok dari gudang. Aku menghembuskan asap rokok ke udara sebelum menoleh ke arah Sadikin dengan wajah datar. "Biar aku yang atur," jawabku tenang. "Tiara tahu bapaknya punya utang di mana-mana dan sering kabur-kaburan. Kalau dia bertanya, aku tinggal katakan kalau Rully pergi ke luar pulau untuk menghindari penagih utang dan memulai hidup baru dengan uang yang kuberikan. Tiara tidak akan curiga, karena memang seperti itulah kelakuan bapaknya dari dulu." "Soal penyebar video masa lalu istriku bagaimana, Kang? Sudah ketemu? Jangan lupa hapus
Kembali ke suasana mencekam di dalam gudang belakang kantor Dirga Group, beberapa saat sebelum Bonar menumpahkan amarahnya pada Rully. Sadikin berdiri tegak di dekat pintu besi yang terkunci rapat, mengawasi dengan tatapan waspada. Di tengah ruangan yang remang-remang, bau keringat dingin dan ketakutan yang pekat. Dua orang debt collector berbadan kekar yang awalnya sangar saat menagih utang di jalanan, kini tertunduk lesu dengan tangan terikat kuat ke belakang kursi. Di sebelah mereka, Rully Sondang tampak jauh lebih mengenaskan; wajahnya pucat pasi, napasnya memburu, dan matanya terus bergerak gelisah. Pintu terbuka dengan bunyi berderit pelan. Langkah kaki Bonar yang mantap dan berat seketika memotong keheningan. Aura dingin yang dibawanya langsung membuat atmosfer ruangan terasa makin menghimpit. Aku berjalan tenang, lalu menarik sebuah kursi besi. Lalu membaliknya dan duduk dengan santai tepat di hadapan ket
Pesawat akhirnya mendarat di Pekanbaru sore itu. Begitu keluar dari area bandara, dua mobil hitam sudah menunggu di lobi penjemputan. Aku menuntun Tiara menuju mobil pertama yang akan membawa pulang dengan pengawalan ketat. Sebelum masuk ke kabin, Tiara berbalik dan menatapku."Abang, jangan lama-lama, cepat pulang ya," ucapnya sambil mencengkeram kaus polo hitamku seperti anak kecil.Aku tersenyum hangat, mengusap punggung tangan Tiara lalu mengecup keningnya dalam. "Iya, Sayang. Selesai urusan, Abang langsung pulang."****Setelah mobil yang membawa Tiara melaju pergi dengan pengawalan ketat, rahangku kembali mengeras. Kehangatan yang terpancar di mataku untuk istriku beberapa detik lalu sirna seketika, Aku berbalik dan melangkah lebar menuju mobil kedua, sebuah SUV hitam yang mesinnya sudah menyala dengan sopir yang sigap membukakan pintu.Sadikin langsung menyusul dan duduk di kursi depan, suasana di dalam kabin langsun
"Tapi kamu harus tetap makan makanan yang bergizi, Tiara," peringatku tegas."Habis ini, Bang. Aku mau ambil nasi capcai dan ikan dorang goreng tepung nanti. Abang juga makan, dong."Kami akhirnya kembali ke meja setelah mengambil makanan masing-masing. Aku duduk di hadapannya, memperhatikan Tiara yang mulai menyantap nasi dengan lahap, melupakan sejenak kombinasi semangka saus tomatnya yang aneh tadi.Suasana lounge yang tenang menemani makan siang kami, namun pikiranku tetap tidak bisa lepas dari urusan Rully Sondang di Pekanbaru. Kunyahanku terasa hambar karena menahan dongkol.Di sela suapannya, Tiara tiba-tiba mendongak dan menatapku penuh selidik."Bang, masalah di Pekanbaru apa sih? Ada masalah dengan pembukaan lahan? Atau konflik tapal batas sama masyarakat adat lagi?"Aku meletakkan sendok, lalu meminum air putih untuk menetralkan keteganganku. Sorot mataku menatapnya lurus, memastikan tidak ada kepanikan yang lolos
Pagi harinya setelah sarapan, kami langsung menuju rumah sakit terdekat dari hotel. Untung saja malam sebelumnya aku sudah mendaftar secara online, jadi antrean kami tidak terlalu panjang.Di dalam ruangan yang sejuk itu, Tiara tampak gugup saat diminta berbaring di brankar. Dokter kandungan dia seorang wanita paruh baya yang ramah dan mulai mengoleskan gel dingin di perut rata Tiara, lalu menempelkan stik USG di sana. Mataku dan mata Tiara kompak tertuju pada layar monitor hitam-putih di samping brankar."Kita lihat sama-sama ya, Pak, Bu," ujar dokter sambil menggerakkan alatnya dengan teliti.Dokter tersenyum dan menunjuk sebuah titik kecil berbentuk kantung di layar. "Nah, ini dia. Bisa dilihat ya? Ini adalah kantung kehamilannya. Masih sangat kecil, tapi posisinya bagus dan menempel dengan sempurna di dinding rahim."Tiara langsung menoleh menatapku dengan haru. "Bang..." bisiknya lirih, menggenggam tanganku erat.Aku membalas ge
Aku langsung membungkam bibir mungilnya dengan lumatan yang semakin panas, dalam, dan menuntut. Tidak ada lagi ruang untuk keraguan. Tiara membalasnya dengan sisa-sisa tenaganya, mengikuti irama ciumanku yang kian menggebu. Kubenamkan wajahku kembali ke ceruk lehernya yang kini bas
Aku kembali ke kursi kebesaranku, menyandarkan punggung dengan santai sambil menyesap wiski. Bunyi denting es batu dalam gelas kristal menjadi satu-satunya musik di ruangan ini. Mataku tak lepas darinya, menatap intens setiap jengkal kulitnya yang kini memerah karena malu.Tiara berdiri mematung di
Tiara melangkah keluar dari kedai tuak dengan napas tersengal. Rasa mual mengaduk perutnya, bukan karena bau alkohol yang menyengat tadi, tapi karena kenyataan bahwa harga dirinya ditawar seperti daging kiloan di pasar. Ternyata bapaknya bukan cuma pemabuk, tapi lubang hitam yang menghi
Sadikin menyulutkan korek ke ujung cerutuku. Asap tebal langsung mengepul, aromanya berat menyengat di ruangan yang remang itu. Aku duduk santai, menyilangkan satu kaki di atas paha. Aku selalu berbaju serba hitam, kontras dengan kulitku yang sawo matang khas orang lapangan yang sering terpa







