Share

6. Buka Bajumu

last update publish date: 2026-05-29 23:34:22

Aku kembali ke kursi kebesaranku, menyandarkan punggung dengan santai sambil menyesap wiski. Bunyi denting es batu dalam gelas kristal menjadi satu-satunya musik di ruangan ini. Mataku tak lepas darinya, menatap intens setiap jengkal kulitnya yang kini memerah karena malu.

Tiara berdiri mematung di tengah ruangan, dikelilingi kemewahan yang tampak asing baginya. Jemarinya yang gemetar mulai meraih pengait kostum di balik punggungnya. Suara gemerincing koin imitasi itu kini terdengar putus-putus, mengikuti irama napasnya yang tidak teratur.

"Jangan menutup mata, Tiara. Tatap aku," perintahku saat melihat gadis muda itu menangis.

Aku menikmati setiap detik penderitaannya. Cairan amber di gelasku memberikan kehangatan yang kontras dengan tatapan dinginku. Ketika helai demi helai kain itu luruh ke lantai, aku tidak terburu-buru. Aku bukan pria yang hanya lapar akan kepuasan fisik; aku menikmati proses penaklukan ini. Aku ingin dia sadar sepenuhnya bahwa mulai detik ini, tak ada satu inci pun dari dirinya yang bukan milikku.

Menatap perut —pinggangnya yang ramping, lalu turun ke pangkal paha bagian paling pribadinya yang tercukur rapi, akan kupastikan akan kusesap hingga gadis itu mengejang klimaks dengan seluruh tubuhnya kaku sebelum masuk ke adengan intinya.

Serta dadanya, secara refleks aku mengepalkan tangan, menatap kepalan tanganku dan beralih ke gundukan sintal milik Tiara —membayangkan ukuran, tekstur, dan bentuknya dalam genggamanku.

Bagian pucuk yang berwarna cokelat muda itu seolah mengundangku untuk menjamah dan menyusup di antara keduanya. Mataku berkilat penuh nafsu dengan senyum miring; aku yakin Tiara pasti bergidik ngeri. Namun aku masih menahannya. Belum saatnya, Bonar.

"Bagus," bisikku saat ia akhirnya berdiri tanpa sehelai benang pun, mencoba menutupi tubuhnya dengan tangan.

Aku meletakkan gelas wiski yang sudah kosong, lalu bangkit berdiri. Langkah kakiku yang berat di atas lantai kayu jati terdengar seperti hitungan mundur bagi kebebasannya. Aku berhenti tepat di depannya, menyesap sisa aroma wiski di napasku sebelum berbisik di puncak kepalanya.

"Kamar mandi di sebelah sana. Bersihkan dirimu sebersih mungkin. Aku ingin setiap jejak mata pria lain hilang dari kulitmu sebelum aku menyentuhnya." Tiara mengangguk dengan cepat menyambar handuk bersih itu.

Tiara melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang luasnya nyaris menyamai seluruh rumahnya di kampung. Uap hangat mulai memenuhi ruangan, mengaburkan pandangan, namun tak mampu menghangatkan hatinya yang membeku. Di bawah kucuran shower, ia berdiri mematung. Air hangat yang jatuh menyentuh kulitnya terasa seperti ribuan jarum yang menusuk.

Ia memejamkan mata rapat-rapat, namun bayangan wajah Sari yang pucat dan tatapan lapar Bonar justru makin jelas membayangi. Jemarinya mencengkeram erat pinggiran wastafel marmer yang dingin. Ada rasa mual yang mendesak di dadanya—perasaan terhina karena harus menelanjangi diri di depan pria yang baru saja dikenalnya, pria yang kini memegang kendali atas hidup dan mati bapaknya.

Tiara menggosok lengannya dengan kasar menggunakan sabun bermerk mahal, mencoba menghapus bayangan mata para pria di panggung tadi, namun ia sadar, ia hanya sedang berpindah dari satu kandang serigala ke kandang singa yang jauh lebih besar.

Tak lupa Tiara mencuci rambutnya yang lepek oleh keringat, debu dan kotoran yang menempel sambil memijat kulit kepalanya. Ada rasa nyaman mandi di air hangat ini, biasanya jika di rumah reotnya jika ingin mandi air hangat dia akan merebus air dahulu.

Pikiran Tiara melayang memulai untuk berdamai dan menikmati power play Bonar yang menjamin hidupnya. Menjadi istri kedua tidak buruk, lebih jelas statusnya daripada hanya melayani dan selesai urusan syahwat langsung pergi.

****

Aku menyandarkan kepala di sandaran kursi, mendengarkan sayup-sayup suara air yang jatuh di balik pintu kaca buram itu. Imajinasiku bekerja liar, membayangkan bagaimana air itu mengalir melewati lekukan punggungnya, membasahi rambut panjangnya, dan meluruhkan sisa-sisa debu jalanan dari tubuhnya.

Setiap detik yang berlalu terasa seperti permainan kesabaran yang nikmat. Aku tidak suka buru-buru; aku lebih suka menunggu sampai mangsaku benar-benar menyerah pada keadaan. Aku menyesap sisa aroma wiski di gelas yang sudah kosong, merasakan desiran panas yang mulai merambat ke seluruh pembuluh darahku.

Setelah beberapa saat, suara gemericik air itu berhenti. Keheningan yang mengikuti setelahnya terasa jauh lebih mencekam. Aku tahu dia sedang berdiri di sana, bimbang di balik pintu, mengulur waktu sesaat sebelum menyerahkan seluruh hidupnya padaku.

"Jangan terlalu lama, Tiara. Kesabaranku ada harganya," seruku dengan nada berwibawa, cukup keras untuk menembus dinding kamar mandi.

Tak lama kemudian, pintu terbuka. Kabut uap tipis keluar mengiringi langkahnya yang ragu. Dia keluar hanya dengan balutan handuk putih yang ia lilitkan seadanya, menutupi bagian dada hingga paha atasnya. Rambutnya yang basah menempel di leher dan bahunya, meninggalkan jejak air yang mengalir perlahan di atas kulit kecokelatannya yang kini tampak jauh lebih segar—dan jauh lebih mengundang.

Aku berdiri, membiarkan tatapanku mengunci matanya yang masih tampak berkaca-kaca. "Mendekatlah ke ranjang. Kita punya banyak waktu untuk melunasi utang-utang bapakmu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Manissss
Kasian banget si sari ini...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   84. Ingin Cepat Pulang

    "Terima kasih, Leo. Belum ada lagi, kok, mungkin nanti," jawab Tiara, sedikit canggung karena jarak mereka yang sempat terlalu dekat.Sambil melangkah menyusuri lorong rak, Tiara mencoba mengalihkan suasana. "Leo, dulu waktu Teh Sari masih sehat, apa kamu sering mengantarnya bepergian?""Tidak pernah, Tante," sahut Leo seraya menyelaraskan langkah di sampingnya. "Waktu Tante Sari masih sehat, aku masih kuliah di luar kota. Lagipula setahuku, Tante Sari itu jago menyetir mobil sendiri. Cuma ya... karena sekarang sakit, jadi tidak bisa ke mana-mana lagi.""Oh, begitu... Mandiri sekali, ya," gumam Tiara pelan.Ia mengelus perutnya yang masih ratas. Terpikir di benaknya, andai saja ia sedang tidak hamil, mungkin ia sudah meminta izin pada Bonar untuk belajar menyetir mobil juga. Namun untuk sekarang, keinginan itu terpaksa ia simpan rapat-rapat dalam daftar rencananya nanti."Kenapa, Tante?" tanya Leo memperhatikan perubahan raut wajah T

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   83. Ditemani Leo

    "Senang berbisnis denganmu, Bonar," ucap Erwin seraya menjabat tangan Bonar dengan gerakan mantap. "Dan... Bu Tiara, semoga rumah kos yang saya jual bisa menjadi ladang rezeki baru untuk Anda.""Terima kasih, Win. Istriku pasti akan merawat rumah kos itu dengan baik," aku membalas dengan mantap, menyunggingkan senyum lega."Terima kasih banyak, Pak Erwin," sahut Tiara sembari menyambut jabat tangan Erwin dengan senyum tulus. Ada binar bahagia yang tak bisa ia sembunyikan dari matanya.Erwin mengangguk ramah lalu merapikan tas kerjanya. "Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu. Semua berkas legalitasnya sudah beres dan resmi berpindah tangan ke Bu Tiara."Begitu Erwin melangkah keluar dari ruangan, Tiara mendekat lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Ia memelukku hangat."Abang, terima kasih banyak untuk aset ini. Aku janji akan mengelolanya dengan baik," bisiknya tulus dengan nada penuh rasa syukur."Sama-sama, Sayang. A

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   82. Rencana Gagal

    Dengan teliti dan hati-hati, aku mengelap seluruh bagian dalam flat shoes Tiara hingga benar-benar bersih dari sisa bulu halus yang menempel."Dasar tidak hati-hati yang menaruh sepatu di sini," gerutuku pelan, membayangkan betapa kasihan istriku jika tadi sempat menginjaknya. "Untung saja tadi tersenggol. Kalau tidak, bisa panik satu rumah gara-gara kakinya bentol-bentol."Setelah memastikan sepatu Tiara benar-benar bersih dan aman, aku menaruhnya kembali di tempat yang lebih tinggi dan aman, lalu memakai sepatuku sendiri dengan perasaan lega.****Siang harinya, sebelum makan siang, Tiara menemui Bonar ke kantornya. Dengan OOTD kasual namun elegan, ia berjalan anggun menuju ruangan Bonar."Eh, Bu Tiara. Sekarang sering ya ke kantor Bapak? Perkenalkan, saya Lydia, Manajer Keuangan Dirga Group." Perempuan berusia sekitar empat puluhan namun masih tampak awet muda dan cantik itu mencoba berakrab ria.Tiara tersenyum ramah dan menjabat

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   81. Ulat Bulu

    Pagi harinya, ketika aku dan Tiara hendak makan pagi, Sabryna sudah duduk lebih dulu di hadapan kami."Bang, Teh Sari kok belum keluar kamar ya?" tanya Tiara padaku.Aku menarik kursi untuk Tiara, memastikannya duduk dengan nyaman sebelum aku menyusul duduk di sampingnya. Pandanganku sempat sekilas menatap Sabryna yang bergeming, lalu kembali terfokus pada Tiara."Biarkan saja, Sayang," jawabku tenang seraya mengambilkan piring untuknya. "Dia butuh waktu sendiri. Kamu tidak usah memikirkannya, fokus saja pada sarapan dan kesehatanmu."Bi Asih datang membawa bolu jadul yang baru saja dipotongnya. "Pagi, Pak, Ibu. Ini bolu jadul pesanan Bu Tiara kemarin sore. Silakan dicoba, semoga berkenan.""Terima kasih, Bi. Nanti saya makan," balas Tiara.Aku tersenyum tipis lalu melirik bolu yang masih mengepulkan aroma harum butter. Dengan lembut, aku mengusap jemari Tiara di atas meja."Ooh, ternyata bumil lagi mengidam bolu jadul?" goda

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   80. Sari Mendengar

    Aku meletakkan ponsel ke atas meja, lalu bangkit dan mendekatinya. Tanpa ragu, aku menyelinapkan tangan ke pinggangnya lalu menarik tubuh mungil itu ke dalam pangkuanku saat aku mendarat di sofa. Aku membelai lembut pipinya yang masih merona merah menahan kesal, menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan pikirannya. "Sudah Abang bilang, dia di sini cuma menumpang karena rasa kasihan, Sayang," ucapku tegas sembari merapikan anak rambut di wajahnya. "Untuk Dirga Group, Abang tidak akan pernah mempekerjakannya secara permanen. Dia cuma dapat jatah magang sampai selesai, setelah itu dia harus cari jalan sendiri. Jadi, tidak perlu buang-buang energimu untuk memikirkan dia lagi, ya?" "Bisa tidak sebelum selesai magang Abang akhiri saja? Aku enek melihat dia di sini. Kesal tahu, Bang. Nanti anakku mirip dia kelakuannya." Aku tak bisa menahan tawa mendengar ocehan polos sekaligus ketakutannya yang terbilang konyol itu

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   79. Posisi Terancam

    Sabryna berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya dengan napas memburu. Rasa malu dan dongkol bercampur aduk jadi satu, membakar dadanya usai diamuk habis-habisan oleh Bonar di ruang tengah tadi. "Ah, sialan! Ternyata Tante Sari pernah selingkuh? Pantas saja Om Bonar makin acuh dan tidak sudi menyentuhnya lagi," sinisnya seraya menghentakkan kaki jengkel ke lantai. Ia melempar tubuhnya kasar ke tepi ranjang, meremas sprei dengan jemari bergetar. Kecongkohan yang selama ini ia pamerkan di depan Tiara rasanya seperti menampar mukanya sendiri. "Kalau begini, posisiku jadi serba salah dan makin tidak punya pijakan di rumah ini gara-gara masa lalu Tante Sari. Kalau aku tidak dengar sendiri tadi, mana pernah aku tahu kalau wanita sombong seperti dia bukan cuma penyakitan, tapi juga cacat moralnya." "Baiklah, aku akan tetap menjalankan rencanaku, dengan atau tanpa bantuan Tante Sari," bisiknya mantap dengan mata berkilat

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   3. Butuh Pewaris

    Tiara melangkah keluar dari kedai tuak dengan napas tersengal. Rasa mual mengaduk perutnya, bukan karena bau alkohol yang menyengat tadi, tapi karena kenyataan bahwa harga dirinya ditawar seperti daging kiloan di pasar. Ternyata bapaknya bukan cuma pemabuk, tapi lubang hitam yang menghi

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   2. Calon Duren

    Sadikin menyulutkan korek ke ujung cerutuku. Asap tebal langsung mengepul, aromanya berat menyengat di ruangan yang remang itu. Aku duduk santai, menyilangkan satu kaki di atas paha. Aku selalu berbaju serba hitam, kontras dengan kulitku yang sawo matang khas orang lapangan yang sering terpa

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   1. Denting Kelambu

    Alert! Seluruh nama tokoh, alur cerita, serta latar tempat dalam kisah ini merupakan karya fiksi. Apabila terdapat kesamaan nama, karakter, peristiwa, maupun lokasi dengan kehidupan nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak disengaja. Cerita ini ditulis untuk tujuan hiburan da

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   5. Keinginan Sari Terwujud

    Tanganku terangkat, jemariku yang kasar mengusap pelan pundaknya yang terbuka, turun perlahan mengikuti garis tulang selangkangnya. "Bayangkan, Tiara... malam ini saja kau menolak, besok bapakmu mungkin sudah membusuk di sel kabupaten, dan kau akan berakhir di ranjang pengap para aki-aki itu."Aku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status