مشاركة

2. Calon Duren

last update تاريخ النشر: 2026-05-29 20:30:28

Sadikin menyulutkan korek ke ujung cerutuku. Asap tebal langsung mengepul, aromanya berat menyengat di ruangan yang remang itu. Aku duduk santai, menyilangkan satu kaki di atas paha. Aku selalu berbaju serba hitam, kontras dengan kulitku yang sawo matang khas orang lapangan yang sering terpapar matahari.

Di usiaku menginjak 37 tahun, Aku sudah jadi penguasa tunggal di wilayah ini. Dan Aku sebentar lagi bakal jadi duda; istriku, Sari, tinggal menunggu waktu karena kanker yang menggerogoti tubuhnya sampai tinggal tulang. Tapi bagiku, hidup harus tetap jalan.

"Apa benar dia masih perawan?" tanyaku datar, mataku menatap asap cerutu yang meliuk-liuk di udara.

"Kalau soal itu, masih kabar burung, Juragan," jawab Sadikin sambil menyimpan korek ke saku celananya.

"Saya sendiri agak sangsi. Mana ada penari di kampung ini yang belum pernah 'dipakai'? Penampilannya saja sudah mengundang hasrat."

Aku mengembuskan asap pelan, matanya menyipit membayangkan liukan perut Tiara di panggung tadi. Kesan liar gadis itu justru membuatnya makin penasaran.

"Bawa dia malam ini ke kamarku. Ingat, Sari jangan sampai tahu dulu. Aku juga ingin beri kejutan Tiara," Aku tersenyum tipis, "Kasihan dia, ayahnya sedang pusing di kantor polisi. Kita bantu ringankan bebannya sedikit."

Sadikin mengangguk paham. Dia tahu persis maksud 'bantuan' dariku. Pria itu segera melangkah keluar, meninggalkan Bonar yang kembali menyesap cerutunya dengan tenang, seolah baru saja memutuskan untuk membeli satu petak lahan sawit baru.

*****

Seorang koordinator menyodorkan segepok uang lusuh hasil saweran itu pada Tiara. "Ini jatahmu."

Tiara mengerutkan dahi, merasa ada yang janggal. "Kok sedikit sekali, Kang? Perasaan tadi banyak. Potongannya kan cuma 10% buat penyelenggara?"

Eros, si koordinator itu, meludah ke samping lalu menatap Tiara remeh. "Sisanya sudah diambil buat bayar utang bapakmu ke Bang Bonar. Katanya buat jaminan biar dia nggak dipukuli di sel. Terima saja, masih untung kamu nggak pulang tangan kosong."

"Apa? Jadi Bapak berulah lagi, Kang?"

Tiara sangsi. Seingatnya tadi Rully sudah di rumah saat dia berangkat.

"Bukan cuma berulah, Tiara. Bapakmu bikin keributan di lapak judi. Sekarang dia sudah diangkut ke kantor polisi. Nasibnya di tangan Bang Bonar."

Begitu Eros pergi, Sadikin masuk menemui Tiara yang sudah berganti kebaya. Gadis itu tampak cemas, bersiap pergi dari sana.

"Mau ke mana buru-buru, Neng? Bang Bonar ingin kamu menemaninya."

Tiara menghela napas. 'Menemani' hanyalah kata sopan, aslinya lebih dari itu. "Sampaikan pada Bang Bonar, Kang. Saya tidak bersedia. Sudah berapa kali kubilang? Utang Bapak akan kucicil."

"Cicil? Yang benar saja. Memang kamu bisa? Selain utang pada dua rentenir masing-masing lima belas jutaan, bapakmu juga bikin kerusakan, memukul wanita penghibur sampai butuh biaya banyak, dan utang minuman. Totalnya ada lima puluh jutaan."

"Apa? Lima puluh juta?"

"Makanya, ikut denganku. Bang Bonar akan membantumu. Dia sangat menyukaimu," Sadikin terkekeh.

"Lima puluh juta tidak mungkin terkumpul dari menari semalam, Kang. Tapi aku bukan barang dagangan yang bisa dibeli Bang Bonar!"

Sadikin mengangkat bahunya acuh. "Terserah. Hanya itu jalan satu-satunya. Temani dia, utang bapakmu lunas. Membungkam aparat itu tidak murah."

"Aku bilang tidak! Katakan pada Bang Bonar, aku akan cari pinjaman." Tiara langsung pergi dengan wajah kesal. Dia ingin menemui Juragan Marbun, mantan bos bapaknya. Siapa tahu bisa membantu.

Juragan Marbun adalah salah satu orang kaya di desa ini, namun kekayaannya tidak seberapa dibanding Bonar yang menguasai 60% wilayah perkebunan di daerah ini.

Malam itu, Marbun dan teman-temannya sedang mabuk berat di sebuah kedai tuak. Pria 50 tahun itu berperut buncit, berambut keriting, dan punya gigi emas yang mencolok. Tiara memberanikan diri menemuinya.

Suasana kedai remang-remang. Suara musik house remix ala angkot Medan sangat memekakkan telinga.

"Malam, Juragan. Maaf mengganggu, saya ingin minta bantuan." Juragan Marbun yang sedang merangkul wanita berpakaian minim itu menyipitkan mata.

"Oalah, Tiara penari perut itu?" Marbun tertawa sampai gigi emasnya kelihatan. "Boleh, asal kamu mau menari di pangkuanku sekarang. Berapa sih yang kamu butuh?"

Tiara mengepalkan tangan, menahan mual melihat seringai Marbun. "Saya butuh pinjaman uang, Juragan. Bukan untuk menjual diri di tempat kotor seperti ini!"

Marbun terkekeh geli menatap Tiara. Gadis yang dulu sering menyusul Rully ke kebun dengan seragam SMA itu kini sudah lulus. Pikirnya, sudah usia legal kalau diajak ke ranjang. Dulu, dia menahan diri agar tidak dibilang pedofil.

"Bapakmu itu masih ada utang denganku enam juta yang belum dibayar buat judi."

"Enam juta?"

"Ya, tidak cuma denganku. Tanya saja sama mereka mumpung ada di sini."

Marbun melirik teman-temannya, para bandot tua bau tanah: Juragan Asep si tukang kawin cerai yang anaknya tercecer di mana-mana; Juragan Togar yang punya catatan KDRT pada istri dan simpanannya; dan terakhir Juragan Mahmud yang hobi menjebak gadis desa dengan utang untuk dijadikan pemuas nafsu. Tiara bergidik, tidak ada satu pun dari mereka yang benar.

"Layani kami bergantian, Tiara. Utang bapakmu sembilan juta akan kuanggap lunas," sahut Togar enteng.

"Aku yang lebih dulu, karena utangnya denganku lebih banyak, lima belas juta! Kau Asep, karena cuma dua juta, kamu yang terakhir," sahut Juragan Mahmud sambil terkekeh.

Tiara terhuyung, nyaris pingsan mendengar total utang Bapak yang menggila. "Ternyata kalian semua sama saja, sama busuknya dengan juragan Bonar!"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
تعليقات (1)
goodnovel comment avatar
Manissss
Bapaknya utang gila2an banget dah..
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   84. Ingin Cepat Pulang

    "Terima kasih, Leo. Belum ada lagi, kok, mungkin nanti," jawab Tiara, sedikit canggung karena jarak mereka yang sempat terlalu dekat.Sambil melangkah menyusuri lorong rak, Tiara mencoba mengalihkan suasana. "Leo, dulu waktu Teh Sari masih sehat, apa kamu sering mengantarnya bepergian?""Tidak pernah, Tante," sahut Leo seraya menyelaraskan langkah di sampingnya. "Waktu Tante Sari masih sehat, aku masih kuliah di luar kota. Lagipula setahuku, Tante Sari itu jago menyetir mobil sendiri. Cuma ya... karena sekarang sakit, jadi tidak bisa ke mana-mana lagi.""Oh, begitu... Mandiri sekali, ya," gumam Tiara pelan.Ia mengelus perutnya yang masih ratas. Terpikir di benaknya, andai saja ia sedang tidak hamil, mungkin ia sudah meminta izin pada Bonar untuk belajar menyetir mobil juga. Namun untuk sekarang, keinginan itu terpaksa ia simpan rapat-rapat dalam daftar rencananya nanti."Kenapa, Tante?" tanya Leo memperhatikan perubahan raut wajah T

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   83. Ditemani Leo

    "Senang berbisnis denganmu, Bonar," ucap Erwin seraya menjabat tangan Bonar dengan gerakan mantap. "Dan... Bu Tiara, semoga rumah kos yang saya jual bisa menjadi ladang rezeki baru untuk Anda.""Terima kasih, Win. Istriku pasti akan merawat rumah kos itu dengan baik," aku membalas dengan mantap, menyunggingkan senyum lega."Terima kasih banyak, Pak Erwin," sahut Tiara sembari menyambut jabat tangan Erwin dengan senyum tulus. Ada binar bahagia yang tak bisa ia sembunyikan dari matanya.Erwin mengangguk ramah lalu merapikan tas kerjanya. "Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu. Semua berkas legalitasnya sudah beres dan resmi berpindah tangan ke Bu Tiara."Begitu Erwin melangkah keluar dari ruangan, Tiara mendekat lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Ia memelukku hangat."Abang, terima kasih banyak untuk aset ini. Aku janji akan mengelolanya dengan baik," bisiknya tulus dengan nada penuh rasa syukur."Sama-sama, Sayang. A

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   82. Rencana Gagal

    Dengan teliti dan hati-hati, aku mengelap seluruh bagian dalam flat shoes Tiara hingga benar-benar bersih dari sisa bulu halus yang menempel."Dasar tidak hati-hati yang menaruh sepatu di sini," gerutuku pelan, membayangkan betapa kasihan istriku jika tadi sempat menginjaknya. "Untung saja tadi tersenggol. Kalau tidak, bisa panik satu rumah gara-gara kakinya bentol-bentol."Setelah memastikan sepatu Tiara benar-benar bersih dan aman, aku menaruhnya kembali di tempat yang lebih tinggi dan aman, lalu memakai sepatuku sendiri dengan perasaan lega.****Siang harinya, sebelum makan siang, Tiara menemui Bonar ke kantornya. Dengan OOTD kasual namun elegan, ia berjalan anggun menuju ruangan Bonar."Eh, Bu Tiara. Sekarang sering ya ke kantor Bapak? Perkenalkan, saya Lydia, Manajer Keuangan Dirga Group." Perempuan berusia sekitar empat puluhan namun masih tampak awet muda dan cantik itu mencoba berakrab ria.Tiara tersenyum ramah dan menjabat

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   81. Ulat Bulu

    Pagi harinya, ketika aku dan Tiara hendak makan pagi, Sabryna sudah duduk lebih dulu di hadapan kami."Bang, Teh Sari kok belum keluar kamar ya?" tanya Tiara padaku.Aku menarik kursi untuk Tiara, memastikannya duduk dengan nyaman sebelum aku menyusul duduk di sampingnya. Pandanganku sempat sekilas menatap Sabryna yang bergeming, lalu kembali terfokus pada Tiara."Biarkan saja, Sayang," jawabku tenang seraya mengambilkan piring untuknya. "Dia butuh waktu sendiri. Kamu tidak usah memikirkannya, fokus saja pada sarapan dan kesehatanmu."Bi Asih datang membawa bolu jadul yang baru saja dipotongnya. "Pagi, Pak, Ibu. Ini bolu jadul pesanan Bu Tiara kemarin sore. Silakan dicoba, semoga berkenan.""Terima kasih, Bi. Nanti saya makan," balas Tiara.Aku tersenyum tipis lalu melirik bolu yang masih mengepulkan aroma harum butter. Dengan lembut, aku mengusap jemari Tiara di atas meja."Ooh, ternyata bumil lagi mengidam bolu jadul?" goda

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   80. Sari Mendengar

    Aku meletakkan ponsel ke atas meja, lalu bangkit dan mendekatinya. Tanpa ragu, aku menyelinapkan tangan ke pinggangnya lalu menarik tubuh mungil itu ke dalam pangkuanku saat aku mendarat di sofa. Aku membelai lembut pipinya yang masih merona merah menahan kesal, menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan pikirannya. "Sudah Abang bilang, dia di sini cuma menumpang karena rasa kasihan, Sayang," ucapku tegas sembari merapikan anak rambut di wajahnya. "Untuk Dirga Group, Abang tidak akan pernah mempekerjakannya secara permanen. Dia cuma dapat jatah magang sampai selesai, setelah itu dia harus cari jalan sendiri. Jadi, tidak perlu buang-buang energimu untuk memikirkan dia lagi, ya?" "Bisa tidak sebelum selesai magang Abang akhiri saja? Aku enek melihat dia di sini. Kesal tahu, Bang. Nanti anakku mirip dia kelakuannya." Aku tak bisa menahan tawa mendengar ocehan polos sekaligus ketakutannya yang terbilang konyol itu

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   79. Posisi Terancam

    Sabryna berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya dengan napas memburu. Rasa malu dan dongkol bercampur aduk jadi satu, membakar dadanya usai diamuk habis-habisan oleh Bonar di ruang tengah tadi. "Ah, sialan! Ternyata Tante Sari pernah selingkuh? Pantas saja Om Bonar makin acuh dan tidak sudi menyentuhnya lagi," sinisnya seraya menghentakkan kaki jengkel ke lantai. Ia melempar tubuhnya kasar ke tepi ranjang, meremas sprei dengan jemari bergetar. Kecongkohan yang selama ini ia pamerkan di depan Tiara rasanya seperti menampar mukanya sendiri. "Kalau begini, posisiku jadi serba salah dan makin tidak punya pijakan di rumah ini gara-gara masa lalu Tante Sari. Kalau aku tidak dengar sendiri tadi, mana pernah aku tahu kalau wanita sombong seperti dia bukan cuma penyakitan, tapi juga cacat moralnya." "Baiklah, aku akan tetap menjalankan rencanaku, dengan atau tanpa bantuan Tante Sari," bisiknya mantap dengan mata berkilat

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   6. Buka Bajumu

    Aku kembali ke kursi kebesaranku, menyandarkan punggung dengan santai sambil menyesap wiski. Bunyi denting es batu dalam gelas kristal menjadi satu-satunya musik di ruangan ini. Mataku tak lepas darinya, menatap intens setiap jengkal kulitnya yang kini memerah karena malu.Tiara berdiri mematung di

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   5. Keinginan Sari Terwujud

    Tanganku terangkat, jemariku yang kasar mengusap pelan pundaknya yang terbuka, turun perlahan mengikuti garis tulang selangkangnya. "Bayangkan, Tiara... malam ini saja kau menolak, besok bapakmu mungkin sudah membusuk di sel kabupaten, dan kau akan berakhir di ranjang pengap para aki-aki itu."Aku

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   4. Menari Tanpa Musik

    Sejak Sari sakit, aku memilih tidur di kamar terpisah. Dia menjadi sangat sensitif dan emosional, mungkin karena rasa rendah diri yang menggerogotinya dari dalam. Aku bukan tipe pria yang telaten membujuk atau mengobral kata manis. Daripada kami terus ribut atau aku lepas kendali dan main ka

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   3. Butuh Pewaris

    Tiara melangkah keluar dari kedai tuak dengan napas tersengal. Rasa mual mengaduk perutnya, bukan karena bau alkohol yang menyengat tadi, tapi karena kenyataan bahwa harga dirinya ditawar seperti daging kiloan di pasar. Ternyata bapaknya bukan cuma pemabuk, tapi lubang hitam yang menghi

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status