Tanganku terangkat, jemariku yang kasar mengusap pelan pundaknya yang terbuka, turun perlahan mengikuti garis tulang selangkangnya. "Bayangkan, Tiara... malam ini saja kau menolak, besok bapakmu mungkin sudah membusuk di sel kabupaten, dan kau akan berakhir di ranjang pengap para aki-aki itu."Aku mencengkeram lembut pinggangnya, menariknya sedikit lebih dekat hingga ia bisa merasakan detak jantungku. "Di sini, kau hanya perlu melayaniku. Kau akan memakai sutra, bukan kain murahan. Sekarang, tunjukkan tarian yang membuatku harus membayar mahal untukmu."Tiara menghirup nafasnya dalam-dalam, hal yang dia pikirkan saat terjepit seperti ini selalu saja Rully. Meski bapaknya sendiri tak pernah perduli padanya. Menjadi simpanan juragan Bonar, tentu Tiara tak ingin rugi dan harus memanfaatkan dengan baik pria itu."Tunggu, Juragan. Saya minta satu hal lagi."Aku menaikkan sebelah alis, menatapnya dengan tatapan meremehkan. "Katakan. Tapi ingat, jangan menguji kesabaranku dengan permintaan y
Last Updated : 2026-05-29 Read more