แชร์

4. Menari Tanpa Musik

ผู้เขียน: Vanilla Ice Creamm
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-29 20:44:49

Sejak Sari sakit, aku memilih tidur di kamar terpisah. Dia menjadi sangat sensitif dan emosional, mungkin karena rasa rendah diri yang menggerogotinya dari dalam. Aku bukan tipe pria yang telaten membujuk atau mengobral kata manis. Daripada kami terus ribut atau aku lepas kendali dan main kasar, lebih baik aku menghindar.

Mungkin orang akan menyebut perlakuanku ini silent treatment, tapi bagiku, ini cara terbaik menjaga sisa kewarasan kami berdua.

Aku masuk ke bathup membenamkan tubuh tinggi atletisku ke dalam air yang sejuk. Kulit kecoklatanku tampak mengilat di bawah lampu ruang rias yang mewah. Sambil memejamkan mata, aku menunggu kedatangan Tiara. Jujur saja, aku belum pernah berinteraksi langsung dengannya. Tiap kali aku menginginkan seorang wanita, Sadikin-lah yang maju menyampaikan pesan dan membereskan segalanya.

Beberapa kali aku melihat gadis itu menari. Gerakannya erotis namun elegan. Tubuhnya ramping, dengan lekukan pinggang kecil yang menggoda. Perutnya sering tampak mengilat—entah karena keringat atau minyak khusus yang ia bubuhkan—menjadi pusat gravitasi yang menyedot perhatian siapa pun. Di saat gadis-gadis zaman sekarang memilih tarian modern, Tiara bertahan dengan tarian perut tradisional khas timur tengah yang justru membakar rasa penasaranku.

Sudah tiga kali dia menolak tawaranku secara halus maupun terang-terangan. Namun malam ini, dia tidak akan bisa lari lagi. Aku sudah memutus semua jalan pelariannya.

Aku bangkit dari bathtup, menatap bayanganku di cermin besar. Aku menyeringai tipis, sebuah seringai iblis yang penuh kemenangan. "Malam ini, kamu akan menari hanya untukku, Tiara."

****

Tiara melangkah masuk ke rumah besar Juragan Bonar, orang terkaya di desa ini. Mengikuti Sadikin menuju sebuah kamar, keraguan hebat menyergapnya. Ada keinginan untuk lari meninggalkan daerah ini, namun akses yang terpencil dan ketiadaan uang membuatnya terjepit.

"Rumah sebesar ini sepi sekali. Bukannya Juragan Bonar punya istri?" monolognya dalam hati.

Tiba-tiba, suara decitan pintu dari sudut kanan terdengar. Seorang wanita duduk di kursi roda dengan tubuh kurus kering, mata cekung, dan bibir pucat. Tiara membeku. "Siapa dia? istrinya juragan?" batinnya cemas.

"Siapa wanita berdandan berlebihan ini, Kang Dikin?" tanya wanita itu sambil menatap tajam. Tiara hanya mengangguk sopan, membiarkan Sadikin yang menjawab.

Sadikin membungkuk hormat, suaranya datar penuh kehati-hatian. "Mohon maaf, Bu Sari. Gadis ini hanya kiriman untuk menghibur Juragan di kamarnya malam ini."

"Jadi, dia mulai berani memanggil wanita ke rumah secara terang-terangan?" geram Sari sambil menatap tajam Tiara.

Sadikin menunduk, tak berani menatap mata istri bosnya. "Hanya perintah Juragan, Bu. Saya tidak berani membantah. Permisi."

"Ayo Tiara, Juragan sudah menunggumu." Tiara mengangguk kikuk.

"Permisi, Bu," jawab Tiara lirih. Ia merasa serba salah. Suaminya yang punya ide, kenapa jadi dia yang kena getahnya, pikir Tiara bingung.

****

Aku mendengar suara langkah kaki yang ragu di balik pintu jati kamarku. Sadikin menjalankan tugasnya dengan baik, seperti biasa. Pintu terbuka perlahan, menampakkan sesosok gadis yang tampak sangat kecil di bawah langit-langit kamarku yang tinggi.

Tiara berdiri mematung. Jubah panjang yang ia kenakan untuk menutupi kostum merahnya tampak bergetar. Aku masih bersandar di balkon, membelakanginya, hanya membiarkan kepulan asap cerutuku yang menyambut kehadirannya. Kesunyian ini adalah bagian dari rencanaku; aku ingin dia merasakan setiap detak jantungnya sendiri yang berpacu karena ketakutan.

"Mendekatlah," perintahku tanpa menoleh

Ia melangkah perlahan. Aku bisa mendengar gemerincing halus koin-koin dari balik jubahnya. Suara itu begitu merdu, seperti bunyi uang yang sedang menghitung harga kebebasan seseorang. Aku berbalik, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wajahnya yang cantik tampak pucat, matanya yang biasa liar di atas panggung kini meredup, tak berani menatapku langsung.

"Buka jubahmu," Kali ini aku melangkah memangkas jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma melati yang samar dari rambutnya, bercampur dengan rasa ketakutan.

Tiara menahan napas. Tangannya yang gemetar mulai meraih tali pengikat jubahnya. Aku menarik kursi kebesaranku, duduk di hadapannya dengan kaki menyilang, menikmati setiap detik kegusaran yang terpancar dari wajahnya.

"Jangan pasang wajah seolah aku ini monster, Tiara. Aku sudah membelimu dan sekarang aku menagih barang yang sudah kubayar lunas," aku menyesap cerutuku, lalu mengembuskan asapnya tepat ke arah wajahnya. "Sekarang, menarilah. Tanpa musik. Aku ingin mendengar suara koin-koin itu membayar setiap rupiah utang bapakmu."

Tiara menggigit bibir bawahnya hingga memerah, Menari tanpa musik? ini sangat aneh, tapi Tiara tetap melakukannya. Toh dia pikir setelah melayani satu kali, urusan selesai lalu pulang.

Di bawah tatapan laparku, ia mulai menggerakkan pinggulnya. Kamar ini mendadak terasa sangat sempit oleh aura dominasi yang kuhamparkan. Malam ini masih panjang, dan aku tidak akan melepaskannya sampai aku merasa benar-benar puas.

"Mulai malam ini kamu tak perlu lagi susah payah menari dari kampung ke kampung demi upah yang hanya cukup untuk membeli sepuluh liter beras," ucapku sembari bersedekap, menikmati kebingungannya.

"Mak-maksud Juragan?"

"Utangmu kuanggap lunas. Sebagai gantinya, kau tak hanya menari untukku, tapi juga melayaniku di rumah ini," ujarku dengan senyum miring. "Aku akan memberikan kemewahan yang tak akan pernah bisa kau beli dengan upah menarimu."

Tiara tersentak, saat menyadari maksud terselubungku. "Jadi, Juragan tidak hanya membeli tarian saya, tapi juga hidup saya?"

Aku tertawa renyah, "Nah, kau cerdas juga rupanya. Tidak ada yang gratis di dunia ini, Tiara. Kau baca sendiri rincian utang Rully, bapakmu itu? Hampir sembilan puluh juta rupiah tersebar di tangan para lintah darat. Kau juga selamat dari tangan bandot-bandot tua itu—Mahmud, Togar, Asep, dan Marbun—hanya karena campur tanganku. Kau seharusnya bersyukur tidak perlu melayani aki-aki bau minyak angin itu."

Kening Tiara berkerut, entah apa yang sedang dia cerna. Jauh di lubuk hatinya berkata, "kenapa jadi mulai sekarang? itu artinya, aku menjadi simpanan Juragan Bonar, bagaima perasaan istrinya?"

Aku bangkit dari kursi, melangkah perlahan hingga bayanganku yang tinggi besar menelan tubuh kecilnya. Aku berhenti tepat di belakangnya, menunduk hingga bibirku nyaris menyentuh daun telinganya. Aku bisa merasakan bulu kuduknya meremang saat embusan napas hangatku menyapu kulit lehernya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Manissss
lanjut ya Kak
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   84. Ingin Cepat Pulang

    "Terima kasih, Leo. Belum ada lagi, kok, mungkin nanti," jawab Tiara, sedikit canggung karena jarak mereka yang sempat terlalu dekat.Sambil melangkah menyusuri lorong rak, Tiara mencoba mengalihkan suasana. "Leo, dulu waktu Teh Sari masih sehat, apa kamu sering mengantarnya bepergian?""Tidak pernah, Tante," sahut Leo seraya menyelaraskan langkah di sampingnya. "Waktu Tante Sari masih sehat, aku masih kuliah di luar kota. Lagipula setahuku, Tante Sari itu jago menyetir mobil sendiri. Cuma ya... karena sekarang sakit, jadi tidak bisa ke mana-mana lagi.""Oh, begitu... Mandiri sekali, ya," gumam Tiara pelan.Ia mengelus perutnya yang masih ratas. Terpikir di benaknya, andai saja ia sedang tidak hamil, mungkin ia sudah meminta izin pada Bonar untuk belajar menyetir mobil juga. Namun untuk sekarang, keinginan itu terpaksa ia simpan rapat-rapat dalam daftar rencananya nanti."Kenapa, Tante?" tanya Leo memperhatikan perubahan raut wajah T

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   83. Ditemani Leo

    "Senang berbisnis denganmu, Bonar," ucap Erwin seraya menjabat tangan Bonar dengan gerakan mantap. "Dan... Bu Tiara, semoga rumah kos yang saya jual bisa menjadi ladang rezeki baru untuk Anda.""Terima kasih, Win. Istriku pasti akan merawat rumah kos itu dengan baik," aku membalas dengan mantap, menyunggingkan senyum lega."Terima kasih banyak, Pak Erwin," sahut Tiara sembari menyambut jabat tangan Erwin dengan senyum tulus. Ada binar bahagia yang tak bisa ia sembunyikan dari matanya.Erwin mengangguk ramah lalu merapikan tas kerjanya. "Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu. Semua berkas legalitasnya sudah beres dan resmi berpindah tangan ke Bu Tiara."Begitu Erwin melangkah keluar dari ruangan, Tiara mendekat lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Ia memelukku hangat."Abang, terima kasih banyak untuk aset ini. Aku janji akan mengelolanya dengan baik," bisiknya tulus dengan nada penuh rasa syukur."Sama-sama, Sayang. A

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   82. Rencana Gagal

    Dengan teliti dan hati-hati, aku mengelap seluruh bagian dalam flat shoes Tiara hingga benar-benar bersih dari sisa bulu halus yang menempel."Dasar tidak hati-hati yang menaruh sepatu di sini," gerutuku pelan, membayangkan betapa kasihan istriku jika tadi sempat menginjaknya. "Untung saja tadi tersenggol. Kalau tidak, bisa panik satu rumah gara-gara kakinya bentol-bentol."Setelah memastikan sepatu Tiara benar-benar bersih dan aman, aku menaruhnya kembali di tempat yang lebih tinggi dan aman, lalu memakai sepatuku sendiri dengan perasaan lega.****Siang harinya, sebelum makan siang, Tiara menemui Bonar ke kantornya. Dengan OOTD kasual namun elegan, ia berjalan anggun menuju ruangan Bonar."Eh, Bu Tiara. Sekarang sering ya ke kantor Bapak? Perkenalkan, saya Lydia, Manajer Keuangan Dirga Group." Perempuan berusia sekitar empat puluhan namun masih tampak awet muda dan cantik itu mencoba berakrab ria.Tiara tersenyum ramah dan menjabat

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   81. Ulat Bulu

    Pagi harinya, ketika aku dan Tiara hendak makan pagi, Sabryna sudah duduk lebih dulu di hadapan kami."Bang, Teh Sari kok belum keluar kamar ya?" tanya Tiara padaku.Aku menarik kursi untuk Tiara, memastikannya duduk dengan nyaman sebelum aku menyusul duduk di sampingnya. Pandanganku sempat sekilas menatap Sabryna yang bergeming, lalu kembali terfokus pada Tiara."Biarkan saja, Sayang," jawabku tenang seraya mengambilkan piring untuknya. "Dia butuh waktu sendiri. Kamu tidak usah memikirkannya, fokus saja pada sarapan dan kesehatanmu."Bi Asih datang membawa bolu jadul yang baru saja dipotongnya. "Pagi, Pak, Ibu. Ini bolu jadul pesanan Bu Tiara kemarin sore. Silakan dicoba, semoga berkenan.""Terima kasih, Bi. Nanti saya makan," balas Tiara.Aku tersenyum tipis lalu melirik bolu yang masih mengepulkan aroma harum butter. Dengan lembut, aku mengusap jemari Tiara di atas meja."Ooh, ternyata bumil lagi mengidam bolu jadul?" goda

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   80. Sari Mendengar

    Aku meletakkan ponsel ke atas meja, lalu bangkit dan mendekatinya. Tanpa ragu, aku menyelinapkan tangan ke pinggangnya lalu menarik tubuh mungil itu ke dalam pangkuanku saat aku mendarat di sofa. Aku membelai lembut pipinya yang masih merona merah menahan kesal, menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan pikirannya. "Sudah Abang bilang, dia di sini cuma menumpang karena rasa kasihan, Sayang," ucapku tegas sembari merapikan anak rambut di wajahnya. "Untuk Dirga Group, Abang tidak akan pernah mempekerjakannya secara permanen. Dia cuma dapat jatah magang sampai selesai, setelah itu dia harus cari jalan sendiri. Jadi, tidak perlu buang-buang energimu untuk memikirkan dia lagi, ya?" "Bisa tidak sebelum selesai magang Abang akhiri saja? Aku enek melihat dia di sini. Kesal tahu, Bang. Nanti anakku mirip dia kelakuannya." Aku tak bisa menahan tawa mendengar ocehan polos sekaligus ketakutannya yang terbilang konyol itu

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   79. Posisi Terancam

    Sabryna berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya dengan napas memburu. Rasa malu dan dongkol bercampur aduk jadi satu, membakar dadanya usai diamuk habis-habisan oleh Bonar di ruang tengah tadi. "Ah, sialan! Ternyata Tante Sari pernah selingkuh? Pantas saja Om Bonar makin acuh dan tidak sudi menyentuhnya lagi," sinisnya seraya menghentakkan kaki jengkel ke lantai. Ia melempar tubuhnya kasar ke tepi ranjang, meremas sprei dengan jemari bergetar. Kecongkohan yang selama ini ia pamerkan di depan Tiara rasanya seperti menampar mukanya sendiri. "Kalau begini, posisiku jadi serba salah dan makin tidak punya pijakan di rumah ini gara-gara masa lalu Tante Sari. Kalau aku tidak dengar sendiri tadi, mana pernah aku tahu kalau wanita sombong seperti dia bukan cuma penyakitan, tapi juga cacat moralnya." "Baiklah, aku akan tetap menjalankan rencanaku, dengan atau tanpa bantuan Tante Sari," bisiknya mantap dengan mata berkilat

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   6. Buka Bajumu

    Aku kembali ke kursi kebesaranku, menyandarkan punggung dengan santai sambil menyesap wiski. Bunyi denting es batu dalam gelas kristal menjadi satu-satunya musik di ruangan ini. Mataku tak lepas darinya, menatap intens setiap jengkal kulitnya yang kini memerah karena malu.Tiara berdiri mematung di

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   5. Keinginan Sari Terwujud

    Tanganku terangkat, jemariku yang kasar mengusap pelan pundaknya yang terbuka, turun perlahan mengikuti garis tulang selangkangnya. "Bayangkan, Tiara... malam ini saja kau menolak, besok bapakmu mungkin sudah membusuk di sel kabupaten, dan kau akan berakhir di ranjang pengap para aki-aki itu."Aku

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   3. Butuh Pewaris

    Tiara melangkah keluar dari kedai tuak dengan napas tersengal. Rasa mual mengaduk perutnya, bukan karena bau alkohol yang menyengat tadi, tapi karena kenyataan bahwa harga dirinya ditawar seperti daging kiloan di pasar. Ternyata bapaknya bukan cuma pemabuk, tapi lubang hitam yang menghi

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   2. Calon Duren

    Sadikin menyulutkan korek ke ujung cerutuku. Asap tebal langsung mengepul, aromanya berat menyengat di ruangan yang remang itu. Aku duduk santai, menyilangkan satu kaki di atas paha. Aku selalu berbaju serba hitam, kontras dengan kulitku yang sawo matang khas orang lapangan yang sering terpa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status