Share

3. Butuh Pewaris

last update Tanggal publikasi: 2026-05-29 20:37:20

Tiara melangkah keluar dari kedai tuak dengan napas tersengal. Rasa mual mengaduk perutnya, bukan karena bau alkohol yang menyengat tadi, tapi karena kenyataan bahwa harga dirinya ditawar seperti daging kiloan di pasar. Ternyata bapaknya bukan cuma pemabuk, tapi lubang hitam yang menghisap hidupnya.

Ia nekat berjalan kaki menuju Polsek yang jaraknya dua kilometer dari sana. Jalanan aspal yang membelah perkebunan sawit itu gelap gulita, hanya dibantu cahaya bulan yang redup. Suara pelepah sawit yang saling bergesek karena angin malam terdengar seperti bisikan orang-orang yang menertawakan nasibnya.

Sampai di kantor polisi yang sepi, bau karbol dan asap rokok menyambutnya. Di sudut sel yang pengap, ia melihat Rully duduk meringkuk. Wajah pria itu babak belur, matanya bengkak, dan baju kemeja kumalnya robek di bagian bahu. Begitu melihat Tiara, Rully bukannya merasa bersalah, justru merangkak mendekati jeruji besi.

"Tiara! Kamu bawa uangnya? Tolong Bapak, Ra! Bang Bonar... cuma dia yang bisa cabut laporannya. Bapak bisa mati di penjara kalau dipindah ke kabupaten," suara Rully parau, bergetar ketakutan.

Tiara mencengkeram besi sel. "Berapa banyak lagi, Pak? Marbun, Togar, Mahmud. Asep.. semuanya menagih utang Bapak padaku. Sekarang Bang Bonar juga. Bapak sadar tidak apa yang Bapak lakukan?"

Rully tidak menjawab. Dia hanya menangis sesenggukan, meratapi nasibnya sendiri tanpa peduli bahwa anak perempuannya baru saja ditawar oleh kawanan bandot tua di kedai remang-remang. Tiara berbalik, pergi dengan hati yang remuk. Harapannya untuk mendapat pembelaan dari bapaknya sendiri musnah sudah.

Dalam perjalanan pulang, aku melintas di jalan menuju rumah Tiara, mobil SUV hitam besar milikku melaju pelan di sampingnya. Tiara tidak perlu melihat pelat nomornya untuk tahu siapa pemiliknya. Kaca mobil aku turunkan perlahan, namun tidak ada wajahku yang terlihat di balik kegelapan kabinku.

Hanya ujung cerutuku yang menyala merah dan kepulan asap yang keluar tertiup angin. Mobilku tidak berhenti, hanya menemaninya berjalan sejauh seratus meter sebelum akhirnya melesat pergi, meninggalkan debu jalanan yang menyesakkan dada Tiara. Itu adalah pesanku tanpa kata: "Ke mana pun kamu pergi, aku mengawasimu."

Lutut Tiara lemas saat sampai di depan rumah panggungnya. Pintu depan sudah terbuka lebar. Ia masuk dengan waspada, tangan meraih gagang sapu di balik pintu. Namun di sana, duduk di kursi rotan ruang tamu yang sudah jebol, Sadikin menunggu dengan tenang. Di depannya ada dua gelas kopi, satu sudah kosong.

"Lama sekali, Neng. Cari pinjaman memang susah, ya?" Sadikin meletakkan selembar kertas rincian di atas meja kayu yang goyang.

Tiara membaca kertas itu. Matanya membelalak. Nama Marbun, Togar, Asep dan semua rentenir di kampung ini tertulis di sana dengan tanda lunas. Di bagian bawah, tertera nama tunggal sebagai penjamin: Bonar Dirgantara.

"Semua utang bapakmu sudah dibayar Bang Bonar. Sekarang, urusanmu cuma satu arah. Tidak perlu cicil-mencicil, Bang Bonar tidak butuh uang recehmu," Sadikin berdiri. "Dia cuma minta kamu datang ke rumah besarnya malam ini. Dia sudah membebaskan bapakmu dari tuntutan penganiayaan itu. Sebagai gantinya, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan."

Sadikin berjalan menuju pintu, lalu berhenti sebentar. "Satu lagi, pakai kostum merahmu yang tadi. Bang Bonar suka koin-koinnya. Katanya, suaranya merdu kalau di atas ranjang."

Setelah Sadikin pergi, Tiara jatuh terduduk di lantai tanah rumahnya. Ia menatap kostum belly dance merah marun yang tergeletak di atas kasur tanpa kelambu itu. Koin-koin emas imitasi itu berkilauan kena lampu, seolah mengejeknya. Malam ini, tarian itu bukan lagi tentang seni atau harga diri. Malam ini, ia akan menari untuk membayar nyawa bapaknya yang tak berharga itu dengan sekujur tubuhnya sendiri.

Malam itu, setelah mampir ke rumah Tiara untuk "menitipkan" kostum belly dance merah tersebut, aku masuk ke rumahku—sebuah bangunan bergaya klasik yang luas dengan ruang terbuka di bagian tengahnya. Sari sedang duduk di meja makan ditemani ART kepercayaannya, baru saja menyelesaikan makan malam dan meminum obat-obatannya.

"Abang kok baru pulang? Tidur di janda mana lagi?" tanyanya getir.

Aku tak menanggapi kecemburuannya. Dia hanya tak suka aku berganti-ganti partner ranjang. Saking putus asanya, dia bahkan pernah menyuruhku menikah lagi. Yang benar saja. Aku memang butuh penyaluran, tapi punya istri lagi? Tidak. Lebih baik aku "beli" saja dan selesai tanpa ikatan emosional.

Namun, entah kenapa, setelah beberapa kali melihat Tiara akhir-akhir ini, sisi liarku bergejolak untuk menjadikannya istri kedua.

Aku hanya menarik kursi di depannya, lalu menyalakan cerutu tanpa beban. "Jangan bicara sembarangan, Sari. Minum obatmu dan tidurlah. Aku sedang tidak ingin mendengar omong kosong soal janda atau pernikahan."

"Tapi keluarga Dirgantara perlu pewaris, Bang. Seperti kata Abah sebelum meninggal dulu, harusnya kita tidak menundanya kalau tahu aku akan sakit begini. Abang itu anak tunggal. Ini bukan omong kosong, Sari ingin melihatnya sebelum Sari meninggal."

Aku menatap Sari yang tampak semakin ringkih. Di sisa kehidupannya yang dihitung hari, dia masih saja terobsesi soal pewaris. Kenapa dia tidak fokus berdoa meminta mukjizat untuk kesembuhannya sendiri saja?

Aku mengembuskan asap cerutu ke udara, membiarkannya menggantung di antara kami. "Sari, berhenti bicara seolah kamu akan pergi besok pagi. Fokus saja pada pengobatanmu. Soal pewaris..."

Aku menjeda, bayangan Tiara dengan kostum merahnya mendadak melintas. "Itu urusanku. Aku yang akan menentukan siapa yang pantas membawa nama Dirgantara, dan kapan waktunya."

Aku berdiri, meninggalkan meja makan tanpa menyentuh makanan sedikit pun. Suasana klasik rumah ini mendadak terasa makin menyesakkan. Aku butuh tarian itu segera.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   84. Ingin Cepat Pulang

    "Terima kasih, Leo. Belum ada lagi, kok, mungkin nanti," jawab Tiara, sedikit canggung karena jarak mereka yang sempat terlalu dekat.Sambil melangkah menyusuri lorong rak, Tiara mencoba mengalihkan suasana. "Leo, dulu waktu Teh Sari masih sehat, apa kamu sering mengantarnya bepergian?""Tidak pernah, Tante," sahut Leo seraya menyelaraskan langkah di sampingnya. "Waktu Tante Sari masih sehat, aku masih kuliah di luar kota. Lagipula setahuku, Tante Sari itu jago menyetir mobil sendiri. Cuma ya... karena sekarang sakit, jadi tidak bisa ke mana-mana lagi.""Oh, begitu... Mandiri sekali, ya," gumam Tiara pelan.Ia mengelus perutnya yang masih ratas. Terpikir di benaknya, andai saja ia sedang tidak hamil, mungkin ia sudah meminta izin pada Bonar untuk belajar menyetir mobil juga. Namun untuk sekarang, keinginan itu terpaksa ia simpan rapat-rapat dalam daftar rencananya nanti."Kenapa, Tante?" tanya Leo memperhatikan perubahan raut wajah T

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   83. Ditemani Leo

    "Senang berbisnis denganmu, Bonar," ucap Erwin seraya menjabat tangan Bonar dengan gerakan mantap. "Dan... Bu Tiara, semoga rumah kos yang saya jual bisa menjadi ladang rezeki baru untuk Anda.""Terima kasih, Win. Istriku pasti akan merawat rumah kos itu dengan baik," aku membalas dengan mantap, menyunggingkan senyum lega."Terima kasih banyak, Pak Erwin," sahut Tiara sembari menyambut jabat tangan Erwin dengan senyum tulus. Ada binar bahagia yang tak bisa ia sembunyikan dari matanya.Erwin mengangguk ramah lalu merapikan tas kerjanya. "Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu. Semua berkas legalitasnya sudah beres dan resmi berpindah tangan ke Bu Tiara."Begitu Erwin melangkah keluar dari ruangan, Tiara mendekat lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Ia memelukku hangat."Abang, terima kasih banyak untuk aset ini. Aku janji akan mengelolanya dengan baik," bisiknya tulus dengan nada penuh rasa syukur."Sama-sama, Sayang. A

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   82. Rencana Gagal

    Dengan teliti dan hati-hati, aku mengelap seluruh bagian dalam flat shoes Tiara hingga benar-benar bersih dari sisa bulu halus yang menempel."Dasar tidak hati-hati yang menaruh sepatu di sini," gerutuku pelan, membayangkan betapa kasihan istriku jika tadi sempat menginjaknya. "Untung saja tadi tersenggol. Kalau tidak, bisa panik satu rumah gara-gara kakinya bentol-bentol."Setelah memastikan sepatu Tiara benar-benar bersih dan aman, aku menaruhnya kembali di tempat yang lebih tinggi dan aman, lalu memakai sepatuku sendiri dengan perasaan lega.****Siang harinya, sebelum makan siang, Tiara menemui Bonar ke kantornya. Dengan OOTD kasual namun elegan, ia berjalan anggun menuju ruangan Bonar."Eh, Bu Tiara. Sekarang sering ya ke kantor Bapak? Perkenalkan, saya Lydia, Manajer Keuangan Dirga Group." Perempuan berusia sekitar empat puluhan namun masih tampak awet muda dan cantik itu mencoba berakrab ria.Tiara tersenyum ramah dan menjabat

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   81. Ulat Bulu

    Pagi harinya, ketika aku dan Tiara hendak makan pagi, Sabryna sudah duduk lebih dulu di hadapan kami."Bang, Teh Sari kok belum keluar kamar ya?" tanya Tiara padaku.Aku menarik kursi untuk Tiara, memastikannya duduk dengan nyaman sebelum aku menyusul duduk di sampingnya. Pandanganku sempat sekilas menatap Sabryna yang bergeming, lalu kembali terfokus pada Tiara."Biarkan saja, Sayang," jawabku tenang seraya mengambilkan piring untuknya. "Dia butuh waktu sendiri. Kamu tidak usah memikirkannya, fokus saja pada sarapan dan kesehatanmu."Bi Asih datang membawa bolu jadul yang baru saja dipotongnya. "Pagi, Pak, Ibu. Ini bolu jadul pesanan Bu Tiara kemarin sore. Silakan dicoba, semoga berkenan.""Terima kasih, Bi. Nanti saya makan," balas Tiara.Aku tersenyum tipis lalu melirik bolu yang masih mengepulkan aroma harum butter. Dengan lembut, aku mengusap jemari Tiara di atas meja."Ooh, ternyata bumil lagi mengidam bolu jadul?" goda

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   80. Sari Mendengar

    Aku meletakkan ponsel ke atas meja, lalu bangkit dan mendekatinya. Tanpa ragu, aku menyelinapkan tangan ke pinggangnya lalu menarik tubuh mungil itu ke dalam pangkuanku saat aku mendarat di sofa. Aku membelai lembut pipinya yang masih merona merah menahan kesal, menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan pikirannya. "Sudah Abang bilang, dia di sini cuma menumpang karena rasa kasihan, Sayang," ucapku tegas sembari merapikan anak rambut di wajahnya. "Untuk Dirga Group, Abang tidak akan pernah mempekerjakannya secara permanen. Dia cuma dapat jatah magang sampai selesai, setelah itu dia harus cari jalan sendiri. Jadi, tidak perlu buang-buang energimu untuk memikirkan dia lagi, ya?" "Bisa tidak sebelum selesai magang Abang akhiri saja? Aku enek melihat dia di sini. Kesal tahu, Bang. Nanti anakku mirip dia kelakuannya." Aku tak bisa menahan tawa mendengar ocehan polos sekaligus ketakutannya yang terbilang konyol itu

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   79. Posisi Terancam

    Sabryna berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya dengan napas memburu. Rasa malu dan dongkol bercampur aduk jadi satu, membakar dadanya usai diamuk habis-habisan oleh Bonar di ruang tengah tadi. "Ah, sialan! Ternyata Tante Sari pernah selingkuh? Pantas saja Om Bonar makin acuh dan tidak sudi menyentuhnya lagi," sinisnya seraya menghentakkan kaki jengkel ke lantai. Ia melempar tubuhnya kasar ke tepi ranjang, meremas sprei dengan jemari bergetar. Kecongkohan yang selama ini ia pamerkan di depan Tiara rasanya seperti menampar mukanya sendiri. "Kalau begini, posisiku jadi serba salah dan makin tidak punya pijakan di rumah ini gara-gara masa lalu Tante Sari. Kalau aku tidak dengar sendiri tadi, mana pernah aku tahu kalau wanita sombong seperti dia bukan cuma penyakitan, tapi juga cacat moralnya." "Baiklah, aku akan tetap menjalankan rencanaku, dengan atau tanpa bantuan Tante Sari," bisiknya mantap dengan mata berkilat

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   6. Buka Bajumu

    Aku kembali ke kursi kebesaranku, menyandarkan punggung dengan santai sambil menyesap wiski. Bunyi denting es batu dalam gelas kristal menjadi satu-satunya musik di ruangan ini. Mataku tak lepas darinya, menatap intens setiap jengkal kulitnya yang kini memerah karena malu.Tiara berdiri mematung di

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   5. Keinginan Sari Terwujud

    Tanganku terangkat, jemariku yang kasar mengusap pelan pundaknya yang terbuka, turun perlahan mengikuti garis tulang selangkangnya. "Bayangkan, Tiara... malam ini saja kau menolak, besok bapakmu mungkin sudah membusuk di sel kabupaten, dan kau akan berakhir di ranjang pengap para aki-aki itu."Aku

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   4. Menari Tanpa Musik

    Sejak Sari sakit, aku memilih tidur di kamar terpisah. Dia menjadi sangat sensitif dan emosional, mungkin karena rasa rendah diri yang menggerogotinya dari dalam. Aku bukan tipe pria yang telaten membujuk atau mengobral kata manis. Daripada kami terus ribut atau aku lepas kendali dan main ka

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   2. Calon Duren

    Sadikin menyulutkan korek ke ujung cerutuku. Asap tebal langsung mengepul, aromanya berat menyengat di ruangan yang remang itu. Aku duduk santai, menyilangkan satu kaki di atas paha. Aku selalu berbaju serba hitam, kontras dengan kulitku yang sawo matang khas orang lapangan yang sering terpa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status