FAZER LOGIN"Panggil aku seperti Sari memanggilku," perintahku rendah saat dia sudah berdiri tepat di tepi ranjang.
Tiara mendongak, matanya yang besar tampak bingung dan gentar. "Ma-maksud Juragan?" Aku melangkah maju, memangkas jarak hingga ujung kakiku menyentuh jemari kakinya yang mungil. Aku membungkuk, menumpukan tanganku di atas tempat tidur, mengurung tubuhnya di antara lenganku. "Sari memanggilku 'Abang'. Aku ingin kau melakukan hal yang sama. Mulai malam ini, panggil aku Abang Bonar." "Tapi... itu terdengar tidak pantas, Juragan," bisiknya dengan suara tercekat. Aku tersenyum tipis, "Pantas atau tidak, akulah yang menentukan di rumah ini. Sekarang, panggil namaku." Tiara menelan ludah, bibirnya yang ranum bergetar hebat saat mencoba mengeluarkan suara. "A-Abang... Abang Bonar." Suara itu terdengar seperti musik yang jauh lebih indah daripada gemerincing koin di perutnya tadi. Ada nada kepasrahan yang manis di sana. Aku mengulurkan tangan, menyisir rambutnya yang masih basah ke belakang telinga, membiarkan jemariku yang kasar merasakan kelembutan kulit lehernya yang meremang. "Bagus, Tiara. Ucapkan itu lagi nanti, saat aku sedang berada di dalammu," bisikku tepat di depan bibirnya, menghirup aroma sabun mahal yang kini telah menyatu sempurna dengan wangi tubuh alaminya. Aku tidak lagi menunggu jawabannya. Tanganku bergerak ke simpul handuk yang menutupi tubuhnya, siap untuk meruntuhkan pertahanan terakhirnya malam ini. Handuk itu luruh ke bawah, meninggalkan Tiara yang kini berdiri polos. Seketika ia terpekik kecil, refleks menyilangkan tangan untuk menutupi dada dan area pribadinya. "Abang, jangan main kasar, ya? Aku belum pernah melakukannya. Kata temanku yang sudah menikah, pertama kali itu rasanya sakit, seperti tubuh kita terbelah." Aku terkekeh , menarik pinggangnya hingga kulit kami bersentuhan tanpa pembatas. "Sakit itu hanya sebentar, Sayang. Aku akan melakukannya perlahan sampai kau sendiri yang memohon padaku untuk lebih dalam lagi." Aku langsung menggendong tubuh polos Tiara hingga ia terpekik kaget dan spontan melingkarkan lengan ke leherku. Tatapan kami beradu, namun Tiara hanya bertahan sebentar sebelum membuang muka karena malu. Meletakkannya di kasur sutra berwarna gelap dengan hati-hati, aku berbisik, "Jangan ditutupi dan memalingkan wajah, Tiara. Aku ini calon suamimu." Aku merangkak di atas tubuhnya dan melepas kaus hitam tanpa lenganku, memamerkan dada bidang dengan kulit kecokelatan. Tiara bernapas pendek, dadanya naik-turun bersentuhan dengan dadaku yang keras. "Tubuh Abang... begitu besar. Aku takut tidak bisa mengimbangimu," bisiknya memberanikan diri menatap mataku. "Tenang saja, pasti bisa." Aku mencium kening dan pipinya, lalu turun ke leher jenjangnya. Menyesap dan menggigit tipis-tipis kulit putih bersih itu, meninggalkan ruam kemerahan yang nyata sebagai stempel kepemilikan. Tak lupa, tanganku meremas dada dan memilin putingnya, lalu menyesap serta menjilat area itu disertai gigitan kecil. Kutinggalkan tanda kemerahan yang mencolok di kanan dan kiri agar adil dan tak ada rasa iri. Inilah bagian yang sedari tadi kubayangkan dengan mengepalkan tangan. Aku ingat ketika Tiara menari, dadanya terlihat hampir tumpah dari bra berpayet itu. Setiap inci tubuhnya menjadi pusat perhatian para binatang buas, tapi mulai malam ini, binatang buas itu hanyalah aku yang bisa menikmatinya. Tiara melenguh panjang, jemarinya meremas seprai sutra di bawah tubuhnya saat ia merasakan sensasi panas yang menjalar. "Abang... pelan-pelan," rintihnya dengan napas yang mulai terputus-putus, membiarkan tubuhnya sepenuhnya pasrah."Panggil aku seperti Sari memanggilku," perintahku rendah saat dia sudah berdiri tepat di tepi ranjang. Tiara mendongak, matanya yang besar tampak bingung dan gentar. "Ma-maksud Juragan?" Aku melangkah maju, memangkas jarak hingga ujung kakiku menyentuh jemari kakinya yang mungil. Aku membungkuk, menumpukan tanganku di atas tempat tidur, mengurung tubuhnya di antara lenganku. "Sari memanggilku 'Abang'. Aku ingin kau melakukan hal yang sama. Mulai malam ini, panggil aku Abang Bonar." "Tapi... itu terdengar tidak pantas, Juragan," bisiknya dengan suara tercekat. Aku tersenyum tipis, "Pantas atau tidak, akulah yang menentukan di rumah ini. Sekarang, panggil namaku." Tiara menelan ludah, bibirnya yang ranum bergetar hebat saat mencoba mengeluarkan suara. "A-Abang... Abang Bonar." Suara itu terdengar seperti musik yang jauh lebih indah daripada gemerincing koin di perutnya tadi. Ada nada kepasrahan yang manis di sana. Aku mengulurkan tangan, menyisir rambutnya yang masih basah
Aku kembali ke kursi kebesaranku, menyandarkan punggung dengan santai sambil menyesap wiski. Bunyi denting es batu dalam gelas kristal menjadi satu-satunya musik di ruangan ini. Mataku tak lepas darinya, menatap intens setiap jengkal kulitnya yang kini memerah karena malu.Tiara berdiri mematung di tengah ruangan, dikelilingi kemewahan yang tampak asing baginya. Jemarinya yang gemetar mulai meraih pengait kostum di balik punggungnya. Suara gemerincing koin imitasi itu kini terdengar putus-putus, mengikuti irama napasnya yang tidak teratur."Jangan menutup mata, Tiara. Tatap aku," perintahku saat melihat gadis muda itu menangis.Aku menikmati setiap detik penderitaannya. Cairan amber di gelasku memberikan kehangatan yang kontras dengan tatapan dinginku. Ketika helai demi helai kain itu luruh ke lantai, aku tidak terburu-buru. Aku bukan pria yang hanya lapar akan kepuasan fisik; aku menikmati proses penaklukan ini. Aku ingin dia sadar sepenuhnya bahwa mulai detik ini, tak ada satu inci
Tanganku terangkat, jemariku yang kasar mengusap pelan pundaknya yang terbuka, turun perlahan mengikuti garis tulang selangkangnya. "Bayangkan, Tiara... malam ini saja kau menolak, besok bapakmu mungkin sudah membusuk di sel kabupaten, dan kau akan berakhir di ranjang pengap para aki-aki itu."Aku mencengkeram lembut pinggangnya, menariknya sedikit lebih dekat hingga ia bisa merasakan detak jantungku. "Di sini, kau hanya perlu melayaniku. Kau akan memakai sutra, bukan kain murahan. Sekarang, tunjukkan tarian yang membuatku harus membayar mahal untukmu."Tiara menghirup nafasnya dalam-dalam, hal yang dia pikirkan saat terjepit seperti ini selalu saja Rully. Meski bapaknya sendiri tak pernah perduli padanya. Menjadi simpanan juragan Bonar, tentu Tiara tak ingin rugi dan harus memanfaatkan dengan baik pria itu."Tunggu, Juragan. Saya minta satu hal lagi."Aku menaikkan sebelah alis, menatapnya dengan tatapan meremehkan. "Katakan. Tapi ingat, jangan menguji kesabaranku dengan permintaan y
Sejak Sari sakit, aku memilih tidur di kamar terpisah. Dia menjadi sangat sensitif dan emosional, mungkin karena rasa rendah diri yang menggerogotinya dari dalam. Aku bukan tipe pria yang telaten membujuk atau mengobral kata manis. Daripada kami terus ribut atau aku lepas kendali dan main kasar, lebih baik aku menghindar.Mungkin orang akan menyebut perlakuanku ini silent treatment, tapi bagiku, ini cara terbaik menjaga sisa kewarasan kami berdua.Aku masuk ke bathup membenamkan tubuh tinggi atletisku ke dalam air yang sejuk. Kulit kecoklatanku tampak mengilat di bawah lampu ruang rias yang mewah. Sambil memejamkan mata, aku menunggu kedatangan Tiara. Jujur saja, aku belum pernah berinteraksi langsung dengannya. Tiap kali aku menginginkan seorang wanita, Sadikin-lah yang maju menyampaikan pesan dan membereskan segalanya.Beberapa kali aku melihat gadis itu menari. Gerakannya erotis namun elegan. Tubuhnya ramping, dengan lekukan pinggang kecil yang men
Tiara melangkah keluar dari kedai tuak dengan napas tersengal. Rasa mual mengaduk perutnya, bukan karena bau alkohol yang menyengat tadi, tapi karena kenyataan bahwa harga dirinya ditawar seperti daging kiloan di pasar. Ternyata bapaknya bukan cuma pemabuk, tapi lubang hitam yang menghisap hidupnya.Ia nekat berjalan kaki menuju Polsek yang jaraknya dua kilometer dari sana. Jalanan aspal yang membelah perkebunan sawit itu gelap gulita, hanya dibantu cahaya bulan yang redup. Suara pelepah sawit yang saling bergesek karena angin malam terdengar seperti bisikan orang-orang yang menertawakan nasibnya.Sampai di kantor polisi yang sepi, bau karbol dan asap rokok menyambutnya. Di sudut sel yang pengap, ia melihat Rully duduk meringkuk. Wajah pria itu babak belur, matanya bengkak, dan baju kemeja kumalnya robek di bagian bahu. Begitu melihat Tiara, Rully bukannya merasa bersalah, justru merangkak mendekati jeruji besi."Tiara! Kamu bawa uangnya? Tolong
Sadikin menyulutkan korek ke ujung cerutuku. Asap tebal langsung mengepul, aromanya berat menyengat di ruangan yang remang itu. Aku duduk santai, menyilangkan satu kaki di atas paha. Aku selalu berbaju serba hitam, kontras dengan kulitku yang sawo matang khas orang lapangan yang sering terpapar matahari.Di usiaku menginjak 37 tahun, Aku sudah jadi penguasa tunggal di wilayah ini. Dan Aku sebentar lagi bakal jadi duda; istriku, Sari, tinggal menunggu waktu karena kanker yang menggerogoti tubuhnya sampai tinggal tulang. Tapi bagiku, hidup harus tetap jalan."Apa benar dia masih perawan?" tanyaku datar, mataku menatap asap cerutu yang meliuk-liuk di udara."Kalau soal itu, masih kabar burung, Juragan," jawab Sadikin sambil menyimpan korek ke saku celananya."Saya sendiri agak sangsi. Mana ada penari di kampung ini yang belum pernah 'dipakai'? Penampilannya saja sudah mengundang hasrat."Aku mengembuskan asap pelan, matanya menyipit membayan







