Share

7-1. Menuju Pagi

last update Tanggal publikasi: 2026-06-12 11:30:55

"Panggil aku seperti Sari memanggilku," perintahku rendah saat dia sudah berdiri tepat di tepi ranjang.

Tiara mendongak, matanya yang besar tampak bingung dan gentar.

"Ma-maksud Juragan?"

Aku melangkah maju, memangkas jarak hingga ujung kakiku menyentuh jemari kakinya yang mungil. Aku membungkuk, menumpukan tanganku di atas tempat tidur, mengurung tubuhnya di antara lenganku. "Sari memanggilku 'Abang'. Aku ingin kau melakukan hal yang sama. Mulai malam ini, panggil aku Abang Bonar."

"Tapi... itu terdengar tidak pantas, Juragan," bisiknya dengan suara tercekat.

Aku tersenyum tipis, "Pantas atau tidak, akulah yang menentukan di rumah ini. Sekarang, panggil namaku."

Tiara menelan ludah, bibirnya yang ranum bergetar hebat saat mencoba mengeluarkan suara. "A-Abang... Abang Bonar."

Suara itu terdengar seperti musik yang jauh lebih indah daripada gemerincing koin di perutnya tadi. Ada nada kepasrahan yang manis di sana. Aku mengulurkan tangan, menyisir rambutnya yang masih basah ke belakang telinga, membiarkan jemariku yang kasar merasakan kelembutan kulit lehernya yang meremang.

"Bagus, Tiara. Ucapkan itu lagi nanti, saat aku sedang berada di dalammu," bisikku tepat di depan bibirnya, menghirup aroma sabun mahal yang kini telah menyatu sempurna dengan wangi tubuh alaminya.

Aku tidak lagi menunggu jawabannya. Tanganku bergerak ke simpul handuk yang menutupi tubuhnya, siap untuk meruntuhkan pertahanan terakhirnya malam ini.

Handuk itu luruh ke bawah, meninggalkan Tiara yang kini berdiri polos. Seketika ia terpekik kecil, refleks menyilangkan tangan untuk menutupi dada dan area pribadinya.

"Abang, jangan main kasar, ya? Aku belum pernah melakukannya. Kata temanku yang sudah menikah, pertama kali itu rasanya sakit, seperti tubuh kita terbelah."

Aku terkekeh , menarik pinggangnya hingga kulit kami bersentuhan tanpa pembatas. "Sakit itu hanya sebentar, Sayang. Aku akan melakukannya perlahan sampai kau sendiri yang memohon padaku untuk lebih dalam lagi."

Aku langsung menggendong tubuh polos Tiara hingga ia terpekik kaget dan spontan melingkarkan lengan ke leherku. Tatapan kami beradu, namun Tiara hanya bertahan sebentar sebelum membuang muka karena malu.

Meletakkannya di kasur sutra berwarna gelap dengan hati-hati, aku berbisik, "Jangan ditutupi dan memalingkan wajah, Tiara. Aku ini calon suamimu." Aku merangkak di atas tubuhnya dan melepas kaus hitam tanpa lenganku, memamerkan dada bidang dengan kulit kecokelatan.

Tiara bernapas pendek, dadanya naik-turun bersentuhan dengan dadaku yang keras. "Tubuh Abang... begitu besar. Aku takut tidak bisa mengimbangimu," bisiknya memberanikan diri menatap mataku.

"Tenang saja, pasti bisa." Aku mencium kening dan pipinya, lalu turun ke leher jenjangnya. Menyesap dan menggigit tipis-tipis kulit putih bersih itu, meninggalkan ruam kemerahan yang nyata sebagai stempel kepemilikan.

Tak lupa, tanganku meremas dada dan memilin putingnya, lalu menyesap serta menjilat area itu disertai gigitan kecil. Kutinggalkan tanda kemerahan yang mencolok di kanan dan kiri agar adil dan tak ada rasa iri.

Inilah bagian yang sedari tadi kubayangkan dengan mengepalkan tangan. Aku ingat ketika Tiara menari, dadanya terlihat hampir tumpah dari bra berpayet itu. Setiap inci tubuhnya menjadi pusat perhatian para binatang buas, tapi mulai malam ini, binatang buas itu hanyalah aku yang bisa menikmatinya.

Tiara melenguh panjang, jemarinya meremas seprai sutra di bawah tubuhnya saat ia merasakan sensasi panas yang menjalar. "Abang... pelan-pelan," rintihnya dengan napas yang mulai terputus-putus, membiarkan tubuhnya sepenuhnya pasrah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Ryfana
awwwww..... belah duren
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   80. Sari Mendengar

    Aku meletakkan ponsel ke atas meja, lalu bangkit dan mendekatinya. Tanpa ragu, aku menyelinapkan tangan ke pinggangnya lalu menarik tubuh mungil itu ke dalam pangkuanku saat aku mendarat di sofa. Aku membelai lembut pipinya yang masih merona merah menahan kesal, menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan pikirannya. "Sudah Abang bilang, dia di sini cuma menumpang karena rasa kasihan, Sayang," ucapku tegas sembari merapikan anak rambut di wajahnya. "Untuk Dirga Group, Abang tidak akan pernah mempekerjakannya secara permanen. Dia cuma dapat jatah magang sampai selesai, setelah itu dia harus cari jalan sendiri. Jadi, tidak perlu buang-buang energimu untuk memikirkan dia lagi, ya?" "Bisa tidak sebelum selesai magang Abang akhiri saja? Aku enek melihat dia di sini. Kesal tahu, Bang. Nanti anakku mirip dia kelakuannya." Aku tak bisa menahan tawa mendengar ocehan polos sekaligus ketakutannya yang terbilang konyol itu

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   79. Posisi Terancam

    Sabryna berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya dengan napas memburu. Rasa malu dan dongkol bercampur aduk jadi satu, membakar dadanya usai diamuk habis-habisan oleh Bonar di ruang tengah tadi. "Ah, sialan! Ternyata Tante Sari pernah selingkuh? Pantas saja Om Bonar makin acuh dan tidak sudi menyentuhnya lagi," sinisnya seraya menghentakkan kaki jengkel ke lantai. Ia melempar tubuhnya kasar ke tepi ranjang, meremas sprei dengan jemari bergetar. Kecongkohan yang selama ini ia pamerkan di depan Tiara rasanya seperti menampar mukanya sendiri. "Kalau begini, posisiku jadi serba salah dan makin tidak punya pijakan di rumah ini gara-gara masa lalu Tante Sari. Kalau aku tidak dengar sendiri tadi, mana pernah aku tahu kalau wanita sombong seperti dia bukan cuma penyakitan, tapi juga cacat moralnya." "Baiklah, aku akan tetap menjalankan rencanaku, dengan atau tanpa bantuan Tante Sari," bisiknya mantap dengan mata berkilat

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   78. Ultimatum Untuk Sabryna

    "Atau jangan-jangan... kanker rahimmu itu hasil dari ulah bejatmu di belakangku karena tidak bisa setia, hah?" pungkasku melayangkan tuduhan yang tepat menghantam mentalnya.Aku menyunggingkan senyum miring, menatapnya dari atas sampai bawah tanpa sisa rasa hormat sedikit pun."Tuhan memang tidak pernah tidur, Sari. Kamu menabur bangkai, sekarang kamu yang harus menelan baunya sendiri."Sari memegangi dadanya yang sesak, matanya melotot lebar dengan air mata yang menetes deras. Kalimat itu membakarnya hidup-hidup, menghancurkan sisa harga dirinya hingga tak berbekas."Bang! Cukup, Bang!" jerit Sari dengan suara parau, gemetar hebat menahan malu dan rasa bersalah yang mendalam. "Jangan cela penyakitku seperti itu! Aku memang salah, tapi demi Allah... aku tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain lagi setelah itu!"Aku mengambil tabletku dan menampilkan video dari kamera tersembunyi yang kupasang di vas bunga di depan kamar ini—kamar k

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   77. Kemarahan Bonar

    "Tuduhan katamu? Jangan lupa, ruang kerja suamiku terpasang CCTV. Kamu tidak tahu, kan? Bahkan Teh Sari saja tidak tahu. Yang diberi tahu Abang cuma aku. Kenapa? Ya karena Abang kecintaan sama aku," ucap Tiara lalu tertawa puas. Sabryna membatu di tempat, tak sanggup menyusun satu kata pun untuk membela diri. Rahasia keberadaan kamera pengawas itu benar-benar membuatnya malu. "Ngomong-ngomong soal kerja, kerja yang bagaimana? Kamu menawarkan teh untuk suamiku? Dan waktu itu kamu pakai baju crop top seksi kurang bahan lho, sampai ditegur Bang Bonar. Mau aku buka CCTV milik Abang?" Tiara mengamati wajah merah padam Sabryna yang terbungkam fakta. Senyum miring terpatri di bibirnya saat melirik dua asisten rumah tangga yang diam-diam menyimak di sudut dapur. "Kalau mau lihat sekalian, kebetulan banget ada Bi Inah, Bi Asih, dan yang lainnya di sini." Rasa malu yang luar biasa bercampur panik membuat dadanya sesak, ter

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   76. Kena Sasaran

    Pintu terbuka dan sosok Sabryna muncul di sana. Gadis itu melangkah masuk dengan senyum manis yang dipaksakan, membawa sebuah nampan berisi cangkir kopi yang masih berasap. Pakaian kerjanya kelewat ketat untuk ukuran seorang staf magang, sengaja memperlihatkan lekuk tubuh yang justru membuatku muak.​"Om Bonar... ini saya bawakan kopi hitam tanpa gula, persis seperti yang Om suka," ucapnya dengan nada suara yang dibuat-buat lembut, lalu meletakkan cangkir itu di ujung mejaku.​Aku tidak menyentuh cangkir itu sama sekali. Mataku dingin menatapnya. "Siapa yang menyuruhmu ke sini, Sabryna? Tugas pembukuanmu dari Lydia sudah selesai?"​Sabryna sedikit terkejut dengan nada dinginku, tetapi dia cepat-cepat menguasai diri. Ia menyibak rambutnya ke belakang telinga, mencoba bersikap manja. "Sudah hampir selesai kok, Om. Saya cuma khawatir Om capek baru pulang dari Jakarta, jadi saya inisiatif buatkan kopi. Lagipula, Tante Tiara kan tidak bisa menemani Om di k

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   75. Mencari Penyebar Video

    Setelah Rully pergi dikawal orang-orang Bonar, kini hanya tersisa Bonar dan Sadikin. "Pak, bagaimana jika Bu Tiara suatu saat ingin bertemu bapaknya? Beliau pasti akan menyadari jika sudah lama tidak melihat bapaknya. Pak Bonar harus memberikan jawaban yang logis untuk Bu Tiara," tanya Sadikin sambil berjalan di sampingnya menuju bangunan utama Dirga Group yang terletak beberapa blok dari gudang. Aku menghembuskan asap rokok ke udara sebelum menoleh ke arah Sadikin dengan wajah datar. "Biar aku yang atur," jawabku tenang. "Tiara tahu bapaknya punya utang di mana-mana dan sering kabur-kaburan. Kalau dia bertanya, aku tinggal katakan kalau Rully pergi ke luar pulau untuk menghindari penagih utang dan memulai hidup baru dengan uang yang kuberikan. Tiara tidak akan curiga, karena memang seperti itulah kelakuan bapaknya dari dulu." "Soal penyebar video masa lalu istriku bagaimana, Kang? Sudah ketemu? Jangan lupa hapus

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   6. Buka Bajumu

    Aku kembali ke kursi kebesaranku, menyandarkan punggung dengan santai sambil menyesap wiski. Bunyi denting es batu dalam gelas kristal menjadi satu-satunya musik di ruangan ini. Mataku tak lepas darinya, menatap intens setiap jengkal kulitnya yang kini memerah karena malu.Tiara berdiri mematung di

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   5. Keinginan Sari Terwujud

    Tanganku terangkat, jemariku yang kasar mengusap pelan pundaknya yang terbuka, turun perlahan mengikuti garis tulang selangkangnya. "Bayangkan, Tiara... malam ini saja kau menolak, besok bapakmu mungkin sudah membusuk di sel kabupaten, dan kau akan berakhir di ranjang pengap para aki-aki itu."Aku

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   4. Menari Tanpa Musik

    Sejak Sari sakit, aku memilih tidur di kamar terpisah. Dia menjadi sangat sensitif dan emosional, mungkin karena rasa rendah diri yang menggerogotinya dari dalam. Aku bukan tipe pria yang telaten membujuk atau mengobral kata manis. Daripada kami terus ribut atau aku lepas kendali dan main ka

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   3. Butuh Pewaris

    Tiara melangkah keluar dari kedai tuak dengan napas tersengal. Rasa mual mengaduk perutnya, bukan karena bau alkohol yang menyengat tadi, tapi karena kenyataan bahwa harga dirinya ditawar seperti daging kiloan di pasar. Ternyata bapaknya bukan cuma pemabuk, tapi lubang hitam yang menghi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status