MasukMentari pagi menyelinap lewat celah jendela kamar kontrakan sempit milik Anna. Lelah semalam belum juga hilang, tapi waktu tak menunggu. Anna bangkit, menyalakan kompor kecil, lalu merebus sebutir telur—sarapan satu-satunya pagi ini.
Belum sempat ia duduk, ketukan tegas terdengar di pintu. Anna buru-buru membukanya. Bu Marni, pemilik kontrakan, berdiri dengan wajah lelah. "Anna, pagi. Maaf ganggu. Tapi kamu tahu, sudah waktunya bayar kontrakan. Tolong ya, minggu ini dilunasin. Banyak yang nunggak, dan saya harus adil," ucap Bu Marni, nada suaranya datar namun jelas terasa tekanan di baliknya. Anna menunduk sedikit, suaranya pelan dan penuh sopan santun. "Maaf, Bu Marni. Saya… saya baru beli obat buat Ara tiga hari lalu. Uangnya benar-benar habis. Bisa saya minta tenggat waktu sampai minggu depan?" Bu Marni menarik napas berat, lalu mengangguk singkat. "Minggu depan, ya? Kalau belum dibayar juga, saya harus kasih kontrakan ini ke orang lain yang bisa bayar tepat waktu. Saya juga butuh makan, Neng." Anna mengangguk, senyum tipis penuh getir di wajahnya. "Iya, Bu. Saya usahakan." Pintu tertutup, meninggalkan Anna mematung di ruang sempit. “Dari mana aku bisa dapat uang segitu?” bisiknya getir. Ia menatap dompet lusuh—hanya ada puluhan ribu dan receh. Terlalu sedikit bahkan untuk bayar listrik. Tapi ia tak punya waktu meratap. Hidup tetap berjalan. Ia menyimpan dompet ke tas lusuh dan berangkat kerja. --- Di sisi lain kota, sarapan tersaji lengkap di meja panjang rumah megah bergaya modern. Dirga duduk sendiri di ujung meja, menatap roti panggang dan omelet tanpa ekspresi. Rumah itu dingin meski mewah. “Maaf, Tuan. Hari ini saya izin pulang lebih awal,” kata Bi Ningsih, pembantu tua yang setia sejak dulu. “Ya. Pulanglah,” jawab Dirga singkat. Ia bangkit, mengambil jas dari sandaran kursi dan memasukkannya ke dalam tas kerja. Sebelum melangkah ke pintu, ia membuka dompet dan menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribu ke Bi Ningsih. Perempuan tua itu terkejut. “Lho, Tuan... saya baru digaji kemarin…” “Untuk naik taksi nanti,” jawab Dirga singkat. Sekilas, ada senyum tipis di wajahnya—hangat yang hampir tak terlihat. “Terima kasih, Tuan. Sehat-sehat ya,” ucap Bi Ningsih tulus. Dirga mengangguk lagi, lalu berjalan ke teras. “Pak Supri, kita berangkat sekarang,” ucapnya datar saat melihat sang sopir sudah siap. --- Toko bunga itu mungil tapi penuh warna. Rak-rak kayu dihiasi berbagai jenis bunga segar—mawar merah muda, lily putih, anggrek ungu, dan krisan kuning—tersusun rapi di dalam vas kaca bening. Anna sedang sibuk merangkai bunga untuk pesanan pengantin. Tangannya lincah, menyatukan tangkai demi tangkai, melilitkan pita satin dengan hati-hati. Tapi matanya terlihat sayu. “Anna, jangan melamun. Bunganya hampir patah,” tegur Bu Sinta, pemilik toko. “Maaf, Bu,” jawab Anna buru-buru. Ia tersenyum, tapi sorot matanya tetap sayu. Ia kembali bekerja, tapi hatinya masih kacau. Lalu tiba-tiba—dering notifikasi di ponselnya membuat jantungnya melompat. Di layar tertulis: “Pesan dari dr. Risa”. Jari Anna gemetar saat menyentuh layar. Napasnya tertahan, tenggorokannya kering. Dengan hati-hati ia membaca isi pesan. “Anna, kondisi Ara menurun cukup drastis. Kami butuh tindakan segera, tapi biayanya tidak sedikit. Bisa ke rumah sakit sekarang?” Wajah Anna seketika pucat. Lututnya terasa lemas. Ia menahan tubuhnya agar tidak jatuh, menggigit bibirnya kuat-kuat. Tangannya bergetar hebat. Tanpa pikir panjang, ia menghampiri Bu Sinta. "Bu... saya minta izin... adik saya... saya harus ke rumah sakit sekarang." Melihat wajah Anna yang tegang dan matanya yang berkaca-kaca, Bu Sinta langsung mengangguk. "Cepat pergi, Anna. Hati-hati, ya." Anna membungkuk sopan, lalu bergegas keluar. Langkah kakinya terburu-buru, hampir berlari. --- Lorong rumah sakit terasa lebih dingin dari biasanya. Anna tergesa masuk ke ruang rawat. Tubuh mungil Ara terbaring lemah, napasnya berat, wajahnya pucat. Jemari kecilnya dingin saat Anna genggam. “Ara… bertahan, ya…” bisiknya, menahan air mata. Beberapa helai rambut adiknya menempel di bantal, membuat dada Anna sesak. Ia keluar mencari dr. Risa. “Dok, tolong lakukan apa pun. Saya janji akan bayar minggu depan,” pintanya lirih tapi penuh harap. Dokter Risa menggeleng pelan. “Anna, ini rumah sakit. Kami terikat aturan. Tindakan baru bisa dilakukan setelah administrasi selesai.” “Tapi... itu bisa membahayakan nyawa Ara, kan?” tanya Anna putus asa, suaranya hampir tak terdengar. “Untuk kondisi seperti ini, iya. Tapi saya tak bisa mengambil keputusan tanpa izin dari atas,” jawab dokter Risa lembut namun tegas. Anna menunduk. Bibirnya gemetar, matanya berkaca. Ia ingin marah, ingin berteriak, tapi ia tahu tak ada yang bisa disalahkan. Semuanya butuh biaya—bahkan untuk menyelamatkan orang yang paling ia cintai. “Maaf, Anna...” kata dokter Risa lagi. “Saya benar-benar ingin membantu.” Anna hanya mengangguk pelan. Air mata jatuh satu per satu, membasahi lantai putih rumah sakit itu. --- Ia berdiri di balkon rumah sakit, tubuhnya bergetar halus. Angin sore berembus, menusuk kulit, seakan ikut menambah dingin yang merayap di dadanya. Ponselnya ia genggam erat, layar menyala menampilkan satu nama yang sudah lama tak ingin ia lihat lagi—Ibu. Sosok yang dulu meninggalkannya bersama Ara begitu saja, tanpa menoleh ke belakang. Jari Anna sempat bergerak, hampir menyentuh tombol hijau. Namun secepat itu pula ia menarik tangannya kembali. Napasnya tercekat. ’Untuk apa? Apa aku masih punya tempat di hatinya?’ batinnya pedih. Kenangan masa kecil bermunculan—suara pintu rumah dibanting keras, tangisan Ara kecil di pelukannya, dan langkah kaki Ibu yang menjauh tanpa pernah kembali. Luka itu terlalu dalam untuk sekadar ditelepon begitu saja. Anna menutup mata, mencoba menahan air mata yang nyaris jatuh. “Tidak… bukan dia jawabannya,” bisiknya getir. Saat membuka mata, pandangannya jatuh pada sebuah kartu nama hitam berlapis emas di dalam tas kecilnya. Nama itu terpampang jelas—Dirga Mahendra. Kartu itu terasa begitu berat, seolah memikul masa depan yang sedang ia pertaruhkan. Ingatan tentang pertemuannya dengan pria itu kembali mengalir—tatapan matanya yang tajam, suara dinginnya, serta tawaran yang sempat ia tolak mentah-mentah. Tawaran yang baginya terdengar gila, tapi kini… ‘Satu-satunya jalan.’ Ia teringat kata-kata sahabatnya: “Jangan sampai kehilangan dirimu sendiri, Anna. Apa pun yang terjadi, bertahanlah.” Ucapan itu menancap seperti pengingat keras, membuat dadanya kian sesak. Tangannya gemetar saat meraih kartu itu, lalu menempelkan nomor yang tertera ke layar ponselnya. Jempolnya ragu-ragu melayang di atas tombol panggil. Rasanya seperti memilih antara kehilangan dirinya sendiri atau kehilangan Ara. Anna menghela napas panjang, menundukkan kepala. “Ini… demi Ara,” gumamnya lirih, seolah meneguhkan tekad. Dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan, ia akhirnya menekan tombol itu. Nada sambung terdengar, lambat, panjang, menusuk telinga. Jantungnya berdegup kencang, hampir melompat keluar. Hingga akhirnya—suara dingin dari seberang sana memecah keheningan. “Halo, ini siapa?” Anna menelan ludah. Suaranya bergetar, tapi penuh tekad. “Tuan Dirga… jika tawaran itu masih berlaku… saya menerimanya.”Di sisi lain, Dirga melangkah keluar dari ruang kerjanya. Langkahnya mantap, wajahnya tetap datar, seolah beban apa pun tak pernah benar-benar menyentuh permukaan dirinya. Lift membawanya turun ke basement parkiran, tempat udara terasa lebih dingin dan gema langkah kaki terdengar lebih jelas.Ia membuka pintu mobil dan duduk di kursi pengemudi. Mesin belum dinyalakan. Dirga hanya menunggu.Tak lama, pintu mobil terbuka dari sisi penumpang. Seorang pria masuk dengan penuh percaya diri—penampilannya mencolok, jari-jarinya dihiasi beberapa cincin besar, kacamata hitam masih bertengger meski berada di ruang tertutup. Bima—orang suruhan Dirga.“Ya, Bos!” sapanya riang. “Ada job apa kali ini?”Ia mengulurkan tangan, menunggu jabat tangan yang tak pernah datang. Dirga sama sekali tidak menoleh. Tatapannya lurus ke depan.Bima terkekeh canggung, lalu menarik kembali tangannya, mengganti gerakan itu dengan mengusap rambutnya sendiri.Dirga mengulurkan sebuah amplop cokelat tebal.“Ini tugasmu.
“Libatkan aku, Anna.” Kata-kata itu jatuh rendah, nyaris seperti bisikan yang tidak menuntut jawaban. Pelukan itu bertahan cukup lama. Dirga merasakan detak jantung Anna yang belum sepenuhnya tenang, napasnya yang masih menyimpan sisa isak. Lalu, perlahan, seolah ada sesuatu di dalam tidurnya yang mereda, lengan Anna mengendur. Pelukannya terlepas. Dirga merasakannya lebih dulu. Ia tidak langsung menjauh. Tangannya masih menggantung sepersekian detik di udara, seakan ragu apakah harus bertahan atau melepaskan sepenuhnya. Tatapannya tertahan di wajah Anna, menunggu—barangkali akan ada gerakan lain, gumaman, atau tanda bahwa gadis itu terbangun. Namun tidak ada. Anna tetap diam. Mata terpejam, bulu matanya basah. Air mata itu tidak lagi jatuh, hanya tertinggal sebagai sisa dari sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan saat sadar. Perlahan, tangan Dirga terangkat. Ujung jarinya menyentuh pipi Anna, mengusap air mata itu dengan gerakan yang nyaris tak terasa. Ia menahan na
“Anna… sudah lama, ya.” Bisikan itu menyentuh telinganya seperti sesuatu yang dingin dan lembap. Tubuh Anna membeku. Napasnya tersangkut di tenggorokan, seolah paru-parunya lupa cara bekerja. “Sekarang kau kelihatan lebih tenang,” lanjut Dewanto pelan, suaranya rendah, seakan mereka sedang berbagi rahasia. “Tapi caramu gemetar masih sama.” Anna mengepalkan tangannya. Kukunya menekan telapak hingga perih—rasa sakit kecil yang ia gunakan untuk tetap sadar. Ia menelan ludah, berusaha menguasai dirinya.‘Jangan bereaksi. Jangan beri dia apa pun.’ batinnya. Ia mengangkat wajahnya sedikit, cukup untuk menatap Dewanto. Rahangnya mengeras. Tatapannya dingin dan tegas, penolakan yang tidak lagi ia sembunyikan. Dewanto bergeser sedikit, justru menutup jalan di belakangnya. Kedekatan itu sudah cukup membuat dada Anna sesak. “Aku bilang minggir,” ucap Anna, memberi peringatan sekali lagi. Dewanto mencondongkan tubuhnya sedikit. Kepalanya miring, senyum tipis terbit di sudut bibirny
Dirga mengangkat tangannya perlahan. Ujung jarinya menyentuh rambut Anna, mengambil sehelai benang pakaian yang tersangkut di sana. Gerakannya ringan, nyaris tidak terasa. Namun Anna menyadarinya. Dan kesadaran itu membuat napasnya yang tadi tertahan akhirnya keluar. Dada yang sempat terasa sempit kembali mengembang perlahan. Perlahan Dirga melepaskan pelukannya. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya. Nada suaranya datar, rendah, tanpa embel-embel emosi. Anna mengangguk cepat, dadanya masih naik turun, dan ia menyadari itu. Takut Dirga salah menafsirkan tindakannya. “I—iya. Aku tidak apa-apa,” ujarnya, lalu berhenti sejenak, menarik napas. “Maaf… aku hanya spontan. Aku lihat kerah kemejamu terlipat sedikit. Aku tidak bermaksud apa-apa.” Ia menunduk ketika mengatakannya, suaranya pelan, hampir defensif. Dirga menatapnya singkat. Tatapan itu tenang, dingin, dan sulit dibaca. “Aku tidak berpikir seperti itu,” katanya akhirnya. Anna menghembuskan napas yang tidak ia sadari seda
Dirga keluar dari ruang kantornya dengan rahang mengeras. Pintu di belakangnya tertutup lebih keras dari biasanya. Suaranya menggema di sepanjang lorong, membuat beberapa karyawan menoleh secara refleks. Tak satu pun berani bertanya. Ekspresi Dirga terlalu jelas untuk disalahartikan. Ia tidak berhenti melangkah. Tangannya sudah meraih ponsel bahkan sebelum ia tiba di lift. Satu nama muncul di layar—nama yang sejak siang entah kenapa terus mengganggu fokusnya. Anna. Dirga menempelkan ponsel ke telinga dan tidak ada jawaban. Ia menarik napas tajam, lalu menekan layar sekali lagi. Tetap sunyi. Rahangnya mengeras semakin kuat, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam dadanya—tidak nyaman, tidak bisa ia jelaskan. Dalam benaknya, satu keputusan sudah bulat—ia akan langsung ke toko bunga tempat Anna bekerja. Baru beberapa menit mobil melaju, ponselnya berdering. Nama “Anna” muncul di layar. Dirga langsung menepikan mobil dan mengangkat panggilan itu. Suaranya terkendali, tapi dingi
Dering telepon terus bergema di meja balkon.Dirga berdiri tegak, tatapannya tertuju pada layar yang menampilkan nomor asing — tanpa nama, tanpa identitas, tapi ada sesuatu yang... mengusik ingatannya. Seperti bayangan lama yang kembali membayang. Ia menarik napas pendek, kemudian menjawab panggilan itu. Suara statis sesaat terdengar sebelum keheningan menyelimuti. Hanya desau angin malam yang mengisi jarak antara dua suara di ujung telepon. “Siapa kau?” suara Dirga terdengar dingin, tenang, penuh kendali. Bukan kemarahan, bukan kecemasan—hanya ketajaman seorang yang selalu berhitung. Beberapa saat berlalu, lalu sebuah tawa pelan mengalun—bukan tawa lepas, melainkan desisan penuh arti dari seseorang yang menikmati permainan ini. “Masih sama seperti dulu, ya… Tenang di permukaan, tapi sibuk membaca arah angin di bawah.” Dirga diam. Matanya melirik ke tablet di mejanya, layar menyala menampilkan pesan terenkripsi. Andi: posisi siap. Perintah? Satu tangan Dirga segera mengetik, se







