LOGIN"Kau—!" Vanya menggeram, mengangkat tangan bersiap melayangkan tamparan kedua.
Namun kali ini, Kiara dengan sigap menangkap pergelangan tangan Vanya di udara. Cengkeraman Kiara begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih, membuat Vanya merintih kesakitan. "Jangan pernah berani menyentuhku lagi," desis Kiara tajam, menatap tepat ke dalam manik mata Vanya. "Roda berputar. Dan saat tiba giliranku berada di atas, aku akan memastikan kalian berdua membayarnya dengan harga yang jauh lebih mahal dari semua kehancuran ini." Kiara menghempaskan tangan Vanya dengan kasar. Tanpa menoleh lagi pada wajah Rendy yang pias, Kiara membalikkan badan dan melangkah keluar. Ia meninggalkan lima tahun hidupnya di ruangan itu, membawa serta luka yang menganga, namun menolak untuk terlihat hancur. Hujan menderas tanpa peringatan saat Kiara melangkah keluar dari lobi gedung pencakar langit sore itu. Langit kelabu tampak seolah ikut meratapi nasibnya, menumpahkan tirai air yang tebal ke jalanan ibukota. Dalam hitungan detik, kemeja putih dan rok span hitamnya basah kuyup. Udara dingin langsung menusuk pori-pori hingga ke tulang, tetapi ia tidak peduli. Rasa dingin di luar tidak ada apa-apanya dibandingkan bayangan menjijikkan dua manusia yang sedang bergumul di atas meja kerjanya tadi. Ia berjalan tanpa arah di trotoar yang mulai tergenang air. Pikirannya melayang jauh, memikirkan bagaimana ia harus menyambung hidup besok. Tak ada pekerjaan, tak ada tabungan, dan tak ada lagi tempat untuk bersandar. Langkah Kiara mulai gontai. Pandangannya kabur oleh air hujan. Di persimpangan jalan yang lengang, ia melangkah turun dari trotoar, sama sekali tidak menyadari bahwa lampu pejalan kaki masih berwarna merah menyala. Sebuah klakson panjang dan nyaring tiba-tiba membelah deru hujan. Ciiiittt! Bunyi gesekan ban mobil dengan aspal basah terdengar mengerikan. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak dengan jarak hanya sepuluh sentimeter dari pinggul Kiara. Kiara terkesiap hebat. Jantungnya seolah melompat dari rongga dada. Ia mundur terhuyung-huyung, kehilangan kesadarannya. Lutut Kiara jugakehilangan tenaganya. Teror sesaat akibat suara decitan rem itu, ditambah dengan rasa dingin yang menggigit tulang dan kelelahan mental yang luar biasa, akhirnya meruntuhkan pertahanan terakhirnya. Kegelapan perlahan merayap di ujung pandangannya. Hal terakhir yang ia dengar sebelum kesadarannya benar-benar terenggut adalah derap langkah kaki tergesa-gesa yang memercikkan air genangan. Tubuh Kiara luruh ke aspal yang basah. "Tuan Baskara, wanita itu pingsan," ucap sopir berpakaian jas rapi yang baru saja memeriksa kondisi Kiara. Hujan masih menderas, membasahi payung hitam pekat yang ia pegang. "Apa kita perlu memanggil ambulans? Benturan mobil kita tidak ada, dia pingsan sepertinya karena kedinginan dan syok berat." Di kursi belakang mobil Maybach eksklusif itu, seorang pria duduk dalam keheningan yang mencekam. Wajahnya bak pahatan tegas, rahangnya keras, namun matanya memancarkan aura dingin yang membekukan, seolah tak ada secercah pun gairah kehidupan di dalamnya. Sepasang kaki jenjangnya yang tertutup selimut wol mahal tampak diam, tak mampu digerakkan. Baskara menatap lurus ke arah tubuh mungil yang tergeletak tak berdaya di depan mobilnya melalui kaca jendela yang berembun. Entah mengapa, melihat wanita yang tampak begitu pucat di tengah hujan deras itu menyentuh sekelumit empati di dalam hatinya yang telah lama mati rasa. "Bawa dia masuk," suara Baskara terdengar berat, serak, dan penuh otoritas mutlak. “Masuk ke mobil Kita?” tanya sopir memastikan. "Kita bawa ke rumah. Panggil Dokter Tirta untuk memeriksanya di sana. Jangan sampai ada rumor murahan besok pagi bahwa aku melakukan tabrak lari." "Baik, Tuan." Dengan sigap, sang sopir dibantu oleh asisten pribadi Baskara mengangkat tubuh basah Kiara dan membaringkannya di jok belakang, memberi jarak yang sopan dari sang majikan. Meski keduanya bingung karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, seorang Baskara mau membawa wanita di mobilnya. Aroma citrus dan lavender yang menenangkan perlahan meresap ke dalam indra penciuman Kiara. Kehangatan yang membalut tubuhnya membuat kelopak matanya perlahan bergerak. Ia mengerjap, menyesuaikan diri dengan cahaya lampu kristal temaram di langit-langit kamar yang luar biasa mewah dan asing. Ini jelas bukan kamar kosnya yang sempit. Ini adalah ruangan luas dengan perabotan bernuansa klasik modern, karpet tebal, dan selimut sutra yang memeluknya erat. Pakaiannya yang basah pun telah diganti dengan piyama berbahan lembut yang kering. "Syukurlah, Nona sudah sadar." Kiara terperanjat pelan. Ia menoleh ke arah sumber suara dan melihat seorang wanita paruh baya berseragam pelayan tersenyum lega di samping ranjang. "Saya... ada di mana?" suara Kiara parau. Memori tentang pengkhianatan Rendy, tamparan Vanya, dan mobil yang nyaris mencabut nyawanya kembali berkelebat cepat, membuat dadanya kembali sesak. "Nona sedang berada di kediaman utama Tuan Baskara," jawab pelayan itu sambil menyodorkan segelas air putih hangat. "Nona pingsan di depan mobil Tuan muda sore tadi. Beliau membawa Nona kemari dan meminta dokter pribadi untuk memeriksa. Nona hanya kelelahan ekstrem dan sedikit demam, tapi sekarang sudah aman." Kiara menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Baskara? Siapa dia? Mengapa orang kaya raya repot-repot menolong orang asing sepertinya.Baskara menggeram, memukul lengan kursi rodanya. "Wanita jalang itu benar-benar mencari mati. Bawa dia ke hadapanku sekarang, Hasbi. Aku sendiri yang akan mematahkan lehernya.""Aku akan membawanya padamu. Tapi sebelum itu..." Hasbi menunduk, menatap lurus ke dalam manik mata Baskara. "Ada rahasia lain yang kutemukan semalam, Bas. Rahasia yang selama dua tahun ini menghancurkan kewarasanmu."Baskara mematung. Sesuatu dari nada bicara Hasbi membuat darah di dalam nadinya terasa berhenti mengalir."Dua tahun lalu," Hasbi memulai penjelasannya dengan suara pelan yang menyayat keheningan, "saat kau mengejar Helena ke bandara di tengah badai... kau pikir kau menabrak Haris Anindita karena kau kehilangan kendali akibat hujan dan kecepatan tinggi, bukan?"Napas Baskara mulai tersengal. Kenangan malam jahanam itu kembali berputar di otaknya bak kaset rusak. "Kenapa kau membahas itu sekarang, Hasbi...""Karena kau tidak membunuh pria itu, Baskara!
Sinar matahari pagi menembus celah gorden penthouse DSG Group, menciptakan pendar keemasan di atas lantai marmer. Pintu utama penthouse terbuka dengan suara klik yang pelan. Baskara meluncur masuk dengan kursi rodanya, wajahnya tampak kelelahan setelah penerbangan pagi buta dari Singapura, namun matanya memancarkan urgensi yang luar biasa. "Kiara?" panggil Baskara pelan, suaranya sedikit serak. Ia tidak melihat Kiara di ruang tamu. Ia meluncur menuju kamar utama, kosong. Kepanikannya mulai naik sebelum akhirnya telinganya menangkap suara alunan musik klasik yang sangat pelan dari arah studio desain. Baskara memutar kursi rodanya mendekat. Di balik pintu kaca yang tidak dikunci, ia melihat Kiara sedang tertidur dengan posisi kepala bersandar di atas lipatan lengannya di atas meja kerja. Kertas-kertas sketsa berserakan di sekitarnya. Di layar monitor, sebuah desain mahakarya kalung berlian yang nyaris selesai tampak begitu memukau. Istrinya begadang semalaman demi membuktikan
Pukul dua dini hari, koridor apartemen mewah tempat Hasbi tinggal terlihat sepi bak kuburan. Lampu-lampu kristal yang menempel di dinding berlapis wallpaper emas memancarkan cahaya temaram.Sesosok bayangan berbalut jaket kulit hitam bergerak tanpa suara, menyusuri dinding, menghindari jangkauan kamera pengawas yang ia pikir telah ia retas sepuluh menit yang lalu. Pria itu adalah Anton 'Kidal'. Preman bayaran kelas menengah yang merasa dirinya adalah pembunuh bayaran profesional hanya karena pernah menghabisi beberapa target kelas teri.Anton berhenti tepat di depan pintu unit milik Hasbi. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan alat pencungkil elektronik. Hanya butuh waktu kurang dari tiga puluh detik hingga terdengar bunyi klik pelan. Pintu kayu mahoni itu terbuka.Anton menyeringai di balik masker hitamnya. Terlalu mudah, batinnya. Nona Helena membayar terlalu mahal untuk nyawa seorang pesuruh korporat yang bahkan tidak memiliki alarm pintu lapis kedua.Ia melangkah masuk, menutup pintu t
"Tenang saja, Bos. Kalau harganya cocok, nyawa siapa pun bisa kubuat melayang tanpa jejak," tawa parau pria di ujung telepon itu terdengar mengerikan, berpadu dengan suara bising kendaraan dari tempatnya berada. "Kirimkan datanya sekarang. Aku akan mengurusnya malam ini juga.""Pastikan dia mati," desis Helena, suaranya bergetar antara ketakutan dan ambisi yang mematikan. "Dan yang paling penting... hancurkan semua barang elektroniknya. Ponsel, tablet, laptop... bakar semuanya sampai menjadi abu. Aku tidak mau ada satu pun data yang tersisa dari pria itu. Jika kau berhasil, bayaranmu akan kuliplangandakan dari harga biasa.""Sesuai pesananmu, Nona cantik."Klik. Sambungan diputus.Helena melemparkan ponselnya ke atas kasur empuknya, lalu menjatuhkan diri di sebelahnya. Napasnya memburu cepat, dadanya naik-turun menahan sisa-sisa adrenalin. Ia menatap langit-langit kamarnya sambil tertawa sumbang. Tawa itu perlahan mengeras, menggema di dalam ruangan yang sunyi, memancarkan kegilaan se
Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan sepi Jakarta menuju kawasan SCBD, Hasbi menyalakan musik jazz klasik dengan volume rendah. Ia menyandarkan punggungnya ke jok, menghela napas panjang hingga seluruh otot di tubuhnya yang tadi menegang kini mengendur.Tangan kanannya memijat pelipisnya yang berdenyut pelan. Ia baru saja memainkan pertunjukan psikologis tingkat tinggi yang menguras energinya.Namun, ia berhasil. Ia telah memegang kartu truf terbesar dalam permainan berdarah ini. Nyonya Lidya mungkin berpikir ia memegang kendali atas Baskara dengan menggunakan rahasia kematian Haris Anindita. Tapi Lidya tidak tahu bahwa anjing pelacaknya sendiri Helena telah dipasangi kalung leher oleh Hasbi.Hasbi melirik ponselnya yang diletakkan di atas dashboard. Ia menyentuh layar, memanggil nomor sahabatnya.Hanya butuh dua detik sebelum panggilan itu dijawab dari Singapura."Hasbi? Ada perkembangan?" suara Baskara langsung menyambar, terdengar tegang, tidak ada nada sapaan sama sekali. S
"Aku memang tidak akan memberitahu Baskara," ucap Hasbi datar.Mata Helena membelalak, secercah harapan yang rapuh muncul di balik air matanya yang buram. "B-benar? Kau tidak akan memberitahunya?""Aku tidak akan memberitahunya," ulang Hasbi, suaranya mengalun pelan, merayap masuk ke dalam benak Helena layaknya kutukan abadi. "Selama kau patuh padaku. Mulai detik ini, kau bukan lagi sekutu ibunya Baskara. Kau bukan lagi mantan tunangan yang mencari simpati. Kau adalah anjing peliharaanku, Helena. Dan kau akan menggonggong hanya saat aku menyuruhmu menggonggong."Helena menelan ludah dengan susah payah, mengangguk cepat. Ia rela melakukan apa saja asalkan rahasia berdarah itu tidak sampai ke telinga sang Tiran DSG. "A-apa yang harus aku lakukan? Aku akan melakukan semuanya, Hasbi. Semuanya.""Bagus," Hasbi menyeringai tipis, senyuman yang jauh lebih mengerikan daripada kemarahannya tadi. " Lidya saat ini sedang kalap. Dia berpikir dia memegang kendali atas rahasia masa lalu Kiara dan k







