Share

bab 3

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2026-07-01 16:33:33

"Tuan Baskara ingin Nona menemuinya di ruang kerja jika Nona sudah merasa lebih baik," tambah pelayan itu lagi dengan nada hormat.

Meski tubuhnya masih terasa remuk redam, insting bertahan hidup Kiara menyala terang. Ia tidak bisa merepotkan orang asing, dan ia harus segera memikirkan langkah selanjutnya untuk hidupnya yang baru saja hancur lebur.

Setelah menghabiskan minumannya dan merapikan penampilannya seadanya di depan cermin besar, Kiara melangkah keluar kamar, mengikuti arahan pelayan menuju lantai bawah.

Rumah itu sangat megah, lebih pantas disebut istana, namun terasa sangat sunyi dan dingin. Tidak ada tawa, tidak ada percakapan hangat, seolah waktu berhenti di dalam tembok-tembok marmer ini.

Saat tiba di depan pintu kayu mahoni ganda yang terbuka separuh, Kiara menghela napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya, dan melangkah masuk.

Di balik meja kerja besar berbahan kayu eboni, punggung seorang pria yang menghadap ke jendela kaca besar tampak membayang, menatap langit malam yang masih menyisakan rintik hujan. Mendengar langkah kaki, pria itu memutar kursinya secara otomatis.

Langkah Kiara terhenti seketika. Matanya sedikit melebar saat menyadari bahwa kursi yang diduduki pria itu bukanlah kursi kerja eksekutif biasa, melainkan sebuah kursi roda canggih.

Pria itu menatapnya. Sorot matanya tajam bak elang yang menguliti mangsanya, namun menyimpan keputusasaan gelap yang tertutup rapat oleh arogansi bawaan. Ia adalah pria yang sangat mempesona, jauh melebihi ketampanan Rendy, namun di saat yang sama memancarkan bahaya yang mengintimidasi.

"Sudah puas menilai kekuranganku?" Suara bariton Baskara memecah keheningan ruangan. Dingin, datar, tanpa basa-basi.

Kiara tersentak dari lamunannya, namun ia dengan cepat menegakkan punggungnya. Sama seperti saat ia meninggalkan Rendy dan Vanya dengan kepala tegak, ia menolak untuk terlihat ciut.

"Maafkan kelancangan saya. Dan terima kasih telah menolong saya dari jalanan, Tuan Baskara," ucap Kiara tenang. Matanya balas menatap manik gelap pria itu tanpa gentar sedikit pun. "Saya akan mengganti biaya pengobatan dan pakaian ini segera setelah saya mendapatkan pekerjaan baru. Saya tidak akan merepotkan Anda lebih lama lagi."

Baskara terdiam selama beberapa detik. Tatapannya menyelidik, menilai wanita di depannya dengan saksama. Biasanya, wanita yang berada di posisi rentan seperti ini akan menangis, meratap, atau mencoba mencari celah simpati darinya. Namun wanita ini? Mata bengkaknya jelas menjadi bukti bahwa ia baru saja hancur dan menangis hebat sebelum kehujanan, tetapi postur tubuh dan nada suaranya memancarkan ketangguhan baja yang enggan dipatahkan.

Bibir pucat Baskara perlahan membentuk lengkungan tipis yang nyaris tak terlihat. Sebuah ketertarikan aneh mulai menyelinap ke dalam benaknya yang biasanya sedingin es.

Bukan wanita lemah yang menyedihkan, batin Baskara.

"Membayar hutangmu?" Baskara menyandarkan punggungnya ke kursi roda, mengetukkan jemarinya ke lengan kursi. “Bagaimana caranya?”

"Saat ini, saya memang baru saja kehilangan pekerjaan dan tidak memiliki uang tunai. Tapi saya bukan pemalas. Saya terbiasa bekerja keras di bawah tekanan,” jawab Kiara.

Alis Baskara terangkat sebelah, sebuah reaksi mikroskopis yang di dunia Baskara sudah setara dengan keterkejutan besar.

"Kau bahkan tidak tahu siapa aku, dan kau berani menawarkan diri? Perusahaan milikku bukan panti sosial yang menampung pengangguran."

"Saya tahu. Dan saya sama sekali tidak meminta belas kasihan," jawab Kiara tegas. Suaranya tak bergetar sedikit pun meski berhadapan dengan aura sedingin es milik pria di hadapannya. "Pekerjakan saya, Tuan Baskara. Dan Anda tidak perlu membayar saya sepeser pun."

Ruangan itu mendadak hening. Baskara menatapnya lekat-lekat.

"Biarkan tenaga saya menjadi bayaran atas pakaian, perawatan dokter dan tempat berteduh yang Anda berikan hari ini," lanjut Kiara tanpa ragu. "Pekerjakan saya sebagai apa pun. Staf administrasi, pengantar dokumen, atau pelayan di rumah ini. Biarkan saya bekerja tanpa digaji sampai hutang budi dan materi saya pada Anda lunas."

Baskara terdiam. Jemarinya yang tadinya mengetuk lengan kursi kini berhenti sepenuhnya. Mata elangnya memicing, menelusuri raut wajah Kiara. Di dunianya yang kelam, semua orang berlomba-lomba mendekatinya demi uang, memanfaatkannya, atau justru menatapnya dengan rasa iba yang menjijikkan karena kelumpuhannya.

Tiba-tiba, sebuah tawa sinis yang pelan dan sama sekali tidak mencapai mata meluncur dari bibir Baskara.

"Pandai membual ternyata kau ini," ucap Baskara dingin.

Dengan satu gerakan mulus pada tuas pengontrol, kursi roda Baskara meluncur mendekati sebuah meja nakas di sudut ruangan. Di atasnya, bertumpuk-tumpuk map tebal berisi ratusan lembar dokumen yang tampak sengaja dibiarkan berantakan.

Tanpa peringatan, Baskara menyapu seluruh tumpukan itu dengan lengannya.

Brak!

Kertas-kertas beterbangan dan berserakan memenuhi lantai marmer. Kiara terkesiap, namun ia menahan diri untuk tidak mundur selangkah pun.

"Kertas-kertas itu adalah laporan keuangan, draf kontrak, dan portofolio dari lima anak perusahaanku yang saling bercampur aduk," ujar Baskara datar, menatap kekacauan di lantai sebelum kembali menatap Kiara. "Aku benci orang yang lambat dan aku tidak mentolerir omong kosong. Jika kau memang terbiasa bekerja di bawah tekanan, buktikan."

Baskara memutar kursi rodanya, kembali menghadap jendela kaca. "Sortir semuanya. Urutkan berdasarkan tanggal, nama perusahaan, dan tingkat urgensinya. Aku ingin semuanya tersusun sempurna di mejaku sebelum matahari terbit."

Kiara memandangi ratusan lembar kertas yang berserakan itu. Tubuhnya masih terasa lemas, kepalanya masih sedikit berdenyut akibat demam, dan tangannya masih menyisakan getaran trauma dari kejadian hari ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 88

    Baskara menggeram, memukul lengan kursi rodanya. "Wanita jalang itu benar-benar mencari mati. Bawa dia ke hadapanku sekarang, Hasbi. Aku sendiri yang akan mematahkan lehernya.""Aku akan membawanya padamu. Tapi sebelum itu..." Hasbi menunduk, menatap lurus ke dalam manik mata Baskara. "Ada rahasia lain yang kutemukan semalam, Bas. Rahasia yang selama dua tahun ini menghancurkan kewarasanmu."Baskara mematung. Sesuatu dari nada bicara Hasbi membuat darah di dalam nadinya terasa berhenti mengalir."Dua tahun lalu," Hasbi memulai penjelasannya dengan suara pelan yang menyayat keheningan, "saat kau mengejar Helena ke bandara di tengah badai... kau pikir kau menabrak Haris Anindita karena kau kehilangan kendali akibat hujan dan kecepatan tinggi, bukan?"Napas Baskara mulai tersengal. Kenangan malam jahanam itu kembali berputar di otaknya bak kaset rusak. "Kenapa kau membahas itu sekarang, Hasbi...""Karena kau tidak membunuh pria itu, Baskara!

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 87

    Sinar matahari pagi menembus celah gorden penthouse DSG Group, menciptakan pendar keemasan di atas lantai marmer. Pintu utama penthouse terbuka dengan suara klik yang pelan. Baskara meluncur masuk dengan kursi rodanya, wajahnya tampak kelelahan setelah penerbangan pagi buta dari Singapura, namun matanya memancarkan urgensi yang luar biasa. "Kiara?" panggil Baskara pelan, suaranya sedikit serak. Ia tidak melihat Kiara di ruang tamu. Ia meluncur menuju kamar utama, kosong. Kepanikannya mulai naik sebelum akhirnya telinganya menangkap suara alunan musik klasik yang sangat pelan dari arah studio desain. Baskara memutar kursi rodanya mendekat. Di balik pintu kaca yang tidak dikunci, ia melihat Kiara sedang tertidur dengan posisi kepala bersandar di atas lipatan lengannya di atas meja kerja. Kertas-kertas sketsa berserakan di sekitarnya. Di layar monitor, sebuah desain mahakarya kalung berlian yang nyaris selesai tampak begitu memukau. Istrinya begadang semalaman demi membuktikan

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 86

    Pukul dua dini hari, koridor apartemen mewah tempat Hasbi tinggal terlihat sepi bak kuburan. Lampu-lampu kristal yang menempel di dinding berlapis wallpaper emas memancarkan cahaya temaram.Sesosok bayangan berbalut jaket kulit hitam bergerak tanpa suara, menyusuri dinding, menghindari jangkauan kamera pengawas yang ia pikir telah ia retas sepuluh menit yang lalu. Pria itu adalah Anton 'Kidal'. Preman bayaran kelas menengah yang merasa dirinya adalah pembunuh bayaran profesional hanya karena pernah menghabisi beberapa target kelas teri.Anton berhenti tepat di depan pintu unit milik Hasbi. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan alat pencungkil elektronik. Hanya butuh waktu kurang dari tiga puluh detik hingga terdengar bunyi klik pelan. Pintu kayu mahoni itu terbuka.Anton menyeringai di balik masker hitamnya. Terlalu mudah, batinnya. Nona Helena membayar terlalu mahal untuk nyawa seorang pesuruh korporat yang bahkan tidak memiliki alarm pintu lapis kedua.Ia melangkah masuk, menutup pintu t

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 85

    "Tenang saja, Bos. Kalau harganya cocok, nyawa siapa pun bisa kubuat melayang tanpa jejak," tawa parau pria di ujung telepon itu terdengar mengerikan, berpadu dengan suara bising kendaraan dari tempatnya berada. "Kirimkan datanya sekarang. Aku akan mengurusnya malam ini juga.""Pastikan dia mati," desis Helena, suaranya bergetar antara ketakutan dan ambisi yang mematikan. "Dan yang paling penting... hancurkan semua barang elektroniknya. Ponsel, tablet, laptop... bakar semuanya sampai menjadi abu. Aku tidak mau ada satu pun data yang tersisa dari pria itu. Jika kau berhasil, bayaranmu akan kuliplangandakan dari harga biasa.""Sesuai pesananmu, Nona cantik."Klik. Sambungan diputus.Helena melemparkan ponselnya ke atas kasur empuknya, lalu menjatuhkan diri di sebelahnya. Napasnya memburu cepat, dadanya naik-turun menahan sisa-sisa adrenalin. Ia menatap langit-langit kamarnya sambil tertawa sumbang. Tawa itu perlahan mengeras, menggema di dalam ruangan yang sunyi, memancarkan kegilaan se

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 84

    Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan sepi Jakarta menuju kawasan SCBD, Hasbi menyalakan musik jazz klasik dengan volume rendah. Ia menyandarkan punggungnya ke jok, menghela napas panjang hingga seluruh otot di tubuhnya yang tadi menegang kini mengendur.Tangan kanannya memijat pelipisnya yang berdenyut pelan. Ia baru saja memainkan pertunjukan psikologis tingkat tinggi yang menguras energinya.Namun, ia berhasil. Ia telah memegang kartu truf terbesar dalam permainan berdarah ini. Nyonya Lidya mungkin berpikir ia memegang kendali atas Baskara dengan menggunakan rahasia kematian Haris Anindita. Tapi Lidya tidak tahu bahwa anjing pelacaknya sendiri Helena telah dipasangi kalung leher oleh Hasbi.Hasbi melirik ponselnya yang diletakkan di atas dashboard. Ia menyentuh layar, memanggil nomor sahabatnya.Hanya butuh dua detik sebelum panggilan itu dijawab dari Singapura."Hasbi? Ada perkembangan?" suara Baskara langsung menyambar, terdengar tegang, tidak ada nada sapaan sama sekali. S

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 83

    "Aku memang tidak akan memberitahu Baskara," ucap Hasbi datar.Mata Helena membelalak, secercah harapan yang rapuh muncul di balik air matanya yang buram. "B-benar? Kau tidak akan memberitahunya?""Aku tidak akan memberitahunya," ulang Hasbi, suaranya mengalun pelan, merayap masuk ke dalam benak Helena layaknya kutukan abadi. "Selama kau patuh padaku. Mulai detik ini, kau bukan lagi sekutu ibunya Baskara. Kau bukan lagi mantan tunangan yang mencari simpati. Kau adalah anjing peliharaanku, Helena. Dan kau akan menggonggong hanya saat aku menyuruhmu menggonggong."Helena menelan ludah dengan susah payah, mengangguk cepat. Ia rela melakukan apa saja asalkan rahasia berdarah itu tidak sampai ke telinga sang Tiran DSG. "A-apa yang harus aku lakukan? Aku akan melakukan semuanya, Hasbi. Semuanya.""Bagus," Hasbi menyeringai tipis, senyuman yang jauh lebih mengerikan daripada kemarahannya tadi. " Lidya saat ini sedang kalap. Dia berpikir dia memegang kendali atas rahasia masa lalu Kiara dan k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status