Share

Tidak Untuk Dimiliki
Tidak Untuk Dimiliki
Author: Azzura Rei

bab 1

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2026-07-01 16:30:01

"Ih, kamu nakal! Apa gak bisa pelan pelan?”

Jantung Kiara berdegup kencang. Suara decitan dan erangan napas yang memburu menghentikan langkah Kiara tepat di depan pintu ruang kerja eksklusif itu.

Senyum yang sejak tadi merekah di bibirnya perlahan pudar. Di tangan kirinya, ia mendekap erat sebuah map kulit berisi draf final desain perhiasan musim gugur, kejutan yang ia siapkan untuk ulang tahun Rendy, tunangannya sekaligus manajer di departemen ini.

Dengan tangan gemetar, Kiara memutar kenop pintu yang ternyata tidak terkunci dan mendorongnya perlahan.

Udara seolah tersedot habis dari paru-paru Kiara dalam satu kedipan mata. Tubuhnya membeku. Pemandangan di depanya sungguh membuatnya tak bisa berkutik.

Di atas meja kerja tempat mereka biasa merancang masa depan bersama, berserakan kertas-kertas laporan. Namun bukan itu yang membuat dunia Kiara runtuh. Di atas meja itu, Rendy nyaris telanjang bulat. Kemeja kerjanya sudah terlempar entah ke mana. Pria itu tengah memacu pinggulnya kuat-kuat di antara kedua paha seorang wanita.

Wanita bergaun merah yang gaunnya sudah tersingkap hingga ke dada itu melenguh keras, meraup bibir Rendy dengan rakus sementara kuku-kukunya mencengkeram punggung pria itu. Bunyi basah dari pertautan kulit mereka menggema menjijikkan di ruangan berpendingin udara tersebut.

Map kulit di tangan Kiara terlepas, jatuh menghantam lantai marmer dengan suara brakk yang memecah gairah buta di ruangan itu.

Gerakan Rendy terhenti seketika. Ia menoleh dengan napas terengah-engah. Wajahnya langsung pucat pasi, sepucat kertas, saat melihat siapa yang mematung di ambang pintu dengan mata berkaca-kaca.

"Ki... Kiara?" Suara Rendy bergetar hebat. Ia buru-buru menarik diri, memungut kemejanya dengan panik dan menutupi tubuh bagian bawahnya. "Ini... ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku... aku bisa jelaskan!"

Namun, wanita bergaun merah itu sama sekali tidak terlihat panik. Vanya, putri tunggal pemilik perusahaan tempat Kiara mengabdi hingga sering kurang tidur itu justru tertawa kecil. Dengan gerakan santai dan tanpa rasa malu sedikit pun, Vanya membenarkan letak pakaian dalamnya, merapikan gaunnya, lalu merosot turun dari meja. Ia menatap Kiara dengan senyum miring penuh kemenangan, memamerkan lipstiknya yang berantakan sebagai trofi pengkhianatan.

"Berhenti bersandiwara seperti orang bodoh, Rendy," ucap Vanya ringan. Ia berjalan mendekati Rendy dan merangkulkan lengannya dengan posesif ke lengan pria itu yang masih gemetar. "Beri tahu saja wanita ini yang sebenarnya. Bukankah kau sendiri yang bilang padaku semalam kalau kau sudah muak menyentuhnya?"

Dada Kiara naik turun dengan cepat. Rasa mual mengocok perutnya hingga ia nyaris muntah. Lima tahun. Lima tahun ia menyerahkan seluruh waktunya, dedikasinya, dan cintanya. Ia rela makan mi instan agar Rendy bisa membeli jas mahal. Ia rela lembur berminggu-minggu demi bonus yang ia masukkan ke tabungan pernikahan mereka bulan depan.

Dan balasan yang ia dapatkan? Rendy menidurinya bosnya sendiri di atas meja kantor.

"Jelaskan," desis Kiara. Suaranya sangat pelan, nyaris seperti bisikan, namun getaran kemarahan dan luka di dalamnya begitu kentara. "Jelaskan apa yang baru saja kulihat, Rendy Syahputra!"

Rendy menelan ludah. Ia menatap Vanya sejenak, lalu kembali menatap Kiara. Perlahan, kepanikannya hilang. Wajahnya berubah menjadi lebih kaku dan dingin, seolah belas kasihnya telah menguap.

"Maafkan aku, Kiara," ucap Rendy, nadanya kini terdengar seperti orang asing yang tak punya hati. "Tapi kau harus bersikap realistis. Cinta saja tidak bisa membuatku duduk di kursi Direktur Utama. Vanya... dia bisa memberiku segalanya. Posisi, kekuasaan, masa depan. Apa yang bisa kau berikan? Gajimu sebagai kepala desainer bahkan tidak cukup untuk membeli satu roda mobil sport yang akan Vanya hadiahkan padaku."

Kiara mematung. Air mata yang nyaris jatuh berhasil ia tahan sekuat tenaga. "Jadi, kau menjual harga dirimu untuk menjadi pelacur pria bagi wanita ini? Pernikahan kita bulan depan... apa ini gak ada artinya bagimu?!"

"Anggap saja rencana itu tidak pernah ada," jawab Rendy tanpa beban. "Kita selesai."

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Kiara sebelum ia sempat berkedip. Bunyi nyaringnya menggema di seluruh sudut ruangan eksklusif tersebut. Rasa panas dan perih langsung menjalar, membuat telinganya berdenging hebat.

Itu bukan tamparan dari Rendy. Vanya yang melangkah maju, matanya menyalang penuh kesombongan.

"Jaga mulut kotormu, wanita murahan!" bentak Vanya, mendagukan wajahnya. "Rendy pantas mendapatkan yang terbaik. Dia pria yang brilian, dan dia butuh panggung yang besar. Panggung itu ada padaku, bukan pada wanita yatim piatu sepertimu!"

Kiara menyentuh pipinya yang memerah. Ia menatap Vanya, lalu beralih menatap Rendy. Pria itu hanya diam membatu. Tidak ada niat sedikit pun dari Rendy untuk membelanya.

"Oh, dan ada satu hal lagi," Vanya melipat tangan di depan dada, menginjak map draf desain milik Kiara dengan ujung sepatu hak tingginya. "Kau dipecat, Kiara. Dan soal draf desain musim gugur ini, serta semua desainmu yang memenangkan penghargaan itu? Mulai hari ini, semuanya dipatenkan atas namaku. Karyamu adalah milik perusahaan."

Mata Kiara membelalak. "Kau gila! Itu hasil jerih payahku! Kau tidak bisa merampoknya begitu saja!"

"Aku bisa, dan aku sudah melakukannya," balas Vanya telak. "Kau dipecat dengan tidak hormat atas tuduhan pembangkangan. Kau tidak memiliki hak cipta apa pun. Coba saja gugat ke pengadilan kalau kau punya uang untuk menyewa pengacara."

Rendy akhirnya kembali bersuara, nadanya terdengar memuakkan. "Kiara, pergilah dengan tenang. Jangan membuat keributan di sini. Aku akan mentransfer pesangon pribadiku untukmu agar kau bisa bertahan hidup satu atau dua bulan ke depan."

Mendengar itu, bukannya menangis meraung-raung memohon belas kasihan, Kiara justru tertawa. Tawa yang hambar, dingin, dan penuh dengan ironi. Ia pantang menangis di depan dua lintah darat ini.

Kiara menegakkan punggungnya. Ia mengangkat tangan kirinya, meloloskan cincin pertunangan bertahtakan berlian kecil yang dulu dibeli Rendy dengan cara mencicil.

Tring!

Kiara menjatuhkan cincin itu ke lantai marmer hingga bergelinding ke bawah sepatu Rendy. Lalu, ia menarik kartu identitas perusahaannya, melepaskannya dari leher, dan melemparkannya tepat ke dada telanjang Rendy.

"Ambil saja semuanya," ucap Kiara. Suaranya kini luar biasa tenang, stabil, dan mematikan. "Ambil pria pengkhianat ini, Vanya. Dan ambil desain-desain itu. Jadikan itu pijakan untuk menutupi ketololanmu dalam memimpin!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 6

    Rahang Baskara mengeras. Ia ingin mendorong wanita ini, meneriakinya. Namun, sentuhan jemari Kiara yang lembut di kulit kasarnya mengirimkan sensasi aneh yang sudah lama mati di tubuhnya. Perlahan, cengkeraman tangan Baskara di pergelangan tangan Kiara mengendur. Memanfaatkan momen itu, Kiara segera menarik tangan Baskara ke pangkuannya. Dengan telaten, ia mulai membersihkan darah di buku-buku jari pria itu menggunakan handuk basah. Keheningan kembali merajai ruangan itu, namun kali ini ketegangannya berubah haluan. Tidak ada lagi niat membunuh di udara, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih pekat dan berbahaya. Baskara menatap puncak kepala Kiara yang menunduk. Ia bisa mencium aroma hujan yang bercampur dengan wangi sampo stroberi yang murah namun memabukkan dari rambut wanita itu. Pandangannya perlahan turun. Kemeja putih Kiara masih sedikit lembap di bagian bahu akibat hujan sore tadi, mencetak siluet tubuhnya dengan samar. Tiba-tiba, dada Baskara berdesir aneh saat Kiara men

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 5

    Tiba-tiba, derap langkah kaki yang berat namun teratur mendekat dengan cepat dari arah lorong yang remang. Raja, asisten pribadi Baskara yang berwajah kaku dan bertubuh tegap, muncul dari balik bayangan. Pria bersetelan gelap itu langsung mengambil alih posisi di depan pintu, menekan sebuah kombinasi rumit pada panel tersembunyi di dinding yang langsung memicu sistem pengunci sentral. Klik! Pintu baja berlapis kayu itu kini terkunci ganda secara otomatis. Kiara menatap Raja dengan mata membulat. "Apa yang terjadi padanya? Suaranya terdengar kesakitan. Bukankah kita harus memanggil dokter atau mendobrak masuk untuk—" "Mundur, Nona Kiara," potong Raja. Suaranya sangat datar dan sedingin es, sama sekali tidak memancarkan kepanikan sedikit pun. Seolah-olah badai amarah yang meledak di balik pintu itu adalah rutinitas usang yang sudah terlampau sering ia hadapi. "Tapi dia melemparkan sesuatu di dalam sana! Bagaimana jika dia melukai dirinya sendiri?" desak Kiara, rasa penasarannya men

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 4

    "Kau baru saja pingsan," suara bariton Baskara kembali mengalun, kali ini dengan nada meremehkan yang kentara. "Jika kau menyerah sekarang dan menyadari bahwa kau tidak sekuat ucapanmu, pintu keluar ada di sana. Besok pagi, sopirku akan mengantarmu pergi, dan anggap saja pertolonganku hari ini sebagai sedekah." Namun, alih-alih berbalik menuju pintu, Kiara justru melangkah maju. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, wanita itu berlutut di atas lantai marmer yang dingin. Tangan pucatnya mulai memungut lembar demi lembar kertas tersebut. Matanya dengan cepat memindai kop surat dan tanggal pada dokumen, otak desainernya yang terbiasa dengan detail mulai bekerja memilah kekacauan itu. Mendengar suara gemerisik kertas, Baskara melirik dari sudut matanya. Pria itu sedikit tertegun. Ia mengira wanita yang baru saja hancur hatinya itu akan menangis mengeluhkan keadaannya, atau setidaknya memprotes betapa tidak masuk akalnya tugas itu. Namun Kiara hanya diam, fokus memungut dan mengelompokka

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 3

    "Tuan Baskara ingin Nona menemuinya di ruang kerja jika Nona sudah merasa lebih baik," tambah pelayan itu lagi dengan nada hormat. Meski tubuhnya masih terasa remuk redam, insting bertahan hidup Kiara menyala terang. Ia tidak bisa merepotkan orang asing, dan ia harus segera memikirkan langkah selanjutnya untuk hidupnya yang baru saja hancur lebur. Setelah menghabiskan minumannya dan merapikan penampilannya seadanya di depan cermin besar, Kiara melangkah keluar kamar, mengikuti arahan pelayan menuju lantai bawah. Rumah itu sangat megah, lebih pantas disebut istana, namun terasa sangat sunyi dan dingin. Tidak ada tawa, tidak ada percakapan hangat, seolah waktu berhenti di dalam tembok-tembok marmer ini. Saat tiba di depan pintu kayu mahoni ganda yang terbuka separuh, Kiara menghela napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya, dan melangkah masuk. Di balik meja kerja besar berbahan kayu eboni, punggung seorang pria yang menghadap ke jendela kaca besar tampak membayang, menat

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 2

    "Kau—!" Vanya menggeram, mengangkat tangan bersiap melayangkan tamparan kedua. Namun kali ini, Kiara dengan sigap menangkap pergelangan tangan Vanya di udara. Cengkeraman Kiara begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih, membuat Vanya merintih kesakitan. "Jangan pernah berani menyentuhku lagi," desis Kiara tajam, menatap tepat ke dalam manik mata Vanya. "Roda berputar. Dan saat tiba giliranku berada di atas, aku akan memastikan kalian berdua membayarnya dengan harga yang jauh lebih mahal dari semua kehancuran ini." Kiara menghempaskan tangan Vanya dengan kasar. Tanpa menoleh lagi pada wajah Rendy yang pias, Kiara membalikkan badan dan melangkah keluar. Ia meninggalkan lima tahun hidupnya di ruangan itu, membawa serta luka yang menganga, namun menolak untuk terlihat hancur. Hujan menderas tanpa peringatan saat Kiara melangkah keluar dari lobi gedung pencakar langit sore itu. Langit kelabu tampak seolah ikut meratapi nasibnya, menumpahkan tirai air yang tebal ke jalanan ibukota. Dalam

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 1

    "Ih, kamu nakal! Apa gak bisa pelan pelan?”Jantung Kiara berdegup kencang. Suara decitan dan erangan napas yang memburu menghentikan langkah Kiara tepat di depan pintu ruang kerja eksklusif itu.Senyum yang sejak tadi merekah di bibirnya perlahan pudar. Di tangan kirinya, ia mendekap erat sebuah map kulit berisi draf final desain perhiasan musim gugur, kejutan yang ia siapkan untuk ulang tahun Rendy, tunangannya sekaligus manajer di departemen ini.Dengan tangan gemetar, Kiara memutar kenop pintu yang ternyata tidak terkunci dan mendorongnya perlahan.Udara seolah tersedot habis dari paru-paru Kiara dalam satu kedipan mata. Tubuhnya membeku. Pemandangan di depanya sungguh membuatnya tak bisa berkutik.Di atas meja kerja tempat mereka biasa merancang masa depan bersama, berserakan kertas-kertas laporan. Namun bukan itu yang membuat dunia Kiara runtuh. Di atas meja itu, Rendy nyaris telanjang bulat. Kemeja kerjanya sudah terlempar entah ke mana. Pria itu tengah memacu pinggulnya kuat-

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status