Share

bab 4

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2026-07-14 10:30:10

"Kau baru saja pingsan," suara bariton Baskara kembali mengalun, kali ini dengan nada meremehkan yang kentara. "Jika kau menyerah sekarang dan menyadari bahwa kau tidak sekuat ucapanmu, pintu keluar ada di sana. Besok pagi, sopirku akan mengantarmu pergi, dan anggap saja pertolonganku hari ini sebagai sedekah."

Namun, alih-alih berbalik menuju pintu, Kiara justru melangkah maju. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, wanita itu berlutut di atas lantai marmer yang dingin. Tangan pucatnya mulai memungut lembar demi lembar kertas tersebut. Matanya dengan cepat memindai kop surat dan tanggal pada dokumen, otak desainernya yang terbiasa dengan detail mulai bekerja memilah kekacauan itu.

Mendengar suara gemerisik kertas, Baskara melirik dari sudut matanya. Pria itu sedikit tertegun. Ia mengira wanita yang baru saja hancur hatinya itu akan menangis mengeluhkan keadaannya, atau setidaknya memprotes betapa tidak masuk akalnya tugas itu.

Namun Kiara hanya diam, fokus memungut dan mengelompokkan kertas-kertas itu di lantai. Wajahnya pucat, tapi tak ada layangan protes keberatan yang dia dengar.

"Jika besok pagi meja kerjaku rapi," ucap Baskara, nadanya kini sedikit lebih berat namun tak lagi bernada meremehkan, "kau resmi menjadi asisten pribadiku. Tugasmu adalah memastikan semua urusan pekerjaanku teratur, mendampingiku, dan melayaniku kapan pun aku butuhkan. Kau akan mendapatkan tempat tinggal dan makanan di sini, tapi ingat, kau tidak akan menerima sepeser pun uang dariku sampai kau membuktikan kau layak untuk digaji."

Baskara memutar kursi rodanya menuju pintu penghubung yang mengarah ke kamar pribadinya. Pintu tertutup rapat, menyisakan Kiara sendirian di ruang kerja besar itu, ditemani bunyi rintik hujan dan ratusan lembar dokumen yang menjadi tiket pertamanya menuju kebangkitan.

“Tak apa Kiara. Setidaknya, kamu tidak jadi pengangguran setelah keluar dari neraka dua iblis itu!” batin Kiara yang masih merasa emosi dengan kelakuan mantan kekasih dan selingkuhannya.

Di dalam kamar pribadinya yang temaram, hanya diterangi cahaya biru dari layar monitor besar di atas meja, Baskara duduk mematung di atas kursi rodanya. Mata gelapnya terpaku pada layar utama yang menampilkan rekaman langsung dari kamera pengawas di ruang kerjanya.

Di sana, di atas lantai marmer yang dingin, Kiara masih bersimpuh. Jam digital di sudut layar menunjukkan pukul dua dini hari.

Wanita itu tampak luar biasa lelah. Sesekali ia memijat pelipisnya atau menekan tengkuknya yang kaku, namun tangannya tak pernah berhenti memilah, membaca kop surat, dan menumpuk dokumen-dokumen itu dengan teliti menjadi beberapa bagian yang rapi. Tidak ada air mata. Tidak ada rintihan keluhan. Hanya diam dan fokus yang mendalam pada tugas yang Baskara berikan.

Baskara meraih gelas kristal berisi whiskey di dekatnya, namun ia membiarkan gelas itu menggantung di udara tanpa meminumnya. Tatapannya seolah terkunci pada sosok mungil di layar tersebut.

Awalnya, ia memberikan ujian itu murni untuk mematahkan kesombongan Kiara. Ia ingin melihat wanita itu menyerah, menangis, lalu merangkak keluar dari rumahnya seperti kebanyakan orang yang tak sanggup menghadapi tabiat buruknya. Namun, ketekunan Kiara yang membisu justru mengusik sesuatu di sudut hati Baskara. Sesuatu yang telah lama ia kubur dalam-dalam.Tanpa sadar, bayangan masa lalu mendadak berkelebat di benaknya.

Baskara melihat dirinya sendiri beberapa tahun silam. Seorang pria muda yang tak kenal lelah, yang bisa mengurung diri di ruang kerja berhari-hari demi memenangkan sebuah proyek akuisisi gila-gilaan. Pria yang penuh ambisi, arogan karena kemampuannya yang tak tertandingi, dan memiliki ketangguhan baja yang selalu menolak untuk bertekuk lutut pada kegagalan sekecil apa pun.

Baskara dulu adalah puncak dari kesempurnaan dan kekuasaan. Ia berlari lebih cepat dari siapa pun.

Sampai malam jahanam itu terjadi.

Bunyi derit besi yang beradu, pecahan kaca, dan darah. Tragedi mengerikan yang tidak hanya merenggut fungsi kedua kakinya, tetapi juga menghancurkan harga dirinya, merampas mimpinya dan mengubahnya menjadi monster cacat yang hidup dalam kepahitan dan sinisme.

Tangan Baskara mencengkeram gelas kristalnya semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa nyeri yang familier merayap di dadanya saat ia menunduk, menatap sepasang kakinya yang diam tak berguna di balik selimut.

Lalu, tangannya yang memegang gelas akhirnya terangkat dan melemparkannya.

“Argh … kalian semua bangsat!!” raungnya tiba tiba.

Kiara yang ada di ruangan sebelahnya sampai mendengar bahkan langsung berlari ke sumber suara.

Suara pecahan kaca yang membentur dinding terdengar begitu nyaring, membelah kesunyian malam layaknya petir. Disusul oleh raungan Baskara yang sarat akan keputusasaan dan amarah yang meledak dari dasar dadanya.

"Argh … tidak. Persetan!!"

Tubuh Kiara tersentak hebat. Dokumen yang baru saja disusunnya nyaris terlepas dari pegangan. Jantungnya berdegup kencang, memompa darah dengan liar. Rasa lelah yang sejak tadi mendera mendadak menguap, digantikan oleh kepanikan yang menyesakkan. Tanpa berpikir panjang, instingnya mengambil alih. Ia bangkit dari lantai marmer dan berlari tergopoh-gopoh menuju pintu kayu mahoni tebal yang menghubungkan ruang kerja dengan kamar pribadi pria itu.

"Tuan Baskara? Tuan, Anda tidak apa-apa?!" panggil Kiara sambil memutar kenop pintu.

Terkunci dari dalam.

Sebelum ia sempat mengetuk lebih keras, suara bariton Baskara kembali terdengar dari balik pintu. Namun kali ini suaranya dipenuhi otoritas yang kejam dan kalap.

"Raja! Di mana kau?!" teriak Baskara lantang. "Tutup semua akses! Kunci pintu kamarku dari luar dan biarkan aku sendiri! Jangan biarkan siapa pun berani masuk, atau aku akan membunuh kalian semua!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 88

    Baskara menggeram, memukul lengan kursi rodanya. "Wanita jalang itu benar-benar mencari mati. Bawa dia ke hadapanku sekarang, Hasbi. Aku sendiri yang akan mematahkan lehernya.""Aku akan membawanya padamu. Tapi sebelum itu..." Hasbi menunduk, menatap lurus ke dalam manik mata Baskara. "Ada rahasia lain yang kutemukan semalam, Bas. Rahasia yang selama dua tahun ini menghancurkan kewarasanmu."Baskara mematung. Sesuatu dari nada bicara Hasbi membuat darah di dalam nadinya terasa berhenti mengalir."Dua tahun lalu," Hasbi memulai penjelasannya dengan suara pelan yang menyayat keheningan, "saat kau mengejar Helena ke bandara di tengah badai... kau pikir kau menabrak Haris Anindita karena kau kehilangan kendali akibat hujan dan kecepatan tinggi, bukan?"Napas Baskara mulai tersengal. Kenangan malam jahanam itu kembali berputar di otaknya bak kaset rusak. "Kenapa kau membahas itu sekarang, Hasbi...""Karena kau tidak membunuh pria itu, Baskara!

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 87

    Sinar matahari pagi menembus celah gorden penthouse DSG Group, menciptakan pendar keemasan di atas lantai marmer. Pintu utama penthouse terbuka dengan suara klik yang pelan. Baskara meluncur masuk dengan kursi rodanya, wajahnya tampak kelelahan setelah penerbangan pagi buta dari Singapura, namun matanya memancarkan urgensi yang luar biasa. "Kiara?" panggil Baskara pelan, suaranya sedikit serak. Ia tidak melihat Kiara di ruang tamu. Ia meluncur menuju kamar utama, kosong. Kepanikannya mulai naik sebelum akhirnya telinganya menangkap suara alunan musik klasik yang sangat pelan dari arah studio desain. Baskara memutar kursi rodanya mendekat. Di balik pintu kaca yang tidak dikunci, ia melihat Kiara sedang tertidur dengan posisi kepala bersandar di atas lipatan lengannya di atas meja kerja. Kertas-kertas sketsa berserakan di sekitarnya. Di layar monitor, sebuah desain mahakarya kalung berlian yang nyaris selesai tampak begitu memukau. Istrinya begadang semalaman demi membuktikan

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 86

    Pukul dua dini hari, koridor apartemen mewah tempat Hasbi tinggal terlihat sepi bak kuburan. Lampu-lampu kristal yang menempel di dinding berlapis wallpaper emas memancarkan cahaya temaram.Sesosok bayangan berbalut jaket kulit hitam bergerak tanpa suara, menyusuri dinding, menghindari jangkauan kamera pengawas yang ia pikir telah ia retas sepuluh menit yang lalu. Pria itu adalah Anton 'Kidal'. Preman bayaran kelas menengah yang merasa dirinya adalah pembunuh bayaran profesional hanya karena pernah menghabisi beberapa target kelas teri.Anton berhenti tepat di depan pintu unit milik Hasbi. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan alat pencungkil elektronik. Hanya butuh waktu kurang dari tiga puluh detik hingga terdengar bunyi klik pelan. Pintu kayu mahoni itu terbuka.Anton menyeringai di balik masker hitamnya. Terlalu mudah, batinnya. Nona Helena membayar terlalu mahal untuk nyawa seorang pesuruh korporat yang bahkan tidak memiliki alarm pintu lapis kedua.Ia melangkah masuk, menutup pintu t

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 85

    "Tenang saja, Bos. Kalau harganya cocok, nyawa siapa pun bisa kubuat melayang tanpa jejak," tawa parau pria di ujung telepon itu terdengar mengerikan, berpadu dengan suara bising kendaraan dari tempatnya berada. "Kirimkan datanya sekarang. Aku akan mengurusnya malam ini juga.""Pastikan dia mati," desis Helena, suaranya bergetar antara ketakutan dan ambisi yang mematikan. "Dan yang paling penting... hancurkan semua barang elektroniknya. Ponsel, tablet, laptop... bakar semuanya sampai menjadi abu. Aku tidak mau ada satu pun data yang tersisa dari pria itu. Jika kau berhasil, bayaranmu akan kuliplangandakan dari harga biasa.""Sesuai pesananmu, Nona cantik."Klik. Sambungan diputus.Helena melemparkan ponselnya ke atas kasur empuknya, lalu menjatuhkan diri di sebelahnya. Napasnya memburu cepat, dadanya naik-turun menahan sisa-sisa adrenalin. Ia menatap langit-langit kamarnya sambil tertawa sumbang. Tawa itu perlahan mengeras, menggema di dalam ruangan yang sunyi, memancarkan kegilaan se

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 84

    Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan sepi Jakarta menuju kawasan SCBD, Hasbi menyalakan musik jazz klasik dengan volume rendah. Ia menyandarkan punggungnya ke jok, menghela napas panjang hingga seluruh otot di tubuhnya yang tadi menegang kini mengendur.Tangan kanannya memijat pelipisnya yang berdenyut pelan. Ia baru saja memainkan pertunjukan psikologis tingkat tinggi yang menguras energinya.Namun, ia berhasil. Ia telah memegang kartu truf terbesar dalam permainan berdarah ini. Nyonya Lidya mungkin berpikir ia memegang kendali atas Baskara dengan menggunakan rahasia kematian Haris Anindita. Tapi Lidya tidak tahu bahwa anjing pelacaknya sendiri Helena telah dipasangi kalung leher oleh Hasbi.Hasbi melirik ponselnya yang diletakkan di atas dashboard. Ia menyentuh layar, memanggil nomor sahabatnya.Hanya butuh dua detik sebelum panggilan itu dijawab dari Singapura."Hasbi? Ada perkembangan?" suara Baskara langsung menyambar, terdengar tegang, tidak ada nada sapaan sama sekali. S

  • Tidak Untuk Dimiliki    bab 83

    "Aku memang tidak akan memberitahu Baskara," ucap Hasbi datar.Mata Helena membelalak, secercah harapan yang rapuh muncul di balik air matanya yang buram. "B-benar? Kau tidak akan memberitahunya?""Aku tidak akan memberitahunya," ulang Hasbi, suaranya mengalun pelan, merayap masuk ke dalam benak Helena layaknya kutukan abadi. "Selama kau patuh padaku. Mulai detik ini, kau bukan lagi sekutu ibunya Baskara. Kau bukan lagi mantan tunangan yang mencari simpati. Kau adalah anjing peliharaanku, Helena. Dan kau akan menggonggong hanya saat aku menyuruhmu menggonggong."Helena menelan ludah dengan susah payah, mengangguk cepat. Ia rela melakukan apa saja asalkan rahasia berdarah itu tidak sampai ke telinga sang Tiran DSG. "A-apa yang harus aku lakukan? Aku akan melakukan semuanya, Hasbi. Semuanya.""Bagus," Hasbi menyeringai tipis, senyuman yang jauh lebih mengerikan daripada kemarahannya tadi. " Lidya saat ini sedang kalap. Dia berpikir dia memegang kendali atas rahasia masa lalu Kiara dan k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status