Share

69. Kunjungan

Author: Lil Seven
last update Last Updated: 2025-11-13 23:48:58

"Langsung saja. Maksudnya bagaimana, Kak?" tandasku.

Ares terkekeh. "Kalau kamu magang di tempatku, kamu bisa belajar langsung manajemen dan negosiasi. Tapi kalau kamu ke tempat Aaron…” Ia menjeda ucapanya dan menatapku lama, matanya sedikit menyipit, lalu bicara sambil menghela napas panjang.

"Tidak ada yang bisa kamu pelajari di sana."

Aku mengerutkan kening, bertanya dengan kebingungan.

“Apa maksudnya, Kak?”

“Cari tahu sendiri nanti,” jawab Aresh datar.

“Jadi, keputusan final? Magang di ma
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   375. Istri Palsu

    Drake menatap Aaron beberapa detik sebelum menjawab. Ekspresinya sedikit ragu, seolah sedang memutuskan apakah ia harus mengatakan semuanya atau tidak. “Saya dengar Maria sering datang ke lantai operasional, Tuan," lapornya, yang membuat Aaron langsung mengerutkan kening. “Maria?” Nada suaranya terdengar dingin dan Drake mengangguk. “Iya.”Maria adalah putri salah satu investor terbesar Aaron, sifatnya yang kekanak-kanakan dan mau menang sendiri sering menyusahkan staff lain. Aaron menghela napas panjang dan mematikan layar tabletnya. “Dan sepertinya dia cukup… aktif di sana," ucap Drake yang membuat Aaron menatapnya tajam. “Aktif bagaimana?” Drake menghela napas pendek dan menjawab, “Dia memberi Sherry banyak pekerjaan.” Aaron tidak bereaksi sehingga Drake menambahkan pelan, “Dan menjatuhkan dokumen di lantai kemarin.” Rahang Aaron langsung menegang. Namun wajahnya tetap tanpa ekspresi, tapi Drake memperhatikannya. “Saya kira Anda harus tahu ini, Tuan," tutupnya. Aaron a

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   374. Melawan

    Maria rupanya benar-benar berambisi untuk mengganggu Sherry dan membuat gadis itu tak betah bekerja di perusahaan Aaron. Seperti pagi ini, Sherry baru saja tiba di meja kerjanya ketika seorang staf dari bagian administrasi menghampirinya dengan ekspresi canggung. “Sherry… ini untukmu," ucapnya sambil menyerahkan setumpuk map tebal sehingga Sherry mengernyit. “Ini apa?” tanyanya, sambil membuka map itu sedikit. Isinya penuh data, sangat banyak. “Rekap pengiriman tiga bulan terakhir.” “Bukankah ini pekerjaan tim logistik?” tanya Sherry lagi, yang membuat staf itu menggaruk tengkuknya. “Iya… tapi… Nyonya Maria bilang kamu yang harus mengerjakannya.” Beberapa orang di ruangan langsung pura-pura sibuk ketika Sherry menoleh, semua orang tahu apa yang terjadi tapi tidak ada yang berani melawan. Sherry menarik napas pelan dan menjawab, “Baik.” Setelah ia menerima map itu, staf tadi terlihat lega lalu cepat-cepat pergi. Belum sampai lima menit Sherry membuka dokumen itu… Suara sepat

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   373. Provokator

    Hari kedua bekerja, bagi Sherry terasa lebih berat dari kemarin. Bukan karena pekerjaan, melainkan karena satu orang. Maria. Sejak kemunculannya kemarin, seluruh kantor mulai berbisik-bisik. Tidak ada yang berani bertanya langsung pada Aaron. Namun semua orang jelas penasaran. Dan Maria… seolah menikmati semua perhatian itu. *** Pagi itu Sherry baru saja duduk di mejanya ketika suara sepatu hak tinggi kembali terdengar. Tok. Tok. Tok. Beberapa karyawan langsung saling pandang saat mendengar bunyi yang sangat familier itu. Sherry bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang, dan benar saja, Maria berhenti tepat di depan mejanya. “Astaga,” katanya dengan nada terkejut yang dibuat-buat. Ia menatap meja kecil Sherry dan melanjutkan ucapannya, “Suamiku benar-benar menempatkanmu di sini?” Beberapa staf menundukkan kepala, pura-pura bekerja, Sherry tetap mengetik di komputernya. “Selamat pagi," sapanya, yang dibalas Maria dengan tersenyum sinis. “Kamu bah

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   372. Rival Atau Pengganggu?

    Jam menunjukkan hampir pukul lima sore. Sebagian besar karyawan mulai merapikan meja mereka. Namun Sherry masih duduk di kursinya dengan beberapa dokumen yang belum selesai. Ia menatap layar komputer dengan mata lelah. Hari ini terasa seperti seminggu penuh pekerjaan. Tiba-tiba suara langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat dari lorong kantor. Tok. Tok. Tok. Langkahnya percaya diri. Lambat. Seolah sengaja menarik perhatian. Beberapa karyawan yang sedang berkemas langsung menoleh ke arah seorang wanita berjalan memasuki area tim operasional. Penampilannya terlalu mencolok untuk sebuah kantor. Gaun putih ketat yang mahal, rambut panjang yang ditata sempurna, dan tas bermerek yang jelas bukan barang murah. Wanita itu berhenti tepat di depan meja Sherry sehingga Sherry mengangkat kepalanya. Mereka saling menatap beberapa detik dan wanita itu tersenyum tipis. Namun senyum itu tidak terasa ramah. “Jadi kamu Sherry.” Nada suaranya santai. Namun ada sesuatu yang terasa tajam d

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   371. Salah Paham?

    Hari pertama Sherry di perusahaan Aaron terasa jauh lebih panjang dari yang ia bayangkan. Tim operasional menempatkannya di meja kecil dekat jendela belakang, di mana tidak ada ruangan pribadi, bahkan tidak ada fasilitas khusus. Hanya meja kerja, komputer standar, dan tumpukan dokumen yang bahkan belum sempat ia pahami. Sejak pagi, ia hampir tidak sempat bernapas karena pekerjaan terus menerus datang padanya. “Sherry, laporan ini harus selesai sebelum makan siang.” “Sherry, tolong cek ulang data pengiriman ini.” “Sherry, kamu bisa antar berkas ini ke lantai tiga?” Tidak ada yang sengaja mempersulitnya. Namun jelas tidak ada yang berani mempermudahnya juga. Perintah Aaron pagi tadi masih terngiang di telinga semua orang. "Perlakukan dia seperti pegawai baru." Sherry menatap layar komputernya cukup lama.Namun pikirannya sama sekali tidak fokus pada angka-angka di depan matanya, karena yang terus muncul di kepalanya hanyalah wajah Aaron. Tatapan dingin disertai kat

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   370.

    Kabar tentang kedatangan Sherry menyebar di seluruh kantor dalam waktu kurang dari satu jam. Bukan hanya karena ia tiba-tiba muncul sebagai investor baru. Namun karena semua orang di perusahaan tahu satu hal. Aaron membencinya. Benar-benar membencinya. Dan ketika Aaron membenci seseorang, biasanya orang itu tidak akan bertahan lama di perusahaan ini. Sherry sedang berdiri di depan meja HR ketika pintu ruang rapat di lantai atas terbuka. Aaron keluar bersama beberapa manajer departemen. Langkahnya tenang, ekspresinya tetap dingin seperti biasa. Namun ketika ia melihat Sherry di ujung koridor, matanya langsung menyempit. Ia berhenti berjalan. Semua orang yang mengikutinya ikut berhenti. Keheningan langsung turun di koridor. Aaron menatap Sherry beberapa detik. Lalu ia menoleh pada pria dari HR yang berdiri di dekatnya. “Dia sudah mendapat ID karyawan?” Pria itu langsung mengangguk gugup. “Se-sebentar lagi, Presiden Aaron.” Aaron mengangguk tipis. Tatapannya kembali ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status