Home / Romansa / Tiga Penguasa yang Menggoda / 6. Api Cemburu sang CEO

Share

6. Api Cemburu sang CEO

Author: Sintiia01
last update publish date: 2026-02-01 11:36:29

Di dalam lift yang masih terhenti, Aruna merasakan dunianya seolah runtuh.

Tuduhan Max bahwa dia sengaja “menjual kelemahan” terasa lebih menyakitkan daripada ancaman sipir penjara.

Dengan sisa keberanian yang dia miliki, Aruna mendongak dan menatap langsung ke dalam manik mata Max yang menghujam.

“Saya butuh dua ratus juta, Tuan,” bisik Aruna dengan suara yang pecah.

“Ayah saya, dia tidak bersalah, tapi dia akan membusuk di penjara jika saya tidak membayar uang pengganti itu dalam bulan ini.

“Saya bekerja satu tahun untuk Anda tanpa mengeluh, berharap Anda bisa melihat loyalitas saya. Tapi bagi Anda, saya hanya bayangan atau mungkin robot yang bisa Anda perintah sesuka hati!”

Max terdiam sejenak, namun kemudian seringai dingin kembali muncul di bibirnya.

Dia lamtas melepaskan kurungannya dan berdiri tegak, merapikan jasnya seolah curahan hati Aruna hanyalah gangguan debu di bahunya.

“Dua ratus juta? Cerita yang sangat klise, Aruna,” sahut Max tanpa empati.

“Berapa banyak wanita matre yang menggunakan alasan 'ayah sakit' atau 'ayah dipenjara' untuk menguras brankas atasannya? Jika kau ingin uang, kerjalah lebih keras. Jangan gunakan air mata murahan untuk merampokku.”

Max menekan tombol reset, dan lift kembali bergerak. Begitu pintu terbuka di lantai dasar, Max melangkah keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Aruna yang terpaku dengan hati yang hancur berkeping-keping.

Kesetiaannya selama satu tahun ternyata hanya dihargai dengan label 'wanita matre'.

“Ternyata dia memang tidak percaya dengan penderitaanku. Justru menuduhku hendak memerasnya,” geram Aruna sambil mengepalkan tangannya dengan sangat erat.

“Baiklah. Kalau memang aku diabaikan olehmu. Lihat saja, apa yang akan aku lakukan. Demi uang tebusan itu, tentunya,” bisiknya lirih sambil menggigit bibirnya.

Malam itu, Aruna memutuskan untuk berhenti menjadi pengecut. Jika Max menganggapnya wanita seperti itu, maka ia akan berhenti bersikap manis.

Dia meraih ponselnya dan menghubungi satu-satunya orang yang menawarkan jalan keluar malam ini: Reynard Mackenzie.

“Tuan Rey, apakah tawaran Anda untuk pergi ke pesta Gala malam ini masih berlaku?”

**

Dua jam kemudian, sebuah mobil sport mewah berhenti di depan rusun sederhana tempat Aruna tinggal.

Rey turun dengan setelan tuksedo yang sangat elegan. Matanya melebar saat melihat Aruna keluar.

Aruna mengenakan gaun sutra hitam panjang yang sangat minimalis di bagian depan, namun sepenuhnya terbuka di bagian belakang, memperlihatkan punggung mulusnya yang putih porselen.

“Sempurna,” gumam Rey sambil mengecup punggung tangan Aruna. “Malam ini, kau bukan sekretaris siapa pun. Kau adalah ratuku.”

Pesta Gala tahunan Astraea berlangsung di sebuah ballroom berlapis emas. Begitu masuk, Rey tidak membiarkan Aruna menjauh.

Dia melingkarkan tangannya di pinggang ramping Aruna dan memperkenalkannya kepada para kolega kelas atas sebagai “Wanita paling spesial di Kendrick Corp”.

Untuk pertama kalinya, Aruna merasa benar-benar dihargai. Rey mengambilkan minuman untuknya, menarikkan kursi, dan sesekali membisikkan lelucon yang membuatnya tersenyum kecil.

Rey memperlakukannya seolah dia adalah pusat dari ruangan itu.

“Lihat mereka, Aruna,” bisik Rey saat mereka berdiri di dekat balkon.

“Mereka semua memujamu. Berhentilah menunduk seolah kau melakukan kesalahan. Kau adalah mawar yang terlalu indah untuk layu di meja kerja Max.”

Aruna mulai merasa sedikit rileks, hingga tiba-tiba suasana di pintu masuk ballroom menjadi riuh.

Max Kendrick melangkah masuk. Dia tampak luar biasa tampan dengan setelan hitam formal, namun kehadirannya membawa aura dingin yang mampu membekukan musik di ruangan itu.

Di lengannya, melingkar tangan seorang model papan atas yang cantik, namun mata Max tidak sedang menatap pasangannya.

Pandangan Max langsung terkunci pada sosok Aruna yang sedang berdiri bersama Rey.

Matanya yang tajam menyusuri lekuk tubuh Aruna, berhenti lama pada kulit punggung Aruna yang terekspos tanpa sehelai benang pun karena model gaun backless-nya.

Rey yang menyadari kedatangan Max, justru semakin merapatkan tubuh Aruna ke sisinya dan mengecup bahu terbuka Aruna dengan sengaja, tepat di hadapan mata sang CEO.

Max tidak bergerak, namun tangannya yang memegang gelas sampanye tampak memutih karena cengkeramannya yang terlalu kuat.

Matanya berkilat dengan amarah yang jauh lebih besar daripada sebelumnya, sebuah tatapan yang seolah ingin menelanjangi dan menyeret Aruna pergi dari sana saat itu juga.

“Lihat singa itu, Aruna. Tampaknya dia sangat tidak nyaman dengan kehadiranmu di sini sebagai pendampingku,” bisik Rey dengan sengaja mendekatkan bibirnya tepat di telinga Aruna.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   97. Hari Bahagia

    Aula utama Grand Astraea Ballroom disulap menjadi hutan kristal putih yang megah. Ribuan bunga lili segar menggantung dari langit-langit, menyebarkan aroma harum yang menenangkan di tengah hiruk-pikuk para elit bisnis, politikus, dan bangsawan kota yang hadir.Aruna berdiri di samping Max, mengenakan gaun pengantin yang telah disesuaikan sedikit pada bagian pinggangnya. Wajahnya merona alami, memancarkan aura kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.Max berdiri tegap dengan tuksedo hitam pekat, tangannya tidak pernah lepas dari pinggang Aruna, seolah-olah ia sedang menjaga permata paling berharga di dunia. Di meja utama, Johan Sastro duduk dengan bangga, mengenakan setelan jas formal yang membuatnya kembali terlihat seperti singa bisnis yang disegani.Saat acara bersulang dimulai, Johan bangkit berdiri. Ia memegang gelas kristalnya dengan tangan yang sedikit bergetar, bukan karena lemah, melainkan karena emosi yang meluap.“Hadirin sekalian,” suara Johan bergema melalui pengeras suara

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   96. Kabar Mengejutkan

    Kesibukan di butik pengantin utama Astraea mencapai puncaknya. Aroma lilin aromaterapi vanilla dan melati memenuhi ruangan, bercampur dengan suara gemerisik kain sutra dan renda Prancis yang sedang dipasang oleh para asisten butik.Aruna berdiri di atas podium kecil, tubuhnya dibalut gaun pengantin yang sudah hampir sempurna, sebuah karya seni putih bersih dengan detail kristal yang berkilauan setiap kali ia bergerak.Max duduk di sofa kulit di sudut ruangan, sementara matanya tidak lepas dari Aruna. Ia masih tampak seperti penguasa, namun kali ini ada ketenangan yang berbeda di wajahnya setelah kemenangan di pengadilan.“Bisakah kau berputar sedikit, Aruna?” tanya desainer utama butik itu sambil memegang jarum pentul. “Aku perlu memastikan bagian ekor gaun ini jatuh dengan sempurna.”Aruna mencoba bergerak, namun tiba-tiba kepalanya terasa sangat ringan. Pandangannya yang tadi jernih mendadak berputar. Cahaya lampu gantung di atasnya seolah menyatu menjadi satu titik putih yang menyi

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   95. Melakukan hal yang Mengejutkan

    Malam itu, apartemen mewah Max Kendrick terasa lebih hangat dari biasanya. Aroma masakan Prancis yang dipesan khusus memenuhi ruang makan, sementara botol sampanye terbaik telah terbuka di atas meja marmer.Johan Sastro duduk di kursi kebesaran, tampak jauh lebih segar meskipun tubuhnya masih perlu banyak pemulihan. Aruna duduk di samping ayahnya, sesekali menyuapkan potongan buah, matanya berbinar melihat tawa kecil yang mulai kembali ke wajah Johan.Max berdiri di dekat jendela besar, menyesap wiskinya dalam diam sembari memperhatikan interaksi ayah dan anak itu. Ia tampak puas, namun tetap waspada seperti biasanya.Saat perayaan kecil itu berlanjut, Max mendapatkan panggilan telepon penting dan harus beralih ke balkon. Aruna, yang ingin mengambilkan obat untuk ayahnya, melangkah menuju ruang kerja Max.Ia melihat tas kerja kulit buaya milik Max tergeletak terbuka di atas meja kerja kayu mahoni yang berat. Niatnya hanya ingin memindahkan tas itu agar tidak menghalangi jalan, namun s

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   94. Kebebasan Johan

    Gedung Pengadilan Negeri Astraea dikepung oleh barisan pengawal bersenjata lengkap dari Kendrick Group. Atmosfer di dalam ruang sidang utama terasa begitu berat, seolah oksigen di sana telah menipis.Aruna duduk di barisan depan dengan jemari yang saling bertaut erat, matanya tak lepas dari sosok ayahnya, Johan Sastro, yang duduk di kursi pesakitan dengan wajah pucat namun sorot mata yang mulai kembali berpendar.Di seberang ruangan, Surya Atmadja dan Robert Tan duduk dengan angkuh. Mereka sesekali berbisik dengan pengacara mereka, melempar senyum meremehkan ke arah Max yang duduk tenang di samping Aruna dengan setelan jas hitam yang memancarkan aura dominasi mutlak.“Sidang Peninjauan Kembali atas kasus penggelapan dana dengan pemohon Johan Sastro dinyatakan dibuka,” ketok palu Hakim Ketua bergema nyaring, memecah kesunyian yang mencekam.Tonny, pengacara Max, berdiri dengan sikap tegap. Ia membuka sebuah map kulit dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen asli yang selama ini disembu

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   93. Memberimu Kepuasan

    “Max... ahh, pelan sedikit,” rintih Aruna saat tangan kasar Max meremas payudaranya dengan tenaga yang tidak main-main.“Tidak ada kata pelan untuk malam ini. Tekanan di kepalaku harus keluar, dan hanya kau yang bisa menampungnya,” sahut Max.Ia menunduk, melahap puting Aruna yang sudah menegang keras, menyesapnya dengan isapan yang sangat kuat hingga suara cecapan basah memenuhi kamar yang sunyi itu.“Akhh! Ssshh... pelan, Max! Itu sakit!” Aruna memekik, kepalanya mendongak ke belakang, punggungnya melengkung indah saat rasa perih dan nikmat menyatu di dadanya.Max tidak memedulikan protes itu. Ia justru menggigit kecil puncak payudara Aruna, membuat wanita itu mengerang semakin keras. Tangan Max bergerak turun, membelah pangkal paha Aruna dengan paksa. Ia tidak butuh pemanasan yang lembut; baginya, Aruna adalah medan pertempuran yang harus ia taklukkan setiap malam.“Kau sudah sangat basah, Aruna. Jangan berpura-pura kau tidak menginginkan kebrutalanku,” bisik Max serak.Ia membebas

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   92. Max yang Tidak Pernah Puas

    “Tonny, siapkan draf gugatan balik. Begitu hakim mengetok palu bahwa Johan tidak bersalah, aku ingin surat perintah penangkapan untuk Surya dan Robert langsung keluar di jam yang sama. Aku ingin mereka keluar dari ruang sidang dengan tangan terborgol.”Tonny mengangguk mantap. “Instruksi diterima, Tuan. Semua dokumen sudah siap diserahkan ke pengadilan besok pagi.”Rapat itu berlanjut selama dua jam berikutnya, membahas setiap detail teknis hukum yang membuat kepala Aruna pening. Namun, setiap kata yang keluar dari mulut Max menunjukkan bahwa pria ini telah memikirkan setiap kemungkinan. Ia bukan sekadar pengusaha kaya; ia adalah jenderal perang yang sedang menyusun strategi pemusnahan musuh-musuhnya.Setelah keluar dari kantor Tonny, Max membawa Aruna kembali ke mobil. Suasana di dalam mobil kembali sunyi, namun kali ini ada ketegangan yang berbeda—ketegangan penantian.“Max,” panggil Aruna saat mobil mulai bergerak.“Hmm?”“Kenapa kau melakukan semua ini? Maksudku, kau mempertaruhka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status