Mag-log inDi dalam lift yang masih terhenti, Aruna merasakan dunianya seolah runtuh.
Tuduhan Max bahwa dia sengaja “menjual kelemahan” terasa lebih menyakitkan daripada ancaman sipir penjara.
Dengan sisa keberanian yang dia miliki, Aruna mendongak dan menatap langsung ke dalam manik mata Max yang menghujam.
“Saya butuh dua ratus juta, Tuan,” bisik Aruna dengan suara yang pecah.
“Ayah saya, dia tidak bersalah, tapi dia akan membusuk di penjara jika saya tidak membayar uang pengganti itu dalam bulan ini.
“Saya bekerja satu tahun untuk Anda tanpa mengeluh, berharap Anda bisa melihat loyalitas saya. Tapi bagi Anda, saya hanya bayangan atau mungkin robot yang bisa Anda perintah sesuka hati!”
Max terdiam sejenak, namun kemudian seringai dingin kembali muncul di bibirnya.
Dia lamtas melepaskan kurungannya dan berdiri tegak, merapikan jasnya seolah curahan hati Aruna hanyalah gangguan debu di bahunya.
“Dua ratus juta? Cerita yang sangat klise, Aruna,” sahut Max tanpa empati.
“Berapa banyak wanita matre yang menggunakan alasan 'ayah sakit' atau 'ayah dipenjara' untuk menguras brankas atasannya? Jika kau ingin uang, kerjalah lebih keras. Jangan gunakan air mata murahan untuk merampokku.”
Max menekan tombol reset, dan lift kembali bergerak. Begitu pintu terbuka di lantai dasar, Max melangkah keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Aruna yang terpaku dengan hati yang hancur berkeping-keping.
Kesetiaannya selama satu tahun ternyata hanya dihargai dengan label 'wanita matre'.
“Ternyata dia memang tidak percaya dengan penderitaanku. Justru menuduhku hendak memerasnya,” geram Aruna sambil mengepalkan tangannya dengan sangat erat.
“Baiklah. Kalau memang aku diabaikan olehmu. Lihat saja, apa yang akan aku lakukan. Demi uang tebusan itu, tentunya,” bisiknya lirih sambil menggigit bibirnya.
Malam itu, Aruna memutuskan untuk berhenti menjadi pengecut. Jika Max menganggapnya wanita seperti itu, maka ia akan berhenti bersikap manis.
Dia meraih ponselnya dan menghubungi satu-satunya orang yang menawarkan jalan keluar malam ini: Reynard Mackenzie.
“Tuan Rey, apakah tawaran Anda untuk pergi ke pesta Gala malam ini masih berlaku?”
**
Dua jam kemudian, sebuah mobil sport mewah berhenti di depan rusun sederhana tempat Aruna tinggal.
Rey turun dengan setelan tuksedo yang sangat elegan. Matanya melebar saat melihat Aruna keluar.
Aruna mengenakan gaun sutra hitam panjang yang sangat minimalis di bagian depan, namun sepenuhnya terbuka di bagian belakang, memperlihatkan punggung mulusnya yang putih porselen.
“Sempurna,” gumam Rey sambil mengecup punggung tangan Aruna. “Malam ini, kau bukan sekretaris siapa pun. Kau adalah ratuku.”
Pesta Gala tahunan Astraea berlangsung di sebuah ballroom berlapis emas. Begitu masuk, Rey tidak membiarkan Aruna menjauh.
Dia melingkarkan tangannya di pinggang ramping Aruna dan memperkenalkannya kepada para kolega kelas atas sebagai “Wanita paling spesial di Kendrick Corp”.
Untuk pertama kalinya, Aruna merasa benar-benar dihargai. Rey mengambilkan minuman untuknya, menarikkan kursi, dan sesekali membisikkan lelucon yang membuatnya tersenyum kecil.
Rey memperlakukannya seolah dia adalah pusat dari ruangan itu.
“Lihat mereka, Aruna,” bisik Rey saat mereka berdiri di dekat balkon.
“Mereka semua memujamu. Berhentilah menunduk seolah kau melakukan kesalahan. Kau adalah mawar yang terlalu indah untuk layu di meja kerja Max.”
Aruna mulai merasa sedikit rileks, hingga tiba-tiba suasana di pintu masuk ballroom menjadi riuh.
Max Kendrick melangkah masuk. Dia tampak luar biasa tampan dengan setelan hitam formal, namun kehadirannya membawa aura dingin yang mampu membekukan musik di ruangan itu.
Di lengannya, melingkar tangan seorang model papan atas yang cantik, namun mata Max tidak sedang menatap pasangannya.
Pandangan Max langsung terkunci pada sosok Aruna yang sedang berdiri bersama Rey.
Matanya yang tajam menyusuri lekuk tubuh Aruna, berhenti lama pada kulit punggung Aruna yang terekspos tanpa sehelai benang pun karena model gaun backless-nya.
Rey yang menyadari kedatangan Max, justru semakin merapatkan tubuh Aruna ke sisinya dan mengecup bahu terbuka Aruna dengan sengaja, tepat di hadapan mata sang CEO.
Max tidak bergerak, namun tangannya yang memegang gelas sampanye tampak memutih karena cengkeramannya yang terlalu kuat.
Matanya berkilat dengan amarah yang jauh lebih besar daripada sebelumnya, sebuah tatapan yang seolah ingin menelanjangi dan menyeret Aruna pergi dari sana saat itu juga.
“Lihat singa itu, Aruna. Tampaknya dia sangat tidak nyaman dengan kehadiranmu di sini sebagai pendampingku,” bisik Rey dengan sengaja mendekatkan bibirnya tepat di telinga Aruna.
Kemarahan Max di ruangan Rey berbuntut pada keputusan tirani yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun di Kendrick Corp.Atmosfer di lantai eksekutif mendadak membeku, seolah oksigen ditarik paksa dari udara.Sore itu juga, tanpa memedulikan tatapan bingung para staf yang berbisik di balik kubikel, Max memerintahkan petugas keamanan untuk memindahkan meja kerja Aruna.Bukan ke sudut ruangan lain, melainkan masuk ke dalam ruang kerja pribadinya yang luas, megah, dan kedap suara.Suara geseran meja kayu ek itu terdengar seperti vonis hukuman mati bagi privasi Aruna.“Mulai detik ini, meja kerjamu ada di sini,” ucap Max dingin. Suaranya rendah, namun menggelegar di rungu Aruna.Dia menunjuk ke sebuah sudut yang tepat menghadap langsung ke arah meja kebesarannya. Posisi itu strategis; Max hanya perlu mendongak sedikit untuk memantau setiap gerak-gerik, setiap helaan napas, dan setiap huruf yang diketikkan Aruna.“Aku tidak akan membiarkanmu berada di luar jangkauanku, di mana pria-pria
Cek kosong dari Max masih tergeletak di atas meja, namun ketenangan yang Aruna harapkan tidak kunjung datang.Sebaliknya, atmosfer di kantor pusat Kendrick Corp berubah menjadi medan perang dingin yang mencekam.Aruna kini bukan lagi sekadar sekretaris; ia telah menjadi poros di mana tiga pria paling berkuasa di gedung itu saling berbenturan.Akhir pekan itu, perusahaan mengadakan pertemuan informal di sebuah klub olahraga elit di pinggiran Astraea.Aruna diwajibkan hadir untuk mencatat poin-poin kesepakatan bisnis di sela-sela permainan bilyar pribadi antara Max, Bastian, dan Rey.Di dalam ruangan bilyar yang beraroma cerutu dan kayu ek, suasana terasa sangat berat. Max berdiri tegak dengan stik bilyar di tangannya, sementara Rey bersandar santai di tepi meja dengan senyum miringnya.Bastian duduk di sofa kulit, mengamati Aruna dengan tatapan yang sulit diartikan.“Bagaimana kalau kita buat permainan ini lebih menarik?” Rey memecah keheningan sembari menyodok bola putih.“Pemenang se
Musik waltz mengalun lembut di seluruh penjuru ballroom, namun bagi Aruna, melodi itu terasa seperti dengungan yang jauh.Rey menuntunnya ke tengah lantai dansa, meletakkan tangannya dengan posesif di pinggang bawah Aruna, tepat di batas gaun backless-nya yang terbuka.Sentuhan Rey terasa asing, namun Aruna memaksakan diri untuk tetap tegak. Dia ingin Max melihat bahwa dia bukan sekadar properti kantor yang bisa diabaikan.Dari sudut matanya, Aruna melihat Max. Pria itu berdiri kaku bahkan mengabaikan teman kencannya yang sedang berbicara. Tatapan Max menghunus tajam ke arah tangan Rey yang mengusap punggung mulus Aruna.Kesabaran Max mencapai batasnya saat Rey menunduk dan membisikkan sesuatu yang membuat Aruna sedikit tersipu. Tanpa memedulikan etika sosial, Max melangkah lebar membelah kerumunan.Set!Sebuah tangan kekar menyambar pergelangan tangan Aruna dengan kasar, memutuskan kontak antara Aruna dan Rey.“Cukup dansanya,” suara Max terdengar seperti geraman rendah.Rey mengerut
Di dalam lift yang masih terhenti, Aruna merasakan dunianya seolah runtuh.Tuduhan Max bahwa dia sengaja “menjual kelemahan” terasa lebih menyakitkan daripada ancaman sipir penjara.Dengan sisa keberanian yang dia miliki, Aruna mendongak dan menatap langsung ke dalam manik mata Max yang menghujam.“Saya butuh dua ratus juta, Tuan,” bisik Aruna dengan suara yang pecah.“Ayah saya, dia tidak bersalah, tapi dia akan membusuk di penjara jika saya tidak membayar uang pengganti itu dalam bulan ini.“Saya bekerja satu tahun untuk Anda tanpa mengeluh, berharap Anda bisa melihat loyalitas saya. Tapi bagi Anda, saya hanya bayangan atau mungkin robot yang bisa Anda perintah sesuka hati!”Max terdiam sejenak, namun kemudian seringai dingin kembali muncul di bibirnya.Dia lamtas melepaskan kurungannya dan berdiri tegak, merapikan jasnya seolah curahan hati Aruna hanyalah gangguan debu di bahunya.“Dua ratus juta? Cerita yang sangat klise, Aruna,” sahut Max tanpa empati.“Berapa banyak wanita matre
Pagi berikutnya, Aruna tiba di kantor dengan beban pikiran yang semakin berat.Tenggat waktu pembayaran tebusan ayahnya tinggal menghitung hari, dan Max masih memperlakukannya seperti robot tanpa perasaan.Namun, kejadian di ruang rapat kemarin memberinya sebuah ide nekat. Jika Max hanya bereaksi saat ada pria lain yang mendekatinya, maka Aruna akan menggunakan hal itu sebagai senjata terakhirnya.Saat Aruna baru saja meletakkan tasnya, Bastian Pratama muncul di depan meja sekretariat. Kali ini, dia tidak datang dengan tangan kosong. Sebuah buket bunga lili putih yang besar dan harum ada di pelukannya.“Selamat pagi, Aruna. Bunga ini untuk mencerahkan harimu yang suram di lantai lima puluh,” ucap Bastian dengan volume suara yang cukup keras agar terdengar hingga ke dalam ruangan CEO yang pintunya sedikit terbuka.Aruna sempat ragu, namun dia teringat wajah ayahnya di balik jeruji besi. Dia akhirnya memaksakan sebuah senyum kecil yang terlihat sangat manis dan malu-malu.“Tuan Bastian
Pagi itu, atmosfer di lantai 50 terasa berbeda. Suara tawa yang keras dan aroma cerutu mahal yang samar mulai menyeruak di lorong-lorong kaku Kendrick Corp.Aruna, dengan mata yang sedikit sembap karena hanya tidur tiga jam, berusaha tetap tegap saat menyusun materi presentasi untuk rapat dewan direksi.Pintu lift terbuka, dan seorang pria dengan setelan jas abu-abu terang tanpa dasi melangkah keluar dengan gaya yang sangat santai, hampir provokatif.Reynard “Rey” Mackenzie, sang Direktur yang baru saja kembali dari ekspedisi bisnisnya di Eropa, berjalan melewati meja Aruna.Dia berhenti sejenak, melepas kacamata hitamnya, dan menatap Aruna dari ujung kaki hingga ujung kepala.“Wah, wah. Max benar-benar menyembunyikan mawar kecil yang sangat cantik di sini selama aku pergi,” gumam Rey dengan seringai nakal yang tidak disembunyikan.Aruna segera berdiri dan membungkuk hormat. “Selamat pagi, Tuan Reynard. Selamat datang kembali. Saya Aruna, sekretaris pribadi Tuan Max.”“Terima kasih, M







