Share

Bab 4

Author: Liana
Aku menggeleng, “Aku nggak tahu.”

“Tira, sebaiknya kamu benar-benar nggak tahu. Kalau nggak, aku nggak akan memaafkanmu!”

Ujar Vicky sambil menahan amarah. Lalu keluar dan menelepon berkali-kali, akhirnya dia mengetahui lokasi Vera.

“Beberapa orang ikut denganku, bawa dia juga!”

Kakiku diikat dan disekap di kursi belakang Vicky. Dia menyetir sendiri, menginjak pedal gas sampai mentok.

Menikah selama tiga tahun, ini pertama kalinya aku melihatnya sangat kehilangan kendali.

Setibanya di tepi laut, pergelangan tangan Vera diikat dan digantung di atas kapal, dia menangis histeris.

“Kak Vicky, kok kamu baru datang?! Aku takut sekali! Cepat selamatkan aku!”

“Vera!”

Vicky memanggil namanya dengan cemas, lalu menatap tajam ke arah musuhnya di atas kapal.

“Lepaskan dia. Aku tukar dengan istriku, ditambah dua wilayah kekuasaan dan sepuluh ruko.”

Wajah musuhnya yang penuh lemak menyeringai, “Sepakat.”

Saat aku perlahan-lahan diangkat, Vicky memeluk Vera erat-erat, lalu membujuknya dengan suara pelan.

Saat aku mencapai titik tertinggi, Vicky memeluk wanita yang dicintainya itu dan berbalik pergi.

Aku melihat punggung itu lagi, hanya saja ada Vera di sisinya kali ini.

Musuh itu membakar sebatang rokok dan melirikku, “Mulai.”

Setrika panas ditempelkan ke tubuhku, aku pun tak kuasa menahan jeritan kesakitan.

“Bunuh saja aku!”

Dia menggeleng.

“Kalau kamu mati terlalu cepat, itu nggak adil bagi sahabat-sahabatku yang sudah meninggal.”

“Lebih baik disiksa perlahan, agar semua orang di dunia mafia tahu bahwa Vicky sebenarnya nggak perlu ditakuti.”

Aku meronta dan menggerakkan tubuh sekuat tenaga, tapi besi panas itu selalu tepat mengenai kulitku. Sakitnya membuatku bahkan tak sanggup bersuara.

Aku tak tahu entah berapa kali diriku dibakar. Saat rasa sakit hampir membuatku kehilangan kesadaran, akhirnya mereka menurunkanku.

Namun baru beberapa tarikan napas, pergelangan tanganku kembali terasa nyeri yang menusuk.

Dia mengiris pergelangan tanganku dengan pisau, lalu menenggelamkannya ke laut!

Darah mengalir ke lautan, seketika air laut menjadi merah menyala.

Tubuhku ditekan agar tak bisa bergerak. Kepalaku dipaksa menghadap pergelangan tangan, dipaksa melihat bagaimana darahku sendiri mengalir habis.

Tiba-tiba, aku tertawa.

Vicky, kalau aku mati di sini, mungkinkah kamu akan mencarikan gadis kecilmu tameng yang lain?

Atau langsung menikahinya?

Apapun itu, semuanya sudah tidak ada hubungannya denganku.

Kesadaranku perlahan mengabur. Tepat sebelum aku benar-benar terlelap, anak buah Vicky kembali datang terlambat seperti biasa.

Aku mendengar suara negosiasi mereka, lalu tubuhku diangkat ke atas ambulans.

Di dalam mobil, mereka tertawa lepas sambil bermain kartu. Suaranya terlalu berisik sampai aku sulit untuk tidur.

Dalam samar-samar, seseorang berkata, “Bos benar-benar sayang dengan Nona Vera. Tadinya sudah nggak mau memperpanjang masalah ini, tapi begitu melihat ada luka lecet di pergelangan tangan Nona Vera, dia langsung naik pitam dan membantai mereka semuanya sendiri.”

“Eh, kalian sudah dengar? Demi Nona Vera, bos memutuskan pensiun dari dunia mafia.”

….

Saat aku berhasil diselamatkan, sistem memberitahu waktuku tersisa enam jam.

Tiba-tiba, aku teringat ucapan mereka di ambulans.

Hanya karena pergelangan tangan Vera lecet, Vicky memutuskan untuk pensiun.

Aku menunduk, menatap pergelangan tanganku yang dibalut perban, serta luka-luka yang tak terhitung jumlahnya di seluruh tubuhku, lalu tersenyum manis.

Hal yang tak bisa kulakukan selama tiga tahun, ternyata bisa diselesaikan semudah itu.

Hanya saja, orang yang menyelesaikan misi itu bukan aku.

Empat jam terakhir, aku mengabaikan larangan rumah sakit dan memaksa tubuhku yang lemah kembali ke vila.

Sebelum pergi, aku ingin sekali melihat hasil pemeriksaan itu lagi.

Namun, saat tertatih-tatih kembali, yang kutemukan hanyalah halaman berantakan dan rumah yang kosong melompong.

Kamar tamu diobrak-abrik.

Benda-benda di laci hilang.

Aku segera menelepon Vicky, dia pun mengangkat telepon dengan nada kesal, “Aku berencana pensiun, semua properti sebelumnya harus dijual. Setelah semuanya bersih baru dibeli lagi.”

“Kamu cari tempat tinggal sementara dulu. Setelah kondisi emosi Vera lebih stabil, kita cerai saja.”

Aku berkata, “Tapi barang-barang di laci kamar tidurku….”

“Tira! Jangan keterlaluan!”

“Semua luka Vera itu gara-gara kamu! Aku sudah sangat baik menyuruh orang menyelamatkanmu! Jangan bilang kamu berharap aku belikan rumah khusus hanya untuk menyimpan perhiasan di lacimu?”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tiga Tahun Menjadi Tameng Kekasih Bos Mafia   Bab 10

    Saat aku bicara, Vicky sudah berhasil dilumpuhkan dan ditekan ke lantai oleh Rendy, tak bisa bergerak sedikitpun.“Rendy, jangan sampai membahayakan nyawa.”Mendengar itu, Rendy menjawab, “Iya,” tapi tetap tidak mau melepaskannya.“Kalau begitu, kita serahkan ke kantor polisi. Laporkan dia atas kasus pelecehan.”Aku membungkuk sedikit, “Aku mau bicara dengannya, kamu tunggu di sana saja.”Rendy ingin menolak, tapi melihat sikapku yang tegas, akhirnya dia melepaskannya dengan enggan.Begitu Rendy pergi, Vicky langsung mencengkeram ujung celanaku.“Semua itu salahku, maafkan aku. Kumohon pulanglah denganku. Aku janji akan hidup baik-baik denganmu. Aku akan pensiun dari dunia mafia, aku bersumpah nggak akan biarkan kamu terluka lagi.”Vicky bicara sangat cepat, seolah takut aku pergi lagi.Aku menatap matanya yang kini tidak ada kekejaman sedikitpun dan bertanya dengan bingung,“Kamu nggak mencintaiku, kamu membenciku, kamu bahkan berharap aku mati saja. Lalu kenapa sekarang malah ingin a

  • Tiga Tahun Menjadi Tameng Kekasih Bos Mafia   Bab 9

    Aku kira tugas yang dimaksud sistem adalah menjadi guru bagi tokoh antagonis.Belakangan, aku baru tahu bahwa tugasnya adalah menjadi pekerja paruh waktu di rumah tokoh antagonis, untuk mengawasinya agar tidak menjadi jahat.Hari ini adalah akhir pekan dan tokoh antagonisnya, si Rendy sedang rapat video di rumah.Ketika mereka membahas perusahaan pesaing yang merebut proyek perusahaannya, reaksi pertamanya adalah mengirim orang untuk mencuri kucing hitam peliharaan bos lawan.Aku yang sedang menyapu lantai, tak bisa menahan diri dan tertawa.Suara rapat di belakangku berhenti. Aku masih bingung, tiba-tiba sapu di tanganku sudah diambil.Aku menoleh. Rendy membungkuk menyapu lantai, tapi dari sudut matanya dia diam-diam melirikku.“Akhirnya kamu tertawa juga. Sudah sebulan kerja di sini, mukamu selalu murung setiap hari, seolah aku nggak membayar gajimu saja.”“Meskipun aku bosmu, kalau kamu punya masalah dan lagi nggak senang, boleh cerita padaku. Siapa tahu setelah cerita denganku, ka

  • Tiga Tahun Menjadi Tameng Kekasih Bos Mafia   Bab 8

    Saat itu, Tira berkata, “Pak Vicky, terima kasih sudah membantuku membayar biaya pengobatan nenekku. Sebagai balasannya, aku akan menjadi tameng untuk Nona Vera.”Namun hari ini, tiga tahun kemudian, nenek yang dulu dirinya selamatkan dengan sepuluh miliar itu pun lenyap tanpa jejak.Vicky tidak berkata apa-apa. Dengan tubuh dan batin yang kelelahan, dia melangkah ke lantai dua.Saat melewati kamar tidur, tiba-tiba Vicky mendengar suara Vera berbicara.Terpisah oleh satu pintu, suaranya tak terdengar polos dan manis seperti biasanya, melainkan dipenuhi niat jahat dan kekejaman.“Cari musuh yang paling pendendam, kirimkan alamat perempuan itu ke mereka.”“Sebelum Kak Vicky pergi menolongnya, beritahu aku. Aku akan mengalihkan perhatiannya. Kalian baru muncul dua atau tiga jam setelahnya.”“Bodoh, kalau dia nggak bertanya, kalian jangan bicara banyak! Cukup bilang kalau wanita itu sudah diantar pulang!”Seketika, jari Vicky yang di pegangan pintu menjadi dingin.“Biarkan saja kalau mati!

  • Tiga Tahun Menjadi Tameng Kekasih Bos Mafia   Bab 7

    “Dia pasti sedang marah denganku.”Vicky bergumam pelan, lalu menelepon anak buahnya.Begitu telepon tersambung, dia langsung meraih jaketnya dan berlari keluar, sambil bertanya, “Dia terluka nggak? Di rumah sakit mana? Aku segera ke sana.”Anak buahnya agak bingung dan bertanya, “Bos, siapa maksudnya?’Vicky berteriak marah, “Siapa lagi?! Tira!”“Tir… apa? Tira itu siapa?”….Vicky menginjak pedal gas dan melaju ke vila lama, tapi tempat itu malah terang benderang.Ada orang asing yang sedang menyiram bunga di halaman.“Kamu siapa? Siapa yang mengizinkanmu di rumahku?!”Orang itu menatapnya seperti menatap orang gila, “Aku sudah tinggal di sini sepuluh tahun. Sejak kapan ini jadi rumahmu?”“Dasar orang gila.”Vicky pun reflek hendak mengeluarkan pistol, tapi sekilas dia menyadari ayunan di halaman sudah hilang.Ayunan itu dipasang oleh Tira saat mereka baru menikah.Tira jarang keluar, jadi menghabiskan sebagian besar waktunya di ayunan itu sambil membaca.Namun sekarang, bahkan bekas

  • Tiga Tahun Menjadi Tameng Kekasih Bos Mafia   Bab 6

    Begitu berbelok di tikungan, Vicky langsung menyesal.Dia menoleh ke samping, melihat Tira tergeletak di lantai. Pada akhirnya, dia tetap tidak tega.“Panggil beberapa orang, antar dia ke rumah sakit.”Setelah menutup telepon, dia mengajak Vera berkeliling di toko barang mewah untuk menghiburnya.Gadis kecil itu benar-benar ketakutan beberapa hari terakhir ini.Beberapa tahun lalu, demi melindunginya, Vicky sengaja mencari Tira sebagai tameng hidup. Dia bahkan menghabiskan banyak waktu membawa Tira muncul di berbagai acara publik, agar semua orang tahu bahwa dirinya punya kelemahan.Dan cara itu sangat efektif.Sebelum itu, masih ada beberapa orang bodoh yang berani mengganggu Vera.Namun setelahnya, setiap musuh yang ingin membalas dendam padanya, orang pertama yang terlintas di pikiran mereka adalah Tira.Itulah sebabnya, meski Tira sampai nekat membocorkan informasi dan lokasi Vera, sebenarnya dirinya tak pernah benar-benar berniat membunuhnya.Paling-paling dirinya hanya akan mence

  • Tiga Tahun Menjadi Tameng Kekasih Bos Mafia   Bab 5

    Aku tak tahu harus ke mana dan juga tak perlu mencari tempat tinggal.Tiga jam terakhir, aku duduk di anak tangga depan rumah, berjemur di bawah matahari.Sinar matahari jatuh di tubuhku, tapi sama sekali tak mampu menghangatkan badanku yang perlahan terasa semakin dingin.Pintu halaman berderit pelan. Aku mengangkat kepala dan melihat Vera berdiri dengan kedua lengan menyilang di depan dada, bersandar di pintu sambil menatapku.“Kamu benar-benar panjang umur, sudah begini pun masih belum mati.”Aku terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis, “Sebentar lagi, sabar saja.”Vera hendak mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba mendengar suara langkah kaki. Dia langsung menurunkan tangannya.Air matanya pun langsung mengalir.“Kak Tira, aku nggak sengaja, jangan marah, ya?”“Kamu baru keluar dari rumah sakit, nggak boleh emosi. Aku akan suruh bibi memasakkan sup ayam untukmu sekarang juga….”Belum selesai dia bicara, Vicky sudah menerobos masuk dengan wajah penuh amarah. Lalu menyodorkan ponsel ke dep

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status