Share

Bab 4

Author: Kucing
Avida melihat ekspresi gugup Glenn dan memaksakan senyuman. "Aku tiba-tiba ingin pergi ke luar negeri. Aku bahkan belum pernah pergi keluar provinsi."

Ketegangan di bahu Glenn terlihat mereda.

Dia mengulurkan tangan untuk mengelus rambut Avida, suaranya lembut. "Perusahaan sedang sangat sibuk akhir-akhir ini. Tunggu sebentar lagi, nanti kutemani pergi."

Avida tidak menjawab.

Glenn menganggap itu sebagai persetujuan.

Dia melirik ponselnya. Louisa menelepon lagi.

"Istirahat dulu. Louisa nggak enak badan, aku ke sana dulu."

Dia pergi terburu-buru setelah selesai bicara, meninggalkan Avida sendirian di tempat pesta ulang tahun yang berantakan itu.

Dia memandangi pita-pita yang berserakan di lantai dan kue yang terjungkir di lantai, lalu tersenyum tipis.

Pada akhirnya, Glenn bahkan tidak sempat mengucapkan selamat ulang tahun padanya di pesta ulang tahun yang dia persiapkan untuknya.

...

Keesokan paginya, Avida terbangun oleh suara isak tangis yang samar.

Kucing bernama Snowy yang dia pelihara bersama Glenn meringkuk di sudut ruangan, kejang-kejang kesakitan.

Avida buru-buru menggendongnya dan mendapati noda cokelat masih menempel di sudut mulutnya.

"Snowy! Snowy!"

Di kawasan perumahan itu sulit mendapatkan taksi. Dia menelepon Glenn lebih dari sepuluh kali, tidak pernah diangkat.

Kucing itu semakin lemah dalam pelukannya, sehingga Avida tidak punya pilihan selain berlari ke rumah sakit sambil menggendongnya.

Angin dingin yang kencang menerpa wajahnya seperti pisau. Dia berlari hingga paru-parunya terasa mau meledak, tapi tetap saja terlambat.

"Nggak sengaja mengonsumsi cokelat dan terlambat dibawa ke rumah sakit ...." Dokter melepas masker. "Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin."

Avida berdiri di ruang pemeriksaan, seluruh tubuhnya menggigil.

Tiba-tiba ponselnya berdering, panggilan balik dari Glenn. "Tadi sedang rapat, ada apa?"

"Snowy meninggal." Ketenangan dalam suaranya terdengar menakutkan.

Telepon terdiam beberapa detik sebelum Glenn tersadar. "Kamu di mana? Aku ke sana sekarang."

Setelah menutup telepon, Avida tanpa sengaja melihat postingan yang baru saja diunggah Louisa ....

Dalam foto itu, dia dan Glenn sarapan bersama di restoran mewah, dengan keterangan: [Selamat pagi, sedang bersama orang yang penting.]

Waktu yang tertera adalah setengah jam lalu.

Avida tersenyum pahit dan mematikan ponselnya.

Saat Glenn tiba, Avida baru saja menguburkan Snowy di bawah pohon rindang di halaman.

"Maaf," ucapnya dengan wajah penyesalan yang jarang terlihat darinya. "Hari ini ada rapat penting di kantor, ponselku senyap ...."

Avida menatapnya dalam diam beberapa saat. "Kenapa ada cokelat di rumah? Kamu tahu Snowy nggak boleh makan itu."

Glenn berpikir sejenak. "Mungkin ... hadiah dari klien, aku taruh sembarangan di ruang tamu."

Keraguannya membuat Avida langsung mengerti.

Glenn tidak pernah makan makanan manis. Satu-satunya yang mungkin dia bawa pulang adalah hadiah dari Louisa.

"Maaf, aku ceroboh." Glenn berusaha menenangkannya. "Kita bisa beli yang baru besok, jangan ...."

Dia berhenti, menelan lagi kata-kata "jangan salahkan Louisa".

Namun, Avida mengerti.

Pada saat itu, dia tiba-tiba merasa sangat lelah.

"Nggak usah," katanya dengan lemah sebelum berbalik masuk ke dalam rumah.

...

Avida sedang mengemas barang-barang ketika Glenn mengatakan akan mengajaknya melihat bintang jatuh.

"Kamu sedang sedih akhir-akhir ini," katanya lembut sambil berdiri di ambang pintu. "Malam ini ada hujan meteor. Ayo keluar buat mengalihkan pikiran."

Tangan Avida memegang tiket pesawat, terhenti sejenak, tapi akhirnya dia mengangguk.

Lagi pula ... hanya tinggal beberapa hari lagi.

Namun, ketika sampai di puncak gunung, barulah dia tahu bahwa Louisa juga ada di sana.

Louisa mengenakan pakaian mendaki yang elegan, menyambutnya dengan senyuman. "Kak Avida, aku dan Glenn menghabiskan waktu lama memilih tempat sebelum menentukan tempat ini. Pemandangannya sangat bagus."

Avida diam terpaku, menatap Glenn yang mendirikan tenda dengan terampil, jari-jari rampingnya dengan lincah mengencangkan rangka tenda.

Louisa berputar-putar di sekelilingnya seperti kupu-kupu. Sesekali menyerahkan alat, menyeka keringatnya dengan saputangan, sambil berkata dengan suara manja, "Hati-hati, jangan sampai terluka." Mereka berdua tampak mesra seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.

Dulu, Avida-lah yang mengajari pemuda yang bahkan tidak bisa menentukan kegunaan setiap tiang tenda itu. Langkah demi langkah.

Namun kini, Avida berdiri tiga meter jauhnya, seperti orang asing yang tanpa sengaja mengganggu kencan orang lain.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 24

    Kepala pelayan berjalan ke kamar tidur. Kamar itu sebelumnya terkunci, jadi Avida tidak masuk. Setelah kepala pelayan membukanya, Avida melihat seperti apa keadaan di dalam kamar itu.Seandainya tidak terjadi begitu banyak peristiwa di antaranya, Avida mungkin akan mengira mereka masih berada di masa lalu.Glenn berbaring di tempat tidur. Wajahnya pucat dan tampak jelas. Namun, begitu melihat Avida datang, dia tetap berusaha keras untuk duduk, sambil mengulas senyuman di wajahnya."Vivi, kamu datang."Untunglah, Glenn baik-baik saja. Jika Glenn meninggal karena menyelamatkannya, Avida akan merasa bersalah. Dia tidak ingin hubungan mereka berakhir dengan menukar nyawa.Dia berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur Glenn.Sinar matahari menyinari ruangan melalui jendela, terasa hangat. Kepala pelayan sudah pergi entah sejak kapan, hanya tersisa mereka berdua di sudut masa lalu ini."Lihat, Vivi, aku sudah mengembalikan semuanya seperti semula. Tempat ini persis sama seperti sepulu

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 23

    Dengan kepala linglung, Avida perlahan tersadar dan terbatuk-batuk memuntahkan air. Dia ingat saat menyelamatkan sekelompok anjing liar, dirinya terdorong dan terjatuh ke danau. Jadi, apakah dia sekarang sudah mati?Dia membuka mata dan melihat dirinya masih berada di dalam air, hanya hidung dan mulutnya yang sedikit menonjol di permukaan. Di tepi danau, ada orang-orang yang mengenakan perlengkapan penyelamatan. Mereka sepertinya sedang membicarakan sesuatu, tetapi Avida tidak bisa mendengar apa-apa. Dia hanya mendengar seseorang menangis, suara yang sangat mirip dengan yang dia dengar sepuluh tahun lalu."Vivi ....""Vivi ...."Ada yang memanggil namanya. Avida tiba-tiba menyadari bahwa itu suara Glenn. Dia langsung menoleh ke bawah dan melihat Glenn memeganginya. Itulah sebabnya dia tidak tenggelam meskipun dalam keadaan pingsan. Namun, mata Glenn sudah tertutup, seperti sudah tidak bernyawa.Avida mulai panik. Dia tahu, Glenn takut pada air karena trauma masa lalu. Meski begitu, pri

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 22

    Dia meninju pintu, dan pramugari mengingatkannya, "Pak, pesawat sebentar lagi lepas landas, mohon kembali ke tempat duduk."Glenn berbalik dan turun dari pesawat, tanpa menghiraukan suara pramugari yang memanggilnya dari belakang.Dia kembali ke lobi dan pergi mencari petugas."Avida! Namanya Avida, apa dia sudah beli tiket penerbangan di waktu lain?"Petugas itu terkejut. Namun, setelah Glenn dapat menyebutkan semua informasi tentang Avida, dia membantu memeriksanya melalui sistem. Beberapa saat kemudian, dia berkata, "Nona Avida ini sebelumnya memang membeli tiket penerbangan ini, tapi dia membatalkan tiketnya satu jam yang lalu."Mendengar informasi itu, Glenn menghela napas lega. Selama belum pergi, itu berarti Avida masih di Selandia Baru, dan dia masih bisa menemukannya.Dia tidak berani membayangkan betapa hancur dirinya jika harus kehilangan Avida lagi.Glenn berjalan perlahan keluar dari bandara. Ponselnya berdering, panggilan dari kepala pelayan. Sebelum berangkat ke bandara,

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 21

    Glenn memandangi pintu yang tertutup di hadapannya dengan tidak percaya. Kucing itu masih mengeong di telapak tangannya, tetapi dia tidak bisa mendengar apa-apa. Mengapa jadi seperti ini? Mengapa semuanya sangat berbeda dari yang dia bayangkan?Dia berdiri di depan pintu Avida. Dia tidak percaya Avida benar-benar meninggalkannya.Mereka telah bersama selama sepuluh tahun. Avida menemaninya dari tidak punya apa-apa hingga memiliki segalanya. Sekarang saatnya mereka menikmati hidup yang bahagia. Semua masalah sudah selesai, tidak ada lagi yang menghalangi mereka. Avida pasti hanya sedang marah saja.Dia memasukkan kucing itu kembali ke dalam saku, lalu bersandar di pintu.Tiga jam berlalu, dia menghubungi kepala pelayan untuk membawa kucing itu pulang dan merawatnya dengan baik.Setengah hari berlalu, dia kepanasan hingga pusing dan haus, tetapi tidak beranjak sedikit pun.Tengah malam, terdengar suara gemuruh. Hujan lebat tiba-tiba turun di luar. Glenn basah kuyup, tetapi tetap tidak pe

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 20

    Di dalam pesawat, tujuan Glenn adalah Selandia Baru. Setelah kepala pelayan menemukan jejak Avida, dia mulai menyelidiki kehidupan Avida belakangan ini dan akhirnya berhasil mengumpulkan informasi.Setelah meninggalkannya, Avida bergabung dengan organisasi penyelamat hewan liar yang mengharuskannya berkeliling ke berbagai penjuru dunia. Pantas saja Avida tidak bisa ditemukan lagi setelah pertemuan mereka di New York. Ternyata, Avida langsung berangkat ke lokasi penyelamatan berikutnya.Selama penerbangan yang memakan waktu belasan jam itu, Glenn tidak punya keinginan untuk beristirahat. Dia asyik menelusuri informasi tentang kehidupan Avida sekarang.Tiba-tiba, dia teringat sesuatu dan mengirim pesan kepada kepala pelayan.[Masih ingat Snowy? Carikan kucing yang persis sama, aku ingin memberikannya kepada Vivi. Dia pasti senang.][Baik, Pak Glenn.]Glenn merasa, Avida pasti memilih bergabung dengan organisasi penyelamatan hewan karena Snowy. Kematian Snowy karena kesalahan Louisa yang

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 19

    Glenn mengurung diri di rumah itu lagi, menghabiskan hari-harinya dengan mabuk-mabukan. Sambil melepaskan diri pada khayalan bahwa dia masih berusia 16 tahun dan Avida belum pergi meninggalkannya.Dia tidak perlu mencari kebenaran di balik kecelakaan orang tuanya, tidak perlu berhubungan dengan Louisa demi kerja sama. Bahkan jika dia tidak punya uang sepeser pun, itu tidak masalah, asalkan Avida ada di sisinya.Dia mabuk berat. Kepala pelayan yang berkali-kali gagal menasihatinya. Glenn seolah telah kehilangan jiwanya seluruhnya, menaruh seluruh harapannya pada rumah ini.Mata Glenn baru kembali jernih ketika kepala pelayan membawa kabar bahwa orang yang menyebabkan keributan di lelang telah ditemukan, dan ternyata adalah kerabat dari Keluarga Handoyo.Ini berarti, dia akan segera menemukan pembunuh orang tuanya.Dia kembali bersemangat dan pergi ke kantor. Asistennya sudah menunggu sejak lama. Begitu melihatnya datang, asistennya langsung melaporkan semua yang terjadi selama beberapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status