Share

Bab 3

Author: Kucing
Hari Avida keluar dari rumah sakit bertepatan dengan hari ulang tahunnya.

Glenn menjemputnya, tetapi mereka tidak pulang ke rumah, melainkan langsung berkendara menuju hotel termewah di pusat kota.

"Aku ingat kamu pernah bilang ingin mengadakan pesta ulang tahun di sini," katanya sambil memegang setir dengan satu tangan. Profil wajahnya tampak tajam diterangi sinar matahari yang masuk melalui jendela mobil. "Aku akan mewujudkannya hari ini."

Avida terdiam, ingatannya tiba-tiba melayang ke masa lalu bertahun-tahun yang lalu.

Saat itu, dia bekerja tiga pekerjaan sekaligus, hanya tidur tiga jam sehari. Suatu hari, dia kelelahan sampai muntah darah. Ketika Glenn tahu, pemuda yang biasanya dingin itu untuk pertama kalinya kehilangan ketenangannya.

Dengan mata berkaca-kaca, dia memeluknya sambil berkata dengan suara gemetar, "Vivi, kamu punya keinginan apa? Aku pasti akan mewujudkannya di masa depan."

Dia tidak menginginkan apa-apa. Akan tetapi, demi memberinya motivasi, dia menunjuk ke hotel paling mewah di pusat kota dan berkata, "Aku belum pernah merayakan ulang tahun. Glenn, kalau kamu kaya nanti, adakan pesta ulang tahun untukku di sini."

Tak disangka, keinginan yang dia karang seenaknya itu justru terwujud saat dia memutuskan untuk pergi.

Saat dia hendak mengatakan sesuatu, mobil berhenti di depan pintu hotel.

Louisa berlari keluar dari hotel sambil tersenyum, lalu menggandeng tangannya dengan mesra. "Kak Avida, semua tamunya sudah datang, tinggal menunggumu!"

Pesta itu sangat megah. Di bawah lampu gantung kristal, menara sampanye memantulkan cahaya yang gemerlap. Orkestra memainkan alunan musik yang merdu.

Namun, Avida menyadari bahwa seluruh dekorasi di tempat itu semuanya sesuai dengan selera Louisa.

Mawar warna sampanye favoritnya, tirai ungu muda kesukaannya, bahkan musiknya pun lagu-lagu yang sering didengarkannya.

Meskipun Glenn berdiri di sampingnya, pandangannya terus mengikuti sosok Louisa.

Begitu melihat gelasnya kosong, dia segera memberi isyarat kepada pelayan untuk mengisi ulang. Begitu menyadari sepatu hak tingginya membuat kakinya lecet, dia langsung menyuruh orang mengambilkan sandal.

Saat sesi pemberian hadiah, Glenn mengeluarkan sebuah kotak beludru.

Di dalamnya terdapat sebuah kalung berlian.

Avida terkejut.

Kalung itu persis sama dengan yang hadiah darinya tahun lalu.

Dia tiba-tiba teringat gelang antik yang diberikan Glenn kepada Louisa untuk ulang tahunnya bulan lalu.

Gelang itu dibeli Glenn dengan harga selangit dari sebuah lelang. Konon, usianya sudah seabad, melambangkan "cinta seumur hidup" dan bahkan sempat menjadi trending di media sosial.

Rasa pahit menyebar di hatinya.

Yang satu adalah hadiah yang dibeli asal-asalan dan diulang, yang satunya lagi barang berharga yang dipilih dengan perhatian.

Cinta dan tidak cinta, perbedaannya ternyata sangat jelas.

Dia menerima kalung itu dalam diam dan hendak mengucapkan terima kasih. Tiba-tiba, ruang pesta menjadi ricuh ....

"Cepat lari, ada orang gila masuk bawa pedang!"

Teriakan menggema. Seorang pria gila menyerbu masuk mengacung-acungkan pedang.

Kerumunan itu seketika kacau. Para tamu berhamburan melarikan diri.

Pria itu bermata merah dan berlari lurus ke arah Avida dan Louisa!

Dalam sekejap, Glenn hampir secara naluriah menarik Louisa ke belakangnya, melindunginya dengan tubuhnya sendiri.

Avida masih di tempat yang sama, menyaksikan tanpa daya saat pedang tajam itu menebas ke arahnya.

"Awas!"

Petugas keamanan bergegas menerjang dan menjatuhkan penyerang ke lantai.

Avida terhuyung ke belakang, membuat pergelangan kakinya terkilir. Rasa sakit yang luar biasa membuat penglihatannya gelap.

Saat dia mulai sadar kembali, Glenn sedang cemas memeriksa keadaan Louisa. Jari-jari rampingnya menyentuh pipi Louisa dengan hati-hati, suaranya sangat lembut. "Kamu nggak apa-apa? Takut, ya?"

Louisa menggelengkan kepala dengan mata berkaca-kaca, tubuhnya meringkuk dalam pelukannya.

Avida berpegangan pada sudut meja untuk menyeimbangkan diri. Pergelangan kakinya sudah membengkak.

Namun, tidak seorang pun yang memperhatikannya. Semua perhatian tertuju pada Louisa yang ketakutan.

Baru setelah pengawal membawa pergi penyerang, dan pelayan mengantar Louisa yang ketakutan ke kamar untuk beristirahat, Glenn seolah baru teringat sesuatu dan menoleh kepala Avida. "Kamu terluka?"

Avida menggelengkan kepala. Bibirnya terbuka untuk bicara, tapi layar ponselnya yang terjatuh di lantai tiba-tiba menyala.

[Pemberitahuan dari Kantor Imigrasi: Visa Anda telah disetujui, silakan diambil dalam waktu tiga hari kerja.]

Tatapan Glenn menajam, dan tiba-tiba dia meraih pergelangan tangannya. "Kamu membuat visa? Mau pergi ke mana?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 24

    Kepala pelayan berjalan ke kamar tidur. Kamar itu sebelumnya terkunci, jadi Avida tidak masuk. Setelah kepala pelayan membukanya, Avida melihat seperti apa keadaan di dalam kamar itu.Seandainya tidak terjadi begitu banyak peristiwa di antaranya, Avida mungkin akan mengira mereka masih berada di masa lalu.Glenn berbaring di tempat tidur. Wajahnya pucat dan tampak jelas. Namun, begitu melihat Avida datang, dia tetap berusaha keras untuk duduk, sambil mengulas senyuman di wajahnya."Vivi, kamu datang."Untunglah, Glenn baik-baik saja. Jika Glenn meninggal karena menyelamatkannya, Avida akan merasa bersalah. Dia tidak ingin hubungan mereka berakhir dengan menukar nyawa.Dia berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur Glenn.Sinar matahari menyinari ruangan melalui jendela, terasa hangat. Kepala pelayan sudah pergi entah sejak kapan, hanya tersisa mereka berdua di sudut masa lalu ini."Lihat, Vivi, aku sudah mengembalikan semuanya seperti semula. Tempat ini persis sama seperti sepulu

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 23

    Dengan kepala linglung, Avida perlahan tersadar dan terbatuk-batuk memuntahkan air. Dia ingat saat menyelamatkan sekelompok anjing liar, dirinya terdorong dan terjatuh ke danau. Jadi, apakah dia sekarang sudah mati?Dia membuka mata dan melihat dirinya masih berada di dalam air, hanya hidung dan mulutnya yang sedikit menonjol di permukaan. Di tepi danau, ada orang-orang yang mengenakan perlengkapan penyelamatan. Mereka sepertinya sedang membicarakan sesuatu, tetapi Avida tidak bisa mendengar apa-apa. Dia hanya mendengar seseorang menangis, suara yang sangat mirip dengan yang dia dengar sepuluh tahun lalu."Vivi ....""Vivi ...."Ada yang memanggil namanya. Avida tiba-tiba menyadari bahwa itu suara Glenn. Dia langsung menoleh ke bawah dan melihat Glenn memeganginya. Itulah sebabnya dia tidak tenggelam meskipun dalam keadaan pingsan. Namun, mata Glenn sudah tertutup, seperti sudah tidak bernyawa.Avida mulai panik. Dia tahu, Glenn takut pada air karena trauma masa lalu. Meski begitu, pri

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 22

    Dia meninju pintu, dan pramugari mengingatkannya, "Pak, pesawat sebentar lagi lepas landas, mohon kembali ke tempat duduk."Glenn berbalik dan turun dari pesawat, tanpa menghiraukan suara pramugari yang memanggilnya dari belakang.Dia kembali ke lobi dan pergi mencari petugas."Avida! Namanya Avida, apa dia sudah beli tiket penerbangan di waktu lain?"Petugas itu terkejut. Namun, setelah Glenn dapat menyebutkan semua informasi tentang Avida, dia membantu memeriksanya melalui sistem. Beberapa saat kemudian, dia berkata, "Nona Avida ini sebelumnya memang membeli tiket penerbangan ini, tapi dia membatalkan tiketnya satu jam yang lalu."Mendengar informasi itu, Glenn menghela napas lega. Selama belum pergi, itu berarti Avida masih di Selandia Baru, dan dia masih bisa menemukannya.Dia tidak berani membayangkan betapa hancur dirinya jika harus kehilangan Avida lagi.Glenn berjalan perlahan keluar dari bandara. Ponselnya berdering, panggilan dari kepala pelayan. Sebelum berangkat ke bandara,

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 21

    Glenn memandangi pintu yang tertutup di hadapannya dengan tidak percaya. Kucing itu masih mengeong di telapak tangannya, tetapi dia tidak bisa mendengar apa-apa. Mengapa jadi seperti ini? Mengapa semuanya sangat berbeda dari yang dia bayangkan?Dia berdiri di depan pintu Avida. Dia tidak percaya Avida benar-benar meninggalkannya.Mereka telah bersama selama sepuluh tahun. Avida menemaninya dari tidak punya apa-apa hingga memiliki segalanya. Sekarang saatnya mereka menikmati hidup yang bahagia. Semua masalah sudah selesai, tidak ada lagi yang menghalangi mereka. Avida pasti hanya sedang marah saja.Dia memasukkan kucing itu kembali ke dalam saku, lalu bersandar di pintu.Tiga jam berlalu, dia menghubungi kepala pelayan untuk membawa kucing itu pulang dan merawatnya dengan baik.Setengah hari berlalu, dia kepanasan hingga pusing dan haus, tetapi tidak beranjak sedikit pun.Tengah malam, terdengar suara gemuruh. Hujan lebat tiba-tiba turun di luar. Glenn basah kuyup, tetapi tetap tidak pe

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 20

    Di dalam pesawat, tujuan Glenn adalah Selandia Baru. Setelah kepala pelayan menemukan jejak Avida, dia mulai menyelidiki kehidupan Avida belakangan ini dan akhirnya berhasil mengumpulkan informasi.Setelah meninggalkannya, Avida bergabung dengan organisasi penyelamat hewan liar yang mengharuskannya berkeliling ke berbagai penjuru dunia. Pantas saja Avida tidak bisa ditemukan lagi setelah pertemuan mereka di New York. Ternyata, Avida langsung berangkat ke lokasi penyelamatan berikutnya.Selama penerbangan yang memakan waktu belasan jam itu, Glenn tidak punya keinginan untuk beristirahat. Dia asyik menelusuri informasi tentang kehidupan Avida sekarang.Tiba-tiba, dia teringat sesuatu dan mengirim pesan kepada kepala pelayan.[Masih ingat Snowy? Carikan kucing yang persis sama, aku ingin memberikannya kepada Vivi. Dia pasti senang.][Baik, Pak Glenn.]Glenn merasa, Avida pasti memilih bergabung dengan organisasi penyelamatan hewan karena Snowy. Kematian Snowy karena kesalahan Louisa yang

  • Tinggal Aku Sendirian, Pudar dalam Kenangan   Bab 19

    Glenn mengurung diri di rumah itu lagi, menghabiskan hari-harinya dengan mabuk-mabukan. Sambil melepaskan diri pada khayalan bahwa dia masih berusia 16 tahun dan Avida belum pergi meninggalkannya.Dia tidak perlu mencari kebenaran di balik kecelakaan orang tuanya, tidak perlu berhubungan dengan Louisa demi kerja sama. Bahkan jika dia tidak punya uang sepeser pun, itu tidak masalah, asalkan Avida ada di sisinya.Dia mabuk berat. Kepala pelayan yang berkali-kali gagal menasihatinya. Glenn seolah telah kehilangan jiwanya seluruhnya, menaruh seluruh harapannya pada rumah ini.Mata Glenn baru kembali jernih ketika kepala pelayan membawa kabar bahwa orang yang menyebabkan keributan di lelang telah ditemukan, dan ternyata adalah kerabat dari Keluarga Handoyo.Ini berarti, dia akan segera menemukan pembunuh orang tuanya.Dia kembali bersemangat dan pergi ke kantor. Asistennya sudah menunggu sejak lama. Begitu melihatnya datang, asistennya langsung melaporkan semua yang terjadi selama beberapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status