Share

(Preview) CHAPTER

Author: ALAYABU
last update Last Updated: 2025-10-19 03:24:49

Eleanora, Lady Villon, dengan bantuan dokumen rahasia dari Putra Mahkota Zepyr, mengungkap skema korupsi ganda di Kantor Logistik Militer Utara yang melibatkan pemalsuan tanggal pengiriman dan manipulasi harga untuk menyelewengkan dana Kekaisaran. Bukti awal ini diperkuat oleh informasi intelijen Kode Hexen, yang menunjuk pada Victor Aldridge, tangan kanan Duke Eiser, sebagai pemilik firma logistik yang diuntungkan.

Eleanora mengubah audit aset Villon menjadi serangan balasan. Ia menyajikan bukti penyelewengan Eiser di depan para Auditor Kekaisaran netral. Pada saat genting, Zepyr muncul, memverifikasi tuduhan dan memerintahkan penangkapan Eiser atas pengkhianatan, membersihkan nama Villon.

Kemenangan ini segera diuji: Putri Lysandra mengalami kejang vaskular hebat. Eleanora, dengan ramuan 'Akar Tenang Villon' dan bantuan Bellamont serta Zepyr, berhasil menstabilkan Putri, menyelamatkan nyawanya. Zepyr, terhutang budi dan mengakui kekuatan Eleanora, menangguhkan audit Villon dan menjamin perlindungan logistik tak terbatas untuk Perbatasan Utara.

Sebagai undangan perpisahan, Zepyr meminta Eleanora kembali ke Ibu Kota dalam tiga minggu untuk meresmikan Aliansi Logistik Permanen. Eleanora kemudian meninggalkan Istana dengan kereta mewah Kerajaan, diam-diam diikuti oleh konvoi kereta barang misterius dari Kantor Logistik Kekaisaran—sebuah 'hadiah pribadi' dari Zepyr yang penuh teka-teki.

Eleanora berhasil membersihkan nama Villon dari tuduhan hutang dan, dengan informasi rahasia serta jaringan intelijennya (Kode Hexen), ia mengaitkan penyelewengan logistik Militer Utara langsung kepada 'Tangan Kanan' Duke Eiser. Namun, saat bersiap menyerang, Putri Lysandra tiba-tiba memasuki krisis fatal.

Dalam momen putus asa itu, Eleanora menantang Putra Mahkota Zepyr, menyajikan bukti Eiser sebagai pengkhianatan sistematis dan menukar kebenaran itu dengan waktu: Zepyr harus menunda kabar krisis Lysandra selama 24 jam. Zepyr setuju, dan keesokan harinya, Eleanora menggunakan panggung audit Villon yang seharusnya melemahkannya, untuk menjatuhkan Eiser di depan para Auditor Kekaisaran. Zepyr muncul pada waktu yang tepat, memverifikasi tuduhan dan memerintahkan penangkapan Eiser, membebaskan Villon dari jerat audit.

Kemenangan politik itu buyar oleh panggilan darurat: kondisi Putri Lysandra mencapai klimaks koagulasi. Eleanora, bersama Bellamont dan Zepyr, berjuang mati-matian. Dengan ramuan tak terduga 'Akar Tenang Villon', mereka berhasil memaksa relaksasi vaskular total, menyelamatkan nyawa Putri.

Setelah ketegangan mereda, Zepyr menatap Eleanora dengan pengakuan yang dingin dan penuh perhitungan, mencampurkan rasa berhutang nyawa dengan penilaian strategis. Ia mengabaikan etiket, menjamin perlindungan abadi Villon, dan memerintahkan Eleanora kembali ke Ibu Kota dalam tiga minggu sebagai Sekutu Perbatasan untuk meresmikan aliansi logistik.

Eleanora meninggalkan Istana dengan kereta Kerajaan, diam-diam diikuti oleh konvoi kereta barang Kekaisaran yang misterius. Setibanya di Villon, terungkap bahwa konvoi tersebut adalah 'hadiah pribadi' Zepyr: pengembalian ganda pasokan anggur Villon, dan yang paling mencengangkan, Empat puluh ribu koin emas Kekaisaran untuk 'biaya operasional perbatasan'. Eleanora mematung di tengah kemewahan tak terduga ini, menekan gejolak hatinya, dan mati-matian meyakinkan diri bahwa kemurahan hati Zepyr hanyalah prioritas keamanan dan logistik semata, bukan sesuatu yang bersifat personal. Sebuah janji terselubung telah tertulis, dan ia merasakan beban dari 'loyalitas' yang baru dan berbahaya ini.

Apa yang sebenarnya dimaksud dengan kode 'Tangan Kanan' dalam pesan rahasia Eleanora, dan seberapa dalam keterlibatan Duke Eiser dalam jaringan korupsi Militer Utara yang terstruktur ini?

Apakah kemenangan Eleanora atas Eiser dan penyelamatan Lysandra akan menghilangkan ancaman terhadap Villon secara permanen, atau apakah akan ada faksi lain di Istana yang akan mengincar posisi Villon yang kini diperkuat oleh Putra Mahkota?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #107

    Waktu merayap seolah enggan meninggalkan Kediaman Bintang Utara. Lima jam telah berlalu sejak surat dari Count Vilos dibalas, dan matahari kini tepat berada di puncak langit, membiarkan cahayanya yang paling terik menembus kaca jendela ruang kerja Eleanora. Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa statis, seolah tersedot keluar oleh sebuah kehadiran yang luar biasa kuat sebelum sosoknya benar-benar muncul.Suara langkah kaki yang berat dan penuh wibawa terdengar mendekat. Tanpa ketukan, pintu jati yang kokoh itu terbuka lebar.Tanpa ketukan, pintu kayu ek yang berat itu terbuka lebar.Zepyr Kyrios Basileus berdiri di sana.Rambut emasnya yang mewah tampak sedikit berantakan, beberapa helainya jatuh menjuntai di dahi, membingkai wajahnya yang pucat porselen dengan cara yang justru terlihat liar.Ia mengenakan kemeja putih berenda yang elegan dengan rompi hitam yang membentuk lekuk tubuh tegapnya. Eleanora mendongak, dan seketika itu juga matanya tertuju pada tangan sang Putra Mahkota

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #106

    Malam di Kediaman Bintang Utara merayap dengan keanggunan yang menyakitkan, seolah waktu sendiri enggan beranjak dari sisi Eleanora de Villon.Di dalam kamarnya yang luas, lilin-lilin aromatik beraroma melati mulai memendek, meneteskan air mata lilin yang membeku di atas piringan perak. Eleanora duduk di depan meja riasnya, sebuah mahakarya dari kayu mawar yang dipenuhi dengan botol-botol kristal berisi ramuan kecantikan.Namun, matanya yang berwarna hijau zamrud tajam itu tidak menatap pada pantulan wajahnya yang rupawan, melainkan pada kehampaan di balik cermin.Ia teringat betapa dulu, sebelum maut menjemputnya di sel yang dingin, ia akan menghabiskan berjam-jam hanya untuk memastikan setiap helai rambut peraknya tertata sempurna demi menarik perhatian Zepyr.Dulu, ia adalah lambang keputusasaan; seorang putri Duke yang martabatnya luruh karena mengejar cinta seorang pria yang bahkan tidak sudi meliriknya. Bayangan dirinya yang menangis di koridor istana hanya karena Zepyr mengabai

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #105

    Count Vilos mengangguk mantap. Ia tidak pernah meragukan gadis di depannya ini. Ingatannya kembali ke beberapa bulan lalu, saat istrinya, Countess Vilos, menderita sakit misterius yang di kehidupan sebelumnya—yang hanya diketahui Eleanora—seharusnya berakhir dengan kematian. Namun, berkat saran medis yang "tidak sengaja" diberikan Eleanora, istrinya selamat. Belum lagi saat Elara, putrinya yang pemalu, nyaris dikucilkan oleh sekelompok Lady bangsawan di pesta teh. Eleanora berdiri di sana, melindungi Elara dengan wibawa yang luar biasa, membuat faksi Castillon terdiam.Eleanora bangkit berdiri, gaunnya yang berbahan linen halus berdesir saat ia berjalan mendekati Count Vilos."Sementara itu, saya ingin Anda memperketat pengawasan pada alur logistik aliansi kita. Terutama distribusi batu sihir dari tambang Elara yang dialokasikan untuk wilayah Barat. Kita akan membungkam mereka dengan hasil kerja yang nyata dan stabilitas ekonomi yang tidak bisa mereka bantah. Biarkan mereka sibuk deng

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #104

    Lembayung senja mulai merambat masuk melalui jendela kaca patri di Kediaman Bintang Utara, membiaskan warna jingga yang hangat sekaligus pilu di atas lantai marmer.Eleanora de Villon masih terpaku di kursi jatinya, jemarinya yang ramping gemetar halus saat ia meletakkan kembali pulpen bulu angsa yang tadi diambil paksa oleh kehangatan tangan Zepyr.Ruangan itu kini sunyi, namun aroma kayu cendana milik sang Putra Mahkota seolah tertinggal di udara, mencekik setiap sel saraf Eleanora dengan sisa-sisa ketegangan yang belum tuntas.Ia menarik napas panjang, mencoba meredakan debar jantungnya yang masih memukul dinding dada dengan ritme yang berantakan. Setiap detik yang ia habiskan bersama Zepyr di kehidupan kali ini terasa seperti berjalan di atas hamparan duri yang dibalut sutra.Indah, memabukkan, namun penuh dengan ancaman luka yang bisa menganga kapan saja.Malam di Kediaman Bintang Utara tidak pernah benar-benar sunyi sejak Zepyr menetapkan langkahnya di sana. Udara dingin yang me

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #103

    Matahari merayap naik, menyentuh tepian meja jati yang dipenuhi tumpukan dokumen perkamen. Eleanora de Villon masih terpaku di kursinya, jemarinya yang ramping mencengkeram pulpen bulu angsa hingga ujungnya sedikit melengkung. Di depannya, Zepyr tidak lagi berpura-pura membaca. Pria itu telah meletakkan bukunya, membiarkan punggungnya bersandar pada sandaran kursi yang berat, sementara matanya yang tajam tidak pernah lepas dari sosok Eleanora.Keheningan di ruangan itu begitu tebal, hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti hantaman palu. Eleanora bisa merasakan tatapan itu—sebuah tatapan yang tidak hanya melihat, tapi seolah menguliti setiap lapisan pertahanannya. Ia tahu Zepyr sedang memperhatikannya, menghitung setiap helaan napasnya, dan itu membuatnya merasa sesak."Kau terlalu tegang, Eleanora," suara Zepyr memecah kesunyian, rendah dan bergetar, mengirimkan gelombang asing ke tulang belakang Eleanora.Eleanora tidak mengangkat kepalanya. Ia tetap menunduk, memfokuskan

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #102

    Eleanora de Villon menarik napas pendek, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara yang tidak terkontaminasi oleh aroma kayu cendana milik Zepyr. Jantungnya masih memukul dinding dada dengan ritme yang berantakan—sebuah pemberontakan organ tubuh yang tidak bisa ia kendalikan. Sentuhan bibir Zepyr di pelipisnya tadi bukan sekadar kontak fisik; itu adalah sebuah segel yang membakar harga dirinya.Ia memaksakan jemarinya yang ramping untuk kembali menggenggam pulpen bulu angsa. Ujung logam pulpen itu mencium permukaan kertas perkamen dengan suara goresan yang kaku. Eleanora sedang menuliskan angka-angka alokasi batu bara untuk wilayah Barat, namun matanya terus-menerus melirik ke arah Zepyr yang kini kembali duduk di singgasana sementaranya di sudut ruangan.Zepyr tidak memandangnya. Pria itu tampak sibuk dengan buku tebal di tangannya, namun Eleanora bisa melihat bagaimana rahang Zepyr mengatup begitu rapat hingga otot-otot di sekitar wajahnya menegang. Zepyr seolah sedang berperang den

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status